Loading...
Sunday, 20 March 2016

Membiasakan Perilaku Terpuji



 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Makalah ini akan membahas tentang bagaimana kita sebagai orang muslim harus membiasakan berperilaku terpuji, diantaranya yakni bagaimana kita harus selalu berhusnudzan terhadap siapapun serta bertaubat kepada Allah SWT. Mengenai perilaku terpuji atau akhlak terpuji yakni menurut  pendekatan etimologi, akhlak berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnnya “khuluqun” yang artinya budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, yang mana akhlak atau perilaku yang baik disini di contohkan seperti husnudzan dan bertaubat, ada pula yang mengatakan bahwa akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang akhirnya berbuah suatu perbuatan.
Perilaku terpuji atau akhlak terpuji adalah segala tingkah laku yang terpuji, dapat disebut juga dengan akhlak yang utama, yakni akhlak yang baik dilahirkan oleh sifat-sifat yang baik yang tertanam dalam jiwa seseorang tersebut. Sangat berbeda dengan akhlak yang buruk atau perilaku yang buruk yakni yang tercermin dari tutur kata, tingkah laku, dan sikap yang tidak baik.
Maka dari itu dalam pembahasan kali ini kita akan mengupas secara mendalam tentang perilaku husnuzan dan bertaubat yakni diantaranya tentang pengertian serta pentingnya perilaku tersebut, bentuk-bentuk serta contoh dari perilaku tersebut, serta bagaimana nilai-nilai positif dari husnuzan dan bertaubat dalam fenomena kehidupan.

B.     Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
1.      Apa pengertian husnuzan dan bertaubat?
2.      Bagaimana bentuk-bentuk serta contoh dari perilaku husnuzan dan bertaubat?
3.      Apa saja nilai positif dari perilaku husnuzan dan bertaubat dalam fenomena kehidupan?
4.      Bagaimana strategi untuk berhusnuzan atau berfikir positif?

C.    Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas dapat dirumuskan beberapa tujuan sebagai berikut:
1.      Mengetahui pengertian husnuzan dan bertaubat.
2.      Mengetahui bentuk-bentuk serta contoh dari perilaku husnuzan dan bertaubat.
3.      Mengetahui nilai-nilai positif dari perilaku husnuzan dan bertaubat dalam fenomena kehidupan.
4.      Mengetahui strategi berhusnuzan atau berfikir pisitif.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.    Hakikat Taubat

Taubat mengandung pengertian yang tersusun dari tiga perkara yaitu ilmu, keadaan dan perbuatan. Yang pertama menyebabkan timbulnya yang kedua dan yang kedua menyebabkan timbulnya yang ketiga sesuai dengan Sunnatullah dalam kemaharaaan-nya.[1]
Dari segi ilmu yakni mengetahui besarnya bahaya dosa dan sifat-sifatnya sebagai racun yang membinasakan dan pendinding (hijab) antara seoarang hamba dengan semua yang dicintainya. Jika hal ini telah dipahami sebenar-benarnya dan ini dibuktikan dengan tertanamnya keyakinan yang kuat di dalam hati, tentu dengan dengan pemahaman ini akan membersihlah rasa sakit di dalam hati, oleh sebab terluputnya sesuatu yang dicintainya. Karena memang demikian tabiat hati. Bila merasa sesuatu yang dicintainya terluput, maka hati itu pun akan merasa sakit. Bila terluputnya sesuatu yang dicintai itu disebabkan oleh perbuatannya, maka ia menyesali perbuatan yang meluputkan itu. Maka rasa sakitnya yang disebabkan oleh perbuatannya yang meluputkan sesuatu yang dicintanya itu dinamakan “ penyesalan”.[2]
Jika rasa sakit ini telah menguasai hati sedemikian rupa maka rasa sakit ini akan membangkitkan di dalam hati satu keadaan lain yang dinamakan iradah (kehendak) dan qash (niat) untuk melakukan suatu perbuatan yang berhubungan dengan keadaan sekarang, masa lalu dan masa datang.
Yang berhubungan dengan keadaan masa sekarang adalah dengan meninggalkan dosa yang sedang dilakukan.yang berhubungan dengan masa datang adalah dengan ber’azam untuk meninggalkan dosa yang meluputkan sesuatu yang dicintainya, hingga akhir hidupnya. Sedangkan yang berhubungan dengan masa lalu adalah dengan mengejar dan mendapatkan kembali perkara-perkara yang terluput dengan melakukan kebaikan-kebaikan dan menqadha’nya bila memang mungkin dilakukan.
Dalam menambah yang kurang ini, pertama harus ada ilmu, sebab ilmulah yang mengajari kebaikan. Yang kami maksudkan dengan ilmu ini yaitu iman dan yakin. Iman yaitu suatupengertian yang membenarkan bahwa dosa adalah suatu hal yang merusak, sedangkan yakin adalah suatu pengertian yang menguatkan pembenaran tersebut dan yang menghilangkan keragu-raguan. Jika yakin ini telah menguasai hati, maka timbullah cahaya iman itu.[3]
Jikalau dalam hati itu telah menyala api penyesalan maka sedihlah ia karenanya, sebab dengan sorotan cahaya iman itu ia mengetahui dirinya terhijab dari  yang dicintainya. Seperti halnya matahari dan cahaya itu menembus kabut serta mengungkap tirai/hijab, kemudian ia melihat yang dicintanya dan menyadari bahwa dirinya berada diambang kebinasaan, maka menyalalah api cinta di hatinya. Api makin berkobar-kobar dengan timbulnya iradah (hasrat) untuk bangun dan mencapainya.
Maka ketiga-tiganya ilmu menyesal dan hasrat yang berhubungan dengan meninggalkan pekerjaan waktu itu dan waktu akan datang sertta mengejar kekurangan masa lampau adalah tiga arti yang berturut-turut (  yang tak dapat dipisahkan satui sama lainnya). maka nama taubat itu umum untuk ketiga makna diatas dalam arti satu. Tapi banyak yang mengartikannya atas penyesalan saja, dan ilmu dianggap sebagai pendahulunya sedang meninggalkan perbuatan itu sebagai akibatnya.[4]
Gabungan dari ilmu, penyesalan dan niat yang berhubungan dengan upaya meninggalkan dosa inilah yang dinamakan “taubat”,[5]  sehingga dapat disimpulkan dari uraian – uraian diatas bahwa Taubat adalah suatu penyesalan yang melahirkan tekad dan niat yang dengannya manusia meninggalkan maksiat menuju ketaatan. Hakikatnya adalah menyesali kesalahan yang dilakukannya di masa lampau, meninggalkannya di masa sekarang dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang. Tiga hal ini terhimpun pada saat berlangsungnya taubat. Sebab, di waktu tersebut ia menyesal, meninggalkan dan bertekad. Ketika itulah ia kembali kepada status penghambaan yang merupakan tujuan penciptaan dirinya. Kepulangan inilah yang dinamakan Taubat.[6]

B.     Kewajiban Bertaubat dan Keutamaannya

Perlu diketahui, bahwa kewajiban bertaubat itu dinyatakan secara gamblang dalam nash-nash al-hadist dan Al-qur’an. Dan kewajiban ini juga nampak jelas dengan menggunakan cahaya akal bagi orang yang dilapangkan Allah dadanya dengan cahaya iman.[7]
Sesungguhnya seseorang yang mengetahui bahwasannya tidak ada kebahagiaan di negeri akhirat melainkan pada perjumpaan dengan Allah dan bahwa setiap orang yang terhijab (terhalang dari Allah pasti akan celaka, dijauhkan  dari apa yang diikannya dan terbakar oleh api neraka dan mengetahui pula bahwa tidak ada yang menjauhkan dari perjumpaan dengan Allah melainkan sikap memperturutkan syahwat, dan tidak ada yang mendekatkan perjumpaan dengan Allah melainkan dengan senantiasa menghadap dan berdzikir kepadanya, juga mengetahui bahwa dosa-dosa itu menyebabkannya terhalang dan dijauhkan dari Allah, tentu dia tidak akan ragu-ragu lagi bahwa berpaling dari jalan yang menjauhkannya dari Allah itu wajib dilakukan untuk dapat mencapai kedekan darinya. Dan keberpalingan dari jalan jalan yang menjauhkannya dari Allah ini hanya akan sempurna dengan tiga perkara yaitu ilmu, penyesalan dan ‘azam (niat).[8]
Demikian itulah keimanan yang diperoleh dengan menggunakan kecerdikan akal. Maka barang siapa belum mencapai tingkat pemahaman seperti ini, hendaklah ia memperhatikan nash-nash al-qur’an dan al-Hadist yang berkaitan dengan masalah ini.
Ibnu Qoyyim telah menjelaskan hubungan erat antara muhasabah dengan taubat. Ia berkata, “Dari tingkatan muhasabah, barulah ia bisa menempati tingkatan taubat. Sebab, apabila ia melakukan muhasabah terhadap dirinya, niscaya ia mengetahui apa yang menjadikan kewajiban yang ditanggungnya sehingga ia berusaha untuk melepaskan (tanggungan)nya. Jadi mendahulakan muhasabah daripada taubat lebih utama dikarenakan hal tersebut. Namun mengakhirkan muhasabah dari taubat bisa dibenarkan juga yakni bahwa muhasabah tidak bisa dilakukan kecuali setelah meluruskan taubat. Dan pengalaman menunjukkan bahwa taubat berada diantara dua muhasabah. Muhasabah sebelum itu (sebelum taubat) yang menuntut kewajiban melakukan taubat dan muhasabah setelah itu yang menuntut untuk menjaga taubat tersebut. Jadi taubat diapit oleh dua muhasabah.[9]
Oleh sebab itu, dalam kitab Madarijus Salikin, ibnu Qoyyim mendahulukan bahasan Muhasabah. Kemudian, baru menjelaskan bahwa siapa yang mewujudkan muhasabah, maka ia akan naik mendekati tingkatan taubat. Karena dengan muhasabah, ia bisa membedakan antara apa yang menjadi hak dan kewajiban yang harus ditanggungnya. Dengan begitu, ia akan memfokuskan keinginan bertaubat yang seyogiannya tidak terpisah dari diri orang yang meniti jalan menuju Rabbnya sampai mati.
Dengan begitu jelas, jelaslah bagi kita urgensi taubat sebagai sarana praktis dalam menyucikan dan mengantarkan jiwa pada tingkatan yang dekat kepada Allah. Inilah yang diisyaratkan oleh ibnul qoyyim melalui ucapannya, “ kedudukan taubat adalah kedudukan yang pertama, pertengahan, dan terakhir. Hamba yang meniti jalan menuju Rabbnya tidak akan menjauhinya (jalan tersebut), dan selalu menetapinya sampai mati. Jadi taubat adalah langkah awal dan langkah akhir seorang hamba. Kebutuhan dirinya terhadap taubat di akhir perjalanan sangatlah diperlukan, sebagiamana halnya kebutuhannya di awal perjalanan juga amat besar.[10]
Dalil-dalil Al-qur’an dan sunnah saling mendukung atas wajibnya melakukan taubat dan kedudukannya dalam mewujudkan kesholihan dan kejaan hamba di dunia dan akhirat. Allah berfirman:

“....dan bertaubatlah kepada Allah hai orang – orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (An-Nur : 31 )
“ Hai orang-orang yang beriman.................. (At-Tahrim:8)
Taubat nasuha sebagaimana dikatakan oleh ibnu katsir adalah taubat yang tulus lagi mantap, yang menghapuskan keburukan – keburukan sebelumnya dan mencegah orang yang bertaubat dari perbuatan – perbuatan rendah yang biasa ia lakukan. Demikian itu dengan meninggalkan dosa di masa sekarang, menyesali dosa yang dilakukannya di masa lampau dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa yang akan datang.[11]
Allah membagi hamba menjadi hamba yang bertaubat dan hamba yang dholim. Maka barang siapa tidak bertaubat, berarti ia layak menjadi orang yang zholim karena kebodohannya terhadap Robb dan hak – nya, serta karena kekurangan diri dan cacat amalnya. Allah berfirman dalam surat Al- Hujurot : 11
Adapun hadist – hadist Nabi yang menganjurkan dan memerintahkan taubat jumlahnya banyak, dintaranya adalah:
Diriwaytakan oleh Muslim dari Abu Musa Al-Asyari dari Nabi bersabda:

“ sesungguhnya Allah selalu menghamparkan tangannya di malam hari agar orang yang melakukan keburukan di siang hari bertaubat dan senantiasa menghamparkan tangannya di siang hari agar orang yang melakukan keburukan di malam hari bertaubat, sampai matahari terbit dari arah tenggelamnya (arah barat).
Diriwayatkan juga dari Al-A’ghor Al-Muzani bahwa Rasulullah bersabda:
“ wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah! Karena sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”
Para ulama menyebutkan beberapa pendapat seputar makna istigfar dari taubat Rasulullah saw diantaranya, maksudnya adalah apabila beliau berhenti berdzikir yang memang selalu beliau lakukan, hal itu beliau anggap sebagai dosa, lalu beliau memohon ampunan. Atau istigfar beliau saw adalah menampakkan penghambaan dan kerendahan diri kepada Rabb serta menetapi kekhusyukan.
Tentang hal tersebut, ibnu Taimiyah r.a menuturkan, “para nabi terjaga (ma’shum) sehingga tidak mungkin jatuh  dalam perbuatan dosa, baik dosa besar maupun kecil. Melalui taubat yang Allah beritakan telah mereka lakukan, Dia berkenan mengangkat kedudukan dan melipat gandakan kebaikan-kebaikan mereka. Sesungguhnya Allah mencintai orang –orang yang suka bertaubat dan orang-orang  yang membrsihkan diri. Taubat bukannya satu kekurangan, sebaliknya merupakan kesempurnaan yang utama.  Taubat wajib dilakukan oleh semua makhluk. Maka tujuan setiap orang beriman adalah tobat. Dan segaimana dikatakan, “kebajikan orang-orang baik adalah keburukan orang-orang yang dekat dengan Allah.

C.    Kewajiban Bertaubat Seketika, Menyegerahkan dan seterusnya

Kewajiban bertaubat seketika yakni sesudah melakukan dosa merupakan perkara yang tak diragukan lagi karena mengetahui kemaksiatan sebagai perkara yang membinasakan termasuk bagian dari jiwa keimanan. Dan oleh karenanya traubat itu wajib dilakukan seketika.
Pada dasarnya mengetahui bahaya dosa adalah dimaksudkan agar dapat menjadi pendorong untuk meninggalkannya. Oleh karenanya, seorang yang tidak meninggalkannya berarti kehilangan keimanan ini. Dan inilah yang dimaksud dengan sabda rasulullah sa:

Artinya:
“ tidaklah seoarang yang berzina, ketiks sedang melakukan zinanya itu sebagai seorang Mu’min.”
Demikian itu karena dasarnya zina menjauhkan pelakunya dari Allah dan menyebabkan kemurkaannya, sebagaimana kemaksiatan-kemaksiatan lainnya. karena kemaksiatan – kemaksiatan ini terhadapa keimanan serupa dengan makanan-makanan yang membahayakan badan. Maka sebagaimana makanan-makanan tersebuuat oleh ract akan mengubah tabiat badan hingga apabila terus menerus berhimpun padanya maka dalam kurun  waktu tertentu akan mati seketika, maka demikian pula yang diperbuat oleh racun dosa terhadap ruh keimanan yang dengan keganasan serangannya akan memastikan dan memasukkannya ke dalam golongan orang – orang yang binasa.
Mengenai kewajiban bertaubat selamanya dan pada setiap keadaan maka sebabnya adalah, bahwa setiap orang itu tidak sunyi dari melakukan kemaksiatan dengan anggota tiubuhnya. Jika dalam beberapa keadaan ia bebas dari kemaksiatan dengan anggota tubuhya, maka sesungguhnya ia tidak akan bebas dari keinginan untuk melakukan dosa dengan hatinya. Jika pada suatu ketika hatinya bebas dari keinginan buruk tersebut, maka sesungguhnya ia tiodak akan bebas dari godaan setan yang bermaksud melalaikannya dari mengingat Allah. Jika ia bebas dari hal ini maka sesungguhnya ia tidak akan bebas dari kelalaian dan keteledoran untuk bermakrifat kepada Allah berikut sifat-sifat dan perbuatannya.
Semua itu adalah kekurangan dan semuia itu ada sebab-sebabnya. Dan meninggalka sebab-sebabnya dengan menyibukkan diri dengan hal-hal yang menjadikan lawannya adalah kembali dan berpaling dari jalan yang telah ditempuhnya ke jalan yang berlawanan dengannya.
Taubat sendiri mengandung arti kembali (yakni kembali dari jalan yang sesat ke jalan yang benar). Dan agaknya tak seorang manusia pun yang bisa bebas sama sekali dari kekurangan ini. Ha nya saja, kekurangan ini berbeda – beda kadarnya antara seorang dengan lainnya. jadi, pada dasarnya kekurangan itu pada tiap-tiap manusia. Itu sebabnya Rasulullah saw, bersabda:

Artinya:
“ sesungguhnya hatiku juga dapat tergoda sehingga aku beristigfar (memohon ampun ) kepada Allah dalam sehari semalam tujuh puluh kali.” (HR. Muslim)
Dan itu sebabnya Allah memuliakan beliau dengan firmannya: (QS.al-Fath:2)

Jika kami katakan taubat itu wajib pada setiap keadaan, padahala sebagiamana banyka orang, taubat pada setiap keadaan itu ternasuk amalan yang utama, bukan amalan wajib itu karena wajib yang kami maksudkan di sini adalah sesuatau yang tak bisa tidak merupakan faktor utama yang akan mengantarkan kepada yang terpuji di antara para shidiqqin, yang vdiidamkan oleh setiap Mu’min. Maka bertaubat dari semua yang telah kamisebutkan di muka adalah wajib hukumny dalam upaya mencap[ai kedekatan dari Allah. Ihwalnya tak berbeda dengan apa yang dikatakan orang: bersuci itu wajib hukumnya dalam shalat sunnat, yang mengandung arti bahwa seseorang yang hendak mengerjakan tidak dapatc memperolehnya melainkan dengan terlebih dahulu bersuci.
Selanjutnya para ulama menyatakan penting dan wajibnya bertaubat, serta tidak boleh menangguhkannya. Imam nawawi r.a mengatakan, “mereka sepakat bahwa taubat dari segala dosa itu wajib dan harus dilakukan segera, tidak boleh menundahnya, baik maksiat tersebut kecil atau besar. Taubat termasuk perkara pokok dan dasar agama Islam yang sangat ditekankan.
Ibnu Qoyyim berkata, “sesungguhnya bersegera bertaubat dsari dosa-dosa adalah kewajiban yang harus dilakukan dan tidak boleh ditangguhkan. Bila ia menangguhkannya, berarti ia berbuat maksiat dengan penangguhan tersebut. Lantas apabila ia telah bertaubat maka masih ada taubat lain yang harus dilakukan yakni taubatnya dari dosa menangguhkan taubat. Hal ini jarang sekali terbersit dalam hati orang  yang bertaubat dan tidak ada yang bisa menyelamatkan dari hari ini kecuali taubat secara menyeluruh dari dosa yang diketahui dan yang tidak diketahui.
Kadang-kadang hamba meremehkan dosa-dosa kecil dan tidak segera bertaubat darinya karena keberadannya yang dianggap remeh. Dan ternyata, dosa-dosa kecil itu menumpuk satu demi satu dan iamasih meremhkannya sehingga ia pun terus melakukannya. Akibatnya, dosa-dosa kecil itu menjadi sebab kebinasaan dirinya.
Bukti kebnarannya adalah apa yang diriwsyatkan dari Sahl bin Sa’ad r.a yang mengatakan, “Rosulullah saw bersabda:

“ Hindarilah oleh kalian akan dosa-dosa kecil. Tiada lain perumpamaan dosa-dosa kecil seperti suatu kaum yang singgah di dasar lembah,. Lantas orang ini datang membawa satu ranting, dan yang lain lagi memabawa satu ranting pula, sampai m,ereka membawa apa yang bisa membuat roti mereka matang. Sesungguhnya dosa – dosa kecil, kapan pun pelakunya disiksa karenanya niscaya bisa membinasakan dirinya.”
Bila api yang besar bermula dari percikan-percikan api yang yangkecil, maka kebanyakan dosa besar tidak kan dilakukan oleh seorang hamba kecuali karena ia meremehkan dosa-dosa kecil, tidak mempedulikannya dan tertipu dengan angan – angan ampunan. Akibat dosa – dosa kecil itu menumpuk, sebagaimana ranting-ranting kayu terkumpul untuk menyalakan api. Akhirnya, hamba itu berani meremehkan keberadaan perbuatan maksiat dan pengaruh kesadarannya terhadap maksiat tersebut dalam dirinya melemah sehingga ia merasa lepas-bebas untuk melakukannya dan berani kepada Rabbnya. Akibatnya, ia mengekor saja pada hawa nafsunya dan menjadi tawanan jiwanya yang selalu memerintahkan keburukan dan mengabdi pada setan.
Ibnu Qoyyim r.a telah menjelaskan bahaya menunda-nunda taubat dan mengandalkan angan-angan ampunan. Ia berkata, “pada hakikatnya, hamba mengetahui bahwa maksiat dan kelalaian termasuk sebab-sebab yang berdampak buruk bagi dirinya di dunia dan akhirat. 
Namun adakalahnya jiwa memperdaya dirinya dengan mkengandalkan maaf serta ampuna Allah dan adakalnya dengan menunda – nunda taubat dan memohon ampun melalui lisan. Banyak manusia yang mengirah bahwa seandainya ia melakukan suatu keburukan kemudia mengucapkan, Astaghfirullah,’ niscaya dosanya sirna dan perbuatan  buruk itu terhapus dengan ucapan tersebut. Kelompok manusia ini bergantung semata dengan teks-teks harapan, mengandalkannnya dan sepenuhnya menggelayutkan dua tangannya pada hal ini. Bilamana ditegur karena kesalahan-kesalahan dan kondisinya yang larut dalam melakukannya, ia akan membeberkan kepada anda apa yang dihafalnya berupa luasnya kasih sayang dan ampunan Allah dan teks-teks harapan.
Tidak diragukan lagi bahwa mereka itu menipu diri mereka sendiri. Orang yang hanya memperhatikan dan mengandalkan teks-teks harapan dan kasih sayang. Sementara ia melupakan teks-teks peringatan dan ancaman keras kepada orang-orang yang suka berbuat maksiat, seolah-olah ia melihat dengan satu mata. Sungguh, harapan dan rahmat telah digsbung penyebutannya dengan peringatan dan ancaman pada banyak tempat dalam Al-Quranul karim. ( Al-Hijr : 49-50)
Orang berakal yang  berbaik sangkakepada Allah dan mengharapkan rahmat-Nya seyoginya berbuat kebaikannya juga. Bila tidak, maka berbaik sangkah disertai menuruti hawa nafsu adalah suatu ketidak berdayaan. Dan orang yang bersandar pada maaf namun terus melakukan dosa, maka ia seperti seorang pembangkan.
Tentang masalah ini, Hasan bashri mengatakan, “ sesungguhnya ada orang-orang yang terlenakan oleh angan-angan ampunan sehingga mereka meninggal tanpa membawa taubat. Salah seorang mereka berkata, ‘itu karena berbaik sangka kepada Robbku’ namun ia dusta. Karena seandaninya ia berbaik sangka, niscaya ia kan memperbagus amalnya.

D.    Syarat-syarat taubat

Taubat merupakan ungkapan tentang suatu penyesalan yang kemudian menghasilkan suatu hasrat dan tujuan. Penyesalan itu juga menghasilkan pengetahuan bahwa berbagai kedurhakaan hendak menjadi penghalang antara diri manusia dengan kekasihnya.
Penyesalan adalah duka di dalam hati berpisah dengan kekasihnya. Tandanya, kesedihannya belarut-larut dan disertai tangisan. Siapa yang ingat suatu hukuman yangh dijatuhkan kepada anaknya atau siapa pun yang disayangi dan dihormatinya, maka dia kan banyak menangis dan musibah yang dirasakannya terasa amat berat. Lalu siapakah yang lebih disayangi dan dihormati selain dari diri sendiri? Lalu apakah hukuman yang lebih pedih daripada api neraka? Lalu apakah penyebab yang lebih jelas tentang turunnya hukuman selain dari kedurhakaan? Siapakah pemberi kabar yang lebih jujur daripada Rasulullah? Andaikata seseorang diberitahu oleh dokter bahwa penyakit anaknya tidak mungkin lagi bisa disembuhnkan, tentu dia kan lebih sedih sekali. Padahal anaknya tidak lebih disayangi daripada dirinya sendiri. Padahal dokter tidak lebih tahu dari pada Allah dan Rasulnya. Padahal tidak ada kematian yang lebih mengerikan daripada masuk neraka setelah itu. Padahal tidak ada penyakit dapat mamtikan daripada kedurhakaan kepada Allah.
Orang yang bertaubat harus memeriksa kembali shalatnya yang pernah ditinggalkannya atau mengerjakannya tapi tanpa memenuhi syarat-syaratnya, seperti baju yang dikenakannya ada najis atau niat yang tidak benar,  karena memang dia tidak mengetahuinya. Karena itu haruis mengqadha’ semua itu. Begitu pula puasa, zakat, haji atau kewajiban-kewajiban lainnya. semua yang pernah ditinggalkan harus diqadha.
Seseorang harus memeriksa kembali kedurhakaan-kedurhakaannya semenjak awal mula kedurhakaan yang dilakukannya dan menelitinya. Jika kedurhakaan itu memang antara dirinya dan Allah maka dia harus bertaubat dengan menyesalinya dan mohon ampun. Kemudian dia harus melihat kadar dosanya. Setiap kedurhakaan diperbandingkan dengan kebaikan yang setingkat, lalu dia harus melaksanakan kebaikan itu. Allah berfirman: (Hud:114)

Nabi muhammad saw bersabda:
“ Susuilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (diriwayatkan At-Tir Midzy, Ad-Darimy dan ahmad).
Contoh dari apa yang kami sebutkan ini, seseorang bisa menebus kesalahannya karena mendengarkan nyanyian dengan mendengarkan bacaan Al-quran dan majlis dzikir. Tebusan minum khamr secara sengaja dengan minum yang  halal. Yang pasti, lakukanlah kebaikan dari jenis kesalahan yang dilakukan. Sebab penyakit pun disembuhkan dengan jenis kebaikannya. Inilah hukum antara diri hamba dan Allah.
Sedangkan kedzaliman terhjadap manusia, juga terkandung kedurhakaan terhadap Allah. Sebab Allah telah melarang kezhaliman terhadap manusia. Orang yang berbuat zhalim terhadap manusia, berarti telah melakukan apa yang dilarang oleh Allah. Dia harus menyadari kezhalimannya itu dengan penyesalan dan hasrat tidka melakukannya lagi di masa mendatang serta melakukan kebaikan-kebaikan yang menjadi kebalikan kezhalimannya seperti yang sudah kami jelaskan diatas. Jika dia pernah menyakiti manusia maka dia harus berbuat baik kepada mereka. Tindakannya yang mengambil harta orang lain harus ditebus dengan memberikan hartanya yang hala ke[padanya. Melecehkan kehormatan orang lain ditebus dengan memijinya di hadapan orang banyak. Membunuh jiwa orang lain ditebus dengan memerdekakan budak.
Berbuat zhalim kepada manusia bisa berkaitan dengan jiwa, harta, kehormatan dan menyakiti hati.
Yang pertama, jika seorang membunuh orang lain tidak secara sengaja, maka dia harus membayar tebusan kepada orang (keluarga korban) yang berhak menerimanya. Uang tebusan itu bisa berasal dari dirinya sendiri atau siapa pun yang memang mau menanggungnya. Jika pembunuhan itu dilakukan dengan sengajah maka hukumnya Qishash dengan memnuhi syarat – syaratnya. Dengan kata lain, dia harus menyerahkan dirinya kepada keluarga korban. Jika mereka menghendaki maka mereka bisa membunuhnya. Dan jika mereka menhendaki, maka mereka bisda memaafkannya. Dia tidak boleh menutupi-nutupi urusannya. Lain halnya jika ia berzina, mencuri, minum khamr atau melakukan apa pun yang sebenarnya dia layak mendapatkan hukuman dari Allah, maka dia tidak diharuskan mengeluarkan pengakuan seketika itu pula, tetapi harus menutupinya. Namun jika ia dihadapkan kepada hakim atau penguasa hingga dia dijatuhi hukuman, maka pengakuannya dianggap sah dan taubatnya juga diterima di sisi Allah.
Begitu pula hukuman orang yang melemparkan tuduhan kepada wanita yang baik-baik maka dia harus dihakimi menurut kelayakannya.erkhianat (dalam masalah Harta) dan menyamarkan dalam bermu’amalah. Siapa
Yang kedua, kezhaliman-kezhaliman yang berkaitan dengan harta seperti mencuri, berkhianat (dalam masalah harta) dan menyamarkan dalam bermu’amalah. Siapa yang melakukannya harus mengembalikan apa yang telah diambilnya kepada pemiliknya.
Dia bisa mengakuh kepada orang yang telah dizhalimi, mengembalikan haknya dan meminta maaf serta penghalalan atas apa yang telah diambilnya. Jika kezhalimanny banyak dan dia tidak mampu melunasi atau mengembalikannya maka cukuplah baginya berbuat menurut kesanggupannya. Tidak ada jlan lain baginya kecuali memperbanyaknya kebaikan agar pada Hari kiamat nanti nanti bisa diambil untuk menutupi kezhaliman – kezhalimannya sebagai Qishash dan diberikan kepada orang didhaliminya. Itu pun jika belum terpenuhi maka keburukan orang yang dia zhalimi akan diambil diberikan kepadanya sehingga keburukannya semakin bertumpuk.
Ini adalah hukuman kezhaliman yang jelas, berkaitan dengan tebusan dan harta. Jika harta bercmp[ur dengan harta orang lain yang dia dizhalimi, lalu dia tidak tahu siapa pemiliknya yang pasti dan juga tidak tahu siapa ahli waarisnya maka dia menshodaqahkan atas nama orang yang telah dia dzalimi. Jika hartanya yang halal bercampur dengan hartanya yang haram, maka dia bisa memperkirakan sejumlah berapa yang haram, lalu dia bisa menshodaqokannya.
Yang ketiga, kejahatan terhadap kehormatan dan menyakiti hati. Dia harus mencari orang perorangan diantara mereka, meminta maaf kepada mereka dan mengakui kejahatannya. Bahkan kadang cara ini pun belum dianggap cukup sebab adakalanya orang yang telah dia dzalimi, hatinya masih sakit dan ingat kembali sekian banyak kejahatannya. Jika seperti ini keadaanya maka dia bersikap yang baik kepadanya dan lemah lembut. Apabila orang yang didzalimi sudah meninggal maka dia harus lebih banyak berbuat kebaikan agar bisa menjadi pengganti keburukannya saat hisab pada hari kiamat.
Di antara syarat-syarat taubat yang sebenarnya ialah keteguhan hati untuk tidak kembali melakukan dosa – dosanya lagi pada masa mendatang ataupun dosa lain yang serupa. Keteguhan hati ini harus benar-benar mantap. Perumpamaanya adalah seperti orang sakit yang sudah tahu bahwa buah-buahan bisa membuat penyakitnya bertambah parah. Lalu dia teguh hati untuk tidak memakan sedikit pun buah-buahan selagi dia masih sakit. Keteguhan hati ini memang efektif untuk saat itu, sekali[un dia juga masih membayangkan bagaiman jika saat berikutnya dia tidak mampu membendung keinginannya untuk makan buah-buahan. Dia tidak akan taubat selagi tidak mempunyaio keteguhan hati saat itu pula untuk tidak makan buah-buahan. Sulit digambarkan orang yang bertaubat pada saat-saat permulaannya akan mampu melaksanakannya kecuali dengan cara menyendiri, diam, tidak banyak makan dan tidur., mencari makanan yang halal, membiarkan nafsu makan dan berpakaian.
Sebagian orang berkata, “siapa yang benar-0benar ingin meniggalkan nafsu dan berusaha untuk itu hingga tujuh kali, tentu dia dapat melakukannya. “ada pula yang mengatakan, “siapa yang taubat dari suatu dosa dan menyendiri selama tujuh tahun, tentu dia tak akan lagi melakukan dosa tersebut.

E.     Pembagian Manusia berkaitan dengan Taubat

Manusia di bagi menjadi lima golongan dalam kaitannya dengan taubat:
A.    Orang bertaubat yang tetap bertahan pada taubatnya hingga akhir hayat, menyadari tindakannya yang menyimpang, tidak punya keinginan untuk kembali malkukan doasa, kecuali hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari yang memang manusia tidak bisa melepaskan diri darinya. Inilah yang disebut istiqomah dalam taubat. Pelakunya adalah orang yang berada di barisan depan dalam kebaikan.
Taubat ini disebut dengan taubatan nasuha. Sedangkan jiwa ini disebut an-nafsul-muthma’innah. Mereka berbeda-beda ragamny. Di antara mereka ada yang nafsunya menjadi tenang di bawah tekanan ma’rifat dan diantara mereka ada pula yang selalu bertarung dengan nafsunya sehingga dia harus terus berusaha. Mereka inilah yang diisyaratkan sabda Rasulullah saw:
“ para pengumbar nafsu yang mendahulukan dzikir kepada Allah Ta’ala maka dzikirnya akan menghindarkan mereka dari dosanya dan mereka akan datang di Hari Kiamat dalam keadaan ringan.”
Di sini ada isyarat bahwa mereka berada dalam dosa yang telah ditinggalkan oleh dzikirnya. Yang termasuk ke dalam tingkatan ini yaitu orang yang ada kecendrungan kepada dosa tapi syahwatnya telah menjadi tenteram di bawah kekuasaan ma’rifat maka lemahlah kecendrungannya dan ia tidak lepas kecendrungannya kepada nafsu tapi mereka mampu mengendalikan dan menanggalinya. Kemudian derajat kecendrungannya inipun berbeda-beda, menurut banyak sedikitnya. Berbeda pula menurut lama serta macam-macamnya.
Orang-orang yang bertaubat inipun berbeda-beda pula dilihat dari segi panjang umurnya. Ada yang mati mendadak segera setelah bertaubat, ya mudah-mudahan hal ini menyebabkan keselamtanya. Ada pula yang dikaruniani umur panjang-panjang karena itu panjang pula perjuangan, kesabaran dan istiqomahnya serta berlimpah-limpahlah kebaikannya. Keadaan orang demikian adalah lebih tinggi dan utama dari yang pertama. Sebab suatu kejahatan bisa dihapus oleh suatu kebaikan. Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa dosa yang dijalankan oleh seorang itu hanya bisa dihapus, kalau diulangi sampai sepuluh kali dengan syahwat yang berkorbar-kobar, kemudian dia sabar atasnya dan memecahkan syahwatnya itu karena takut kepada Allah swt. Persyaratan yang demikian itu adalah jauh, walaupun tidak dimungkiri betapa besar pengaruhnya andaikata bisa dijalankan seperti itu.
Bagi seorang murid yang lemah seyogiannya tidak menempuh jalan ini sebab syahwatnya bisa Bnar-benar bangkit dan ketika dia ingin bisa mengekangnya tapi gagal pada kenyataannya sehingga dia tidak percaya bahwa tali kekang syahwat itu bisa dikendalikan. Dengan begitu terjun ke dalam maksiat dan berantakanlah taubatnya. Sebaliknya jalan yang seuai untuk mereka itu ialah menghindarkan diri dari setiap kemungkinan yang membawanya ke arah maksiat tersebut. Dengan demikian tertutuplah baginya pintu kemaksiatan itu. Kemudian dia berusaha memecahkan syahwat mana yang ia bisa. Dengan demikian selamtlah taubatnya dalm permulaan.
B.     Orang yang bertaubat yang meniti jalan istiqomah pada induk-induk ketaatan dan kedurhakaan yang besar. Hanya saja dia tidak bisa melepaskan diri dari dosa yang dilakukannya. Memang tidak selalu disengajah. Hanya saja dia tidak mempunyai keteguhan hati untuk mewaspadai sebab-sebabnya. Ini termasuk nafsul-lawwamah, yang mencela orang yang menuruti nafsu dan keadaan-keadaan yang tercela. Sebenarnya golongan ini juga masih  tinggi, hanya saja lebih rendah dari golongan di atas. Dia sudah termasuk orang-orang yang bertaubat. Sebab kejahatan ini merupakan gerak bathin manusia, yang jarang sekali ada orang yang bisa selamat darinya. Yang dia lakukan adalah bagaimana agar kebaikannya dapat mengalahkan keburukannya agar timbangannya menjadi berat dan berat pula timbangan kebaikannya.
Mereka yang termasuk dalam golongan kedua ini mendapat janji yang baik dari Allah, sebagaiman firmannya:
“(yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu maha luas ampunan-nya.” (An-Najm:32)
Semua yang disebut lamam adalah kecil sifatnya, sedang pelaksanaannya tidak dengan kesengajaan yang bulat. Oleh sebab itu patutlah kalau golongan kepada dosa kecil yang termaafkan. Firmsn Allah pula: ( Ali Imran : 135)
Tuhan memuji mereka padahal mereka menganiaya diri sendiri, itu disebabkan oleh karena mereka menyesal bahkan mencelah nafsunya berbuat dosa itu.
Sabda Rasululullah saw yang diriwayatkan oleh Ali r.a justru memberi isyarat kepada tingkat semacam ini:
“ Yang paling baik daripadamu semuanya yaitu yang kena fitnah (menjalankan dosa) kemudian bertaubat.”
Dalam hadist lain:
“Orang mu’min itu seperti  batang, padi, kadang-kadang tegak, kadang-kadang condong.”
Dalam Hadist lain:
“Bagi seorang mu’min dari waktu ke waktu tidak akan lepas dari dosa”
Semua ini adalah suatu bukti yang pasti bahwa kadar dosa di atas menggagalkan taubat dan tidak menyamakan kedudukan pelakunya dengan orang-orang yang terus menerus menjalankan dosa. Barang siapa tidak percaya bahwa orang-orang itu adalah termasuk derajat oreang-orang bertaubat adalah seperti seorang doktor yang tidak percaya akan tetap sihatnya seseorang yang hanya sekali-kali memakan buah-buahan dan mmakanan masak, artinya tidak terus-menerus. Seperti halnya seorang ahli fiqh yang putus asa akan berhasilnya seseorang mencapai derajat ahlii fiqh sebab dalam belajarnya tidak mau mengulang-ngulang dan hanya dalam waktu yang pendek. Demikian itu menunjukkan kekurangan doktor dan ahli fiqh tersebut. Ya, seorang fiqh dalam agama adalah orang yang tidak putus asa akan kemampuan seorang memperoleh derajat kebahagiaan, meskipun sekali-kali ia melakukan kesalahan-kesalahan kecil.
Sabda Rasulullah saw:
“setiap anak adam tidak sunyi dari kesalahan-kesalahan dan sebaik-baik orang yang berslah adalah mereka yang bertaubat dan mohon ampun.”
Sabda beliau pula:
“orang mu’min dengan merobek-robek diri dengan perbuatan dosa dan tidak menambal diri dengan perbuatan taubat. Yang paling baik dari mereka itu adalah siapa, yang mati dalam keadaan menambal diri.”
Allah swt berfirman: (al-Qashas:54)
Ternnyata allah tridak mensifati mereka itu dengan “tidak memiliki kejahatan sama sekali”
C.     Seseorang bertaubat dan bertahan pada istiqomah untuk beberapa saat, lalu nafsunya dapat mengusainya untuk mengerjakan sebagian dosa, maka dia pun melakukannya karena tak kuasa menghadang tekanan nafsu. Sekalipun begitu dia tetap rajin malakukan ketaatan dan juga meninggalkan beberaoa dosa yang memang sanggup ditinggalkannya, sekalipun ada bisikan nafsu. Sekali dua kali dia bisiki nafsu. Lalu setelah Allah memberinya  taufik., dia pun menghentikan dan merasa menyesal serta ingin bertaubat dari perbuatan itu. Jiwa semacam ini  disebut al-mas’ulah. Pelakunya telah difirmankan Allah,
“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk.” (At-Taubah: 102 )
Allah memerintahkkan agar dia rajin mengerjakan berbagai macam ketaatan dan membenci apa yang telah dikerjakannya, dengan berharap apa yang difrmankan Allah:
“Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allag Maha pengampun lagi maha penyayang.” (At-Taubah:102)
Akibatnya bisa bahaya jika dia meunda-nunda taubatnya. Boleh jadi nyawanya sudah melayang sebelum ia sempat bertaubat. Sebab amal itu tergantung kesudahannya. Kkarena itu dia harus takut kesudahan hidupnya. Sebab setiap saat jiwa manusia bisa meninggal, lalu saat itulah diketahui bagaiaman kesudahannya. Maka hendaklah dia memperhatikan setiap hembusan napasnya dan waspada agar tidak terjerumus dalam perkara yang dilarang.
Demikian pulalah hubungan dengan kebahagiaan akhirat, sedang tingkat-tingkat kebaikan dan keburukannya adalah terserah kepastian penyebab dari segala sebab. Seperti hubungan sakit dengan menelan makan dan obat-obatan seperti hubungan keberhasilannya seorang mencapai kepandaian dengan man berhak mendapat derajat tinggi di dunia dengan meninggalkan kemalasan dan terus menerus melatih diri. Demikianlah, tidak patut memegang tampuk pimpinan dan mencapai kemajuan kecuali orang pandai yang telah tekun memandaikan diri itu. Akan begitu pula, tidak patut memiliki kenikmatan akhirat dan dekat kepada Allah Ta’ala kecuali hati yang selamat dan telah lama tekun dalam pencucian dan pembersihan diri. Demikian itu telah diatur di zaman azali oleh tuhan segala raja. Itu sebabnya Allah swt berfirman: (as-syams:7-10
Jikalau seorang jatuh dalm suatu dosa sedang taubatnya tertangguh, maka ini adalah tanda-tanda tidak tertolong.
Rasulullah saw bersabda:
“ ada seorang hamba yang beramal dengan amalan-amalan ahli syurga selama tujuh tahun sehingga orang-orang pula mengatakan bahwa ia adalah memang ahli syurga. Jarak antara dia dan syurga tinggal sejengkal lagi, tapi telah ada tulisannya, kemudian beramallah ia dengan amalan ahli neraka dan masuk nerakalah ia.”
Kalau begitu yang dikhawatirkan otu adalah datangs penutup sebelum sempat bertaubat. Setiap nafas adalah bisa jadi penutup. Sebab mungkin saja mati datang bersambung dengannya karena itu hendaknya diperhatikan nafas itu, jika tidak bisa jatuh ke hal yang mengkuatirkan, maka ia berkallah dalam kepayaan diman tak ada guna disesali lagi.
D.    Orang bertaubat dan istiqomah barang sesaat, lalu kembali melakukan dosa dan tenggelam di dalamnya tanpa berhasrat untuk bertaubat dan tidak menyesali apa yang telah dilakukannya. Ini termasuk orang-orang yang terus-menerus melakukan dosa. Jiwa ini dinamakan al-ammarah bis-su’i. Sekalipun begitu dia masih takut terhadap su’ul- khatimah.
Jika ia mati dan tetap dalam tauhhid maka dia masih bisa diharapkan untuk keluar dari neraka, sekalipun setelah sekian lama. Memang tidak mustahil dia kan mendapatkan ampunan yang melimpah karena memang hal ini tidak ada yang bisa mengethuinya. Hanya saja berandai-andai seperti ini tidak baik. Jika ada orang yang berkata, “sesungguhnya Allah maha Pemurah, simpanan kemurahan hatinya amat luas, sementara kedurhakaanku tidak mendatangkan mudharat kepada-nya”, lalu engkau melihat dirinya mengarungi lautan untuk mencari dinar dan dirham. Jika dikatakan kepadanya, “ kalau memang benar Dia Maha pemurah, maka duduk saja di dalam rumahmu, tentu Dia nanti akan memberimu rezki”, maka dia pura-pura bodoh, dengan menjawab,”Rezki itu harus dicari”. Karena itu katakan saja kepadanya, “Begitu pula keselamatan yang harus dicari dengan takwa.”
Seperti yang sudah kami jelaskan, orang yang bertaubat itu harus melakukan kebaikan-kebaikan yang menjadi kebalikannya keburukan agar kebaikan itu bisa menghapuskan keburukan dan menebusnya. Kebaikan-kebaikan yang bisa menebus dengan hati, lidah, dan aktivitas anggota tubuh, tergantung kepada keburukannya. Yang dilakukan dengan hati adalah dengan merendahkan diri. Yang dilakukan dengan lidah adalah dengan cara mengakui kezhaliman dan memohon ampunan, seperti berkata, “ Ya Rabbi, aku telah ,menzhalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.”
Di dalam hadist, rasulullah saw bersabda,
“ tidaklah seseorang melakukan suatu dosa, lalu dia wudhu dan membaguskan wudhunya, kemudian shalat dua rakaat dan memohon ampunan kepada Allah Azza wa jalla, melainkan dosa-dosanya telah diampuni.” (diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ahmad)

F.     Macam-macam Dosa

Taubat berarti meninggalkan Dosa. Dan tidak mungkin meninggalkan sesuatu meliankan sesudah sesuatu itu sendiri diketahui. Jika taubat itu wajib hukumnnya, maka mengetahui sesuatu yang tidak akan terlaksana taubat kecuali dengannya juga wajib hukumnya. Jadi mengethui dosa-dosa adalah wajib hukumnya.
Manusia itu mempunyai akhlak dan sifat yang bermacam-macam. Tetapi kami akan membatasi hal-hal yang membangkitkan dosa, dalam empat sifat:
1.      Sifat – sifat rububiyah (penuhanan). Dari sini muncul takabur, membanggakan diri, mencintai pujian dan sanjungan, mancari popularitas dan ketenaran serta lain-lainnya. ini termasuk dosa-dosa yang merusak, sekalian banyak orang yang melalaikannya dan menganggapnya bukan dosa.
2.      Sifat-sifat Syathaniyah (kesyetanan). Dari sini muncul kedengkian, kesewenang-wenangan, menipu, berdusta, makar, kemunafikan, menyuruh kepada kerusakan dan lain-lainnya.
3.      Sifat – sifat bahimiyah (kebinatangan), dari sini muncul kejahatan, memenuhi nafsu perut dan syahwat kemaluan, perbuatan zina, homoseks, mencuri, bertindak kejam untuk memuaskan nafsu dan lain-lainnya.
4.      Sifat-sifat sabu’iyah (kebuasan). Dari sini muncul amarah, dengki, menyerang orang lain, membunuh, memukul, merampas harta dan lain-lainnya.
Semua sifat ini menmpunyai penjejangan di dalam fitrah manusia,
Sifat bahimiyaa biasanya yang lebih dominan terlebih dahulu, lalu disusul sifat-sifat sabu’iyah pada urutan kedua. Jika dua sifat ini berhimpun menjadi satu, kan menyeret akal ke sifat-sifat syaithoniyah, seperti makar, menipu dan berkelahi, lalu disusul dengan sifat rububiyah.
Inilah induk-induk dari sumber-sumbernya. Kemudian dosa-dosa ini memancar dari sumber-sumbernya ke aktivitas fisik dan ke seluruh badan. Sebagian di antaranya ada yang mendekam di dalam hati seperti pemikiran, bid’ah, kemunafikan, memendam kejahatan dan sebagian lain-lainnya ada di mata, sebagian lain ada di telinga, di lidah, di perut, di kemaluan, di tangan, di kaki dan sebagian yang lain lagi di badan. Masalah ini tidak perlu diuraikan lagi karena sudah jelas.
Kemudian dosa –dosa itu juga bisa dibagi menjadi dua macam:
a.       Kaitannya dengan hak manusia
b.      Kaitan dengan hamba dengan Rabb-nya
Dosa yang berkaitan dengan hak
 Manusia lebih berat. Sedangkan yang kaitannya antara hamba dan Rabb-nya lebih mudah untuk dimintahkan ampunan, kecuali yang berupa syirik, yang sama sekali tidak kan diampuni.
            Tekah diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata “Rasulullah saw bersabda:
            “ Mahkamah di sisi Allah Azza wa Jalla itu ada tiga mcam, mahkamah yang Allah tiada mengindahkannya, mahkamah yang Allah ttidak kan meninggalkannya sedikit pun dan mahkamah yang Allah tidak memberi manesti. Mahkamah yang Allah tidak memberikan amnesti yaitu syirik. Allah telah berfirman, “ Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan  kepadanya syurga.” Sedangkan mahkamah yang Allah tidak mengindahkannya sedikit pun adalah kezhaliman hamba secara sendirian tentang sesuatu antara dirinya denga Allah Azza wa Jalla. Dia mengampuni yang demikian itu dan melewatkannya jika Dia menhendaki. Sedangkan mahkamah yang Dia tidak meninggalkan sedikit pun adalah kezhaliman sebagian hamba terhadap sebagian yang lain. Qishash adalah sesuatu yang pasti.” (diriwayatkan oleh Ahmad)
            Dosa itu juga bisa di bagi menjadi dua macam:
1.      Dosa kecil
2.      Dosa besar
Allah swt berfirman dalam surat an – nisa :31
Dan firmannya juga dalam surat an – Najm: 32
Diantara orang salaf ada yang berkata, “ semua dosa yang allah mengancamnya dengan neraka adalah termasuk dosa-dosa besar.”
Dari para sahabat dan Tabi’in diriwayatkan banyak pendapat menyangkut bilangan dosa besar.
Abu Thalib al-Maliki berpendapat bahwa dosa-dosa besar itu ada tujuh belas, yang dihimpunnya dari berbagai hadist dan atsar:
Empat macam di dalam hati yaitu:
1.      Mempersekutukan Allah dengan sesuatu
2.      Terus menerus melakukan kemaksiatan
3.      Berputus asa dari rahmat Allah, dan
4.      Merasa aman dari siksa Allah
Empat macam pada lisan, yaitu:
1.      Persaksian palsu
2.      Menuduh orang yang baik-baik berbuat zina
3.      Memperbuat sihir
4.      Sumpah ghamus ( biasa disebut sumpah palsu). Yakni sumpah yang dipakai untuk membenarkan sesuatu yang batal atau untuk membatalkan sesuatu yang benar. Ada yang berpendapat bahwa sumpah ghamus adalah sumpah yang digunakan untuk mengambil harta seorang muslim dengan cara yang bathil, meski harta tersebut hanya sebuah siwak (pembersih gigi) yang terbuat dari kayu arok. Disebut sumpah ghamus (membenamkan) karena sumpah tersebut akan membenamkan pelakunya ke dalam neraka.
Tiga macam di dalam perut yaitu:
1.      Minum khamr dan semua minuman yang memabukkan
2.      Memakan harta anak yatim secara zhalim, dan
3.      Memakan harta riba, sedangkan ia mengetahui.
Dua macam pada kemaluan yaitu zina liwath.
Dua macam pada kedua tangan yaitu pembunuhan dan pencurian.
Satu macam pada kedua kaki yaitu melarikan diri dari medan perang (dijalan allah) yakni bila seorang mukmin berhadapan dengan dua orang kafir atau sepuluh orang muslim berhadapan dengan dua puluh orang kafir.
Dan satu macam lagi pada seluruh badan yaitu durhaka kepada kedua orang tua. Termasuk kedurhakaan kepada dua orang tua adalah bila keduanya bersumpah atasnya menyangkut perkara yang hak, kemudian ia tidak melaksanakan dengan baik sumpah keduanya atau keduanya meminta suatu hajat kepadanya, kemudian ia tidak memberi kepada keduanya, atau keduanya memakinya, kemudian ia memukul keduanya atau keduanya kelaparan, kemudian ia tidak memberi makan kepada keduanya.
Demikianlah pebdapat yang dikemukakan oleh Abu Thalib dan agaknya ini mendekati kebenaran. Hanya saja, ia tidak menyebutkan rinciannya lebih lanjut dan tidak pula memberikan batasan yang tegas melainkan menyebutkan dengan lafadz yang  berbeda-beda.
Yang benar dalam masalah ini adalah bahwa dosa-dosa itu menurut pandangan syara’ terbagi kepada:
1.      Yang diketahui bahwa syara’ menganggapnya termasuk dosa besar.
2.      Yang diketahui bahwa ia dianggap termasuk dosa kecil.
3.      Yang diragukan kedudukannya (apakah termasuk dosa besar atau dosa kecil), sehingga tidak diketahui hukumnya.
Boleh jadi syari’ (Allah) memang sengaja merahasiakan hukumnya agar para hambanya senantiasa takut dan hati-hati sehingga tidak memberanikkan diri melakukan dosa-dosa kecil.
Kemudian, sesungguhnya menjauhi dosa besar itu dapat menghapuskan dosa kecil, apabila seseorang menjauhinya dalam keadaan sebenarnya ia kuasa dan ada keinginan untuk melakukannya. Sebagaimana seseorang yang telah dapat menguasai seorang wanita dan kuasa pula untuk menggaulinya tetapi kemudian ia mengekang dirinya dari menggaulinya dengan memerangi hawa nafsunya.
Akan halnya jika ia menahan diri dari hal itu karena memang tidak berdaya dan ada rasa takut untuk melakukannya maka ini tidak dapat menghapuskan dosa kecil sama sekali.

G.    Pengaruh taubat dalam upaya penyucian jiwa

Taubat adalah obat mujarab untuk semua jenis penyakit jiwa dan hati. Sebab taubat membawa kembali yang berbuat maksiat menuju manisnya ketaatan dan melepaskannya dari konsumsi racun mematikan yang bisa menghancurkan hati. Kiranya, pengaruh taubat dalam upaya penyucian jiwa yang paling menonjol adalah sebagai berikut:
                 A.    Hamba merendahkan diri dan mewujudkan ketulusan penghambaan kepada Robb
Kemuliaan dan ketenangan jiwa tidak akan terwujud kecuali apabila jiwa merendah dan merunduk kepada Robb dengan sukarela dan senang serta menghadap kepada-nya dalam keadaan takut. Hanya dengan cara merasakan nikmatnya bermunajat kepada penciptanya, sehingga jiwanya pun berbinar, dadnya lapang dan dunia serasa kecil dalam pandangannya.
Sedangkan waktu munajat yang paling agung ketika hamba menghadap Robbnya dalam keadaan bertaubat dan menyesal. Ia bertawasul kepada-Nya, merendah di hadapan-Nya dan berdoa dengan penuh khusyuk dan ketundukan agar Dia berkenan menerima taubatnya dan mengampuni kesalahannya.
Ibnu Qoyyim rokhimallah mengatakan, “Diantara hal-hal yang bisa menghasilkan taubat yang  benar adalah ketundukan hati, khususnya ketundukan hati yang tiada dapat disamai oleh sesuatu pun. ketundukan tersebut menyelimuti hati dari segala sisi dan melemparkannya di hadapan Robb dalam keadaan terbuang, terhina dan tertunduk. Seperti keadaan budak yang durhaka dan lari dari tuannya. Lantas, ia ditangkap dan dihadirkan di hadapan sang tuan. Ia tidak mendapati orang bisa menyelamatkan dirinya dari kekuasaan tuannya tersebut, dan ia sendiri pun tidak bisa melepaskan diri darinya. Ia selalu membutuhkannya dan tidak mendapatkan tempat untuk lari darinya. Ia sadar bahwa kehidupan, kebahagiaan, kejayaan dan keselamatannya bergantung kepada keridhoannya terhadap dirinya. Serta, ia tahu akan pengetahuan tuannya terhadap rincian perbuatan dosa-dosanya.
Demikianlah keadaanya, beserta cinta dan kebutuhannya yang sangat terhadap tuannya serta kesadarannya akan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya;bahkan, kesadaran akan kekuatan tuannya, kemuliaan tuannya dan kehinaan dirinya.
Dari keadaan – keadaan ini, terkumpullah ketakutan, kehinaan dan ketundukan hati. Betapa berarti hal-hal ini bagi hamba dan betapa berguna hasilnya bagi dirinya. Tiada sesuatu pun yang lebih disuakai Tuannya (Allah) dibanding ketaklukan, ketundukan, kehinaan, kerendahan dan ketercampakan dirinya di hadapan-Nya serta berserah dirinya kepada-Nya. Demi Allah, betapa indah ucapannya dalam keadaan seperti ini, ‘dengan kemuliaan-Mu dan kerendahan diriku, aku hanyalah memohon kepada-Mu dan kelemahanku, dengan ketidakbutuhhan diri-Mu kepadaku dan amat btuthnya diriku terhdap-Mu. Inilah ubun-ubunku yang berdusta lagi berbuat kesalahan di hadapan-Mu. Dan hamba-hamba –Mu selain diriku masih banyak dan aku tidak memiliki Tuan selain diri-Mu. Tiada tempat berlindung dan keselamatan dari-Mu selain kepada-Mu juga. Aku meminta kepada-Mu layaknya permintaan orang yang miskin, aku memohon kepada-Mu dengan sepenuh hati seperti permohonan orang yang tunduk lagi hina dan aku berdoa kepada-Mu seperti doa orang yang takut lagi butuh serta permintaan orang yang tunduk dan patuh kepada-Mu, di mana kedua matanya bercucuran karena-Mu dan hatinya merendah kepada-Mu.
Maka barang siapa tidak menemukan hal ini dalam hatinya, maka hendaknya ia mencurigai taubatnya dan kembali meluruskannya. Alangkah sulitnya taubat yangb benar-benar lurus dan betapa mudahnya ia melalui lidah dan pengakuan semata.
                  B.     Menyucikan jiwa dan melapangkan dada
Bila seorang muslim segera bertaubat, benar-benar mewujudkan penyesalan atas kelengahannya dan merendahkan diri kepada penciptanya seraya memohon agar Dia mengampuni dosa-dosanya, niscaya hal itu akan mengembalikan kepercayaan dirinys setelah ia menjauhi, membenci dan meremehkan keberadaan jiwanya akibat dosa-dosa yang telah ia perbuat. Tidak disangsikan bahwa kebebasan dari prasaan dosa ini merupakan motivator untuk membentuk kepribadian seorang muslim yang teguh lagi tenang yang tidak merasakan ketegangan serata tidak mengalami kerisauan dan kegelisahan.
Bila seorang mukmin terjerumus dalam kemaksiatan maka seharusnya ada kesedihan yang mewarnai hatinya ketika melakukannya. Akan tetapi karena mabuk syahwat menghalangi dirinya, maka ia dapat merasakan kesedihan ini. Maka, apabila ia telah tersadar dan terjaga, kesedihan itu pun menjadi api yang menyala-nyala dalam kalbunya. Ia tidak kuasa memadamkan nyala apinya, selain dengan taubat yang tulus, yang bisa mengembalikan ketenangan hati dan mencuci kotoran-kotoran maksiat yang menempel padanya. Hati laksana ‘periuk baru’ yang ketika dinyalakan api di bawahnya, ia pun menghitam. Bila anda segera mencucinya maka periuk itu akan kembali bersih dari noda hitam. Namun jika Anda membiarkannya dan Anda terus menggunakannya untuk memasak, niscaya warna hitam itu menempel kuat sehingga susah dihilangkan. Taibatlah yang dapat mencuci warna hitamnya hati.
Allah telah menyanjung hamba-hamba-Nya yang antusias menuju kebaikan-kebaikan dengan beberapa sifat yangbberagam. Di antaranya bahwa mereka segera bertaubat dan memohon ampun, tanpa menunda-nunda dan menangguhkan, demi mencari kesucian jiwa dan menghindari pekatnya hati. Dia berfirman, “ dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendir, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang didalmnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalmnya. Dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”( Ali ‘imron :135-136)
Ibnu Qoyyim telah menjelaskan pengaruh-pengaruh besar yang diraih oleh orang yang melaksanakn taubat yang menikmati berkahnya. Ia berkata, “Sesungguhnya taubat melahirkan pengaruh-pengaruh luar biasa bagi pelakunya berupa kedudukan-kedudukan yang tidak bisa digapai selain dengan taubat. Yakni menghasilkan perasaan cinta, kasih sayang, kelembutan, syukur kepada Allah, memuji-Nya, ridho terhadap-Nya dan berbagai penghambaan lainnya. sebab, apabila ia bertaubat kepada Allah, niscaya allah menerima taubatnya. Lantas, Dia mengiringi penerimaan itu dengan beragam nikmat yang tidak diketahui oleh hamba secara rinci. Bahkan hamaba itu senantiasa menikmati berkah  dan pengaruhnya selagi ia tidak memudarkan dan merusaknya.
Dianataranya, Allah mencintai dirinya dan sangat gembira dengan taubatnya. Diakui bahwa balasan sejenis dengan perbuatan. Maka, ia pun tidak bisa melupakan kegembiraan yang diperolehnya saat melakukan taubat yang tulus. Maslah ini tidak disadari selain selain oleh hati yang hidup. Adapun hati yang mati maka ia memperoleh kegembiraan ketika berhasil berbuat dosa dan tidak mengenai kegembiraan yang lain.
Jadi, bandingkanlah antara dua kegembiraan ini dan perhatikan pula akibat yang dihasilkan dari kegembiraan karena berhasil melakukan dosa berupa kesedihan, kegundahn, kegelisahan dan musibah. Siapakah gerangan yang sudi menukar kegembiraan sesaat dengan kesedihan selam-lamanya? Perhatikan pula apa yang dihasilkan ketaatan dan taubat yang tulus berupa kelapangan dada yang berkesinambungan, limpahan nikmat, dan kehidupan yang nyaman.
                  C.     Optimis dan semangat beramal sholih
Putus asa ibarat penyakit yang mematikan. Bila orang yang sakit berputus asa dari kesembuhan, maka pastilah ia meninggalkan obat sehingga sakitnya semakin parah akibat kesedihan dan nasib buruk yang menimpanya, maka ia ubahnya seperti orang mati, meskipun ia hidup di tengah- tengah orang yang masih hidup.
Bila dosa-dosa hamba yang berbuat dosa menepuk. Lalu ia melihat bawah pintu taubat telah ditutup baginya dan ia menyangka bahwa jalan kembali kepada Robbnya pun telah terkunci, niscaya ia kan tertimpa keputusan dan ia pun melihat kehidupan dengan pandangan yang hitam-kelam, bahkan kilauan terakhir dari cahaya keimanan dalam hatinya juga padam. Ia berubah dari sisi kemanusiaan yang dengannya Allah memuliakan dirinya kepada tingkatan yang lebih rendah dari binatang., hingga ia menjadi biang kejahatan yang selalu menghantui orang-orang di seklilingnya. Oleh sebab ini, Allah melarang kita dari sifat putus asa dan psimis akan rahmat-Nya serta memerintahkan agar kita agar segera bertaubatdan menyesal.
Demikianlah optimisme mengembalikan kepercayaan diri dan perasaan kemanusiaan hamba ini sehingga hilanglah dinding tebal yang menghalangi fitrahnya. Ia segera bertaubat dan menghancurkan rintangan-rintangan keputus asaan yang mematikan. Seandainya ia berserah diri pada keputus asaan, psimis dari rahmat Robbnya, dan mati dalam kondisi seperti itu, maka pastilah ia merugi dengan sebenar-benarnya.
2.7  Obat Taubat dan mengobati Ketagihan terhadap Dosa
Orang yang tidak membutuhkan obat tentunya adalah orang yang tidak menghadapi penyakit. Sebab apalah artinya obat jika dia tidak ingin mengenyahkan sumber penyakit. Suatu penyakit tidak bisa dienyahkan kecuali dengan kebaikannya. Penyebab ketagihan adalah lalai dan nafsu. Lalai tidak bisa dienyahkan kecuali dengan ilmu, nafsu tidak bisa dienyahkan kecuali dengan kesabaran memotong sebab-sebab yang menggerakkan kepada nafsu.
Kelalaian merupakan pangkal kesalahan. Jadi tidak ada obat bagi taubat kecuali dengan perasaan yang diambil dari manisnya ilmu dan pahitnya kesabaran.
Para dokter bisa mengobati penyakit ini adalah para ulama. Karena ini termasuk penyakit hati. Sementara penyakit hati lebih banyak daripada penyakitbadan. Ada beberapa sebab yang membuat penyakit hati tambah banyak yaitu:
1.      Orang yang ditimpa penyakit hati tidak merasa bahwa dia sedang sakit.
2.      Akibatnya tidak bisa disaksikan di dunia ini. Berbeda dengan penyakit badan, yang akibatnya adalah kematian dan tampak jelas di depan mata, yang biasanya akan dihindari manusia. Sedangkan apa yang terjadi sesudah kematian maka tidak bisa disaksikan lagi sehingga jarang orang menghindari dosa-dosanya, sekalipun orang yang melakukannya juga menyadari hal itu. Karena itu engkau melihat seseorang akan pasrah diri kepada karunia Allah dalam menhadapi penyakit hati dan dia berusaha mengobati penyakit badan tanpa harus pasrah.
3.      Penyakit hati adalah menular yang tidak bisa dideteksi dokter. Dokter yang biosa mendeteksi dan mengobatinya adalah para ulama. Banyka penyakit yang merajalela pada zaman sekarang. Sebab penyakit yang paling merusak adalah kecintaan kepada dunia. Penyakit ini tidak mampu ditangani para dokter, bahkan penyakit ini pun sudah menjangkiti para dokter itu sendiri sehingga mereka juga tidak memberikan peringatan kepada manusia agar dia tidak diserang balik dengan ucapan, “buat kalian menyuruh untuk berobat, sementara kalian lupa untuk mengobati diri sendiri?” karena itu penyakit ini pun merajalela dan tidak bisa dihentikan oleh obat macam apa pun.
Jika ada yang bertanya, “ Lalu apa yang bisa dilakukan seorang pemberi nasehat dalam menghadapi perilaku manusia seperti ini?”
Jawabannya: tentu saja uraiannya panjang lebar. Tetapi kami akan mengisyaratkan beberapa tindakan yang bermanfaat untuk itu yaitu ada empat macam:
1.      Dia bisa menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an yang menakutkan orang yang melakukan dosa, pengabaran dan atsar dengan kandungan yang sama. Hal ini juga diselingi dengan oujian terhdap orang-orang yang bertaubat.
2.      Menyampaikan kisah nabi, orang-orang salaf yang shalih dan musibah yang menimpa mereka karena dosa seperti keadaan Adam Alaihis Salam dan akibat yang beliau alami karena kedurhakaan yaitu dikeluarkan dari surga. Begitu pula yang dialami Daud, sulaiman, yusuf Alaihimus Salam, al-qur’an tidak menyusahkan semua ini mel;ainkan agar menjadi i’tibar.
Mereka memperoleh kebahagiaan selagi dapat keluar dari dosa dan kesalahan itu. Sedangkan orang-orang yang menderita ialah yang suka meremehkan sehingga dosanya semakin bertambah banyak. Padahal siksa di akhirat itu sangat pedih, maka dari itu dia bisa banyak menyampaikan kisah-kisah ini kepada mereka yang tidak mau meninggalkan dosa, karena hal ini bisa menggerakkan untuk bertaubat.
3.      Memastikan kepada mereka bahwa siksa di dunia pasti akan terjadi. Apapun musibah yang menimpa hamba maka penyebabnya adalah perbuatan jahatnya. Ini hanya sekedar penegasan di hadapan mereka, agar mereka tergerak untuk meninggalkan dosa. Berapa banyak orang yang meremehkan urusan akhirat, karena takut siksa di dunia hanya karena kebodohannya. Akibat dosa akan disegerahkan di dunia, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw,
“ Sesungguhnya hamba itu benar-benar tidak mendapatkan rezkinya karena dosa yang dilakukannya.” (Diriwayatkan Ibnu majah, ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy)
4.      Menyampaikan beberapa bentuk siksaan yang berkaitan dengan minum khamr, zina, pembunuhan, takabur, dengki, ghibah dan lain-lainnya. dia harus tampil layaknya dokter yang mengetahuiobat dan tahu bagaimana menggunakan obat. Ada seseorang berkata kepada Nabi Muhammad saw, “Berilah aku nasihat!” Beliau menjawab, “janganlah engkau marah”!”
Yang lain lagi berkata, “Berilah aku nasihat!” Maka dijawab, “Engkau haruslah putus asa mendapatkan apa yang ada di tangan oprang lain,”
Seakan-akan beliau bisa menangkap kebiasaan marah pada orang yang pertama. Sedangkan pada diri orang kedua beliau menangkap ketamakan.
Yang kami sebutkan ini adalah cara mengobati kelalaian. Berikut ini cara mengobati nafsu. Seprti yang sudh kami sebutkan dalam pasal layihan jiwa, cara mengobatinya dibutuhkan kesabaran. Sebab orang yang sakit karena jenis penyakit ini sudah cukup lama sakitnya. Yang mendorongnya adalah bisikan nafsu yang berlebih-lebihan atau karena dia lalai memikirkan mudharatnya. Begitu pula dalam mengobati nafsu dalam masalah kedurhakaan. Seperti pemuda umpamnya. Jika nafsu sudah mengusai dirinya maka dia tidak lagi sanggup menjaga matanya, hatinya dan anggota tubuhnya untuk mengikuti nafsunya itu. Maka dari itu dia harus mendengarkan hal-hal yang menkutkan sebagimana yang disebutkan dalam kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw. Jika dia benar-benar merasa takut, tentu dia akan menjauhi perkara-perkara yang membangkitkan nafsunya.
Orang yang membangkitkan nafsunya dari luar ialah yag sengaja mendatangkan sesuatu yang diinginkannya dan memandangnya. Cara mengobatinya ialah dengan berpuasa secara terus menerus. Tentu saja hal ini tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan kesabaran. Tidak ada kesabaran jika tidak ada rasa takut. Tidak rasa takut jika tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa takut jika tidak ada ilmu. Tidak ada ilmu jika tidak ada mata hati. Pertama-tama yang bisa dilakukan ialah mendatangi majlis dzikir, mendengarkan dengan hati yang tulus, terbebas dari berbagai macam pikiran, memikirkan apa yang dikatakan, setelah itu tentu akan muncul rasa takut, lebih mudah untuk sabar sehingga mudah baginya untuk mencari obat penawarnya. Setelah itu tentu dia kan mendapatkan taufik kebenaran dari Allah.

H.    Pengertian dan Pentingnya Husnuzan

Husnudhan secara bahasa berarti “berbaik sangka”.[12] lawan katanya adalah su’uzan yang berarti“berburuk sangka” atau apriori,skeptis,dan sebagainya. Seorang yang memiliki sikaphusnudhan akan mempertimbangkan sesuatu dengan pikiran jernih, dan hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenarannya.Berbaik sangka dan berburuk sangka merupakan bisikan jiwa, yang dapat diwujudkan melalui perilaku yakni ucapan dan perbuatan. Perilaku husnuzan termasuk akhlak terpuji karena akan mendatangkan manfaat. Sedangkan perilaku suuzan termasuk akhlak tercela karena akan mendatangkan kerugian.
Orang yang pemikiranya senantiasa dijelajahi oleh sikap suuzan akan memandang sesuatu selalu jelek. seolah-olah  tidak ada sedikitpun kebaikan dalam pikiranya dan cenderung menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya. Sikap buruk sangka identik dengan rasa curiga,cemas, amarah,dan benci. Padahal kecurigaan,kecemasan,kemarahan dan kebencian itu hanyalah perasaan semata yang tidak jelas sebabnya, terkadang apa yang ditakutkannya selama ini belum tentu  terjadi pada dirinya atau orang lain.
Prasangka merupakan salah satu sifat yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita semua, tidak ada yang menyangkal bahwa prasangka merupakan hal yang wajar, karena tidak ada manusi yang luput dari prasangka. Prasangka dalam berbagai hal haruslah senantiasa dipertimbangkan. Memang dalam ajaran islam senantiasa disebutkan bahwa prasangka manusia itu tidak bisa dihukumi apapun selama itu masih dalam tataran prasangka, justru apabila berprasangka baik, sekalipun belum dilaksanakan atau tidak diucapkan, telah dicatat sebagai kebaikan di sisi Allah SWT. Sebaliknya, bila seseorang berprasangka buruk, selama tidak diucapkan, diungkapkan ataupun dilaksanakan, maka itu termasuk hal yang dimaklumi dan tidak termasuk sebagai dosa.[13]
Kata husnuzan berasal dari bahasa Arab yang terdiri atas husnu dan azh-zhan. Husnu artinya baik dan azh-zhan artinya prasangka. Jadi husnuzan menurut bahasa yaitu berbaik sangka, sedangkan menurut istilah husnudzan diartikan berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang diberikan kepada manusia. Lawan kata dari husnuzan adalah su’uzan yang  berarti berburuk sangka atau apriori dan sebagainya. Husnuzan adalah cara pandang seseorang yang membuatnya melihat segala sesuatu secara positif, seorang yang memiliki sikap husnuzan akan mepertimbangkan segala sesuatu dengan pikiran yang jernih, pikiran dan hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenaranya atau berprasangka buruk.
Husnuzan hanya ada dua kata saja yang sangat ringan apabila diucapkan. Namun dalam kenyataannya, sulit sekali untuk diterapkan. Dalam bahasa kita husnuzan memiliki padanan istilah baik sangka. Yakni seseorang yang berusaha unutuk senantiasa memiliki pikiran yang baik atas suatu kejadian yang ada di sekitarnya atau menimpa dirinya. Dengan baik sangka seperti ini sebenarnya hidup menjadi mudah dan banyak perkara yang menjadi sangat ringan dalam menghadapinya.
Di sisi lain, kita sangat sepakat bahwa baik sangka merupakan kunci kebahagiaan dunia. Juga akhirat tetunya. Sebab prasangka yang baik akan senantiasa diberi perhitungan yang baik pula oleh Allah SWT.
Jika dalam pemikiran seseorang telah diliputi oleh perasaan berbaik sangka, maka yang bisa tampak dalam kehidupan sehari-harinya adalah sikap yang berujung pada ikhlas, menerima apapun yang diberikan kepadanya, dan ridha. Semua itu bermuara di relung hati yang paling dalam dari manusia.
Demikian pula islam, sebagai agama yang diikrarkan Allah SWT sebagai rahmat bagi alam semesta, islam dating dengan baik sangka. Maka orang-orang yang memeluk agama islam dan memepercayai kebenarannya haruslah menjadi orang-orang yang penuh dengan baik sangka. Dalam praktiknya orang yang diliputi oleh baik sangka akan menunjukkan sifat yang sangat mengagumkan. Bahkan Allah pun mengaguminya. Yakni jika ia mendapat nikmat entah besar ataupun kecil, ia akan bersyukur. Sebaliknya, jika ia mendapatkan musibah, ia akan bersabar. Keduanya adalah praktik baik sangka kepada Allah. Jika urusan dunia, lihatlah yang lebih rendah dari kita. Jika masalah agama, lihatlah yang lebih tinggi dari kita. Keduanya pun praktik baik sangka kepada Allah SWT, juga pada orang lain.[14]
Sebaliknya orang yang pemikirannya senantiasa dikuasai oleh sikap su’uzan selalu akan memandang segala sesuatu itu jelek, seolah-olah tidak ada sedikit pun kebaikan dalam pandanganya, pikirannya telah dikungkung oleh sikap yang menganggap orang lain lebih rendah dari pada dirinya. Sikap buruk sangka identik dengan rasa curiga, cemas, amarah dan benci, padahal kecurigaan, kecemasan, kemarahan dan kebencian itu hanyalah perasaan semata yang tidak jelas penyebabnya, terkadang apa yang ditakutkan akan terjadi pada dirinya atau orang lain sama sekali tidak terbukti.
Karena besarnya efek negative yang akan muncul pada diri manusia jika mereka melakukan perbuatan su’uzan, maka Allah pun dengan tegas mengingatkan manusia dalam surah Al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.
Terkait dengan firman Allah tersebut, para salafus shalih mengatakan bahwa seseorang itu dapat berprasangka baik apabila di dalam pergaulannya sehari-hari ia selalu mengedepankan kebaikan atau positif thinking (husnuzan) dalam setiap kali menilai suatu peristiwa. Jikapun misalnya ada sisi negative yang ia lihat, maka ia biasanya berupaya untuk selalu mengeliminasinya dengan hanya melihat sisi positifnya saja.
Orang yang demikian adalah orang yang selalu positif thinking dalam memandang kehidupan. Oleh karena itu, orang yang selalu positif thinking dalam hidupnya cenderung tidak pernah mengenal kata menyerah dalam menghadapi persoalan. Sebab baginya kejatuhan atau kegagalan dalam berusaha itu bukanlah hal yang tabu untuk diterima.
Bagi orang-orang yang suka berpikir positif, kejatuhan atau kegagalan dalam berusaha merupakan sebuah keberhasilan yang tertunda. Oleh karena itulah, orang yang selalu membangun prasangka baik biasanya selalu optimis dan percaya diri. Rasuluulah sendiri sangat menganjurkan umatnya agar selalu berpikir positif.
Sebegitu pentingnya ajaran untuk selalu berpikir posotif (husnuzan), sampai Rasulullah memesankan pada umatnya agar jangan mati dalam kondisi tengah berpikir negative tentang Allah.[15] Dalam hadis diriwayatkan oleh Muslim dari Djabir bin Abdillah r.a., telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:
“Jangan mati salah satu kamu melainkan dalam keadaan baik sangka kepada Allah SWT”

I.       Bentuk-bentuk dan Contoh dari Husnuzan

Bentuk-bentuk dari perilaku husnuzan dibagi menjadi tiga, diantaranya yakni:

1.      Husnuzan kepada Allah

Keyakinan yang positif itu seperti cahaya yang akan menerangi jalan kehidupan. Sebaliknya, sikap pesimis dan berkeluh kesah adalah kegelapan yang akan menyesatkan seseorang. Langkah pertama untuk menggapai impian adalah keyakinan yang positif. Keyakinan yang kuat bahwa impian kita itu akan terwujud, keyakinan yang baik pada Allah bahwa Dia akan mewujudkan impian kita. Istilah lain dari keyakinan positif adalah Positive Thinking atau optimis. Cita-cita tidak akan tercapai jika tidak memiliki keyakinan yang kuat, keyakinan bahwa cita-citanya akan tercapai, keyakinan bahwa usahanya akan berhasil, keyakinan yang sangat kuat bahwa impiannya akan menjadi nyata dan keyakinan positif lainnya. Dalam hadis Qudsi Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku”.
Jika kita berpikir bahwa sesuatu itu sulit, maka benar-benar akan menjadi sulit. Jika kita berprasangka baik kepada Allah SWT, niscaya Allah pun akan memberikan sesuai dengan persangkaan baik kita. Perkataan yang bernada putus asa hanya akan membuat impiannya menjadi asa. Seperti seseorang yang terus beribadah dan berdo’a yang tujuannya untuk segera menikah, namun seseorang tersebut mengeluh dan berkata bahwa do’anya tak kunjung diijabah oleh Allah, contoh seperti inilah yang menunjukkan seseorang tersebut berprasangka buruk kepada Allah SWT.[16]
Terkadang Allah SWT memberikan sesuatu anugerah kepada kita tidak dalam bungkusan yang indah. Ia justru menganugerahi manusia sering dalam wujud bungkusan yang ruwet atau tidak indah sama sekali. Ia tampaknya ingin melihat kita bagaimana bisa terus menjaga sikap baik sangka untuk setiap lapisan bungkusan rahasia hidup yang kita buka, hingga tampak anugerah itu bagi kita.
Sifat husnuzan kepada Allah SWT merupakan salah satu perilaku terpuji yang harus tertanam dalam jiwa seseorang, perilaku ini ditunjukan dengan selalu berbaik sangka atas segala kehendak Allah SWT terhadap setiap hamba-Nya. Karena banyak hal yang terjadi pada kita seperti musibah yang membuat kita secara tidak langsung menganggap bahwa Allah telah tidak adil kepada kita, padahal sebagai seorang mukmin sejati semestinya kita harus senantiasa menganggap apa yang ditakdirkan Allah kepada kita adalah yang terbaik bagi kita.
Seseorang boleh saja sedih, cemas dan gundah bila mendapatkan musibah, akan tetapi jangan sampai berlarut-larut sehingga membuat kita menyalahkan Allah sebagai Penguasa Takdir. Perilaku terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan cara segera menata hati dan perasaan kemudian menegguhkan sikap bahwa setiap yang ditakdirkan oleh Allah kepada hamba-Nya mengandung hikmah. Inilah yang disebut dengan sikap husnuzan kepada Allah SWT.
Sebagai seseorang mukmin yang meyakini bahwa Allah Maha Tahu atas apa yang terjadi terhadap hamba-Nya, karena itu kita semestinya berpikir optimis, yakin bahwa rahmat dan karunia yang diberikan oleh Allah kepada kita sebagai manusia tidak akan pernah putus. Sebagaimana Firman Allah SWT :
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (Q.S.Al-A’raf : 156)
Sehubungan dengan ayat ini, kita harus senantiasa ber-husnuzan kepada Allah SWT dalam segala hal dan keadaan, Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, ketika kita senang dan suka karena mendapatkan rizki dan kenikmatan dari Allah, maka sebaliknya saat kita dalam keadaan nestapa dan duka karena mendapatkan ujian dan cobaan hendaknya kita tetap ber-husnuzan kepada Allah SWT, sebab semua yang diberikan oleh Allah baik berupa kenikmatan maupun cobaan tentu mengandung banyak hikmah dan kebaikan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam sebuah Hadits Qudis yang artinya :
“Selalu menuruti sangkaan hamba-Ku terhadap diri-Ku jika ia berprasangka baik maka akan mendapatkan kebaikan dan jika ia berprasangka buruk maka akan mendapatkan keburukan” (H.R.at-Tabrani dan Ibnu Hiban).
   Contoh Sikap Husnuzan Kepada Allah
a.       Sabar serta senatiasa berserah diri kepada Allah (tawakal), yakni mempercayakan diri kepadaNya dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan yang telah direncanakan dengan mantap.
Dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah:112

   Artinya :
Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhan dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah:112).
عَنْ أَبِى سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلاَثٍ يَقُولُ « لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ ».
Dari Abu Sufyan, dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu berkata : tiga hari sebelum meninggalnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, aku mendengar beliau bersabda : “ Janganlah seorang diantara kalian meninggal kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah “ (H.R. Muslim)
b.      Syukur dan qona’ah, yakni senatiasa berterima kasih atas pemberian Allah serta merasa cukup atas pemberihanNya itu
Dijelaskan dalam QS. At-Taubah:59

Artinya :
Jika mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah. (Tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).(QS. At-Taubah:59).

2.      Husnuzan kepada diri sendiri

Perilaku husnuzan terhadap diri sendiri artinya adalah berperasangka baik terhadap kemampuan yang dimilki oleh diri sendiri. Dengan kata lain, senantiasa percaya diri dan tidak merasa rendah diri di hadapan orang lain. Orang yang memiliki sikap husnuzan terhadap diri sendiri akan senantiasa memiliki semangat yang tinggi untuk meraih sukses dalam setiap langkahnya. Sebab ia telah mengenali dengan baik kemampuan yang dimilikinya, sekaligus menerima kelemahan yang ada pada dirinya, sehingga ia dapat menetahui kapan ia harus maju dan tampil di depan dan kapan harus menahan diri karena tidak punya kemampuan di bidang itu.
Husnuzan pada diri sendiri juga merupakan hal yang wajib. Seperti contoh pada saat kita berkeinginan atau bermimpi ingin mendapatkan suatu pekerjaan, namun setelah kita melamar pekerjaan kita tidak yakin terhadap diri kita sendiri, dan berpikir bahwa “apakah saya masuk kerja di tempat ini ya?” jika prasangka inilah yang pertama kali kita pikirkan dan kelak akan menjadi kenyataan karena jika kita berpikir bahwa sesuatu itu sulit, maka benar-benar akan menjadi sulit.[17]
Orang yang berhusnuzan kepada dirinya sendiri ditunjukan dengan sikap percaya diri, optimis serta inisiatif dari diri seseorang tersebut, jadi orang yang tidak percaya diri, selalu pesimis dalam melakukan usaha apapun serta tidak mempunyai inisiatif untuk melakukan sesuatu, maka orang tersebut termasuk su’uzan pada dirinya sendiri, dia memandang bahwa dirinya itu buruk, lemah dan tidak mampu, padahal dia telah menyerah terlebih dahulu sebelum melakukan suatu hal apapun dan tidak percaya akan kemampuannya sendiri.
Perilaku terpuji terhadap diri sendiri yaitu percaya diri, gigih danberinisiatif, di antaranya:
a.                   Percaya Diri
Percaya diri termasuk sikap dan perilaku terpuji yang harus dimiliki oleh setiap muslim atau muslimah karena seseorang yang percaya diri tentu akan yakin terhadap kemampuan dirinya, sehingga ia berani mengeluarkan pendapat dan berani pula melakukan suatu tindakan. muslim atau muslimah yang berilmu pengetahuan tinggi dan memiliki keterampilan yang bermanfaat apabila ia percaya diri, tentu ia akan memperoleh keberhasilan dalam hidup.Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan apabila tidak percaya diri tentu akan memperoleh kerugian dan mungkin bencana. Muslim atau muslimah yang percaya diri akan melaksanakan kewajiban terhadap dirinya sendiri, misalnya menjaga kesehatan jasmani dan rohani serta memelihara diri agar tidak dikenai suatu bencana.
Artinya:”Wahai anak-anak-Ku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnyan yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir.”(Q.S. Yusuf: 87)
b.      Gigih
Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata gigih bahasa Minangkabau yang artinya berkeras hati, tabah, dan rajin. Gigih juga dapat diartikan bersungguh-sungguh dalam meraih sesuatu.Sikap dan perilaku gigihdalam meraih yang positif termasuk sikap mahmudah (sikap terpuji) dan akhlakul karimah. Setiap muslim dan muslimah wajib memiliki sikap gigih. Sikap gigih hendaknya diterapkan dalam kehidupan antara lain dalam hal berikut:
1)      Menuntut ilmu
Ilmu pengetahuan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu pengetahuan tentang agama Islam (‘ilm hal) dan ilmu pengetahuan umum (‘ilm gairu hal). Ilmu pengetahuan tentang agama Islam memberikan pedoman hidup kepada umat manusia.
Ilmu pengetahuan umum bertujuan agar umat manusia dapat memanfaatkan, menggali, dan mengolah kekayaan alam, baik yang ada di darat dan di laut maupun yang ada di angkasa raya.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Kebaikan/kebahagiaan di dunia dan di akhirat beserta ilmu dan keburukan/bencana di dunia dan di akhirat beserta kebodohan.”
(H.R Bukhari)
2)      Bekerja mencari rezeki yang halal
Bekerja mencari rezeki yang halal dapat dilakukan melalui berbagai bidang usaha, misalnya pertanian, peternakan, dan perdagangan. Bekerja dalam bidang apa pun hendaknya dilakukan dengan gigih dan sungguh-sungguh dengan dilandasi niat ikhlas karena Allah SWT, untuk memperoleh rida dan rahmat-Nya. Dengan cara seperti itu maka akan diperoleh hasil kerja yang optimal. Islam melarang umat-Nya bermalas-malasan dan menjadi beban orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Bekerja mencari rezeki yang halal itu wajib bagi setiap Muslim.”
(H.R. Tabrani)
3)      Berinisiatif
Kata inisiatif berasal dari bahasa Belanda yang berarti prakarsa atau langkah pertama. Inisiatif juga berarti berbuat yang sifatnya produktif ( memiliki etos kerja yang tinggi) dan tidak tergantung kepada orang lain. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki etos kerja yang tingi.Seseorang yang memiliki inisiatif disebut inisiator.
Inisiatif dalam hal positif merupakan sifat terpuji yang harus dimiliki oleh setiap orang muslim dan muslimah. Muslim/Muslimah yang berprasangka baik terhadap dirinya, tentu akan berkeyakinan bahwa dirinya mampu berinisiatif yang positif dalam bidang yang ditekuninya dan sesuai dengan keahliannya.
Firman Allah swt:
Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”(Q.S. An Najm(53): 39

3.      Husnuzan kepada sesama manusia

Baik sangka (husnuzan) pada orang lain khususnya sesama muslim adalah wajib. Karena penyebab utama pertikaian dan peperangan adalah buruk sangka dan tidak berbaik sangka kepada orang lain.
Berprasangka baik pada orang lain akan membuat orang tersebut malah senang dengan kita. Hubungan menjadi lebih baik dan harmonis. Tidak ada kecurigaan dan yang ada adalah saling percaya. Ini menjadi kekuatan untuk mempersatukan umat.
Hubungan baik antar manusia yang satu dengan yang lain, dan khususnya antara muslim yang satu dengan yang lain merupakan sesuatu yang harus diupayakan dengan sebaik-baiknya. Hal ini karena Allah telah menggariskan bahwa setiap muslim itu bersaudara, sesuai dengan firman Allah surat Al-Hujurat ayat 10 yang berbunyi:
  
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.
Oleh karena itu, segala bentuk sikap dan sifat yang akan memperkokoh dan memantapkan persaudaraan harus ditumbuhkan dan dipelihara, sedangkan segala bentuk sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwah harus dihilangkan. Agar hubungan ukhuwah islamiyah itu tetap terjalin dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dipenuhi adalah husnuzan atau berbaik sangka.
Tidak hanya itu, islam juga mengajarkan agar dengan keislaman yang kita miliki, orang yang tidak seiman pun dengan kita akan merasa nyaman dengan kondisi yang ada. Sedemikian mulianya islam mengatur hubungan tidak hanya dengan sesame muslim tetapi juga dengan sesama manusia secara umum.
Oleh karena itu, apabila kita mendapatkan informasi negative tentang sesuatu yang terkait dengan pribadi seseorang apalagi seorang muslim, maka kita harus melakukan tabayyun (pengecekan) terlebih dahulu kepada sumbernya langsung jika memungkinkan atau  kepada sumber-sumber yang benar-benar bisa dipercaya sebelum mempercayai apalagi meresponnya secara negative. Allah SWT berfirman pada QS. Al-Hujurat ayat 6 yang berbunyi:
 
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Ada banyak nilai dan manfaat yang diperoleh seorang muslim apabila dia memiliki sifat husnuzan kepada orang lain. Pertama, hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik. Hal ini karena berbaik sangka dalam hubungan sesama muslim akan menghindari terjadinya keretakan hubungan. Bahkan keharmonisan hubungan akan semakin terasa karena tidak ada kendala-kendala psikologis yang menghambat hubungan itu.
Kedua, selalu bahagia atas segala kemajuan yang dicapai orang lain, meskipun kita sendiri belum bisa mencapainya. Hal tersebut memiliki arti yang sangat penting, karena dengan demikian jiwa kita menjadi tenang dan terhindar dari iri hati yang bisa berkembang pada dosa-dosa baru sebagai kelanjutannya. Ini berarti kebaikan dan kejujuran akan mengantarkan kita pada kebaikan yang banyak dan dosa serta keburukan akan mengantarkan kita pada dosa-dosa berikutnya yang lebih besar lagi dengan dampak negative yang semakin banyak.[18]
a.       Kehidupan berkeluarga
Untuk mewujudkan rumah tangga yang memperoleh rida dan rahmat Allah swt , bahagia dan sejahtera, baik di dunia maupun di akhirat.
·         Pasangan suami-istri hendaknya saling berprasangka baik dan tidak saling curiga, saling memenuhi hak dan melaksanakan kewajiban masing-masing dengan sebaik-baiknya.
·         Hubungan anak-anak dan orang tua dilandasi dengan prasangka baik dan saling pengertian.
·         Anak-anak berbakti dan menyenangkan hati orang tua.
·         Orang tua memberi kepercayaan diri pada anak agar anak bisa mengembangkan diri dan melakukan hal-hal yang bermanfaat.
b.      Kehidupan bertetangga
·         Saling menghormati dan menghargai, baik secara sikap, ucapan lisan dan perbuatan. Menghormati tetangga merupakan tanda-tanda dari manusia beriman:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya menghormati tetangganya.” (H.R. Muslim).
·         Berbuat baik pada tetangga dengan cara melakukan kewajiban terhadap tetangga dan perbuatan lainnya yang bermanfaat.
“Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguannya.”(H.R. Muslim)
c.       Kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
Tujuan dari berkehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ialah terwujudnya kehidupan yang aman, tenteram, adil dan makmur, dibawah ampunan dari ridha Allah SWT.Hal ini bisa ditempuh dengan saling berprasangka baik dan berperilaku terpuji.
1)      Generasi tua menyayangi generasi muda, yaitu dengan membimbing mereka agar kualitas hidupnya dalam berbagai bidang positif melebihi generasi tua. Generasi muda hendaknya menghormati yang tua dengan bersikap, berkata dan berperilaku yang bermanfaat.“Bukan dari golongan kami (umat Islam) orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim).
2)      Saling tolong-menolong dalam kebaikan serta ketakwaan dan jangan saling menolong dalam dosa serta pelanggaran.
·         Pemerintah dan rakyat dari golongan mampu saling bekerja sama untuk mengetaskan kemiskinan.
·         Pemerintah dan masyarakat bekerja sama dalam memberantas kejahatan dan kemungkaran yang terjadi di lingkungan masyarakat.

4.      Husnuzan pada Situasi dan Keadaan

Dalam surat Al-Baqarah ayat 216, Allah SWT berfirman bahwa:
  
“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Ayat ini menyiratkan bahwa setiap keadaan yang menimpa kita, adalah yang terbaik dari Allah SWT. Walaupun mungkin menurut kita hal itu tidak kita sukai, namun sebenarnya Allah SWT punya rahasia yang belum kita ketahui. Selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa. Misalnya seperti ditolak melamar kerja, jodoh tidak kunjung tiba, gagal ikut ujian CPNS, atau kondisi apapun yang menurut kita tidak baik, maka ketahuilah bahwa Allah SWT lebih tahu dari pada kita.
Sebenarnya masih banyak kekeliruan dalam pemikiran kita yang mesti diperbaiki. Karena jika kita sadar, maka pikiran itu akan membentuk diri kita, selain itu, pikiran yang buruk sama dengan prasangka yang buruk atau su’uzan pada Allah SWT.[19]
Beberapa contoh seseorang berhusnuzan dan bersu’uzan:
Su’uzan
Husnuzan
Aku tidak yakin punya rumah mewah, susah membersihkannya.
Jika aku punya rumah mewah, maka pembantuku yang akan membersihkannya.
Besok saya mau ujian, lulus gak ya?
Besok saya mau ujian, saya akan mendapat nilai berapa ya? Ranking 1 atau ranking 2 ya?
Sebentar lagi aku mau nikah, aku takut tidak bisa hamil.
Sebentar lagi aku mau nikah, aku mau punya anak berapa ya?

J.      Nilai-nilai Positif atau Manfaat Husnuzan dalam fenomena kehidupan

Seorang muslim tentunya mempunyai tujuan yang sempurna menyerupai peranannya dalam menjalani kehidupan untuk beribadah kepada Allah SWT. Dimana semua itu hanya dapat dicapai dengan komitmen untuk selalu berfikir sehat atau husnuzan terhadap segala hal yang mengandung unsur keimanan beserta rukun-rukunnya. Dan hasil dari keimanan itu adalah supaya dia selalu berkomitmen dengan amal-amal positif yang berupa amal soleh, maka ketika itulah manusia dapat mencapai kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat, Allah berfirman:
  
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
Di bawah ini merupakan manfaat atau nilai-nilai positif dari berhusnuzan, diantaranya:
1.      Dapat membangkitkan inspirasi (pengaruh dari dalam yang membangkitkan kreatif) yang lebih besar, yaitu rahasia kesempurnaan yang tinggi, memuliakan berbagai amal dengan kemenangan, menumbuhkan keyakinan serta kepercayaan.
2.      Berfikir positif atau husnuzan dapat mengajak memilih sesuatu yang bernilai dari tujuan masa depan dan kehidupan yang lebih baik sesuai dengan tujuan.
3.      Komitmen pada perubahan negative yang dibangun dan mengalir dalam diri akan mempunyai pengaruh yang bermanfaat bagi kepribadian dan juga membawa dampak (baik) disegenap aktivitas.
4.      Pemikiran yang positif atau husnuzan akan mengurangi kesedihan, sebaliknya akan memperbanyak bahagia, melihat satu sudut peristiwa secara terang sebagai ganti dari memenuhi hidup dengan pemikiran-pemikiran gelap, lebih memilih kesenangan sebagai ganti dari kesedihan, dan langkah pertama untuk meraih semua itu adalah kebaikan yang bersemayam dalam diri.
5.      Sesungguhnya akal itu hanya terfokus pada satu fikiran yang menguasainya disetiap waktu, oleh sebab itu apabila kita memasukkan dalam akal kita itu fikiran positif atau husnuzan maka keluarlah fikiran negative yang berlawanan. Akal fikiran itu tidak akan pernah terjadi kekosongan oleh karena itu jika kita tidak memenuhinya dengan pemikiran positif (husnuzan) maka akal kita akan dipenuhi dengan pemikiran negative (su’uzan).[20]
6.      Sesungguhnya sesuatu yang positif dalam akal dan perasaan atau emosi mampu membentuk kehidupan kita menjadi positif, optimis dan berkemauan, mempunyai kekuatan untuk membela diri, menentang serangan yang ditujukan kepada kita dari syetan-syetan yang berbentuk jin dan manusia, dan yang lebih besar dari pada keduanya adalah menentang bisikan-bisikan hati.
7.      Manakala kita berfikir secara positif hal itu membuat daya tarik kepada kita untuk berpijak pada sesuatu yang positif, begitu pula sebaliknya manakala kita berfikir secara negative hal itu membuat daya tarik kepada kita untuk berpijak pada sesuatu yang negative.
8.      Seseorang yang mampu berfikir positif atau husnuzan dan menjadikan keyakinan itu pada dirinya, maka dia akan melihat sekelilingnya dengan pandangan yang optimis dan dia sanggup melupakan hal negative yang terjadi di sekelilingnya, dan memencarkan kekuatan untuk mencapai tujuannya.
9.      Fikiran positif atau husnuzan membentuk sesuatu yang bernilai san bermanfaat, yaitu selalu berfikir membangun dan melahirkan sesuatu yang baru, memunculkan tunas-tunas yang saling bersentuhan dan perbuatan amal yang menjadikan sesuatu itu dapat berfungsi, yang tujuannya adalah berbuat dan membangun.
10.  Fikiran positif atau husnuzan tidak dapat secara langsung dengan sendirinya merubah kehidupan menuju arah yang lebih baik, karena terdapat factor penting bagi manusia untuk menerapkan berbagai strategi atau taktik, disertai dengan latihan secara berangsur-angsur untuk merubah tatacara berfikirnya, dan juga merubah apa yang diperbuatnya setiap hari yang menjadi kebiasaan perilakunya.
11.  Oleh karena itu fikiran positif atau husnuzan adalah praktek dan tindakan (action), dimana hakikatnya ia bukan merupakan puncak tujuan, melainkan hanya sarana (alat).[21]

K.    Strategi Berfikir Positif atau Berhusnuzan

Terdapat dua cara dalam melihat dunia (husnuzan dan su’uzan):
Pertama, melapangkan hati dan meletakkan pandangan dunia pada kedudukan semestinya, memilih sesuatu yang positif sehingga kita menjadi pribadi yang positif, lantas kita melihat dunia dengan bayangan kebaikan dan keindahan. Rasa optimis yang memenuhi jiwa, sehingga menjadi manusia yang lebih banyak berbahagia dan lebih banyak berbuat.
Kedua, memandang dunia penuh dengan racun keburukan dan melihatnya dari sisi yang gelap, sehingga kita tidak melihat dunia kecuali penuh dengan masalah dan kedzaliman di semua tempat, kita melihatnya penuh dengan kepasrahan tanpa berusaha melihat sisi lain sebagai alterntif adanya peluang dan harapan.
Ketika jiwa yang positif telah menguasai pemikiran seseorang maka dia tidak akan ragu lagi ketika berhadapan dengan berbagai kelompok dalam masyarakat dan bercampur baur dengan mereka, ia akan menasehati mereka, bersabar dengan segala resiko dan gangguan yang mesti dihadapinya.[22] Sebaliknya bagi orang yang selalu su’uzan terus-menerus dalam melihat dunia ini maka akan jarag bisa melihat dan menangkap kerusakan atau masalah yang dihadapinya itu sebagai sebuah pesan dari Allah SWT untuk dirinya. Akhirnya, tatkala ia melihat orang lain atau dirinya sendiri tengah dihadapkan dengan masalah, maka ia akan gampang sekali terjebak dalam perilaku su’uzan, baik kepada orang lain, dirinya sendiri maupun kepada Allah SWT.[23]
Dari uraian di atas, kali ini kita akan membahas tentang bagaimana strategi agar kita bisa berfikir positif atau berhusnuzan, yakni:
1.      Selalu memandang kelebihan
Ini adalah langkah pertama sebelum menjalankan langkah-langkah beriktnya. Lihat kelebihan dari sesuatu tersebut. Misalnya, ketika ternyata kita tidak lulus ujian CPNS, kita lihat kelebihannya terlebih dahulu, yakni yang tidak lulus lebih banyak daripada yang lulus, yang terpenting kita harus tetap mencari hal positif tersebut meskipun hal tersebut sangat kecil atau sepele.
2.      Diam dan tidak gegabah mengelauarkan statement atau komentar
Memag sangat terasa tidak nyaman dan sangat susah ketika kita tertimpa musibah, mendapatkan berita buruk maupun tertimpa keadaan buruk, dan yang paling cepat bereaksi ketika mendapatkan musibah adalah lisan atau mulut. Maka sebaiknya jangan berkomentar atau mengeluarkan statement terlebih dahulu, karena kata-kata itu memiliki kekuatan luar biasa. Jika terpaksa mulut ini haru bicara maka ucapkanlah innalillahi wainna ilaihi roji’un atau kalimat yang menenagnkan lainnya seperti astaghfirullah, Alhamdulillah, dan sebagainya.
3.      Bertanya terlebih dahulu
Ini adalah langkah ketiga, yang merupakan langkah yang sangat penting. Sangat menentukan kondisi hati kita. Langkah ini dilakukan ketika masalah yang kita hadapi berhubungan dengan orang lain, maka sebelum berpikir macam-macam tentang orang lain, maka bertanyalah, seperti, kenapa teman kta berbuat seperti itu? Dan sebagainya, yang sekiranya akan membuat segalanya jadi lebih terang dan jelas sebelum memvonis dia itu A atau dia itu B.
4.      Mengambil hikmahnya
Ini adalah puncak dari langkah-langkah berbaik sangka atau husnuzan. Langkah yang harus digunakan yakni mengambil hikmah dari berbagai peristiwa. Di semua peristiwa pasti ada hikmah dan pelajaran untuk kita. Masalah atau musibah yang kita alami jika disikapi dengan bijaksanan akan semakin mendewasakan dan membuat diri kita lebih arif. Tetapi jika kondisi yang buruk disikapi dengan keburukan, ungkapan-ungkapan yang semakin membuat hati bertambah perih, justru itulah bencana yang sesungguhnya. Percuma, mengeluh atau tidak mengeluh, musibah itu tetap saja kita rasakan. Maka lebih baik memilih tenang dan berbaik sangka kepada Allah serta, tetap optimis.
5.      Mengurangi informasi negative
Mungkin kita cenderung lebih sering mendengar berita tentang tragedi, kecelakaan, bencana maupun tindak kejahatan, penindasan, penyelewengan dan lain sebagainya. Semua diekspose dengan gaya yang membuat semua orang terperangah dan ingin mengetahuinya lebih dalam lagi. Tetapi, berita tentang keharmonisan, prestasi, kepedulian, kejujuran dan cinta kasih sering kali luput dari perhatian. Sebab, peringkatnya kecil dan tidak menguntungkan bagi media yang menyiarkannya. Maka mulai saat ini kurangi informasi tentang hal-hal yang negative.
Pada saat yang sama, konsumsi berita-berita yang membangkitkan optimisme. Ada baiknya jika kita berusaha bergaul hanya dengan orang-orang yang secara pasti memberikan masukan positif terhadap cara berpikir. Brian Tracymengatakan, “Get around the right people. Associate with positif, goal-oriented people who encourage and inspire you. –Bergaullah dengn orang-orang yang tepat. Bekerjasama dengan orang yang positif, yang berorientasi kepada hasil, mereka yang membangkitkan semangat dan menginspirasikan banyak hal kepadamu.” Dengan demikian lambat laun cara berpikir kita akan lebih positif.
6.      Memfokuskan diri hanya kepada hal-hal yang positif
Dalam hal ini kita dituntut untuk lebih mensyukuri karunia Allah SWT, daripada memikirkan tentang sesuatu yang hilang dalam hidup, akan lebih baik bila kita membuat daftar anugerah Allah SWT yang membuat diri ini merasa lebih bersyukur.
Misalnya, jika kita sedang kesal atas kemalangan yang menimpa, mungkin berupa ban kempes di tengah jalan, macet, pekerjaan belum beres, kehilangan dan lain sebagainya. Daripada terus memikirkan kemalangan itu, sebaiknya kita merenungkan betapa besar anugerah Allah SWT kepada kita, karena keajaiban kerja miliaran sel dalam tubuh kita. Anugerah itu memungkinkan kita tetap bernapas, melihat, mendengar, dan lain sebagainya. Pada saat itulah, kita akan dapat merasakan bahwa kemalangan yang sedang kita alami tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan anugerah Allah SWT sehingga kita dapat berpikir positif lagi (husnuzan) dan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
7.      Menerima kejadian apa adanya dan menghilangkan kesan negative atau trauma
Apa pun yang terjadi pada diri kita hakikatnya adalah kehendak dari Allah SWT. Semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Jadi, biasakanlah diri kita untuk senantiasa merasa ikhlas dengan segala anugerah-Nya. Sebagai orang yang beriman, kita wajib istirja’ kemudian berdo’a. yakinlah bahwa Allah SWT akan menggantinya dengan semisal atau hal yang lebih baik lagi.
Dalam sebuah hadis diriwayatkan, Umi Salamah amat terkejut saat suami tercintanya gugur di medan perang. Sebagai seseorang yang beriman, pasti ia bangga karena suaminya meninggalkan dirinya dalam keadaan husnul khotimah. Namun, sebagai manusia biasa kehilangan belahan jiwa merupakan pukulan yang amat berat. Karena ia percaya bahwa semua milik Allah SWT akan kembali kepada-Nya, maka ia istirja’ dan berdo’a semoga Allah mengganti musibah yang menimpanya dengan hal yang lebih baik lagi. Setelah beberapa saat, Umi Salamah mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik daripada suaminya, yakni lelaki agung penghulu para umat sekalian alam, yakni Muhammad Rasulullah SAW.
Namun jika trauma itu benar-benar sulit dihilangkan, bukan berarti itu merupakan tanda-tanda kelemahan manusia. Cobalah sekal lagi memikirkan berbagai solusi yang konstruktif dan melakukan sesuatu yang memudahkan usaha kita.[24]


BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      Husnudzan adalah berbaik sangka terhadap segala ketentuan dan ketetapan Allah yang diberikan kepada manusia.
2.      Bentuk-bentuk husnuzan ada 4 yakni husnuzan kepada Allah, husnuzan kepada diri sendiri, husnuzan kepada orang lain serta husnuzan kepada keadaan atau situasi.
3.      Banyak nialai positif atau manfaat dari kita berhusnuzan atau berprasangka baik kepada Allah, diri sendiri, orang lain maupun berhusnuzan kepada situasi atau keadaan, intinya yakni berhusnuzan disini merupakan praktik dari kita berbuat atau berperilaku terpuji tentanunya juga untuk meningkatkan keimanan kita menuju ridho Allah SWT.
4.      Strategi untuk berfikir postif atau berhusnuzan ada 7 yakni; selalu memandang kelebuhan, diam dan tidak gegabah mengelauarkan statement atau komentar, bertanya terlebih dahulu, mengambil hikmahnya, mengurangi informasi negative, memfokuskan diri hanya kepada hal-hal yang positif, serta menerima kejadian apa adanya dan menghilangkan kesan negative atau trauma.


DAFTAR RUJUKAN

Abdillah, Adi. 2010. Dahsyatnya Berbaik Sangka. (Yogyakarta: Qudsi Media).
Ar-Raqib, Said bin Soleh. 2010. Positif Thinking (Rahasia Kekuatan Berpikir Menurut Sunnah Nabi). (Solo: PT. Qaula).
Barozi, Ahmad. 2008. Penyakit Hati dan Penyembuhannya, (Yogyajarta: Darul Hikmah).
Suci Rahayu & Toifuri, 2007 Pendidikan Agama Islam SMA (Jakarta: Ganesa Exact)


[1]Syekh Muhammad djamaluddin Al Qasyimi Ad Dimsyaqi, Mau’idhotul Mukminin, 1993, Semarang: cv.Asy Syifa’, halmn 663
[2] Ibid hal 663
[3] Imam Ghazali (di indonesiakan oleh Nurhikmah dan Drs. R.H.A.suminto), kitab tauabat, sabar dan syukur, jakarta: P.T tintamas Indonesia halmn 4
[4] Ibid hal 5
[5] Opcit hlmn 663
[6] Dr. Anas Ahmad Karzun, Nutrisis Hati, 2008, solo: Dar nur Al-Maktabat, hlmn 229
[7] Syekh Muhammad djamaluddin Al Qasyimi Ad Dimsyaqi, Mau’idhotul Mukminin, 1993, Semarang: cv.Asy Syifa’, halmn 664

[8] Ibid halmn 664
[9] Dr. Anas Ahmad Karzun, Nutrisis Hati, 2008, solo: Dar nur Al-Maktabat, hlmn 229
[10] Ibid hlmn 230
[11] Ibnu katsir, tafsir ibnu katsir (IV/418)
[12]Suci Rahayu & Toifuri, 2007 Pendidikan Agama Islam SMA (Jakarta: Ganesa Exact).hlm, 41.
[13] Adi Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media, 2010), 3.
[14] Adi Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media, 2010), 106-108.
[15] Ahmad Barozi, Penyakit Hati dan Penyembuhannya, (Yogyajarta: Darul Hikmah, 2008), 49-50.
[16]Adi Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media, 2010), 113-114.
[17] Adi Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media, 2010), 116-117.
[18] Adi Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media, 2010), 118-120.
[19] Ibid, 121.
[20] Ilmu Nafsi an-Najah, Brian Traccy, 27.
[21] Said Bin Soleh Ar-Raqib, Positif Thinking, (Solo: PT. Qaula, 2010), 25-28.
[22] Said Bin Soleh Ar-Raqib, Positif Thinking, (Solo: PT. Qaula, 2010), 77-78.
[23] Ahmad Barozi, Penyakit Hati dan Penyembuhannya, (Yogyajarta: Darul Hikmah, 2008), 48.
[24] [24] Adi Abdillah, Dahsyatnya Berbaik Sangka, (Yogyakarta: Qudsi Media, 2010), 135-139.

0 komentar:

Post a Comment

 
TOP