BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makalah ini akan membahas tentang
bagaimana kita sebagai orang muslim harus membiasakan berperilaku terpuji,
diantaranya yakni bagaimana kita harus selalu berhusnudzan terhadap siapapun
serta bertaubat kepada Allah SWT. Mengenai perilaku terpuji atau akhlak terpuji
yakni menurut pendekatan etimologi,
akhlak berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnnya “khuluqun”
yang artinya budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, yang mana akhlak
atau perilaku yang baik disini di contohkan seperti husnudzan dan bertaubat,
ada pula yang mengatakan bahwa akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa
seseorang yang akhirnya berbuah suatu perbuatan.
Perilaku terpuji atau akhlak
terpuji adalah segala tingkah laku yang terpuji, dapat disebut juga dengan
akhlak yang utama, yakni akhlak yang baik dilahirkan oleh sifat-sifat yang baik
yang tertanam dalam jiwa seseorang tersebut. Sangat berbeda dengan akhlak yang
buruk atau perilaku yang buruk yakni yang tercermin dari tutur kata, tingkah
laku, dan sikap yang tidak baik.
Maka dari itu dalam pembahasan
kali ini kita akan mengupas secara mendalam tentang perilaku husnuzan dan
bertaubat yakni diantaranya tentang pengertian serta pentingnya perilaku
tersebut, bentuk-bentuk serta contoh dari perilaku tersebut, serta bagaimana
nilai-nilai positif dari husnuzan dan bertaubat dalam fenomena kehidupan.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan
latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai
berikut:
1. Apa
pengertian husnuzan dan bertaubat?
2. Bagaimana
bentuk-bentuk serta contoh dari perilaku husnuzan dan bertaubat?
3. Apa
saja nilai positif dari perilaku husnuzan dan bertaubat dalam fenomena
kehidupan?
4. Bagaimana
strategi untuk berhusnuzan atau berfikir positif?
C. Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa tujuan sebagai
berikut:
1. Mengetahui
pengertian husnuzan dan bertaubat.
2. Mengetahui
bentuk-bentuk serta contoh dari perilaku husnuzan dan bertaubat.
3. Mengetahui
nilai-nilai positif dari perilaku husnuzan dan bertaubat dalam fenomena
kehidupan.
4. Mengetahui
strategi berhusnuzan atau berfikir pisitif.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Hakikat Taubat
Taubat mengandung pengertian yang
tersusun dari tiga perkara yaitu ilmu, keadaan dan perbuatan. Yang pertama
menyebabkan timbulnya yang kedua dan yang kedua menyebabkan timbulnya yang
ketiga sesuai dengan Sunnatullah dalam kemaharaaan-nya.[1]
Dari segi ilmu yakni mengetahui
besarnya bahaya dosa dan sifat-sifatnya sebagai racun yang membinasakan dan
pendinding (hijab) antara seoarang hamba dengan semua yang dicintainya. Jika
hal ini telah dipahami sebenar-benarnya dan ini dibuktikan dengan tertanamnya
keyakinan yang kuat di dalam hati, tentu dengan dengan pemahaman ini akan
membersihlah rasa sakit di dalam hati, oleh sebab terluputnya sesuatu yang
dicintainya. Karena memang demikian tabiat hati. Bila merasa sesuatu yang dicintainya
terluput, maka hati itu pun akan merasa sakit. Bila terluputnya sesuatu yang
dicintai itu disebabkan oleh perbuatannya, maka ia menyesali perbuatan yang
meluputkan itu. Maka rasa sakitnya yang disebabkan oleh perbuatannya yang
meluputkan sesuatu yang dicintanya itu dinamakan “ penyesalan”.[2]
Jika rasa sakit ini telah menguasai
hati sedemikian rupa maka rasa sakit ini akan membangkitkan di dalam hati satu
keadaan lain yang dinamakan iradah (kehendak) dan qash (niat) untuk melakukan
suatu perbuatan yang berhubungan dengan keadaan sekarang, masa lalu dan masa
datang.
Yang berhubungan dengan keadaan masa
sekarang adalah dengan meninggalkan dosa yang sedang dilakukan.yang berhubungan
dengan masa datang adalah dengan ber’azam untuk meninggalkan dosa yang
meluputkan sesuatu yang dicintainya, hingga akhir hidupnya. Sedangkan yang
berhubungan dengan masa lalu adalah dengan mengejar dan mendapatkan kembali
perkara-perkara yang terluput dengan melakukan kebaikan-kebaikan dan
menqadha’nya bila memang mungkin dilakukan.
Dalam menambah yang kurang ini, pertama
harus ada ilmu, sebab ilmulah yang mengajari kebaikan. Yang kami maksudkan
dengan ilmu ini yaitu iman dan yakin. Iman yaitu suatupengertian yang
membenarkan bahwa dosa adalah suatu hal yang merusak, sedangkan yakin adalah
suatu pengertian yang menguatkan pembenaran tersebut dan yang menghilangkan
keragu-raguan. Jika yakin ini telah menguasai hati, maka timbullah cahaya iman
itu.[3]
Jikalau dalam hati itu telah menyala
api penyesalan maka sedihlah ia karenanya, sebab dengan sorotan cahaya iman itu
ia mengetahui dirinya terhijab dari yang
dicintainya. Seperti halnya matahari dan cahaya itu menembus kabut serta
mengungkap tirai/hijab, kemudian ia melihat yang dicintanya dan menyadari bahwa
dirinya berada diambang kebinasaan, maka menyalalah api cinta di hatinya. Api
makin berkobar-kobar dengan timbulnya iradah (hasrat) untuk bangun dan
mencapainya.
Maka ketiga-tiganya ilmu menyesal dan
hasrat yang berhubungan dengan meninggalkan pekerjaan waktu itu dan waktu akan datang
sertta mengejar kekurangan masa lampau adalah tiga arti yang berturut-turut
( yang tak dapat dipisahkan satui sama
lainnya). maka nama taubat itu umum untuk ketiga makna diatas dalam arti satu.
Tapi banyak yang mengartikannya atas penyesalan saja, dan ilmu dianggap sebagai
pendahulunya sedang meninggalkan perbuatan itu sebagai akibatnya.[4]
Gabungan dari ilmu, penyesalan dan niat
yang berhubungan dengan upaya meninggalkan dosa inilah yang dinamakan “taubat”,[5] sehingga dapat disimpulkan dari uraian – uraian
diatas bahwa Taubat adalah suatu penyesalan yang melahirkan tekad dan niat yang
dengannya manusia meninggalkan maksiat menuju ketaatan. Hakikatnya adalah
menyesali kesalahan yang dilakukannya di masa lampau, meninggalkannya di masa
sekarang dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang.
Tiga hal ini terhimpun pada saat berlangsungnya taubat. Sebab, di waktu
tersebut ia menyesal, meninggalkan dan bertekad. Ketika itulah ia kembali
kepada status penghambaan yang merupakan tujuan penciptaan dirinya. Kepulangan
inilah yang dinamakan Taubat.[6]
B. Kewajiban Bertaubat dan Keutamaannya
Perlu diketahui, bahwa kewajiban
bertaubat itu dinyatakan secara gamblang dalam nash-nash al-hadist dan
Al-qur’an. Dan kewajiban ini juga nampak jelas dengan menggunakan cahaya akal
bagi orang yang dilapangkan Allah dadanya dengan cahaya iman.[7]
Sesungguhnya seseorang yang mengetahui
bahwasannya tidak ada kebahagiaan di negeri akhirat melainkan pada perjumpaan
dengan Allah dan bahwa setiap orang yang terhijab (terhalang dari Allah pasti
akan celaka, dijauhkan dari apa yang
diikannya dan terbakar oleh api neraka dan mengetahui pula bahwa tidak ada yang
menjauhkan dari perjumpaan dengan Allah melainkan sikap memperturutkan syahwat,
dan tidak ada yang mendekatkan perjumpaan dengan Allah melainkan dengan
senantiasa menghadap dan berdzikir kepadanya, juga mengetahui bahwa dosa-dosa
itu menyebabkannya terhalang dan dijauhkan dari Allah, tentu dia tidak akan
ragu-ragu lagi bahwa berpaling dari jalan yang menjauhkannya dari Allah itu
wajib dilakukan untuk dapat mencapai kedekan darinya. Dan keberpalingan dari
jalan jalan yang menjauhkannya dari Allah ini hanya akan sempurna dengan tiga
perkara yaitu ilmu, penyesalan dan ‘azam (niat).[8]
Demikian itulah keimanan yang diperoleh
dengan menggunakan kecerdikan akal. Maka barang siapa belum mencapai tingkat
pemahaman seperti ini, hendaklah ia memperhatikan nash-nash al-qur’an dan
al-Hadist yang berkaitan dengan masalah ini.
Ibnu Qoyyim telah menjelaskan hubungan
erat antara muhasabah dengan taubat. Ia berkata, “Dari tingkatan muhasabah,
barulah ia bisa menempati tingkatan taubat. Sebab, apabila ia melakukan
muhasabah terhadap dirinya, niscaya ia mengetahui apa yang menjadikan kewajiban
yang ditanggungnya sehingga ia berusaha untuk melepaskan (tanggungan)nya. Jadi
mendahulakan muhasabah daripada taubat lebih utama dikarenakan hal tersebut.
Namun mengakhirkan muhasabah dari taubat bisa dibenarkan juga yakni bahwa
muhasabah tidak bisa dilakukan kecuali setelah meluruskan taubat. Dan pengalaman
menunjukkan bahwa taubat berada diantara dua muhasabah. Muhasabah sebelum itu
(sebelum taubat) yang menuntut kewajiban melakukan taubat dan muhasabah setelah
itu yang menuntut untuk menjaga taubat tersebut. Jadi taubat diapit oleh dua
muhasabah.[9]
Oleh sebab itu, dalam kitab Madarijus
Salikin, ibnu Qoyyim mendahulukan bahasan Muhasabah. Kemudian, baru menjelaskan
bahwa siapa yang mewujudkan muhasabah, maka ia akan naik mendekati tingkatan
taubat. Karena dengan muhasabah, ia bisa membedakan antara apa yang menjadi hak
dan kewajiban yang harus ditanggungnya. Dengan begitu, ia akan memfokuskan
keinginan bertaubat yang seyogiannya tidak terpisah dari diri orang yang meniti
jalan menuju Rabbnya sampai mati.
Dengan begitu jelas, jelaslah bagi kita
urgensi taubat sebagai sarana praktis dalam menyucikan dan mengantarkan jiwa
pada tingkatan yang dekat kepada Allah. Inilah yang diisyaratkan oleh ibnul
qoyyim melalui ucapannya, “ kedudukan taubat adalah kedudukan yang pertama,
pertengahan, dan terakhir. Hamba yang meniti jalan menuju Rabbnya tidak akan
menjauhinya (jalan tersebut), dan selalu menetapinya sampai mati. Jadi taubat
adalah langkah awal dan langkah akhir seorang hamba. Kebutuhan dirinya terhadap
taubat di akhir perjalanan sangatlah diperlukan, sebagiamana halnya
kebutuhannya di awal perjalanan juga amat besar.[10]
Dalil-dalil Al-qur’an dan sunnah saling
mendukung atas wajibnya melakukan taubat dan kedudukannya dalam mewujudkan
kesholihan dan kejaan hamba di dunia dan akhirat. Allah berfirman:
“....dan bertaubatlah kepada Allah hai
orang – orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (An-Nur : 31 )
“ Hai orang-orang yang
beriman.................. (At-Tahrim:8)
Taubat nasuha sebagaimana dikatakan
oleh ibnu katsir adalah taubat yang tulus lagi mantap, yang menghapuskan
keburukan – keburukan sebelumnya dan mencegah orang yang bertaubat dari
perbuatan – perbuatan rendah yang biasa ia lakukan. Demikian itu dengan
meninggalkan dosa di masa sekarang, menyesali dosa yang dilakukannya di masa
lampau dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang.[11]
Allah membagi hamba menjadi hamba yang
bertaubat dan hamba yang dholim. Maka barang siapa tidak bertaubat, berarti ia
layak menjadi orang yang zholim karena kebodohannya terhadap Robb dan hak –
nya, serta karena kekurangan diri dan cacat amalnya. Allah berfirman dalam
surat Al- Hujurot : 11
Adapun hadist – hadist Nabi yang
menganjurkan dan memerintahkan taubat jumlahnya banyak, dintaranya adalah:
Diriwaytakan oleh Muslim dari Abu Musa
Al-Asyari dari Nabi bersabda:
“ sesungguhnya Allah selalu
menghamparkan tangannya di malam hari agar orang yang melakukan keburukan di
siang hari bertaubat dan senantiasa menghamparkan tangannya di siang hari agar
orang yang melakukan keburukan di malam hari bertaubat, sampai matahari terbit
dari arah tenggelamnya (arah barat).
Diriwayatkan juga dari Al-A’ghor
Al-Muzani bahwa Rasulullah bersabda:
“ wahai manusia, bertaubatlah kepada
Allah! Karena sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”
Para ulama menyebutkan beberapa
pendapat seputar makna istigfar dari taubat Rasulullah saw diantaranya,
maksudnya adalah apabila beliau berhenti berdzikir yang memang selalu beliau
lakukan, hal itu beliau anggap sebagai dosa, lalu beliau memohon ampunan. Atau
istigfar beliau saw adalah menampakkan penghambaan dan kerendahan diri kepada
Rabb serta menetapi kekhusyukan.
Tentang hal tersebut, ibnu Taimiyah r.a
menuturkan, “para nabi terjaga (ma’shum) sehingga tidak mungkin jatuh dalam perbuatan dosa, baik dosa besar maupun
kecil. Melalui taubat yang Allah beritakan telah mereka lakukan, Dia berkenan
mengangkat kedudukan dan melipat gandakan kebaikan-kebaikan mereka.
Sesungguhnya Allah mencintai orang –orang yang suka bertaubat dan
orang-orang yang membrsihkan diri. Taubat
bukannya satu kekurangan, sebaliknya merupakan kesempurnaan yang utama. Taubat wajib dilakukan oleh semua makhluk.
Maka tujuan setiap orang beriman adalah tobat. Dan segaimana dikatakan,
“kebajikan orang-orang baik adalah keburukan orang-orang yang dekat dengan
Allah.
C. Kewajiban Bertaubat Seketika, Menyegerahkan dan seterusnya
Kewajiban bertaubat seketika yakni
sesudah melakukan dosa merupakan perkara yang tak diragukan lagi karena
mengetahui kemaksiatan sebagai perkara yang membinasakan termasuk bagian dari
jiwa keimanan. Dan oleh karenanya traubat itu wajib dilakukan seketika.
Pada dasarnya mengetahui bahaya dosa
adalah dimaksudkan agar dapat menjadi pendorong untuk meninggalkannya. Oleh
karenanya, seorang yang tidak meninggalkannya berarti kehilangan keimanan ini.
Dan inilah yang dimaksud dengan sabda rasulullah sa:
Artinya:
“ tidaklah seoarang yang berzina,
ketiks sedang melakukan zinanya itu sebagai seorang Mu’min.”
Demikian itu karena dasarnya zina
menjauhkan pelakunya dari Allah dan menyebabkan kemurkaannya, sebagaimana
kemaksiatan-kemaksiatan lainnya. karena kemaksiatan – kemaksiatan ini terhadapa
keimanan serupa dengan makanan-makanan yang membahayakan badan. Maka
sebagaimana makanan-makanan tersebuuat oleh ract akan mengubah tabiat badan
hingga apabila terus menerus berhimpun padanya maka dalam kurun waktu tertentu akan mati seketika, maka
demikian pula yang diperbuat oleh racun dosa terhadap ruh keimanan yang dengan
keganasan serangannya akan memastikan dan memasukkannya ke dalam golongan orang
– orang yang binasa.
Mengenai kewajiban bertaubat selamanya
dan pada setiap keadaan maka sebabnya adalah, bahwa setiap orang itu tidak
sunyi dari melakukan kemaksiatan dengan anggota tiubuhnya. Jika dalam beberapa
keadaan ia bebas dari kemaksiatan dengan anggota tubuhya, maka sesungguhnya ia
tidak akan bebas dari keinginan untuk melakukan dosa dengan hatinya. Jika pada
suatu ketika hatinya bebas dari keinginan buruk tersebut, maka sesungguhnya ia
tiodak akan bebas dari godaan setan yang bermaksud melalaikannya dari mengingat
Allah. Jika ia bebas dari hal ini maka sesungguhnya ia tidak akan bebas dari
kelalaian dan keteledoran untuk bermakrifat kepada Allah berikut sifat-sifat
dan perbuatannya.
Semua itu adalah kekurangan dan semuia
itu ada sebab-sebabnya. Dan meninggalka sebab-sebabnya dengan menyibukkan diri
dengan hal-hal yang menjadikan lawannya adalah kembali dan berpaling dari jalan
yang telah ditempuhnya ke jalan yang berlawanan dengannya.
Taubat sendiri mengandung arti kembali
(yakni kembali dari jalan yang sesat ke jalan yang benar). Dan agaknya tak
seorang manusia pun yang bisa bebas sama sekali dari kekurangan ini. Ha nya
saja, kekurangan ini berbeda – beda kadarnya antara seorang dengan lainnya.
jadi, pada dasarnya kekurangan itu pada tiap-tiap manusia. Itu sebabnya
Rasulullah saw, bersabda:
Artinya:
“ sesungguhnya hatiku juga dapat
tergoda sehingga aku beristigfar (memohon ampun ) kepada Allah dalam sehari
semalam tujuh puluh kali.” (HR. Muslim)
Dan itu sebabnya Allah memuliakan
beliau dengan firmannya: (QS.al-Fath:2)
Jika kami katakan taubat itu wajib pada
setiap keadaan, padahala sebagiamana banyka orang, taubat pada setiap keadaan
itu ternasuk amalan yang utama, bukan amalan wajib itu karena wajib yang kami
maksudkan di sini adalah sesuatau yang tak bisa tidak merupakan faktor utama
yang akan mengantarkan kepada yang terpuji di antara para shidiqqin, yang
vdiidamkan oleh setiap Mu’min. Maka bertaubat dari semua yang telah
kamisebutkan di muka adalah wajib hukumny dalam upaya mencap[ai kedekatan dari
Allah. Ihwalnya tak berbeda dengan apa yang dikatakan orang: bersuci itu wajib
hukumnya dalam shalat sunnat, yang mengandung arti bahwa seseorang yang hendak
mengerjakan tidak dapatc memperolehnya melainkan dengan terlebih dahulu
bersuci.
Selanjutnya para ulama menyatakan
penting dan wajibnya bertaubat, serta tidak boleh menangguhkannya. Imam nawawi
r.a mengatakan, “mereka sepakat bahwa taubat dari segala dosa itu wajib dan
harus dilakukan segera, tidak boleh menundahnya, baik maksiat tersebut kecil atau
besar. Taubat termasuk perkara pokok dan dasar agama Islam yang sangat
ditekankan.
Ibnu Qoyyim berkata, “sesungguhnya
bersegera bertaubat dsari dosa-dosa adalah kewajiban yang harus dilakukan dan
tidak boleh ditangguhkan. Bila ia menangguhkannya, berarti ia berbuat maksiat
dengan penangguhan tersebut. Lantas apabila ia telah bertaubat maka masih ada
taubat lain yang harus dilakukan yakni taubatnya dari dosa menangguhkan taubat.
Hal ini jarang sekali terbersit dalam hati orang yang bertaubat dan tidak ada yang bisa
menyelamatkan dari hari ini kecuali taubat secara menyeluruh dari dosa yang
diketahui dan yang tidak diketahui.
Kadang-kadang hamba meremehkan
dosa-dosa kecil dan tidak segera bertaubat darinya karena keberadannya yang
dianggap remeh. Dan ternyata, dosa-dosa kecil itu menumpuk satu demi satu dan
iamasih meremhkannya sehingga ia pun terus melakukannya. Akibatnya, dosa-dosa
kecil itu menjadi sebab kebinasaan dirinya.
Bukti kebnarannya adalah apa yang
diriwsyatkan dari Sahl bin Sa’ad r.a yang mengatakan, “Rosulullah saw bersabda:
“ Hindarilah oleh kalian akan dosa-dosa
kecil. Tiada lain perumpamaan dosa-dosa kecil seperti suatu kaum yang singgah
di dasar lembah,. Lantas orang ini datang membawa satu ranting, dan yang lain
lagi memabawa satu ranting pula, sampai m,ereka membawa apa yang bisa membuat
roti mereka matang. Sesungguhnya dosa – dosa kecil, kapan pun pelakunya disiksa
karenanya niscaya bisa membinasakan dirinya.”
Bila api yang besar bermula dari
percikan-percikan api yang yangkecil, maka kebanyakan dosa besar tidak kan
dilakukan oleh seorang hamba kecuali karena ia meremehkan dosa-dosa kecil,
tidak mempedulikannya dan tertipu dengan angan – angan ampunan. Akibat dosa –
dosa kecil itu menumpuk, sebagaimana ranting-ranting kayu terkumpul untuk menyalakan
api. Akhirnya, hamba itu berani meremehkan keberadaan perbuatan maksiat dan
pengaruh kesadarannya terhadap maksiat tersebut dalam dirinya melemah sehingga
ia merasa lepas-bebas untuk melakukannya dan berani kepada Rabbnya. Akibatnya,
ia mengekor saja pada hawa nafsunya dan menjadi tawanan jiwanya yang selalu
memerintahkan keburukan dan mengabdi pada setan.
Ibnu Qoyyim r.a telah menjelaskan
bahaya menunda-nunda taubat dan mengandalkan angan-angan ampunan. Ia berkata,
“pada hakikatnya, hamba mengetahui bahwa maksiat dan kelalaian termasuk
sebab-sebab yang berdampak buruk bagi dirinya di dunia dan akhirat.
Namun adakalahnya jiwa memperdaya
dirinya dengan mkengandalkan maaf serta ampuna Allah dan adakalnya dengan
menunda – nunda taubat dan memohon ampun melalui lisan. Banyak manusia yang
mengirah bahwa seandainya ia melakukan suatu keburukan kemudia mengucapkan,
Astaghfirullah,’ niscaya dosanya sirna dan perbuatan buruk itu terhapus dengan ucapan tersebut.
Kelompok manusia ini bergantung semata dengan teks-teks harapan,
mengandalkannnya dan sepenuhnya menggelayutkan dua tangannya pada hal ini.
Bilamana ditegur karena kesalahan-kesalahan dan kondisinya yang larut dalam
melakukannya, ia akan membeberkan kepada anda apa yang dihafalnya berupa
luasnya kasih sayang dan ampunan Allah dan teks-teks harapan.
Tidak diragukan lagi bahwa mereka itu
menipu diri mereka sendiri. Orang yang hanya memperhatikan dan mengandalkan
teks-teks harapan dan kasih sayang. Sementara ia melupakan teks-teks peringatan
dan ancaman keras kepada orang-orang yang suka berbuat maksiat, seolah-olah ia
melihat dengan satu mata. Sungguh, harapan dan rahmat telah digsbung
penyebutannya dengan peringatan dan ancaman pada banyak tempat dalam Al-Quranul
karim. ( Al-Hijr : 49-50)
Orang berakal yang berbaik sangkakepada Allah dan mengharapkan
rahmat-Nya seyoginya berbuat kebaikannya juga. Bila tidak, maka berbaik sangkah
disertai menuruti hawa nafsu adalah suatu ketidak berdayaan. Dan orang yang
bersandar pada maaf namun terus melakukan dosa, maka ia seperti seorang
pembangkan.
Tentang masalah ini, Hasan bashri
mengatakan, “ sesungguhnya ada orang-orang yang terlenakan oleh angan-angan
ampunan sehingga mereka meninggal tanpa membawa taubat. Salah seorang mereka
berkata, ‘itu karena berbaik sangka kepada Robbku’ namun ia dusta. Karena
seandaninya ia berbaik sangka, niscaya ia kan memperbagus amalnya.
D. Syarat-syarat taubat
Taubat merupakan ungkapan tentang suatu
penyesalan yang kemudian menghasilkan suatu hasrat dan tujuan. Penyesalan itu
juga menghasilkan pengetahuan bahwa berbagai kedurhakaan hendak menjadi
penghalang antara diri manusia dengan kekasihnya.
Penyesalan adalah duka di dalam hati
berpisah dengan kekasihnya. Tandanya, kesedihannya belarut-larut dan disertai
tangisan. Siapa yang ingat suatu hukuman yangh dijatuhkan kepada anaknya atau
siapa pun yang disayangi dan dihormatinya, maka dia kan banyak menangis dan
musibah yang dirasakannya terasa amat berat. Lalu siapakah yang lebih disayangi
dan dihormati selain dari diri sendiri? Lalu apakah hukuman yang lebih pedih
daripada api neraka? Lalu apakah penyebab yang lebih jelas tentang turunnya
hukuman selain dari kedurhakaan? Siapakah pemberi kabar yang lebih jujur
daripada Rasulullah? Andaikata seseorang diberitahu oleh dokter bahwa penyakit anaknya
tidak mungkin lagi bisa disembuhnkan, tentu dia kan lebih sedih sekali. Padahal
anaknya tidak lebih disayangi daripada dirinya sendiri. Padahal dokter tidak
lebih tahu dari pada Allah dan Rasulnya. Padahal tidak ada kematian yang lebih
mengerikan daripada masuk neraka setelah itu. Padahal tidak ada penyakit dapat
mamtikan daripada kedurhakaan kepada Allah.
Orang yang bertaubat harus memeriksa
kembali shalatnya yang pernah ditinggalkannya atau mengerjakannya tapi tanpa
memenuhi syarat-syaratnya, seperti baju yang dikenakannya ada najis atau niat
yang tidak benar, karena memang dia
tidak mengetahuinya. Karena itu haruis mengqadha’ semua itu. Begitu pula puasa,
zakat, haji atau kewajiban-kewajiban lainnya. semua yang pernah ditinggalkan
harus diqadha.
Seseorang harus memeriksa kembali
kedurhakaan-kedurhakaannya semenjak awal mula kedurhakaan yang dilakukannya dan
menelitinya. Jika kedurhakaan itu memang antara dirinya dan Allah maka dia
harus bertaubat dengan menyesalinya dan mohon ampun. Kemudian dia harus melihat
kadar dosanya. Setiap kedurhakaan diperbandingkan dengan kebaikan yang
setingkat, lalu dia harus melaksanakan kebaikan itu. Allah berfirman: (Hud:114)
Nabi muhammad saw bersabda:
“ Susuilah keburukan itu dengan
kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (diriwayatkan At-Tir
Midzy, Ad-Darimy dan ahmad).
Contoh dari apa yang kami sebutkan ini,
seseorang bisa menebus kesalahannya karena mendengarkan nyanyian dengan
mendengarkan bacaan Al-quran dan majlis dzikir. Tebusan minum khamr secara
sengaja dengan minum yang halal. Yang
pasti, lakukanlah kebaikan dari jenis kesalahan yang dilakukan. Sebab penyakit
pun disembuhkan dengan jenis kebaikannya. Inilah hukum antara diri hamba dan
Allah.
Sedangkan kedzaliman terhjadap manusia,
juga terkandung kedurhakaan terhadap Allah. Sebab Allah telah melarang
kezhaliman terhadap manusia. Orang yang berbuat zhalim terhadap manusia,
berarti telah melakukan apa yang dilarang oleh Allah. Dia harus menyadari
kezhalimannya itu dengan penyesalan dan hasrat tidka melakukannya lagi di masa
mendatang serta melakukan kebaikan-kebaikan yang menjadi kebalikan
kezhalimannya seperti yang sudah kami jelaskan diatas. Jika dia pernah
menyakiti manusia maka dia harus berbuat baik kepada mereka. Tindakannya yang
mengambil harta orang lain harus ditebus dengan memberikan hartanya yang hala
ke[padanya. Melecehkan kehormatan orang lain ditebus dengan memijinya di
hadapan orang banyak. Membunuh jiwa orang lain ditebus dengan memerdekakan
budak.
Berbuat zhalim kepada manusia bisa
berkaitan dengan jiwa, harta, kehormatan dan menyakiti hati.
Yang pertama, jika seorang membunuh
orang lain tidak secara sengaja, maka dia harus membayar tebusan kepada orang
(keluarga korban) yang berhak menerimanya. Uang tebusan itu bisa berasal dari dirinya
sendiri atau siapa pun yang memang mau menanggungnya. Jika pembunuhan itu
dilakukan dengan sengajah maka hukumnya Qishash
dengan memnuhi syarat – syaratnya. Dengan kata lain, dia harus menyerahkan
dirinya kepada keluarga korban. Jika mereka menghendaki maka mereka bisa
membunuhnya. Dan jika mereka menhendaki, maka mereka bisda memaafkannya. Dia
tidak boleh menutupi-nutupi urusannya. Lain halnya jika ia berzina, mencuri,
minum khamr atau melakukan apa pun yang sebenarnya dia layak mendapatkan hukuman
dari Allah, maka dia tidak diharuskan mengeluarkan pengakuan seketika itu pula,
tetapi harus menutupinya. Namun jika ia dihadapkan kepada hakim atau penguasa
hingga dia dijatuhi hukuman, maka pengakuannya dianggap sah dan taubatnya juga
diterima di sisi Allah.
Begitu pula hukuman orang yang
melemparkan tuduhan kepada wanita yang baik-baik maka dia harus dihakimi
menurut kelayakannya.erkhianat (dalam masalah Harta) dan menyamarkan dalam
bermu’amalah. Siapa
Yang kedua, kezhaliman-kezhaliman yang
berkaitan dengan harta seperti mencuri, berkhianat (dalam masalah harta) dan
menyamarkan dalam bermu’amalah. Siapa yang melakukannya harus mengembalikan apa
yang telah diambilnya kepada pemiliknya.
Dia bisa mengakuh kepada orang yang
telah dizhalimi, mengembalikan haknya dan meminta maaf serta penghalalan atas
apa yang telah diambilnya. Jika kezhalimanny banyak dan dia tidak mampu
melunasi atau mengembalikannya maka cukuplah baginya berbuat menurut
kesanggupannya. Tidak ada jlan lain baginya kecuali memperbanyaknya kebaikan
agar pada Hari kiamat nanti nanti bisa diambil untuk menutupi kezhaliman –
kezhalimannya sebagai Qishash dan
diberikan kepada orang didhaliminya. Itu pun jika belum terpenuhi maka
keburukan orang yang dia zhalimi akan diambil diberikan kepadanya sehingga
keburukannya semakin bertumpuk.
Ini adalah hukuman kezhaliman yang
jelas, berkaitan dengan tebusan dan harta. Jika harta bercmp[ur dengan harta
orang lain yang dia dizhalimi, lalu dia tidak tahu siapa pemiliknya yang pasti
dan juga tidak tahu siapa ahli waarisnya maka dia menshodaqahkan atas nama
orang yang telah dia dzalimi. Jika hartanya yang halal bercampur dengan
hartanya yang haram, maka dia bisa memperkirakan sejumlah berapa yang haram,
lalu dia bisa menshodaqokannya.
Yang ketiga, kejahatan terhadap
kehormatan dan menyakiti hati. Dia harus mencari orang perorangan diantara
mereka, meminta maaf kepada mereka dan mengakui kejahatannya. Bahkan kadang
cara ini pun belum dianggap cukup sebab adakalanya orang yang telah dia
dzalimi, hatinya masih sakit dan ingat kembali sekian banyak kejahatannya. Jika
seperti ini keadaanya maka dia bersikap yang baik kepadanya dan lemah lembut.
Apabila orang yang didzalimi sudah meninggal maka dia harus lebih banyak
berbuat kebaikan agar bisa menjadi pengganti keburukannya saat hisab pada hari
kiamat.
Di antara syarat-syarat taubat yang
sebenarnya ialah keteguhan hati untuk tidak kembali melakukan dosa – dosanya
lagi pada masa mendatang ataupun dosa lain yang serupa. Keteguhan hati ini
harus benar-benar mantap. Perumpamaanya adalah seperti orang sakit yang sudah
tahu bahwa buah-buahan bisa membuat penyakitnya bertambah parah. Lalu dia teguh
hati untuk tidak memakan sedikit pun buah-buahan selagi dia masih sakit.
Keteguhan hati ini memang efektif untuk saat itu, sekali[un dia juga masih
membayangkan bagaiman jika saat berikutnya dia tidak mampu membendung
keinginannya untuk makan buah-buahan. Dia tidak akan taubat selagi tidak
mempunyaio keteguhan hati saat itu pula untuk tidak makan buah-buahan. Sulit
digambarkan orang yang bertaubat pada saat-saat permulaannya akan mampu
melaksanakannya kecuali dengan cara menyendiri, diam, tidak banyak makan dan
tidur., mencari makanan yang halal, membiarkan nafsu makan dan berpakaian.
Sebagian orang berkata, “siapa yang
benar-0benar ingin meniggalkan nafsu dan berusaha untuk itu hingga tujuh kali,
tentu dia dapat melakukannya. “ada pula yang mengatakan, “siapa yang taubat
dari suatu dosa dan menyendiri selama tujuh tahun, tentu dia tak akan lagi
melakukan dosa tersebut.
E. Pembagian Manusia berkaitan dengan Taubat
Manusia di bagi menjadi lima golongan
dalam kaitannya dengan taubat:
A. Orang
bertaubat yang tetap bertahan pada taubatnya hingga akhir hayat, menyadari
tindakannya yang menyimpang, tidak punya keinginan untuk kembali malkukan doasa,
kecuali hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari yang memang manusia tidak
bisa melepaskan diri darinya. Inilah yang disebut istiqomah dalam taubat. Pelakunya
adalah orang yang berada di barisan depan dalam kebaikan.
Taubat ini
disebut dengan taubatan nasuha. Sedangkan
jiwa ini disebut an-nafsul-muthma’innah. Mereka berbeda-beda ragamny. Di antara
mereka ada yang nafsunya menjadi tenang di bawah tekanan ma’rifat dan diantara
mereka ada pula yang selalu bertarung dengan nafsunya sehingga dia harus terus
berusaha. Mereka inilah yang diisyaratkan sabda Rasulullah saw:
“ para
pengumbar nafsu yang mendahulukan dzikir kepada Allah Ta’ala maka dzikirnya
akan menghindarkan mereka dari dosanya dan mereka akan datang di Hari Kiamat
dalam keadaan ringan.”
Di sini ada isyarat
bahwa mereka berada dalam dosa yang telah ditinggalkan oleh dzikirnya. Yang
termasuk ke dalam tingkatan ini yaitu orang yang ada kecendrungan kepada dosa
tapi syahwatnya telah menjadi tenteram di bawah kekuasaan ma’rifat maka
lemahlah kecendrungannya dan ia tidak lepas kecendrungannya kepada nafsu tapi
mereka mampu mengendalikan dan menanggalinya. Kemudian derajat kecendrungannya
inipun berbeda-beda, menurut banyak sedikitnya. Berbeda pula menurut lama serta
macam-macamnya.
Orang-orang
yang bertaubat inipun berbeda-beda pula dilihat dari segi panjang umurnya. Ada
yang mati mendadak segera setelah bertaubat, ya mudah-mudahan hal ini
menyebabkan keselamtanya. Ada pula yang dikaruniani umur panjang-panjang karena
itu panjang pula perjuangan, kesabaran dan istiqomahnya serta
berlimpah-limpahlah kebaikannya. Keadaan orang demikian adalah lebih tinggi dan
utama dari yang pertama. Sebab suatu kejahatan bisa dihapus oleh suatu
kebaikan. Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa dosa yang dijalankan oleh
seorang itu hanya bisa dihapus, kalau diulangi sampai sepuluh kali dengan
syahwat yang berkorbar-kobar, kemudian dia sabar atasnya dan memecahkan
syahwatnya itu karena takut kepada Allah swt. Persyaratan yang demikian itu
adalah jauh, walaupun tidak dimungkiri betapa besar pengaruhnya andaikata bisa
dijalankan seperti itu.
Bagi seorang
murid yang lemah seyogiannya tidak menempuh jalan ini sebab syahwatnya bisa
Bnar-benar bangkit dan ketika dia ingin bisa mengekangnya tapi gagal pada
kenyataannya sehingga dia tidak percaya bahwa tali kekang syahwat itu bisa
dikendalikan. Dengan begitu terjun ke dalam maksiat dan berantakanlah
taubatnya. Sebaliknya jalan yang seuai untuk mereka itu ialah menghindarkan
diri dari setiap kemungkinan yang membawanya ke arah maksiat tersebut. Dengan
demikian tertutuplah baginya pintu kemaksiatan itu. Kemudian dia berusaha
memecahkan syahwat mana yang ia bisa. Dengan demikian selamtlah taubatnya dalm
permulaan.
B. Orang
yang bertaubat yang meniti jalan istiqomah pada induk-induk ketaatan dan kedurhakaan
yang besar. Hanya saja dia tidak bisa melepaskan diri dari dosa yang
dilakukannya. Memang tidak selalu disengajah. Hanya saja dia tidak mempunyai
keteguhan hati untuk mewaspadai sebab-sebabnya. Ini termasuk nafsul-lawwamah,
yang mencela orang yang menuruti nafsu dan keadaan-keadaan yang tercela.
Sebenarnya golongan ini juga masih
tinggi, hanya saja lebih rendah dari golongan di atas. Dia sudah
termasuk orang-orang yang bertaubat. Sebab kejahatan ini merupakan gerak bathin
manusia, yang jarang sekali ada orang yang bisa selamat darinya. Yang dia
lakukan adalah bagaimana agar kebaikannya dapat mengalahkan keburukannya agar
timbangannya menjadi berat dan berat pula timbangan kebaikannya.
Mereka yang
termasuk dalam golongan kedua ini mendapat janji yang baik dari Allah,
sebagaiman firmannya:
“(yaitu) orang
yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari
kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu maha luas ampunan-nya.”
(An-Najm:32)
Semua yang
disebut lamam adalah kecil sifatnya, sedang pelaksanaannya tidak dengan
kesengajaan yang bulat. Oleh sebab itu patutlah kalau golongan kepada dosa
kecil yang termaafkan. Firmsn Allah pula: ( Ali Imran : 135)
Tuhan memuji
mereka padahal mereka menganiaya diri sendiri, itu disebabkan oleh karena
mereka menyesal bahkan mencelah nafsunya berbuat dosa itu.
Sabda
Rasululullah saw yang diriwayatkan oleh Ali r.a justru memberi isyarat kepada
tingkat semacam ini:
“ Yang paling
baik daripadamu semuanya yaitu yang kena fitnah (menjalankan dosa) kemudian bertaubat.”
Dalam hadist
lain:
“Orang mu’min
itu seperti batang, padi, kadang-kadang
tegak, kadang-kadang condong.”
Dalam Hadist
lain:
“Bagi seorang
mu’min dari waktu ke waktu tidak akan lepas dari dosa”
Semua ini
adalah suatu bukti yang pasti bahwa kadar dosa di atas menggagalkan taubat dan
tidak menyamakan kedudukan pelakunya dengan orang-orang yang terus menerus
menjalankan dosa. Barang siapa tidak percaya bahwa orang-orang itu adalah
termasuk derajat oreang-orang bertaubat adalah seperti seorang doktor yang
tidak percaya akan tetap sihatnya seseorang yang hanya sekali-kali memakan
buah-buahan dan mmakanan masak, artinya tidak terus-menerus. Seperti halnya
seorang ahli fiqh yang putus asa akan berhasilnya seseorang mencapai derajat
ahlii fiqh sebab dalam belajarnya tidak mau mengulang-ngulang dan hanya dalam
waktu yang pendek. Demikian itu menunjukkan kekurangan doktor dan ahli fiqh
tersebut. Ya, seorang fiqh dalam agama adalah orang yang tidak putus asa akan
kemampuan seorang memperoleh derajat kebahagiaan, meskipun sekali-kali ia
melakukan kesalahan-kesalahan kecil.
Sabda
Rasulullah saw:
“setiap anak
adam tidak sunyi dari kesalahan-kesalahan dan sebaik-baik orang yang berslah
adalah mereka yang bertaubat dan mohon ampun.”
Sabda beliau
pula:
“orang mu’min
dengan merobek-robek diri dengan perbuatan dosa dan tidak menambal diri dengan
perbuatan taubat. Yang paling baik dari mereka itu adalah siapa, yang mati
dalam keadaan menambal diri.”
Allah swt
berfirman: (al-Qashas:54)
Ternnyata allah
tridak mensifati mereka itu dengan “tidak memiliki kejahatan sama sekali”
C. Seseorang
bertaubat dan bertahan pada istiqomah untuk beberapa saat, lalu nafsunya dapat
mengusainya untuk mengerjakan sebagian dosa, maka dia pun melakukannya karena
tak kuasa menghadang tekanan nafsu. Sekalipun begitu dia tetap rajin malakukan
ketaatan dan juga meninggalkan beberaoa dosa yang memang sanggup
ditinggalkannya, sekalipun ada bisikan nafsu. Sekali dua kali dia bisiki nafsu.
Lalu setelah Allah memberinya taufik.,
dia pun menghentikan dan merasa menyesal serta ingin bertaubat dari perbuatan
itu. Jiwa semacam ini disebut
al-mas’ulah. Pelakunya telah difirmankan Allah,
“Dan (ada pula)
orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan
pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk.” (At-Taubah: 102 )
Allah
memerintahkkan agar dia rajin mengerjakan berbagai macam ketaatan dan membenci
apa yang telah dikerjakannya, dengan berharap apa yang difrmankan Allah:
“Mudah-mudahan
Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allag Maha pengampun lagi maha
penyayang.” (At-Taubah:102)
Akibatnya bisa
bahaya jika dia meunda-nunda taubatnya. Boleh jadi nyawanya sudah melayang
sebelum ia sempat bertaubat. Sebab amal itu tergantung kesudahannya. Kkarena
itu dia harus takut kesudahan hidupnya. Sebab setiap saat jiwa manusia bisa
meninggal, lalu saat itulah diketahui bagaiaman kesudahannya. Maka hendaklah
dia memperhatikan setiap hembusan napasnya dan waspada agar tidak terjerumus
dalam perkara yang dilarang.
Demikian
pulalah hubungan dengan kebahagiaan akhirat, sedang tingkat-tingkat kebaikan
dan keburukannya adalah terserah kepastian penyebab dari segala sebab. Seperti
hubungan sakit dengan menelan makan dan obat-obatan seperti hubungan
keberhasilannya seorang mencapai kepandaian dengan man berhak mendapat derajat
tinggi di dunia dengan meninggalkan kemalasan dan terus menerus melatih diri.
Demikianlah, tidak patut memegang tampuk pimpinan dan mencapai kemajuan kecuali
orang pandai yang telah tekun memandaikan diri itu. Akan begitu pula, tidak
patut memiliki kenikmatan akhirat dan dekat kepada Allah Ta’ala kecuali hati
yang selamat dan telah lama tekun dalam pencucian dan pembersihan diri.
Demikian itu telah diatur di zaman azali oleh tuhan segala raja. Itu sebabnya
Allah swt berfirman: (as-syams:7-10
Jikalau seorang
jatuh dalm suatu dosa sedang taubatnya tertangguh, maka ini adalah tanda-tanda
tidak tertolong.
Rasulullah saw
bersabda:
“ ada seorang
hamba yang beramal dengan amalan-amalan ahli syurga selama tujuh tahun sehingga
orang-orang pula mengatakan bahwa ia adalah memang ahli syurga. Jarak antara
dia dan syurga tinggal sejengkal lagi, tapi telah ada tulisannya, kemudian
beramallah ia dengan amalan ahli neraka dan masuk nerakalah ia.”
Kalau begitu
yang dikhawatirkan otu adalah datangs penutup sebelum sempat bertaubat. Setiap
nafas adalah bisa jadi penutup. Sebab mungkin saja mati datang bersambung
dengannya karena itu hendaknya diperhatikan nafas itu, jika tidak bisa jatuh ke
hal yang mengkuatirkan, maka ia berkallah dalam kepayaan diman tak ada guna
disesali lagi.
D. Orang
bertaubat dan istiqomah barang sesaat, lalu kembali melakukan dosa dan
tenggelam di dalamnya tanpa berhasrat untuk bertaubat dan tidak menyesali apa
yang telah dilakukannya. Ini termasuk orang-orang yang terus-menerus melakukan
dosa. Jiwa ini dinamakan al-ammarah bis-su’i. Sekalipun begitu dia masih takut
terhadap su’ul- khatimah.
Jika ia mati
dan tetap dalam tauhhid maka dia masih bisa diharapkan untuk keluar dari
neraka, sekalipun setelah sekian lama. Memang tidak mustahil dia kan
mendapatkan ampunan yang melimpah karena memang hal ini tidak ada yang bisa
mengethuinya. Hanya saja berandai-andai seperti ini tidak baik. Jika ada orang
yang berkata, “sesungguhnya Allah maha Pemurah, simpanan kemurahan hatinya amat
luas, sementara kedurhakaanku tidak mendatangkan mudharat kepada-nya”, lalu
engkau melihat dirinya mengarungi lautan untuk mencari dinar dan dirham. Jika
dikatakan kepadanya, “ kalau memang benar Dia Maha pemurah, maka duduk saja di
dalam rumahmu, tentu Dia nanti akan memberimu rezki”, maka dia pura-pura bodoh,
dengan menjawab,”Rezki itu harus dicari”. Karena itu katakan saja kepadanya,
“Begitu pula keselamatan yang harus dicari dengan takwa.”
Seperti yang
sudah kami jelaskan, orang yang bertaubat itu harus melakukan kebaikan-kebaikan
yang menjadi kebalikannya keburukan agar kebaikan itu bisa menghapuskan
keburukan dan menebusnya. Kebaikan-kebaikan yang bisa menebus dengan hati,
lidah, dan aktivitas anggota tubuh, tergantung kepada keburukannya. Yang
dilakukan dengan hati adalah dengan merendahkan diri. Yang dilakukan dengan
lidah adalah dengan cara mengakui kezhaliman dan memohon ampunan, seperti
berkata, “ Ya Rabbi, aku telah ,menzhalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.”
Di dalam
hadist, rasulullah saw bersabda,
“ tidaklah
seseorang melakukan suatu dosa, lalu dia wudhu dan membaguskan wudhunya,
kemudian shalat dua rakaat dan memohon ampunan kepada Allah Azza wa jalla,
melainkan dosa-dosanya telah diampuni.” (diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ahmad)
F. Macam-macam Dosa
Taubat
berarti meninggalkan Dosa. Dan tidak mungkin meninggalkan sesuatu meliankan
sesudah sesuatu itu sendiri diketahui. Jika taubat itu wajib hukumnnya, maka
mengetahui sesuatu yang tidak akan terlaksana taubat kecuali dengannya juga
wajib hukumnya. Jadi mengethui dosa-dosa adalah wajib hukumnya.
Manusia itu
mempunyai akhlak dan sifat yang bermacam-macam. Tetapi kami akan membatasi
hal-hal yang membangkitkan dosa, dalam empat sifat:
1.
Sifat
– sifat rububiyah (penuhanan). Dari sini muncul takabur, membanggakan diri,
mencintai pujian dan sanjungan, mancari popularitas dan ketenaran serta
lain-lainnya. ini termasuk dosa-dosa yang merusak, sekalian banyak orang yang
melalaikannya dan menganggapnya bukan dosa.
2.
Sifat-sifat
Syathaniyah (kesyetanan). Dari sini muncul kedengkian, kesewenang-wenangan,
menipu, berdusta, makar, kemunafikan, menyuruh kepada kerusakan dan
lain-lainnya.
3.
Sifat
– sifat bahimiyah (kebinatangan), dari sini muncul kejahatan, memenuhi nafsu
perut dan syahwat kemaluan, perbuatan zina, homoseks, mencuri, bertindak kejam
untuk memuaskan nafsu dan lain-lainnya.
4.
Sifat-sifat
sabu’iyah (kebuasan). Dari sini muncul amarah, dengki, menyerang orang lain,
membunuh, memukul, merampas harta dan lain-lainnya.
Semua sifat ini menmpunyai penjejangan di dalam fitrah manusia,
Sifat bahimiyaa biasanya yang lebih dominan terlebih dahulu, lalu disusul
sifat-sifat sabu’iyah pada urutan kedua. Jika dua sifat ini berhimpun menjadi
satu, kan menyeret akal ke sifat-sifat syaithoniyah, seperti makar, menipu dan
berkelahi, lalu disusul dengan sifat rububiyah.
Inilah induk-induk dari sumber-sumbernya. Kemudian dosa-dosa ini memancar
dari sumber-sumbernya ke aktivitas fisik dan ke seluruh badan. Sebagian di
antaranya ada yang mendekam di dalam hati seperti pemikiran, bid’ah, kemunafikan,
memendam kejahatan dan sebagian lain-lainnya ada di mata, sebagian lain ada di
telinga, di lidah, di perut, di kemaluan, di tangan, di kaki dan sebagian yang
lain lagi di badan. Masalah ini tidak perlu diuraikan lagi karena sudah jelas.
Kemudian dosa –dosa itu juga bisa dibagi menjadi dua macam:
a.
Kaitannya dengan hak manusia
b.
Kaitan
dengan hamba dengan Rabb-nya
Dosa
yang berkaitan dengan hak
Manusia lebih berat. Sedangkan yang kaitannya
antara hamba dan Rabb-nya lebih mudah untuk dimintahkan ampunan, kecuali yang
berupa syirik, yang sama sekali tidak kan diampuni.
Tekah diriwayatkan dari Aisyah
Radhiyallahu Anha, dia berkata “Rasulullah saw bersabda:
“ Mahkamah di sisi Allah Azza wa
Jalla itu ada tiga mcam, mahkamah yang Allah tiada mengindahkannya, mahkamah
yang Allah ttidak kan meninggalkannya sedikit pun dan mahkamah yang Allah tidak
memberi manesti. Mahkamah yang Allah tidak memberikan amnesti yaitu syirik.
Allah telah berfirman, “ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka
pasti Allah mengharamkan kepadanya
syurga.” Sedangkan mahkamah yang Allah tidak mengindahkannya sedikit pun adalah
kezhaliman hamba secara sendirian tentang sesuatu antara dirinya denga Allah
Azza wa Jalla. Dia mengampuni yang demikian itu dan melewatkannya jika Dia
menhendaki. Sedangkan mahkamah yang Dia tidak meninggalkan sedikit pun adalah
kezhaliman sebagian hamba terhadap sebagian yang lain. Qishash adalah sesuatu
yang pasti.” (diriwayatkan oleh Ahmad)
Dosa itu juga bisa di bagi menjadi
dua macam:
1.
Dosa
kecil
2.
Dosa
besar
Allah
swt berfirman dalam surat an – nisa :31
Dan
firmannya juga dalam surat an – Najm: 32
Diantara
orang salaf ada yang berkata, “ semua dosa yang allah mengancamnya dengan
neraka adalah termasuk dosa-dosa besar.”
Dari para
sahabat dan Tabi’in diriwayatkan banyak pendapat menyangkut bilangan dosa
besar.
Abu Thalib
al-Maliki berpendapat bahwa dosa-dosa besar itu ada tujuh belas, yang
dihimpunnya dari berbagai hadist dan atsar:
Empat macam
di dalam hati yaitu:
1.
Mempersekutukan
Allah dengan sesuatu
2.
Terus
menerus melakukan kemaksiatan
3.
Berputus
asa dari rahmat Allah, dan
4.
Merasa
aman dari siksa Allah
Empat macam pada lisan, yaitu:
1.
Persaksian
palsu
2.
Menuduh
orang yang baik-baik berbuat zina
3.
Memperbuat
sihir
4.
Sumpah
ghamus ( biasa disebut sumpah palsu). Yakni sumpah yang dipakai untuk
membenarkan sesuatu yang batal atau untuk membatalkan sesuatu yang benar. Ada
yang berpendapat bahwa sumpah ghamus adalah sumpah yang digunakan untuk
mengambil harta seorang muslim dengan cara yang bathil, meski harta tersebut hanya
sebuah siwak (pembersih gigi) yang terbuat dari kayu arok. Disebut sumpah
ghamus (membenamkan) karena sumpah tersebut akan membenamkan pelakunya ke dalam
neraka.
Tiga
macam di dalam perut yaitu:
1.
Minum
khamr dan semua minuman yang memabukkan
2.
Memakan
harta anak yatim secara zhalim, dan
3.
Memakan
harta riba, sedangkan ia mengetahui.
Dua
macam pada kemaluan yaitu zina liwath.
Dua
macam pada kedua tangan yaitu pembunuhan dan pencurian.
Satu macam
pada kedua kaki yaitu melarikan diri dari medan perang (dijalan allah) yakni
bila seorang mukmin berhadapan dengan dua orang kafir atau sepuluh orang muslim
berhadapan dengan dua puluh orang kafir.
Dan satu
macam lagi pada seluruh badan yaitu durhaka kepada kedua orang tua. Termasuk
kedurhakaan kepada dua orang tua adalah bila keduanya bersumpah atasnya
menyangkut perkara yang hak, kemudian ia tidak melaksanakan dengan baik sumpah
keduanya atau keduanya meminta suatu hajat kepadanya, kemudian ia tidak memberi
kepada keduanya, atau keduanya memakinya, kemudian ia memukul keduanya atau
keduanya kelaparan, kemudian ia tidak memberi makan kepada keduanya.
Demikianlah
pebdapat yang dikemukakan oleh Abu Thalib dan agaknya ini mendekati kebenaran.
Hanya saja, ia tidak menyebutkan rinciannya lebih lanjut dan tidak pula memberikan
batasan yang tegas melainkan menyebutkan dengan lafadz yang berbeda-beda.
Yang benar
dalam masalah ini adalah bahwa dosa-dosa itu menurut pandangan syara’ terbagi
kepada:
1.
Yang
diketahui bahwa syara’ menganggapnya termasuk dosa besar.
2.
Yang
diketahui bahwa ia dianggap termasuk dosa kecil.
3.
Yang
diragukan kedudukannya (apakah termasuk dosa besar atau dosa kecil), sehingga
tidak diketahui hukumnya.
Boleh jadi
syari’ (Allah) memang sengaja merahasiakan hukumnya agar para hambanya
senantiasa takut dan hati-hati sehingga tidak memberanikkan diri melakukan
dosa-dosa kecil.
Kemudian,
sesungguhnya menjauhi dosa besar itu dapat menghapuskan dosa kecil, apabila
seseorang menjauhinya dalam keadaan sebenarnya ia kuasa dan ada keinginan untuk
melakukannya. Sebagaimana seseorang yang telah dapat menguasai seorang wanita
dan kuasa pula untuk menggaulinya tetapi kemudian ia mengekang dirinya dari
menggaulinya dengan memerangi hawa nafsunya.
Akan halnya
jika ia menahan diri dari hal itu karena memang tidak berdaya dan ada rasa
takut untuk melakukannya maka ini tidak dapat menghapuskan dosa kecil sama
sekali.
G. Pengaruh taubat dalam upaya penyucian jiwa
Taubat adalah
obat mujarab untuk semua jenis penyakit jiwa dan hati. Sebab taubat membawa kembali
yang berbuat maksiat menuju manisnya ketaatan dan melepaskannya dari konsumsi
racun mematikan yang bisa menghancurkan hati. Kiranya, pengaruh taubat dalam
upaya penyucian jiwa yang paling menonjol adalah sebagai berikut:
A. Hamba merendahkan diri dan mewujudkan
ketulusan penghambaan kepada Robb
Kemuliaan dan
ketenangan jiwa tidak akan terwujud kecuali apabila jiwa merendah dan merunduk
kepada Robb dengan sukarela dan senang serta menghadap kepada-nya dalam keadaan
takut. Hanya dengan cara merasakan nikmatnya bermunajat kepada penciptanya,
sehingga jiwanya pun berbinar, dadnya lapang dan dunia serasa kecil dalam
pandangannya.
Sedangkan
waktu munajat yang paling agung ketika hamba menghadap Robbnya dalam keadaan
bertaubat dan menyesal. Ia bertawasul kepada-Nya, merendah di hadapan-Nya dan berdoa
dengan penuh khusyuk dan ketundukan agar Dia berkenan menerima taubatnya dan
mengampuni kesalahannya.
Ibnu Qoyyim
rokhimallah mengatakan, “Diantara hal-hal yang bisa menghasilkan taubat
yang benar adalah ketundukan hati,
khususnya ketundukan hati yang tiada dapat disamai oleh sesuatu pun. ketundukan
tersebut menyelimuti hati dari segala sisi dan melemparkannya di hadapan Robb
dalam keadaan terbuang, terhina dan tertunduk. Seperti keadaan budak yang
durhaka dan lari dari tuannya. Lantas, ia ditangkap dan dihadirkan di hadapan
sang tuan. Ia tidak mendapati orang bisa menyelamatkan dirinya dari kekuasaan
tuannya tersebut, dan ia sendiri pun tidak bisa melepaskan diri darinya. Ia
selalu membutuhkannya dan tidak mendapatkan tempat untuk lari darinya. Ia sadar
bahwa kehidupan, kebahagiaan, kejayaan dan keselamatannya bergantung kepada
keridhoannya terhadap dirinya. Serta, ia tahu akan pengetahuan tuannya terhadap
rincian perbuatan dosa-dosanya.
Demikianlah
keadaanya, beserta cinta dan kebutuhannya yang sangat terhadap tuannya serta
kesadarannya akan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya;bahkan, kesadaran akan
kekuatan tuannya, kemuliaan tuannya dan kehinaan dirinya.
Dari keadaan
– keadaan ini, terkumpullah ketakutan, kehinaan dan ketundukan hati. Betapa berarti
hal-hal ini bagi hamba dan betapa berguna hasilnya bagi dirinya. Tiada sesuatu
pun yang lebih disuakai Tuannya (Allah) dibanding ketaklukan, ketundukan,
kehinaan, kerendahan dan ketercampakan dirinya di hadapan-Nya serta berserah
dirinya kepada-Nya. Demi Allah, betapa indah ucapannya dalam keadaan seperti
ini, ‘dengan kemuliaan-Mu dan kerendahan diriku, aku hanyalah memohon kepada-Mu
dan kelemahanku, dengan ketidakbutuhhan diri-Mu kepadaku dan amat btuthnya
diriku terhdap-Mu. Inilah ubun-ubunku yang berdusta lagi berbuat kesalahan di
hadapan-Mu. Dan hamba-hamba –Mu selain diriku masih banyak dan aku tidak
memiliki Tuan selain diri-Mu. Tiada tempat berlindung dan keselamatan dari-Mu
selain kepada-Mu juga. Aku meminta kepada-Mu layaknya permintaan orang yang
miskin, aku memohon kepada-Mu dengan sepenuh hati seperti permohonan orang yang
tunduk lagi hina dan aku berdoa kepada-Mu seperti doa orang yang takut lagi
butuh serta permintaan orang yang tunduk dan patuh kepada-Mu, di mana kedua
matanya bercucuran karena-Mu dan hatinya merendah kepada-Mu.
Maka barang
siapa tidak menemukan hal ini dalam hatinya, maka hendaknya ia mencurigai
taubatnya dan kembali meluruskannya. Alangkah sulitnya taubat yangb benar-benar
lurus dan betapa mudahnya ia melalui lidah dan pengakuan semata.
B. Menyucikan jiwa dan melapangkan dada
Bila seorang
muslim segera bertaubat, benar-benar mewujudkan penyesalan atas kelengahannya
dan merendahkan diri kepada penciptanya seraya memohon agar Dia mengampuni
dosa-dosanya, niscaya hal itu akan mengembalikan kepercayaan dirinys setelah ia
menjauhi, membenci dan meremehkan keberadaan jiwanya akibat dosa-dosa yang
telah ia perbuat. Tidak disangsikan bahwa kebebasan dari prasaan dosa ini
merupakan motivator untuk membentuk kepribadian seorang muslim yang teguh lagi
tenang yang tidak merasakan ketegangan serata tidak mengalami kerisauan dan
kegelisahan.
Bila seorang
mukmin terjerumus dalam kemaksiatan maka seharusnya ada kesedihan yang mewarnai
hatinya ketika melakukannya. Akan tetapi karena mabuk syahwat menghalangi
dirinya, maka ia dapat merasakan kesedihan ini. Maka, apabila ia telah tersadar
dan terjaga, kesedihan itu pun menjadi api yang menyala-nyala dalam kalbunya.
Ia tidak kuasa memadamkan nyala apinya, selain dengan taubat yang tulus, yang
bisa mengembalikan ketenangan hati dan mencuci kotoran-kotoran maksiat yang
menempel padanya. Hati laksana ‘periuk baru’ yang ketika dinyalakan api di
bawahnya, ia pun menghitam. Bila anda segera mencucinya maka periuk itu akan
kembali bersih dari noda hitam. Namun jika Anda membiarkannya dan Anda terus
menggunakannya untuk memasak, niscaya warna hitam itu menempel kuat sehingga
susah dihilangkan. Taibatlah yang dapat mencuci warna hitamnya hati.
Allah telah
menyanjung hamba-hamba-Nya yang antusias menuju kebaikan-kebaikan dengan
beberapa sifat yangbberagam. Di antaranya bahwa mereka segera bertaubat dan
memohon ampun, tanpa menunda-nunda dan menangguhkan, demi mencari kesucian jiwa
dan menghindari pekatnya hati. Dia berfirman, “ dan (juga) orang-orang yang apabila
mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendir, mereka ingat akan
Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa yang dapat
mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan
kejinya itu, sedang mereka mengatahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari
Rabb mereka dan surga yang didalmnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka
kekal di dalmnya. Dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”( Ali
‘imron :135-136)
Ibnu Qoyyim
telah menjelaskan pengaruh-pengaruh besar yang diraih oleh orang yang
melaksanakn taubat yang menikmati berkahnya. Ia berkata, “Sesungguhnya taubat
melahirkan pengaruh-pengaruh luar biasa bagi pelakunya berupa
kedudukan-kedudukan yang tidak bisa digapai selain dengan taubat. Yakni
menghasilkan perasaan cinta, kasih sayang, kelembutan, syukur kepada Allah,
memuji-Nya, ridho terhadap-Nya dan berbagai penghambaan lainnya. sebab, apabila
ia bertaubat kepada Allah, niscaya allah menerima taubatnya. Lantas, Dia
mengiringi penerimaan itu dengan beragam nikmat yang tidak diketahui oleh hamba
secara rinci. Bahkan hamaba itu senantiasa menikmati berkah dan pengaruhnya selagi ia tidak memudarkan
dan merusaknya.
Dianataranya,
Allah mencintai dirinya dan sangat gembira dengan taubatnya. Diakui bahwa
balasan sejenis dengan perbuatan. Maka, ia pun tidak bisa melupakan kegembiraan
yang diperolehnya saat melakukan taubat yang tulus. Maslah ini tidak disadari
selain selain oleh hati yang hidup. Adapun hati yang mati maka ia memperoleh
kegembiraan ketika berhasil berbuat dosa dan tidak mengenai kegembiraan yang
lain.
Jadi,
bandingkanlah antara dua kegembiraan ini dan perhatikan pula akibat yang
dihasilkan dari kegembiraan karena berhasil melakukan dosa berupa kesedihan,
kegundahn, kegelisahan dan musibah. Siapakah gerangan yang sudi menukar
kegembiraan sesaat dengan kesedihan selam-lamanya? Perhatikan pula apa yang
dihasilkan ketaatan dan taubat yang tulus berupa kelapangan dada yang
berkesinambungan, limpahan nikmat, dan kehidupan yang nyaman.
C. Optimis dan semangat beramal sholih
Putus asa
ibarat penyakit yang mematikan. Bila orang yang sakit berputus asa dari
kesembuhan, maka pastilah ia meninggalkan obat sehingga sakitnya semakin parah
akibat kesedihan dan nasib buruk yang menimpanya, maka ia ubahnya seperti orang
mati, meskipun ia hidup di tengah- tengah orang yang masih hidup.
Bila
dosa-dosa hamba yang berbuat dosa menepuk. Lalu ia melihat bawah pintu taubat
telah ditutup baginya dan ia menyangka bahwa jalan kembali kepada Robbnya pun
telah terkunci, niscaya ia kan tertimpa keputusan dan ia pun melihat kehidupan
dengan pandangan yang hitam-kelam, bahkan kilauan terakhir dari cahaya keimanan
dalam hatinya juga padam. Ia berubah dari sisi kemanusiaan yang dengannya Allah
memuliakan dirinya kepada tingkatan yang lebih rendah dari binatang., hingga ia
menjadi biang kejahatan yang selalu menghantui orang-orang di seklilingnya.
Oleh sebab ini, Allah melarang kita dari sifat putus asa dan psimis akan
rahmat-Nya serta memerintahkan agar kita agar segera bertaubatdan menyesal.
Demikianlah
optimisme mengembalikan kepercayaan diri dan perasaan kemanusiaan hamba ini
sehingga hilanglah dinding tebal yang menghalangi fitrahnya. Ia segera
bertaubat dan menghancurkan rintangan-rintangan keputus asaan yang mematikan.
Seandainya ia berserah diri pada keputus asaan, psimis dari rahmat Robbnya, dan
mati dalam kondisi seperti itu, maka pastilah ia merugi dengan
sebenar-benarnya.
2.7
Obat
Taubat dan mengobati Ketagihan terhadap Dosa
Orang yang
tidak membutuhkan obat tentunya adalah orang yang tidak menghadapi penyakit.
Sebab apalah artinya obat jika dia tidak ingin mengenyahkan sumber penyakit.
Suatu penyakit tidak bisa dienyahkan kecuali dengan kebaikannya. Penyebab
ketagihan adalah lalai dan nafsu. Lalai tidak bisa dienyahkan kecuali dengan
ilmu, nafsu tidak bisa dienyahkan kecuali dengan kesabaran memotong sebab-sebab
yang menggerakkan kepada nafsu.
Kelalaian
merupakan pangkal kesalahan. Jadi tidak ada obat bagi taubat kecuali dengan
perasaan yang diambil dari manisnya ilmu dan pahitnya kesabaran.
Para dokter
bisa mengobati penyakit ini adalah para ulama. Karena ini termasuk penyakit
hati. Sementara penyakit hati lebih banyak daripada penyakitbadan. Ada beberapa
sebab yang membuat penyakit hati tambah banyak yaitu:
1.
Orang
yang ditimpa penyakit hati tidak merasa bahwa dia sedang sakit.
2.
Akibatnya
tidak bisa disaksikan di dunia ini. Berbeda dengan penyakit badan, yang
akibatnya adalah kematian dan tampak jelas di depan mata, yang biasanya akan
dihindari manusia. Sedangkan apa yang terjadi sesudah kematian maka tidak bisa
disaksikan lagi sehingga jarang orang menghindari dosa-dosanya, sekalipun orang
yang melakukannya juga menyadari hal itu. Karena itu engkau melihat seseorang
akan pasrah diri kepada karunia Allah dalam menhadapi penyakit hati dan dia
berusaha mengobati penyakit badan tanpa harus pasrah.
3.
Penyakit
hati adalah menular yang tidak bisa dideteksi dokter. Dokter yang biosa
mendeteksi dan mengobatinya adalah para ulama. Banyka penyakit yang merajalela
pada zaman sekarang. Sebab penyakit yang paling merusak adalah kecintaan kepada
dunia. Penyakit ini tidak mampu ditangani para dokter, bahkan penyakit ini pun
sudah menjangkiti para dokter itu sendiri sehingga mereka juga tidak memberikan
peringatan kepada manusia agar dia tidak diserang balik dengan ucapan, “buat
kalian menyuruh untuk berobat, sementara kalian lupa untuk mengobati diri
sendiri?” karena itu penyakit ini pun merajalela dan tidak bisa dihentikan oleh
obat macam apa pun.
Jika ada yang
bertanya, “ Lalu apa yang bisa dilakukan seorang pemberi nasehat dalam
menghadapi perilaku manusia seperti ini?”
Jawabannya:
tentu saja uraiannya panjang lebar. Tetapi kami akan mengisyaratkan beberapa
tindakan yang bermanfaat untuk itu yaitu ada empat macam:
1.
Dia
bisa menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an yang menakutkan orang yang melakukan
dosa, pengabaran dan atsar dengan kandungan yang sama. Hal ini juga diselingi
dengan oujian terhdap orang-orang yang bertaubat.
2.
Menyampaikan
kisah nabi, orang-orang salaf yang shalih dan musibah yang menimpa mereka
karena dosa seperti keadaan Adam Alaihis Salam dan akibat yang beliau alami
karena kedurhakaan yaitu dikeluarkan dari surga. Begitu pula yang dialami Daud,
sulaiman, yusuf Alaihimus Salam, al-qur’an tidak menyusahkan semua ini
mel;ainkan agar menjadi i’tibar.
Mereka
memperoleh kebahagiaan selagi dapat keluar dari dosa dan kesalahan itu.
Sedangkan orang-orang yang menderita ialah yang suka meremehkan sehingga
dosanya semakin bertambah banyak. Padahal siksa di akhirat itu sangat pedih,
maka dari itu dia bisa banyak menyampaikan kisah-kisah ini kepada mereka yang
tidak mau meninggalkan dosa, karena hal ini bisa menggerakkan untuk bertaubat.
3.
Memastikan
kepada mereka bahwa siksa di dunia pasti akan terjadi. Apapun musibah yang
menimpa hamba maka penyebabnya adalah perbuatan jahatnya. Ini hanya sekedar
penegasan di hadapan mereka, agar mereka tergerak untuk meninggalkan dosa.
Berapa banyak orang yang meremehkan urusan akhirat, karena takut siksa di dunia
hanya karena kebodohannya. Akibat dosa akan disegerahkan di dunia, sebagaimana
sabda Nabi Muhammad saw,
“
Sesungguhnya hamba itu benar-benar tidak mendapatkan rezkinya karena dosa yang
dilakukannya.” (Diriwayatkan Ibnu majah, ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy)
4.
Menyampaikan
beberapa bentuk siksaan yang berkaitan dengan minum khamr, zina, pembunuhan,
takabur, dengki, ghibah dan lain-lainnya. dia harus tampil layaknya dokter yang
mengetahuiobat dan tahu bagaimana menggunakan obat. Ada seseorang berkata
kepada Nabi Muhammad saw, “Berilah aku nasihat!” Beliau menjawab, “janganlah
engkau marah”!”
Yang
lain lagi berkata, “Berilah aku nasihat!” Maka dijawab, “Engkau haruslah putus
asa mendapatkan apa yang ada di tangan oprang lain,”
Seakan-akan
beliau bisa menangkap kebiasaan marah pada orang yang pertama. Sedangkan pada
diri orang kedua beliau menangkap ketamakan.
Yang
kami sebutkan ini adalah cara mengobati kelalaian. Berikut ini cara mengobati
nafsu. Seprti yang sudh kami sebutkan dalam pasal layihan jiwa, cara
mengobatinya dibutuhkan kesabaran. Sebab orang yang sakit karena jenis penyakit
ini sudah cukup lama sakitnya. Yang mendorongnya adalah bisikan nafsu yang
berlebih-lebihan atau karena dia lalai memikirkan mudharatnya. Begitu pula
dalam mengobati nafsu dalam masalah kedurhakaan. Seperti pemuda umpamnya. Jika
nafsu sudah mengusai dirinya maka dia tidak lagi sanggup menjaga matanya,
hatinya dan anggota tubuhnya untuk mengikuti nafsunya itu. Maka dari itu dia
harus mendengarkan hal-hal yang menkutkan sebagimana yang disebutkan dalam
kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw. Jika dia benar-benar merasa takut, tentu
dia akan menjauhi perkara-perkara yang membangkitkan nafsunya.
Orang
yang membangkitkan nafsunya dari luar ialah yag sengaja mendatangkan sesuatu
yang diinginkannya dan memandangnya. Cara mengobatinya ialah dengan berpuasa
secara terus menerus. Tentu saja hal ini tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan
kesabaran. Tidak ada kesabaran jika tidak ada rasa takut. Tidak rasa takut jika
tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa takut jika tidak ada ilmu. Tidak ada ilmu
jika tidak ada mata hati. Pertama-tama yang bisa dilakukan ialah mendatangi
majlis dzikir, mendengarkan dengan hati yang tulus, terbebas dari berbagai
macam pikiran, memikirkan apa yang dikatakan, setelah itu tentu akan muncul
rasa takut, lebih mudah untuk sabar sehingga mudah baginya untuk mencari obat
penawarnya. Setelah itu tentu dia kan mendapatkan taufik kebenaran dari Allah.
H. Pengertian dan Pentingnya Husnuzan
Husnudhan secara bahasa berarti “berbaik sangka”.[12] lawan katanya adalah su’uzan
yang berarti“berburuk sangka” atau apriori,skeptis,dan sebagainya. Seorang
yang memiliki sikaphusnudhan akan mempertimbangkan sesuatu dengan pikiran
jernih, dan hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenarannya.Berbaik
sangka dan berburuk sangka merupakan bisikan jiwa, yang dapat diwujudkan
melalui perilaku yakni ucapan dan perbuatan. Perilaku husnuzan termasuk akhlak
terpuji karena akan mendatangkan manfaat. Sedangkan perilaku suuzan termasuk
akhlak tercela karena akan mendatangkan kerugian.
Orang yang pemikiranya senantiasa dijelajahi oleh sikap suuzan
akan memandang sesuatu selalu jelek. seolah-olah tidak ada sedikitpun
kebaikan dalam pikiranya dan cenderung menganggap orang lain lebih rendah dari
dirinya. Sikap buruk sangka identik dengan rasa curiga,cemas, amarah,dan benci.
Padahal kecurigaan,kecemasan,kemarahan dan kebencian itu hanyalah perasaan
semata yang tidak jelas sebabnya, terkadang apa yang ditakutkannya selama ini
belum tentu terjadi pada dirinya atau orang lain.
Prasangka
merupakan salah satu sifat yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita semua,
tidak ada yang menyangkal bahwa prasangka merupakan hal yang wajar, karena
tidak ada manusi yang luput dari prasangka. Prasangka dalam berbagai hal
haruslah senantiasa dipertimbangkan. Memang dalam ajaran islam senantiasa
disebutkan bahwa prasangka manusia itu tidak bisa dihukumi apapun selama itu
masih dalam tataran prasangka, justru apabila berprasangka baik, sekalipun
belum dilaksanakan atau tidak diucapkan, telah dicatat sebagai kebaikan di sisi
Allah SWT. Sebaliknya, bila seseorang berprasangka buruk, selama tidak
diucapkan, diungkapkan ataupun dilaksanakan, maka itu termasuk hal yang
dimaklumi dan tidak termasuk sebagai dosa.[13]
Kata
husnuzan berasal dari bahasa Arab yang terdiri atas husnu dan azh-zhan. Husnu
artinya baik dan azh-zhan artinya prasangka. Jadi husnuzan
menurut bahasa yaitu berbaik sangka, sedangkan menurut istilah husnudzan
diartikan berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang
diberikan kepada manusia. Lawan kata dari husnuzan adalah su’uzan yang
berarti berburuk sangka atau apriori dan sebagainya. Husnuzan adalah cara
pandang seseorang yang membuatnya melihat segala sesuatu secara positif,
seorang yang memiliki sikap husnuzan akan mepertimbangkan segala sesuatu dengan
pikiran yang jernih, pikiran dan hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu
kebenaranya atau berprasangka buruk.
Husnuzan hanya ada dua kata saja
yang sangat ringan apabila diucapkan. Namun dalam kenyataannya, sulit sekali
untuk diterapkan. Dalam bahasa kita husnuzan memiliki padanan istilah baik
sangka. Yakni seseorang yang berusaha unutuk senantiasa memiliki pikiran yang
baik atas suatu kejadian yang ada di sekitarnya atau menimpa dirinya. Dengan
baik sangka seperti ini sebenarnya hidup menjadi mudah dan banyak perkara yang
menjadi sangat ringan dalam menghadapinya.
Di sisi lain, kita sangat sepakat
bahwa baik sangka merupakan kunci kebahagiaan dunia. Juga akhirat tetunya.
Sebab prasangka yang baik akan senantiasa diberi perhitungan yang baik pula
oleh Allah SWT.
Jika dalam pemikiran seseorang
telah diliputi oleh perasaan berbaik sangka, maka yang bisa tampak dalam
kehidupan sehari-harinya adalah sikap yang berujung pada ikhlas, menerima
apapun yang diberikan kepadanya, dan ridha. Semua itu bermuara di relung hati
yang paling dalam dari manusia.
Demikian pula islam, sebagai agama
yang diikrarkan Allah SWT sebagai rahmat bagi alam semesta, islam dating dengan
baik sangka. Maka orang-orang yang memeluk agama islam dan memepercayai
kebenarannya haruslah menjadi orang-orang yang penuh dengan baik sangka. Dalam
praktiknya orang yang diliputi oleh baik sangka akan menunjukkan sifat yang
sangat mengagumkan. Bahkan Allah pun mengaguminya. Yakni jika ia mendapat
nikmat entah besar ataupun kecil, ia akan bersyukur. Sebaliknya, jika ia
mendapatkan musibah, ia akan bersabar. Keduanya adalah praktik baik sangka
kepada Allah. Jika urusan dunia, lihatlah yang lebih rendah dari kita. Jika
masalah agama, lihatlah yang lebih tinggi dari kita. Keduanya pun praktik baik
sangka kepada Allah SWT, juga pada orang lain.[14]
Sebaliknya orang yang pemikirannya
senantiasa dikuasai oleh sikap su’uzan selalu akan memandang segala sesuatu itu
jelek, seolah-olah tidak ada sedikit pun kebaikan dalam pandanganya, pikirannya
telah dikungkung oleh sikap yang menganggap orang lain lebih rendah dari pada
dirinya. Sikap buruk sangka identik dengan rasa curiga, cemas, amarah dan
benci, padahal kecurigaan, kecemasan, kemarahan dan kebencian itu hanyalah
perasaan semata yang tidak jelas penyebabnya, terkadang apa yang ditakutkan
akan terjadi pada dirinya atau orang lain sama sekali tidak terbukti.
Karena besarnya efek negative yang
akan muncul pada diri manusia jika mereka melakukan perbuatan su’uzan, maka
Allah pun dengan tegas mengingatkan manusia dalam surah Al-Hujurat ayat 12 yang
berbunyi:
“Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena
sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang
dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang
suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima
taubat lagi Maha Penyayang”.
Terkait dengan firman Allah
tersebut, para salafus shalih mengatakan bahwa seseorang itu dapat berprasangka
baik apabila di dalam pergaulannya sehari-hari ia selalu mengedepankan kebaikan
atau positif thinking (husnuzan) dalam setiap kali menilai suatu peristiwa.
Jikapun misalnya ada sisi negative yang ia lihat, maka ia biasanya berupaya
untuk selalu mengeliminasinya dengan hanya melihat sisi positifnya saja.
Orang yang demikian adalah orang
yang selalu positif thinking dalam memandang kehidupan. Oleh karena itu, orang
yang selalu positif thinking dalam hidupnya cenderung tidak pernah mengenal
kata menyerah dalam menghadapi persoalan. Sebab baginya kejatuhan atau
kegagalan dalam berusaha itu bukanlah hal yang tabu untuk diterima.
Bagi orang-orang yang suka
berpikir positif, kejatuhan atau kegagalan dalam berusaha merupakan sebuah
keberhasilan yang tertunda. Oleh karena itulah, orang yang selalu membangun
prasangka baik biasanya selalu optimis dan percaya diri. Rasuluulah sendiri
sangat menganjurkan umatnya agar selalu berpikir positif.
Sebegitu pentingnya ajaran untuk
selalu berpikir posotif (husnuzan), sampai Rasulullah memesankan pada umatnya
agar jangan mati dalam kondisi tengah berpikir negative tentang Allah.[15]
Dalam hadis diriwayatkan oleh Muslim dari Djabir bin Abdillah r.a., telah
mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Jangan mati salah satu kamu
melainkan dalam keadaan baik sangka kepada Allah SWT”
I. Bentuk-bentuk dan Contoh dari Husnuzan
Bentuk-bentuk dari perilaku husnuzan dibagi menjadi tiga,
diantaranya yakni:
1. Husnuzan kepada Allah
Keyakinan
yang positif itu seperti cahaya yang akan menerangi jalan kehidupan.
Sebaliknya, sikap pesimis dan berkeluh kesah adalah kegelapan yang akan
menyesatkan seseorang. Langkah pertama untuk menggapai impian adalah keyakinan
yang positif. Keyakinan yang kuat bahwa impian kita itu akan terwujud,
keyakinan yang baik pada Allah bahwa Dia akan mewujudkan impian kita. Istilah
lain dari keyakinan positif adalah Positive Thinking atau optimis. Cita-cita
tidak akan tercapai jika tidak memiliki keyakinan yang kuat, keyakinan bahwa
cita-citanya akan tercapai, keyakinan bahwa usahanya akan berhasil, keyakinan
yang sangat kuat bahwa impiannya akan menjadi nyata dan keyakinan positif
lainnya. Dalam hadis Qudsi Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku sesuai dengan
persangkaan hamba-Ku”.
Jika
kita berpikir bahwa sesuatu itu sulit, maka benar-benar akan menjadi sulit.
Jika kita berprasangka baik kepada Allah SWT, niscaya Allah pun akan memberikan
sesuai dengan persangkaan baik kita. Perkataan yang bernada putus asa hanya
akan membuat impiannya menjadi asa. Seperti seseorang yang terus beribadah dan
berdo’a yang tujuannya untuk segera menikah, namun seseorang tersebut mengeluh
dan berkata bahwa do’anya tak kunjung diijabah oleh Allah, contoh seperti
inilah yang menunjukkan seseorang tersebut berprasangka buruk kepada Allah SWT.[16]
Terkadang
Allah SWT memberikan sesuatu anugerah kepada kita tidak dalam bungkusan yang
indah. Ia justru menganugerahi manusia sering dalam wujud bungkusan yang ruwet
atau tidak indah sama sekali. Ia tampaknya ingin melihat kita bagaimana bisa
terus menjaga sikap baik sangka untuk setiap lapisan bungkusan rahasia hidup
yang kita buka, hingga tampak anugerah itu bagi kita.
Sifat
husnuzan kepada Allah SWT merupakan salah satu perilaku terpuji yang harus
tertanam dalam jiwa seseorang, perilaku ini ditunjukan dengan selalu berbaik
sangka atas segala kehendak Allah SWT terhadap setiap hamba-Nya. Karena banyak
hal yang terjadi pada kita seperti musibah yang membuat kita secara tidak
langsung menganggap bahwa Allah telah tidak adil kepada kita, padahal sebagai
seorang mukmin sejati semestinya kita harus senantiasa menganggap apa yang
ditakdirkan Allah kepada kita adalah yang terbaik bagi kita.
Seseorang
boleh saja sedih, cemas dan gundah bila mendapatkan musibah, akan tetapi jangan
sampai berlarut-larut sehingga membuat kita menyalahkan Allah sebagai Penguasa
Takdir. Perilaku terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan cara segera menata
hati dan perasaan kemudian menegguhkan sikap bahwa setiap yang ditakdirkan oleh
Allah kepada hamba-Nya mengandung hikmah. Inilah yang disebut dengan sikap
husnuzan kepada Allah SWT.
Sebagai
seseorang mukmin yang meyakini bahwa Allah Maha Tahu atas apa yang terjadi
terhadap hamba-Nya, karena itu kita semestinya berpikir optimis, yakin bahwa
rahmat dan karunia yang diberikan oleh Allah kepada kita sebagai manusia tidak
akan pernah putus. Sebagaimana Firman Allah SWT :
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (Q.S.Al-A’raf
: 156)
Sehubungan
dengan ayat ini, kita harus senantiasa ber-husnuzan kepada Allah SWT dalam
segala hal dan keadaan, Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya,
ketika kita senang dan suka karena mendapatkan rizki dan kenikmatan dari Allah,
maka sebaliknya saat kita dalam keadaan nestapa dan duka karena mendapatkan
ujian dan cobaan hendaknya kita tetap ber-husnuzan kepada Allah SWT, sebab semua
yang diberikan oleh Allah baik berupa kenikmatan maupun cobaan tentu mengandung
banyak hikmah dan kebaikan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam sebuah Hadits
Qudis yang artinya :
“Selalu
menuruti sangkaan hamba-Ku terhadap diri-Ku jika ia berprasangka baik maka akan
mendapatkan kebaikan dan jika ia berprasangka buruk maka akan mendapatkan keburukan”
(H.R.at-Tabrani dan Ibnu Hiban).
Contoh Sikap Husnuzan Kepada Allah
a.
Sabar serta senatiasa berserah diri kepada
Allah (tawakal), yakni mempercayakan diri kepadaNya dalam melaksanakan sesuatu
pekerjaan yang telah direncanakan dengan mantap.
Dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah:112
Artinya :
Barang siapa yang
menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala
pada sisi Tuhan dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah:112).
عَنْ أَبِى سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ
قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلاَثٍ يَقُولُ «
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ ».
Dari Abu Sufyan, dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu berkata : tiga hari sebelum
meninggalnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, aku mendengar beliau
bersabda : “ Janganlah seorang diantara kalian meninggal kecuali dia telah
berbaik sangka kepada Allah “ (H.R. Muslim)
b.
Syukur dan qona’ah, yakni senatiasa berterima
kasih atas pemberian Allah serta merasa cukup atas pemberihanNya itu
Dijelaskan dalam QS.
At-Taubah:59
Artinya :
Jika mereka
sungguh-sungguh rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada
mereka, dan berkata: Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada
kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang berharap kepada Allah. (Tentulah yang demikian itu
lebih baik bagi mereka).(QS. At-Taubah:59).
2. Husnuzan kepada diri sendiri
Perilaku husnuzan terhadap diri
sendiri artinya adalah berperasangka baik terhadap kemampuan yang dimilki oleh
diri sendiri. Dengan kata lain, senantiasa percaya diri dan tidak merasa rendah
diri di hadapan orang lain. Orang yang memiliki sikap husnuzan terhadap diri
sendiri akan senantiasa memiliki semangat yang tinggi untuk meraih sukses dalam
setiap langkahnya. Sebab ia telah mengenali dengan baik kemampuan yang
dimilikinya, sekaligus menerima kelemahan yang ada pada dirinya, sehingga ia
dapat menetahui kapan ia harus maju dan tampil di depan dan kapan harus menahan
diri karena tidak punya kemampuan di bidang itu.
Husnuzan pada diri sendiri juga
merupakan hal yang wajib. Seperti contoh pada saat kita berkeinginan atau
bermimpi ingin mendapatkan suatu pekerjaan, namun setelah kita melamar
pekerjaan kita tidak yakin terhadap diri kita sendiri, dan berpikir bahwa
“apakah saya masuk kerja di tempat ini ya?” jika prasangka inilah yang pertama
kali kita pikirkan dan kelak akan menjadi kenyataan karena jika kita berpikir
bahwa sesuatu itu sulit, maka benar-benar akan menjadi sulit.[17]
Orang yang berhusnuzan kepada
dirinya sendiri ditunjukan dengan sikap percaya diri, optimis serta inisiatif
dari diri seseorang tersebut, jadi orang yang tidak percaya diri, selalu pesimis
dalam melakukan usaha apapun serta tidak mempunyai inisiatif untuk melakukan
sesuatu, maka orang tersebut termasuk su’uzan pada dirinya sendiri, dia
memandang bahwa dirinya itu buruk, lemah dan tidak mampu, padahal dia telah
menyerah terlebih dahulu sebelum melakukan suatu hal apapun dan tidak percaya
akan kemampuannya sendiri.
Perilaku terpuji terhadap
diri sendiri yaitu percaya diri, gigih danberinisiatif, di antaranya:
a.
Percaya Diri
Percaya diri termasuk sikap dan perilaku terpuji yang harus
dimiliki oleh setiap muslim atau muslimah karena seseorang yang percaya diri
tentu akan yakin terhadap kemampuan dirinya, sehingga ia berani mengeluarkan
pendapat dan berani pula melakukan suatu tindakan. muslim atau muslimah yang
berilmu pengetahuan tinggi dan memiliki keterampilan yang bermanfaat apabila ia
percaya diri, tentu ia akan memperoleh keberhasilan dalam hidup.Seseorang yang
memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan apabila tidak percaya diri tentu
akan memperoleh kerugian dan mungkin bencana. Muslim atau muslimah yang percaya
diri akan melaksanakan kewajiban terhadap dirinya sendiri, misalnya menjaga
kesehatan jasmani dan rohani serta memelihara diri agar tidak dikenai suatu
bencana.
Artinya:”Wahai anak-anak-Ku! Pergilah kamu, carilah (berita)
tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnyan yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang
kafir.”(Q.S. Yusuf: 87)
b.
Gigih
Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata gigih bahasa Minangkabau
yang artinya berkeras hati, tabah, dan rajin. Gigih juga dapat diartikan
bersungguh-sungguh dalam meraih sesuatu.Sikap dan perilaku gigihdalam
meraih yang positif termasuk sikap mahmudah (sikap terpuji)
dan akhlakul karimah. Setiap muslim dan muslimah wajib memiliki
sikap gigih. Sikap gigih hendaknya diterapkan dalam kehidupan antara lain dalam
hal berikut:
1)
Menuntut ilmu
Ilmu pengetahuan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu
pengetahuan tentang agama Islam (‘ilm hal) dan ilmu pengetahuan umum (‘ilm
gairu hal). Ilmu pengetahuan tentang agama Islam memberikan pedoman hidup
kepada umat manusia.
Ilmu pengetahuan umum bertujuan agar umat manusia dapat
memanfaatkan, menggali, dan mengolah kekayaan alam, baik yang ada di darat dan
di laut maupun yang ada di angkasa raya.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Kebaikan/kebahagiaan
di dunia dan di akhirat beserta ilmu dan keburukan/bencana di dunia dan di
akhirat beserta kebodohan.”
(H.R Bukhari)
2)
Bekerja mencari rezeki yang halal
Bekerja mencari rezeki
yang halal dapat dilakukan melalui berbagai bidang usaha, misalnya pertanian,
peternakan, dan perdagangan. Bekerja dalam bidang apa pun hendaknya dilakukan
dengan gigih dan sungguh-sungguh dengan dilandasi niat ikhlas karena Allah SWT,
untuk memperoleh rida dan rahmat-Nya. Dengan cara seperti itu maka akan
diperoleh hasil kerja yang optimal. Islam melarang umat-Nya bermalas-malasan
dan menjadi beban orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Bekerja mencari
rezeki yang halal itu wajib bagi setiap Muslim.”
(H.R. Tabrani)
3)
Berinisiatif
Kata inisiatif berasal dari bahasa Belanda yang
berarti prakarsa atau langkah pertama. Inisiatif
juga berarti berbuat yang sifatnya produktif ( memiliki etos kerja yang tinggi)
dan tidak tergantung kepada orang lain. Islam mengajarkan umatnya untuk
memiliki etos kerja yang tingi.Seseorang yang memiliki inisiatif disebut inisiator.
Inisiatif dalam hal
positif merupakan sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap orang muslim
dan muslimah. Muslim/Muslimah yang berprasangka baik terhadap dirinya, tentu
akan berkeyakinan bahwa dirinya mampu berinisiatif yang positif dalam bidang
yang ditekuninya dan sesuai dengan keahliannya.
Firman Allah swt:
Artinya: “Dan
bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya.”(Q.S. An Najm(53): 39
3. Husnuzan kepada sesama manusia
Baik sangka (husnuzan) pada orang
lain khususnya sesama muslim adalah wajib. Karena penyebab utama pertikaian dan
peperangan adalah buruk sangka dan tidak berbaik sangka kepada orang lain.
Berprasangka baik pada orang lain
akan membuat orang tersebut malah senang dengan kita. Hubungan menjadi lebih
baik dan harmonis. Tidak ada kecurigaan dan yang ada adalah saling percaya. Ini
menjadi kekuatan untuk mempersatukan umat.
Hubungan baik antar manusia yang
satu dengan yang lain, dan khususnya antara muslim yang satu dengan yang lain
merupakan sesuatu yang harus diupayakan dengan sebaik-baiknya. Hal ini karena
Allah telah menggariskan bahwa setiap muslim itu bersaudara, sesuai dengan
firman Allah surat Al-Hujurat ayat 10 yang berbunyi:
“Orang-orang
beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu
mendapat rahmat”.
Oleh karena itu, segala bentuk
sikap dan sifat yang akan memperkokoh dan memantapkan persaudaraan harus
ditumbuhkan dan dipelihara, sedangkan segala bentuk sikap dan sifat yang dapat
merusak ukhuwah harus dihilangkan. Agar hubungan ukhuwah islamiyah itu tetap
terjalin dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dipenuhi adalah husnuzan
atau berbaik sangka.
Tidak hanya itu, islam juga
mengajarkan agar dengan keislaman yang kita miliki, orang yang tidak seiman pun
dengan kita akan merasa nyaman dengan kondisi yang ada. Sedemikian mulianya
islam mengatur hubungan tidak hanya dengan sesame muslim tetapi juga dengan
sesama manusia secara umum.
Oleh karena itu, apabila kita
mendapatkan informasi negative tentang sesuatu yang terkait dengan pribadi
seseorang apalagi seorang muslim, maka kita harus melakukan tabayyun
(pengecekan) terlebih dahulu kepada sumbernya langsung jika memungkinkan
atau kepada sumber-sumber yang
benar-benar bisa dipercaya sebelum mempercayai apalagi meresponnya secara
negative. Allah SWT berfirman pada QS. Al-Hujurat ayat 6 yang berbunyi:
“Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu
berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu.”
Ada banyak nilai dan manfaat yang
diperoleh seorang muslim apabila dia memiliki sifat husnuzan kepada orang lain.
Pertama, hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik. Hal ini
karena berbaik sangka dalam hubungan sesama muslim akan menghindari terjadinya
keretakan hubungan. Bahkan keharmonisan hubungan akan semakin terasa karena
tidak ada kendala-kendala psikologis yang menghambat hubungan itu.
Kedua, selalu bahagia atas segala
kemajuan yang dicapai orang lain, meskipun kita sendiri belum bisa mencapainya.
Hal tersebut memiliki arti yang sangat penting, karena dengan demikian jiwa
kita menjadi tenang dan terhindar dari iri hati yang bisa berkembang pada
dosa-dosa baru sebagai kelanjutannya. Ini berarti kebaikan dan kejujuran akan
mengantarkan kita pada kebaikan yang banyak dan dosa serta keburukan akan
mengantarkan kita pada dosa-dosa berikutnya yang lebih besar lagi dengan dampak
negative yang semakin banyak.[18]
a.
Kehidupan berkeluarga
Untuk mewujudkan rumah tangga yang memperoleh rida dan rahmat
Allah swt , bahagia dan sejahtera, baik di dunia maupun di akhirat.
·
Pasangan suami-istri hendaknya saling
berprasangka baik dan tidak saling curiga, saling memenuhi hak dan melaksanakan
kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya.
·
Hubungan anak-anak dan orang tua dilandasi
dengan prasangka baik dan saling pengertian.
·
Anak-anak berbakti dan menyenangkan hati orang
tua.
·
Orang tua memberi kepercayaan diri pada anak
agar anak bisa mengembangkan diri dan melakukan hal-hal yang bermanfaat.
b.
Kehidupan bertetangga
·
Saling menghormati dan menghargai, baik secara
sikap, ucapan lisan dan perbuatan. Menghormati tetangga merupakan tanda-tanda
dari manusia beriman:
“Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya menghormati tetangganya.” (H.R.
Muslim).
·
Berbuat baik pada tetangga dengan cara
melakukan kewajiban terhadap tetangga dan perbuatan lainnya yang bermanfaat.
“Tidak akan masuk surga
orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguannya.”(H.R.
Muslim)
c.
Kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara
Tujuan dari berkehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
ialah terwujudnya kehidupan yang aman, tenteram, adil dan makmur, dibawah
ampunan dari ridha Allah SWT.Hal ini bisa ditempuh dengan saling berprasangka
baik dan berperilaku terpuji.
1)
Generasi tua menyayangi generasi muda, yaitu
dengan membimbing mereka agar kualitas hidupnya dalam berbagai bidang positif
melebihi generasi tua. Generasi muda hendaknya menghormati yang tua dengan
bersikap, berkata dan berperilaku yang bermanfaat.“Bukan dari golongan kami
(umat Islam) orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang
tua.” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim).
2)
Saling tolong-menolong dalam kebaikan serta
ketakwaan dan jangan saling menolong dalam dosa serta pelanggaran.
·
Pemerintah dan rakyat dari golongan mampu
saling bekerja sama untuk mengetaskan kemiskinan.
·
Pemerintah dan masyarakat bekerja sama dalam
memberantas kejahatan dan kemungkaran yang terjadi di lingkungan masyarakat.
4. Husnuzan pada Situasi dan Keadaan
Dalam surat Al-Baqarah ayat 216, Allah SWT berfirman bahwa:
“Boleh
Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.”
Ayat ini menyiratkan bahwa setiap
keadaan yang menimpa kita, adalah yang terbaik dari Allah SWT. Walaupun mungkin
menurut kita hal itu tidak kita sukai, namun sebenarnya Allah SWT punya rahasia
yang belum kita ketahui. Selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa. Misalnya
seperti ditolak melamar kerja, jodoh tidak kunjung tiba, gagal ikut ujian CPNS,
atau kondisi apapun yang menurut kita tidak baik, maka ketahuilah bahwa Allah
SWT lebih tahu dari pada kita.
Sebenarnya masih banyak kekeliruan
dalam pemikiran kita yang mesti diperbaiki. Karena jika kita sadar, maka
pikiran itu akan membentuk diri kita, selain itu, pikiran yang buruk sama
dengan prasangka yang buruk atau su’uzan pada Allah SWT.[19]
Beberapa contoh seseorang
berhusnuzan dan bersu’uzan:
|
Su’uzan
|
Husnuzan
|
|
Aku tidak yakin punya rumah mewah, susah membersihkannya.
|
Jika aku punya rumah mewah, maka pembantuku yang akan
membersihkannya.
|
|
Besok saya mau ujian, lulus gak ya?
|
Besok saya mau ujian, saya akan mendapat nilai berapa ya?
Ranking 1 atau ranking 2 ya?
|
|
Sebentar lagi aku mau nikah, aku takut tidak bisa hamil.
|
Sebentar lagi aku mau nikah, aku mau punya anak berapa ya?
|
J. Nilai-nilai Positif atau Manfaat Husnuzan dalam fenomena kehidupan
Seorang muslim tentunya mempunyai
tujuan yang sempurna menyerupai peranannya dalam menjalani kehidupan untuk
beribadah kepada Allah SWT. Dimana semua itu hanya dapat dicapai dengan
komitmen untuk selalu berfikir sehat atau husnuzan terhadap segala hal yang
mengandung unsur keimanan beserta rukun-rukunnya. Dan hasil dari keimanan itu
adalah supaya dia selalu berkomitmen dengan amal-amal positif yang berupa amal
soleh, maka ketika itulah manusia dapat mencapai kehidupan yang baik di dunia
dan di akhirat, Allah berfirman:
“Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan
beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.”
Di bawah ini merupakan manfaat
atau nilai-nilai positif dari berhusnuzan, diantaranya:
1. Dapat
membangkitkan inspirasi (pengaruh dari dalam yang membangkitkan kreatif) yang
lebih besar, yaitu rahasia kesempurnaan yang tinggi, memuliakan berbagai amal
dengan kemenangan, menumbuhkan keyakinan serta kepercayaan.
2. Berfikir
positif atau husnuzan dapat mengajak memilih sesuatu yang bernilai dari tujuan
masa depan dan kehidupan yang lebih baik sesuai dengan tujuan.
3. Komitmen
pada perubahan negative yang dibangun dan mengalir dalam diri akan mempunyai
pengaruh yang bermanfaat bagi kepribadian dan juga membawa dampak (baik)
disegenap aktivitas.
4. Pemikiran
yang positif atau husnuzan akan mengurangi kesedihan, sebaliknya akan
memperbanyak bahagia, melihat satu sudut peristiwa secara terang sebagai ganti
dari memenuhi hidup dengan pemikiran-pemikiran gelap, lebih memilih kesenangan
sebagai ganti dari kesedihan, dan langkah pertama untuk meraih semua itu adalah
kebaikan yang bersemayam dalam diri.
5. Sesungguhnya
akal itu hanya terfokus pada satu fikiran yang menguasainya disetiap waktu,
oleh sebab itu apabila kita memasukkan dalam akal kita itu fikiran positif atau
husnuzan maka keluarlah fikiran negative yang berlawanan. Akal fikiran itu
tidak akan pernah terjadi kekosongan oleh karena itu jika kita tidak
memenuhinya dengan pemikiran positif (husnuzan) maka akal kita akan dipenuhi
dengan pemikiran negative (su’uzan).[20]
6. Sesungguhnya
sesuatu yang positif dalam akal dan perasaan atau emosi mampu membentuk
kehidupan kita menjadi positif, optimis dan berkemauan, mempunyai kekuatan
untuk membela diri, menentang serangan yang ditujukan kepada kita dari
syetan-syetan yang berbentuk jin dan manusia, dan yang lebih besar dari pada keduanya
adalah menentang bisikan-bisikan hati.
7. Manakala
kita berfikir secara positif hal itu membuat daya tarik kepada kita untuk
berpijak pada sesuatu yang positif, begitu pula sebaliknya manakala kita
berfikir secara negative hal itu membuat daya tarik kepada kita untuk berpijak
pada sesuatu yang negative.
8. Seseorang
yang mampu berfikir positif atau husnuzan dan menjadikan keyakinan itu pada
dirinya, maka dia akan melihat sekelilingnya dengan pandangan yang optimis dan
dia sanggup melupakan hal negative yang terjadi di sekelilingnya, dan
memencarkan kekuatan untuk mencapai tujuannya.
9. Fikiran
positif atau husnuzan membentuk sesuatu yang bernilai san bermanfaat, yaitu
selalu berfikir membangun dan melahirkan sesuatu yang baru, memunculkan
tunas-tunas yang saling bersentuhan dan perbuatan amal yang menjadikan sesuatu
itu dapat berfungsi, yang tujuannya adalah berbuat dan membangun.
10. Fikiran
positif atau husnuzan tidak dapat secara langsung dengan sendirinya merubah
kehidupan menuju arah yang lebih baik, karena terdapat factor penting bagi
manusia untuk menerapkan berbagai strategi atau taktik, disertai dengan latihan
secara berangsur-angsur untuk merubah tatacara berfikirnya, dan juga merubah
apa yang diperbuatnya setiap hari yang menjadi kebiasaan perilakunya.
11. Oleh
karena itu fikiran positif atau husnuzan adalah praktek dan tindakan (action),
dimana hakikatnya ia bukan merupakan puncak tujuan, melainkan hanya sarana
(alat).[21]
K. Strategi Berfikir Positif atau Berhusnuzan
Terdapat dua cara dalam melihat dunia (husnuzan dan
su’uzan):
Pertama, melapangkan
hati dan meletakkan pandangan dunia pada kedudukan semestinya, memilih sesuatu
yang positif sehingga kita menjadi pribadi yang positif, lantas kita melihat
dunia dengan bayangan kebaikan dan keindahan. Rasa optimis yang memenuhi jiwa,
sehingga menjadi manusia yang lebih banyak berbahagia dan lebih banyak berbuat.
Kedua, memandang
dunia penuh dengan racun keburukan dan melihatnya dari sisi yang gelap,
sehingga kita tidak melihat dunia kecuali penuh dengan masalah dan kedzaliman
di semua tempat, kita melihatnya penuh dengan kepasrahan tanpa berusaha melihat
sisi lain sebagai alterntif adanya peluang dan harapan.
Ketika jiwa yang positif telah
menguasai pemikiran seseorang maka dia tidak akan ragu lagi ketika berhadapan
dengan berbagai kelompok dalam masyarakat dan bercampur baur dengan mereka, ia
akan menasehati mereka, bersabar dengan segala resiko dan gangguan yang mesti
dihadapinya.[22]
Sebaliknya bagi orang yang selalu su’uzan terus-menerus dalam melihat dunia ini
maka akan jarag bisa melihat dan menangkap kerusakan atau masalah yang
dihadapinya itu sebagai sebuah pesan dari Allah SWT untuk dirinya. Akhirnya,
tatkala ia melihat orang lain atau dirinya sendiri tengah dihadapkan dengan
masalah, maka ia akan gampang sekali terjebak dalam perilaku su’uzan, baik
kepada orang lain, dirinya sendiri maupun kepada Allah SWT.[23]
Dari uraian di atas, kali ini kita
akan membahas tentang bagaimana strategi agar kita bisa berfikir positif atau
berhusnuzan, yakni:
1. Selalu
memandang kelebihan
Ini
adalah langkah pertama sebelum menjalankan langkah-langkah beriktnya. Lihat
kelebihan dari sesuatu tersebut. Misalnya, ketika ternyata kita tidak lulus
ujian CPNS, kita lihat kelebihannya terlebih dahulu, yakni yang tidak lulus
lebih banyak daripada yang lulus, yang terpenting kita harus tetap mencari hal
positif tersebut meskipun hal tersebut sangat kecil atau sepele.
2. Diam
dan tidak gegabah mengelauarkan statement atau komentar
Memag
sangat terasa tidak nyaman dan sangat susah ketika kita tertimpa musibah,
mendapatkan berita buruk maupun tertimpa keadaan buruk, dan yang paling cepat
bereaksi ketika mendapatkan musibah adalah lisan atau mulut. Maka sebaiknya
jangan berkomentar atau mengeluarkan statement terlebih dahulu, karena
kata-kata itu memiliki kekuatan luar biasa. Jika terpaksa mulut ini haru bicara
maka ucapkanlah innalillahi wainna ilaihi roji’un atau kalimat yang menenagnkan
lainnya seperti astaghfirullah, Alhamdulillah, dan sebagainya.
3. Bertanya
terlebih dahulu
Ini
adalah langkah ketiga, yang merupakan langkah yang sangat penting. Sangat
menentukan kondisi hati kita. Langkah ini dilakukan ketika masalah yang kita
hadapi berhubungan dengan orang lain, maka sebelum berpikir macam-macam tentang
orang lain, maka bertanyalah, seperti, kenapa teman kta berbuat seperti itu?
Dan sebagainya, yang sekiranya akan membuat segalanya jadi lebih terang dan
jelas sebelum memvonis dia itu A atau dia itu B.
4. Mengambil
hikmahnya
Ini
adalah puncak dari langkah-langkah berbaik sangka atau husnuzan. Langkah yang
harus digunakan yakni mengambil hikmah dari berbagai peristiwa. Di semua
peristiwa pasti ada hikmah dan pelajaran untuk kita. Masalah atau musibah yang
kita alami jika disikapi dengan bijaksanan akan semakin mendewasakan dan
membuat diri kita lebih arif. Tetapi jika kondisi yang buruk disikapi dengan keburukan,
ungkapan-ungkapan yang semakin membuat hati bertambah perih, justru itulah
bencana yang sesungguhnya. Percuma, mengeluh atau tidak mengeluh, musibah itu
tetap saja kita rasakan. Maka lebih baik memilih tenang dan berbaik sangka
kepada Allah serta, tetap optimis.
5. Mengurangi
informasi negative
Mungkin
kita cenderung lebih sering mendengar berita tentang tragedi, kecelakaan,
bencana maupun tindak kejahatan, penindasan, penyelewengan dan lain sebagainya.
Semua diekspose dengan gaya yang membuat semua orang terperangah dan ingin
mengetahuinya lebih dalam lagi. Tetapi, berita tentang keharmonisan, prestasi,
kepedulian, kejujuran dan cinta kasih sering kali luput dari perhatian. Sebab,
peringkatnya kecil dan tidak menguntungkan bagi media yang menyiarkannya. Maka
mulai saat ini kurangi informasi tentang hal-hal yang negative.
Pada
saat yang sama, konsumsi berita-berita yang membangkitkan optimisme. Ada
baiknya jika kita berusaha bergaul hanya dengan orang-orang yang secara pasti
memberikan masukan positif terhadap cara berpikir. Brian Tracymengatakan, “Get
around the right people. Associate with positif, goal-oriented people who
encourage and inspire you. –Bergaullah dengn orang-orang yang tepat.
Bekerjasama dengan orang yang positif, yang berorientasi kepada hasil, mereka
yang membangkitkan semangat dan menginspirasikan banyak hal kepadamu.” Dengan
demikian lambat laun cara berpikir kita akan lebih positif.
6. Memfokuskan
diri hanya kepada hal-hal yang positif
Dalam
hal ini kita dituntut untuk lebih mensyukuri karunia Allah SWT, daripada
memikirkan tentang sesuatu yang hilang dalam hidup, akan lebih baik bila kita
membuat daftar anugerah Allah SWT yang membuat diri ini merasa lebih bersyukur.
Misalnya,
jika kita sedang kesal atas kemalangan yang menimpa, mungkin berupa ban kempes
di tengah jalan, macet, pekerjaan belum beres, kehilangan dan lain sebagainya.
Daripada terus memikirkan kemalangan itu, sebaiknya kita merenungkan betapa
besar anugerah Allah SWT kepada kita, karena keajaiban kerja miliaran sel dalam
tubuh kita. Anugerah itu memungkinkan kita tetap bernapas, melihat, mendengar,
dan lain sebagainya. Pada saat itulah, kita akan dapat merasakan bahwa
kemalangan yang sedang kita alami tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan
anugerah Allah SWT sehingga kita dapat berpikir positif lagi (husnuzan) dan
dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
7. Menerima
kejadian apa adanya dan menghilangkan kesan negative atau trauma
Apa
pun yang terjadi pada diri kita hakikatnya adalah kehendak dari Allah SWT.
Semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jadi, biasakanlah diri kita
untuk senantiasa merasa ikhlas dengan segala anugerah-Nya. Sebagai orang yang
beriman, kita wajib istirja’ kemudian berdo’a. yakinlah bahwa Allah SWT akan menggantinya
dengan semisal atau hal yang lebih baik lagi.
Dalam
sebuah hadis diriwayatkan, Umi Salamah amat terkejut saat suami tercintanya
gugur di medan perang. Sebagai seseorang yang beriman, pasti ia bangga karena
suaminya meninggalkan dirinya dalam keadaan husnul khotimah. Namun, sebagai
manusia biasa kehilangan belahan jiwa merupakan pukulan yang amat berat. Karena
ia percaya bahwa semua milik Allah SWT akan kembali kepada-Nya, maka ia
istirja’ dan berdo’a semoga Allah mengganti musibah yang menimpanya dengan hal
yang lebih baik lagi. Setelah beberapa saat, Umi Salamah mendapatkan pengganti
yang jauh lebih baik daripada suaminya, yakni lelaki agung penghulu para umat
sekalian alam, yakni Muhammad Rasulullah SAW.
Namun jika
trauma itu benar-benar sulit dihilangkan, bukan berarti itu merupakan
tanda-tanda kelemahan manusia. Cobalah sekal lagi memikirkan berbagai solusi
yang konstruktif dan melakukan sesuatu yang memudahkan usaha kita.[24]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Husnudzan
adalah berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang
diberikan kepada manusia.
2. Bentuk-bentuk
husnuzan ada 4 yakni husnuzan kepada Allah, husnuzan kepada diri sendiri,
husnuzan kepada orang lain serta husnuzan kepada keadaan atau situasi.
3. Banyak
nialai positif atau manfaat dari kita berhusnuzan atau berprasangka baik kepada
Allah, diri sendiri, orang lain maupun berhusnuzan kepada situasi atau keadaan,
intinya yakni berhusnuzan disini merupakan praktik dari kita berbuat atau
berperilaku terpuji tentanunya juga untuk meningkatkan keimanan kita menuju
ridho Allah SWT.
4. Strategi
untuk berfikir postif atau berhusnuzan ada 7 yakni; selalu memandang kelebuhan,
diam dan tidak gegabah mengelauarkan statement atau komentar, bertanya terlebih
dahulu, mengambil hikmahnya, mengurangi informasi negative, memfokuskan diri
hanya kepada hal-hal yang positif, serta menerima kejadian apa adanya dan
menghilangkan kesan negative atau trauma.
DAFTAR RUJUKAN
Abdillah,
Adi. 2010. Dahsyatnya Berbaik Sangka. (Yogyakarta: Qudsi Media).
Ar-Raqib, Said bin Soleh. 2010. Positif
Thinking (Rahasia Kekuatan Berpikir Menurut Sunnah Nabi). (Solo: PT.
Qaula).
Barozi,
Ahmad. 2008. Penyakit Hati dan Penyembuhannya, (Yogyajarta: Darul
Hikmah).
Suci Rahayu & Toifuri, 2007 Pendidikan
Agama Islam SMA (Jakarta: Ganesa Exact)
[1]Syekh
Muhammad djamaluddin Al Qasyimi Ad Dimsyaqi, Mau’idhotul Mukminin, 1993,
Semarang: cv.Asy Syifa’, halmn 663
[2]
Ibid hal 663
[3]
Imam Ghazali (di indonesiakan oleh Nurhikmah dan Drs. R.H.A.suminto), kitab
tauabat, sabar dan syukur, jakarta: P.T tintamas Indonesia halmn 4
[4]
Ibid hal 5
[5]
Opcit hlmn 663
[6]
Dr. Anas Ahmad Karzun, Nutrisis Hati, 2008, solo: Dar nur Al-Maktabat, hlmn 229
[7]
Syekh Muhammad djamaluddin Al Qasyimi Ad Dimsyaqi, Mau’idhotul Mukminin, 1993,
Semarang: cv.Asy Syifa’, halmn 664
[8]
Ibid halmn 664
[9]
Dr. Anas Ahmad Karzun, Nutrisis Hati, 2008, solo: Dar nur Al-Maktabat, hlmn 229
[10]
Ibid hlmn 230
[11]
Ibnu katsir, tafsir ibnu katsir (IV/418)
[13]
Adi Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media,
2010), 3.
[14]
Adi Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media,
2010), 106-108.
[15] Ahmad
Barozi, Penyakit Hati dan Penyembuhannya, (Yogyajarta: Darul Hikmah,
2008), 49-50.
[16]Adi
Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media, 2010),
113-114.
[17]
Adi Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media, 2010),
116-117.
[18]
Adi Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media, 2010),
118-120.
[19]
Ibid, 121.
[20]
Ilmu Nafsi an-Najah, Brian Traccy, 27.
[21]
Said Bin Soleh Ar-Raqib, Positif Thinking, (Solo: PT. Qaula, 2010),
25-28.
[22]
Said Bin Soleh Ar-Raqib, Positif Thinking, (Solo: PT. Qaula, 2010),
77-78.
[23]
Ahmad Barozi, Penyakit Hati dan Penyembuhannya, (Yogyajarta: Darul
Hikmah, 2008), 48.
[24]
[24]
Adi Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media,
2010), 135-139.

0 komentar:
Post a Comment