Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat
limpahan karunia, rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyusun makalah ini
sehingga selesai pada waktunya.
Makalah yang berjudul “Aspekr Ontologi (reality wujud)” ini disusun dan
dibuat berdasarkan materi yang sudah ada. Selain untuk memenuhi tugas mata
kuliah pengantar filsafat ilmu, pembuatan makalah ini bertujuan agar dapat
menambah pengetahuan bagi para pembaca. Penulis mengharapkan semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua.
Ucapan terima kasih tak lupa penulis sampaikan kepada semua pihak yang
telah mendukung dalam penyusunan makalah ini. Akhir kata, penulis menyadari
bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun
materinya. Oleh karena itu, diharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya.
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada mulanya
ontologi dan metafisika adalah satu, yaitu dibahas dalam kajian metafisika. Kemudian
pada abad ke-17 para filsuf membedakan antara metafisika dan ontolgi pada
pemilahan kajian atau objek yang ditelaah. Secara garis besar ontologi dan
metafisika mempunyai perbedaan arti secara etimologi yaitu; ontologi berasal
dari kata ta onta dan logia. Ta onta berarti segala sesuatu yang ada dan logia
berarti ajaran/ilmu pengetahuan, jadi ontologi berarti ajaran mengenai yang ada
atau segala sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika adalah sesuatu yang
ada pada sesudah fisika.
Prof. B.
Delfgaauw membedakan antar ontologi dan metafisika melihat dari objeknya. Objek
yang bisa ditangkap dengan panca indra termasuk masalah ontologi, sedangkan
objek yang tidak dapat ditangkap denga panca indra termasuk bidang metasifika.
Ontologi
secara ringkas membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya.
Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk
mendapatkan kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas
tersebut dapat diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar
pola berfikir, dan pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan
digunakan sebagai dasar pembahasan realitas. Sementara itu penjelasan deskriptif mengenai
ontologi dibahas sebagaimana akan diuraikan dimakalah ini dari pengertian
ontologi, pendapat tokoh-tokoh filsafat terhadap ontologi, objek formal
ontologi, aliran-aliran dalam ontologi, serta metode-metode yang dipakai dalam
ontologi.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah Arti Ontologi itu?
2. Apa yang menjadi objek dalam
ontologi itu?
3. Apa saja pemikiran atau aliran
yang terdapat dalam ontologi?
4. Metode apa saja yang diterapkan
oleh ontologi?
C. Maksud dan tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian dari Filsafat ontologi.
2. Untuk mengetahui kajian objek
suatu ontologi.
3. Untuk mengetahui aliran-aliran
pemikiran ontologi.
4. Untuk mengetahui metode dari
ontologi.
BAB
2
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Ontologi.
Ontologi menurut bahasa Ontologi
berasal dari bahasa Yunani yaitu On/Ontos yang berarti ada, dan Logos yang
berarti ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada.Sedangkan menurut
istilah Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang
merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret
maupun rohani/abstrak.
Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian
dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Pengertian ini
menjadi melebar dan dikaji secara tersendiri menurut lingkup cabang-cabang keilmuan
tersendiri. Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan berubah sesuai
dengan berjalannya waktu.
Sebuah
ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep
terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base. Sebuah ontologi
juga dapat diartikan sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan
sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah knowledge
base”. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu
objek, property dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin
terjadi pada suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan filsafat,
ontologi adalah studi tentang sesuatu yang ada.
Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa
didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1. Kuantitatif, yaitu dengan
mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2. Kualitatif, yaitu dengan
mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu,
seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau
harum.
Secara
sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau
kenyataan konkret secara kritis.
Pandangan
Para Filsuf Tentang Ontologi.
Tokoh yang
membuat istilah pertma ontologi adlah cristian wolff (1679-1714). Istilah
ontologi berasal dari bahasa yunani, yaitu ta onta berarti “ yang berada”, dan
logi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian ontolgi adalah ilmu
pengetahuan atau ajaran tentang yang ada.
Berikut adalah
pendapat tokoh filsafat mengenai ontologi diantaranya:
1. Aristoteles mengatakan The first
Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda.
2. Noeng Muhajir dalam bukunya
Filsafat Ilmu mengatakan ontology membahas tentang yang ada yang universal dan
tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.
3. Lorens Bagus menjelaskan yang ada
yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
4. Jujun S. Suriasumatri dalam
Pengantar ilmu dalam Perspektif mengatakan, ontologi membahas apa yang kita
ingin ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu
pengkajian mengenai teori tentang ada.
5. A. Dardiri dalam bukunya
Humaniora, Filsafat dan Logika mengatakan ontologi adalah menyelidiki sifat
dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana
entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisis,
hal universal,abstraksi) dapat dikatakan ada.
6. Sidi Gazalba dalam bukunya
Sistematika Filsafat mengatakan, ontologi mempersoalkan sifat dan keadaan
terakhir dari kenyataan.
7. Amsal Bakhtiar dalam bukunya
Filsafat Agama I mengatakan, ontologi adalah teori/ilmu tetang wujud, tentang
hakikat yang ada.
8. Menurut Suriasumantri (1985),
Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin
tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”.
Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan :
A. Apakah obyek ilmu yang akan ditelaah,
B. Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek
tersebut, dan
C. Bagaimana hubungan antara
obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan
mengindera) yang membuahkan pengetahuan.
9. Menurut Soetriono & Hanafie (2007),
Ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud
yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari
pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek
ontologi atau obyek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang
menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam
kenyataan dan keberadaan.
10. Menurut Pandangan The Liang Gie,
Ontologi adalah bagian dari filsafat dasar yang mengungkap makna dari sebuah
eksistensi yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan :
·
Apakah artinya ada, hal ada ?
· Apakah
golongan-golongan dari hal yang ada ?
·
Apakah sifat dasar kenyataan dan hal ada ?
·
Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis,
pengertian universal, abstraksi dan bilangan) dapat dikatakan ada ?
11. Menurut Ensiklopedi Britannica
Yang juga diangkat dari Konsepsi Aristoteles, Ontologi Yaitu teori atau studi
tentang being / wujud seperti karakteristik dasar dari seluruh realitas.
Ontologi sinonim dengan metafisika yaitu, studi filosofis untuk menentukan
sifat nyata yang asli (real nature) dari suatu benda untuk menentukan arti ,
struktur dan prinsip benda tersebut. (Filosofi ini didefinisikan oleh
Aristoteles abad ke-4 SM).
B.
Objek Ontologi
Ontologi merupakan salah satu dari obyek garapan filsafat ilmu yang menetapkan
batas lingkup dan teori tentang hakikat realitas yang ada (Being), baik berupa
wujud fisik (al-Thobi’ah) maupun metafisik (ma ba’da al-Thobi’ah) selain itu
Ontology merupakan hakikat ilmu itu sendiri dan apa hakikat kebenaran serta
kenyataan yang inheren dengan penetahuan ilmiah tidak terlepas dari persepektif
filsafat tentang apa dan bagaimana yang ada.
Ruang lingkup garapan ontologi itu sendiri meliputi fisika dan metafisika dan metafisika masih menjadi
perdebatan, terutama di kalangan filosuf barat, yang kemudian dibatasi hanya
pada obyek-obyek empiris. Maka ilmu yang hanya membahas daerah-daerah yang
berada dalam jangkauan.
Dalam uraian tentang definisi filsafat dijelaskan bahwa obyek filsafat
ialah segala sesuatu , meliputi kesemestaan. Scope filsafat yang amat
luas dan tak terbatas obyeknya itu, perlu adanya pembidangan untuk
identifikasi penyelidikan. Pembidangan atas sistematika filsafat yang
pertama ialah Ontologi.
Ontologi kadang-kadang disamakan dengan metafisika. Metafisika ini
disebut juga sebagai prote-filosifia atau filsafat pertama. Sebelum manusia
menyelidiki yang lain, manusia berusaha mengerti hakikat sesuatu. Manusia dalam
antaraksinya dengan semesta raya, melahirkan pertanyaan-pertanyaan filosofis.
Apakah sesungguhnya hakikat realita yang ada ini. Apakah realita yang menampak
ini suatu relita materi saja. Ataukah ada sesuatu di balik realita itu,
suatu “rahasia” alam . apakah wujud wujud semesta ini bersifat tetap, kekal
tanpa perubahan. Ataukah hakikat semesta ini adalah perubahan semata-mata.
Apakah realita ini terbentuk atas satu unsur, dua unsur (monisme), ataukah
lebih dari dua unsur (dualisme), yakni serba banyak (pluralisme).
Pertanyaan-pertanyaan
di atas adalah pertanyaan metafisis atau ontologis. Sesuatu realita sebagai
suatu perwujudan menampakkan diri sebagai satu “tubuh”, satu eksistensi.
Sesuatu itu endukung satu perwujudan, yakni keseluruhan sifatnya. Dan yang
utama dari perwujudan itu adalah eksistensinya, dengan perkataan lain, wujud
atau adanya sesuatu adalah primer; sedangkan sifat-sifat yang lain, seperti
ukuranya, bentuknya, warnanya, beratnya dan sebagainya adalah sekunder. Ini
berarti pula eksistensi suatu realita itu adalah fundamental atau essensial.
Sedangkan sifat-sifat lain adalah sesuatu yang accidental, suatu atribut saja.
Ontologi atau metafisika terutama bertolak atas penyelidikanya tentang hakikat
ada. Secara garis besar ontologi itu antara lain : ada mutlak, ada terbatas,
ada umum dan ada khusus.
C.
Pandangan Pokok-pokok Pemikiran Ontologi
1. Keberadaan
ontologi dipandang dari segi jumlah
a. Monoisme, yaitu aliran yang
mengatkan bahwa hanya ada satu kenyataan fundamental. Kenyataan tersebut dapat
berupa jiwa, materi, tuhan atau subtansi lainnya yang tidak dapat diketahui.
Tokonya antara lain: thales (625-545 SM), yang berpendapat bahwa kenyataan yang
terdalam adalah satu subtansi, yaiut air. Anaximander (610-547 SM)berkeyakina
bahwa yang merupak kenyataan terdalam adalah aperion, yiut segala sesuatu yang
tanpa batas, tidak dapat ditentukan dan tidak memiliki persamaan dengan salah
satu benda yang ada dalam dunia. Anaximenes (585-528 SM), berkeyakina bahwa
yang merupakan unsur kenyataan yang sedalam dalamnya adalah udara. Flisuf
modern yang termasuk penganut monoisme adalah B. Spinoza, berpendapat bahwa
hanya ada satu satu substansi, yaitu tuhan. Dealam hal ini tuhan diidentikkan
dengan alam (naturans naturata). Dengan demikian monoisme adalah bagian
pemahaman ontologi yang mendeskripsikan bahwa hanya ada satu hakikat sebagai
sumber asal ini, tyidak ada yang selian selain satu tersebut.
b. Dualisme, yaitu aliran
yang menganggap adanya dua subtansi yang masin-masing berdiri sendiri. Aliran
ini menganggap bahwa hakikat asal usul sesutau itu terdiri adri dua subtansi,
bukan satu subtansi yang dijelaskan oleh aliran monoisme. Tokoh-tokoh yang
termasuk aliran ini adalah plato (428-348 SM), yang membedakan dua dunia, yaitu
dunia indra (dunia bayang-bayang) dan dunia ide (dunia yang terbuka bagi rasio
manusia). Rene descartes (1596-1650 M), yang membedakan substansi pikiran dan
substansi keluasan. Leibniz (1646-1716), yang membedakan antara dunia yang
sesungguhnya dan dunia yang mungkin. Immanuel Kant (1724-1804), yang membedakan
antar dunia gejala (fenomena) dan dunia hakiki (noumena).
c. Pluralisme, Adalah
paham yang menganggap bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan dan
semuanya nyata.Menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak
unsur. Tokoh masa Yunani kuno aliran ini adalah Anaxagoras dan Ampedocles.Dan
tokoh modern adalah William James (1842-1910 M) yang terkenal sebagai psykolog
dan filosof Amerika.
2.
Keberadaan ontologi dipandang dari segi sifatnya
a. Materialisme, adalah pandangan
yang menyatakan bhwa tidak ada sesuatu yang nyata kecuali materi. Pikiran dan
kesadaran hanyalah penjelmaan dari materi yang adapat dikembalikan pada
unsur-unsur fisik. Materi adalah sesuatu yang nampak, dapat diraba, berbenruk,
dan menempati ruang. Hal-hal yang bersifta kerohanian seperti jiwa, keyakinan,
rasa sedih, dan rasa senang tidak lain hanyalah ungkapan proses kebendaan.
Tokoh aliran ini adalah demokritos (460-370 SM), berkeyakinan bahwa alam
semesta tersusun atas atom-atom kecil yang memiliki bentuk dan badan. Atom ini
mempunyai sifat yang sama, perbedaannya hanya tentang besar, bentuk, dan
letaknya. Jiwa pun menurut demokritos dikatakan terjadi dari atom-atom, hanya
saja atom-atom jiwa itu berbentuk kecil, bulat, dan bergerak.Thomas Hobbes
(1588-1679), berpendapat bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia
merupakan gerak dari materi. Termasuk juga pikiran, perasaan adalah gerak
materi belaka karena segala sesuatu yang terjadi dari bernda-benda kecil.
b. Spiritualisme
Spiritualisme
mengandung beberapa arti, yaitu:
1) Ajaran yang menyatakan
bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh ( pneuma, nous, reason, logos),
yakni roh yang mengisi dan mendasari seluruh alam. Spiritualisme dalam arti ini
dilawankan dengan materialisme.
2) Kadang-kadang dikenakan
pada pandangan idealistis yang menyatakan adanya roh mutlak. Dunia indra dalam
pengertian ini dipandang sebagai dunia ide.
3) Dipakai dalam istilah
keagamaan untuk menekankan pengaruh langsung dari roh suci dalam bidang agama.
4) Kepercayaan bahwa roh
orang mati berkomunikasi dengan yang Masih hidup melalui perantara atau orang
tertentu dan lewat bentuk wujud yang lain. Istilah spiritualisme lebih tepat
dikenakan kepercayaan semacam ini.
Aliran spiritualisme juga
disebut idealisme (serba cita). Tokoh aliran ini antaranya Plato dengan
ajrannya tentang Idea (cita) dan jiwa. Idea atau cita adalah gambaran asli
segala benda. Semua yang ada dalam dunia hanyalah penjelmaan atau bayangan
saja. Idea atau cita tidak dapat ditangkap dengan indra (dicerap), tetapi
dapat dipikirkan, sedangkan yang ditangkap oleh indra manusia hanyalah
bayang-bayang.
3.
Keberadaan ontologi dipandang dari segi proses, kejadian, atau perubahan
a. Mekanisme, adalah
aliran yang menyatakan bhwa semua gejala dapat dijelaskan berdasrkan asas-asas
mekanik ( mesin). Semua peristiwa adalah hasil dari materi yang bergerak dan
dapat dijelaskan menurut kaidahnya. Aliran ini juga menerangkan semua peristiwa
berdasar pada sebab kerja, yang dilawankan dengan sebab-tujuan. Alam dianggap
seperti sebuah mesin yang keseluruhan fungsinya ditentukan secara otomatis oleh
bagian-bagiannya. Pandangan yang bercorak mekanistik dalam kosmologi pertama
kali diajukan oleh Leucippus dan Democritos yang berpendirian bahwa alam dapat
diterangkan berdasarkan pada atom-atom yang bergerak dalam ruang kosong.
Pandangan ini dianut oleh Galileo Galilei (1564-1641) dan filsuf lainnya abad
ke-17 sebagai filsafat mekanik. Rene Descartes menganggap bahwa hakikat materi
adalah keluasan (extension), dan semua gejla fisik dapat diterangkan dengan
kaidah mekanik. Bagi Immauel kant, kepastian dari suatu kejadian sesuai dengan
kaidah sebab-akibat (cousality) sebagai suatu kaidah alam.
b. Teleologi
(serba-tujuan), adalah aliran yang berpendapat bahwa yang berlaku daalam
kejadian alam bukanlah kaidah sebab-akibat, akan tetapi sejak semula memang ada
sesuatu kemauan atau kekuatan yang mengarahkan alam ke suatu tujuan.
menurut Aristoteles, untuk melihat kenyataan yang ysesungguhnya kita harus
memahami empat sebab, yaitu sebab bahan (material cause), sebab bentuk (formal
cause), sebab kerja (efficient couse), dan sebab tujuan (final couse).sebab
bahan adalah bahan yang menjadikan sesuatu itu ada; sebab bentuk adalah yang
menjadikan sesuatu itu berbentuk; sebab kerja adalah yang menyebabkan bentuk
itu bekerja atas bahan; sebab tujuan adalah yang menyebabkan semata-mata karena
perubahan tempat atau gerak
c. Vitalisme, adalah
aliran yang memandang bahwa kehidupan tidak sepenuhnya dijelaskan secara
fisika-kimiawi, karena hakikatnya berbeda dengan yang tidak hidup. Filsuf
vitalisme seperti Henry Bergson (1859-1941) menyebutkan elan vital.
Dikatakannya bahwa elan vital meruapakan sumber dari sebab kerja dan
perkembangan dalam alam. Asas hidup ini memimpin dan mengatur gejala hidup dan
menyesuaikannya dengan tujuan hidup. Oleh karena itu, vitalisme sering juga
disebit finalisme.
4.
Aliran Lain yang berkaitan antara ontologi dan Metafisika
a. Nihilisme, Berasal
dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada.Adalah sebuah
doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif.Istilah ini
diperkenalkan oleh Ivan Turgeniev dalam novelnya Fathers and Childern yang
ditulis pada tahun 1862 di Rusia. Doktrin ini sudah ada semenjak zaman
Yunani kuno pada pandangan Georgias (483-360 SM).
b. Agnostisesme, Adalah
paham yang mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda.Baik
hakikat materi maupun hakikat ruhani.Kata agnosticismeberasal dari
bahasa Grik Agnotos yang berarti unknown.A artinya not, Gno artinya
know.Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan
muthlak yang bersifat transcendent.Tokoh aliran ini seperti, Soren
Kierkegaar (1813-1855 M) Bapak Filsafat Eksistensialisme, Heidegger,
Sartre, dan Jaspers.
D.
Metode Dalam Ontologi
Lorens Bagus
memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu: abstraksi fisik,
abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan
keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk
mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis.
Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua
realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.
Sedangkan metode
pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu :
pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. Pembuktian a priori disusun
dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada
kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.
Contoh :
Sesuatu yang bersifat lahirah
itu
fana (Tt-P)
Badan itu sesuatu yang lahiri
(S-Tt)
Jadi, badan itu fana’
(S-P)
Sedangkan pembuktian a
posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan
term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya
saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai
berikut:
Contoh :
Gigi geligi itu gigi
geligi rahang
dinasaur
(Tt-S)
Gigi geligi itu gigi geligi pemakan
tumbuhan
(Tt-P)
Jadi, Dinausaurus itu pemakan
tumbuhan
(S-P)
Bandingkan tata
silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori di
berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj
menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di
berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi
akibat dari realitas dalam kesimpulan.
Sementara Jujun S.
Suriasumantri dalam pembahasan tentang ontologi memaparkan juga tentang asumsi
dan peluang. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua
point tersebut.
BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Ontologi menurut bahasa Ontologi
berasal dari bahasa Yunani yaitu On/Ontos yang berarti ada, dan Logos yang
berarti ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada.Sedangkan menurut
istilah Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang
merupakan ultimate reality baik yang berbentuk
jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.
2. Ruang lingkup garapan ontologi itu sendiri meliputi fisika dan metafisika dan metafisika masih menjadi
perdebatan, terutama di kalangan filosuf barat, yang kemudian dibatasi hanya
pada obyek-obyek empiris. Maka ilmu yang hanya membahas daerah-daerah yang
berada dalam jangkauan.
3. A.
Keberadaan ontologi dipandang dari segi jumlah
1.
Monoisme
2. Dualisme
3. Pluralisme
B. Keberadaan
ontologi dipandang dari segi jumlah
1.
Monoisme
2. Dualisme
3. Pluralisme
C. Keberadaan ontologi dipandang dari
segi proses, kejadian, atau perubahan
1.
Mekanisme
2.
Teleologi (serba-tujuan)
3.
Vitalisme
4. abstraksi fisik, abstraksi bentuk,
dan abstraksi metaphisik.
DAFTAR PUSTAKA
Jujun S. Suriasumantri,
Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta,
1996.
Louis O. Kattsouff, Pengantar
filsafat, Tiara Wacana, Yogjakarta.
NoorSyam, Muhammad. Filsafat
Pendidikan dan Dasar Pendidikan. Usaha Nasional. Surabaya-Indonesia,1986.
Suhartono, Suparlan.
2000. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta : Ar-Ruzz.
Surajito, Drs. 2005.
Pengantar ilmu filsafat.jakarta: Sinar Grafika Offset.

0 komentar:
Post a Comment