MAKALAH AKIDAH AKHLAK II
“MEMAHAMI MASALAH AKHLAK DAN
METODE PENINGKATAN KUALITAS AKHLAK”
“Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Akidah Akhlak II”
Dosen Pengampu:
Drs. H. Syamsul Arifin, M. Ag
Penyusun :
Tantra Dharmakerti Parikesit 12110076

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU
KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014/2015
Jl. Gajayana 50, Malang 65144Telp. (0341) 551354, Faks. (0341) 572533
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang
menaungi makhluknya penuh dengan kasih sayang. Yang memberikan nikmat yang tak
terhitung jumlahnya kepada makhluknya, pemilik kerajaan yang agung di sisinya,
serta pemberi karunia nikmat Islam kepada dunia melalui utusannya yang suci, Muhammad.
Salawat serta salam tak lupa kami haturkan,
kehadapan Nabi Agung Muhammad, yang merupakan nabi pembimbing untuk seluruh
Alam. Yang telak menghantarkan kita dari kegelapan dunia, menuju terangnya
Islam.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada bapak dan
bu kami yang telah melahirkan kami dan memberi segala yang mereka miliki, untuk
kami, tanpa imbalan sekalipun. Dan kami ucapkan terima kasih, kepada dosen mata
kuliah Akidah Akhlak II Drs. H. Syamsul Arifin, M. Ag, yang dengan sepenuh hati
mengajarkan kita ilmunya yang sangat berharga.
Dalam makalah ini kami mengangkat judul “MEMAHAMI
MASALAH AKHLAK DAN METODE PENINGKATAN KUALITAS AKHLAK”. Kami akan membahas
materi tersebut dengan mendalam, agar pembaca yang budiman dapat mendapatkan
manfaat yang maksimal dari hasil buah pikiran kami ini, berdasarkan data
lapangan yang kami peroleh. Pada pembahasan makalah ini, penulis merujuk
terhadap beberapa referensi dan memberikan beberapa komentar atau beberapa
pandangan penulis, agar materi ini dapat dicerna dengan baik oleh pembaca.
Namun, karena keterbatasan penulisan, baik
pengetahuan maupun kemampuan penulis, dan karena tidak ada manusia yang
sempurna. Maka, penulisan makalah ini masih sangatlah jauh dari kesempurnaan.
Kritik dan saran dari pembaca yang budiman, sangatlah berharga bagi kami untuk
memperbaiki kekurangan kami.
Akhir kata, semoga tulisan sederhana kami ini dapat
berguna untuk kita semua, tak hanya bagi pembaca pada umumnya, namun juga dapat
menjadi refleksi bagi penulis makalah ini sendiri pada khususnya. Dan semoga
manfaat bisa kita petik, dan mendapatkan pelajaran yang barakah.
Penulis
2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Akhlak
B. Induk-induk Akhlak Terpuji
C. Induk-induk Akhlak Tercela
D. Metode Peningkatan Kualitas Akhlak
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR RUJUKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia
diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kholifah yang bertugas untuk
mengelola apa yang ada di dunia ini dengan cara yang baik sesuai dengan
petunjuk dalam al-quran dan hadist. Hakekat seorang manusia adalah seorang
makhluk individu sekaligus makhluk sosial yang memiliki hak dan kewajiban untuk
saling berinteraksi dengan sesama manusia.
Manusia
yang diciptakan dengan penuh kesempurnaan akal dan pikiran oleh Allah kemudian
juga harus berinteraksi dengan sekitarnya dengan cara yang dibenarkan sehingga
kehidupan bersama yang damai dan penuh dengan rasa aman dapat tercapai. Hal
yang utama yang mengatur ini semua adalah Akhlak manusia. Akhlak memiliki
peranan yang sangat penting pada diri manusia. Manusia terlahir dengan sebuah
fitrah yang suci, lingkunganlah yang kemudian akan mengarahkan manusia hendak
menjadi manusia yang baik ataukah sebaliknya menjadi manusia yang berakhlak
kurang baik.
Oleh
karena itu, ilmu tentang akhlak dan membina manusia untuk menciptakan akhlak
yang baik dalam dirinya sangat diperlukan oleh semua manusia agar hidupnya
dalam masyarakat selalu tenang dan tentram.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut maka dapat
diketahui permasalahan-permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa definisi dari akhlak?
2. Apa induk-induk dari akhlak terpuji?
3. Apa induk-induk dari akhlak tercela?
4. Bagaimana metode untuk meningkatkan kualitas akhlak?
C. Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah tersebut maka dapat
diketahui tujuan penulisan makalah ini meliputi :
1. Mengetahui definisi akhlak.
2. Mengetahui induk-induk dari akhlak terpuji.
3. Mengetahui induk-induk dari akhlak tercela.
4. Mengetahui metode untuk meningkatkan kualitas akhlak.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Akhlak
Kata “Akhlak” berasal dari bahasa arab, jamak
dari khuluqun خُلُقٌ yang menurut bahasa berarti budi pekerti,
perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi
persesuaian dengan perkataan khalqun خَلْقٌ yang berarti kejadian, yang
juga erat hubungannya dengan khaliq خَالِقٌ yang berarti pencipta;
demikian pula dengan akhluqun مَخْلُوْقٌ yang berarti yang
diciptakan.
Definisi Akhlak menurut istilah ialah: sifat
yang tertanam di dalam diri yang dapat mengeluarkan sesuatu perbuatan dengan
senang dan mudah tanpa pemikiran, penelitian, dan paksaan[1].
Allah Ta’ala berfirman:
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:
كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang paling mulia akhlaknya.” (HR. Al-Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 2150)
Nabi Solallahu alaihi wasallam bersabda yang maksudnya: “Sesungguhnya
aku diutus adalah untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.” (H.R. Ahmad).
“Orang Mukmin yang paling sempurna imannya,
ialah yang paling baik akhlaknya.” (H.R. Ahmad).
Pengertian Akhlak dalam Kamus besar Bahasa
Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Dalam bahasa
Arab kata Akhlak (akhlaq) diartikan sebagai tabiat, perangai, kebiasaan,
bahkan agama . Meskipun kata akhlak berasal dari Bahasa Arab, tetapi kata akhlak
tidak terdapat di dalam Al-Qur’an. Kebanyakan kata akhlak dijumpai dalam hadis.
Satu-satunya kata yang ditemukan dalam al-Qur’an adalah bentuk tunggal, yaitu khuluq,
tercantum dalam surat al-Qalam ayat 4. yaitu:
Artinya :“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) betul-betul di atas
akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Dalam Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu
Miskawaih Al Ghazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai
yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa
mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Akhlak merupakan tolak ukur
kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah
shalallahu alaihi wasallam:
“Orang mu’min yang paling sempurna imannya
ialah yang terbaik akhlaknya.” (H.R. Tirmidzi, dari
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Dishahihkan oleh
Al Bani dalam Ash Shahihah No. 284 da 751.)
Lebih lengkap Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa,
Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia), yang dapat
melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan tanpa melalui maksud untuk
memikirkan (lebih lama)maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang
terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlak yang baik.
Tetapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, maka dinamakan akhlak yang
buruk.
Dalam kamus Al-kautsar, ilmu akhlak diartikan
sebagai ilmu tata karma,jadi dapat dirumuskan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu
yang membahas tentang perbuatan yang dilakukan manusia, mengajarkan perbuatan
baik yang harus dikerjakan dan perbuatan jahat yang harus dihindari dalam
pergaulannya, baik dengan sesama manusia maupun dengan tuhannya .
Baik menurut akhlak adalah segala sesuatu yang
sesuai dengan nilai dan norma agama, nilai serta norma yang terdapat dalam
masyarakat, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Buruk menurut akhlak
adalah segala sesuatu yang tidak berguna, tidak sesuai dengan nilai dan norma
agama, serta nilai dan norma masyarakat, merugikan masyarakat dan diri sendiri.
Adapun yang menentukan baik dan buruk suatu sikap (akhlak) yang melahirkan
prilaku atau perbuatan manusia adalah Al Quran yang dijelaskan dan dikembangkan
oleh Rasulullah Saw dengan sunahnya. Perbuatan baik dan buruk dalam moral dan
etika ditentukan adat istiadat dan pemikiran masyarakat pada suatu tempat di
suatu masa. Oleh karena itu, di pandang dari sumbernya akhlak islamiyah
bersifat tetap dan berlaku untuk selamanya sedangkan moral dan etika hanya
berlaku di suatu tempat dan selama masa tertentu.
Akhlak islamiyah adalah keadaan yang
melekat pada jiwa manusia. dalam buku ensiklopedia islam jilid 1, 1993
dinyatakan bahwa : perbuatan baru bisa dikatakan pencerminan akhlak jika dapat
memenuhi beberapa syarat antara lain :
1. Dilakukan berulang-ulang jika dilakukan sekali saja atau jarang-jarang
tidak dapat dikatakan akhlak.
2. Timbul dengan sendirinya tanpa dipikir-pikir atau dipertimbangkan
berulang-ulang karena perbuatan itu telah menjadi kebiasaan baginya.
Namun dalam masyarakat luas terdapat beberapa
istilah rancu antara moral,etika, akhlak, norma. Istilah-istilah tersebut
dianggap sama, namun jika kita pahami lebih lanjut maka terdapat beberapa
perbedaan yang sangat substansial.
Jika kita lihat dari pendapat Al-Ghazali pada
pembahasan sebelumnya maka dapat kita ketahui bahwa akhlak ialah seperangkat
tata nilai yang bersifat samawi dan azali, yang mewarnai cara berpikir,
bersikap dan bertindak seorang muslim terhadap alam lingkungannya. Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat
yang tertanam dalam jiwa yang dapat menilai perbuatan baik dan buruk, untuk
kemudian memilah melakukan ataupun meninggalkannya. Sedangkan moral adalah
prinsip-prinsip yang berhubungan dengan benar atau salah, pengertian tentang
perbedaan antara salah dan benar. Lebih lanjut Akhlak ialah suatu sifat yang
tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah,
dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran lebih dahulu. Akhlak umumnya
disamakan artinya dengan arti kata budi pekerti, kesusilaan atau sopan santun
dalam bahasa Indonesia, atau tidak berbeda pula dengan arti kata ethic (etika).
Di mana-mana setiap kesempatan dan situasional
orang berbicara tentang etika. Memang etika ini menarik untuk dibicarakan, akan
tetapi sulit untuk dipraktekkan. Etika adalah sistem daripada prinsip-prinsip
moral tentang baik dan buruk. Baik dan buruk terhadap tindakan dan atau
perilaku.
Ethics dapat berupa
etika (etik), yaitu berasal dari dalam diri sendiri (hati nurani) yang timbul
bukan karena keterpaksaan, akan tetapi didasarkan pada ethos dan spirit, jiwa
dan semangat. Ethics dapat juga berupa etiket, yaitu berasal dari luar
diri (menyenangkan orang lain), timbul karena rasa keterpaksaan didasarkan pada
norma, kaidah dan ketentuan. Etika dapat juga berarti tata susila (kesusilaan)
dan tata sopan santun (kesopanan) dalam pergaulan hidup sehari-hari baik dalam
keluarga, masyarakat, pemerintahan, berbangsa dan bernegara. Dalam kelompok
tertentu misalnya memiliki kode etik, rule of conduct, misalnya students
of conduct, kode etik kedokteran, dan atau kode etik masing-masing sesuai
dengan profesinya.
Kesusilaan adalah peraturan hidup yang berasal
dari suara hati manusia. Kesusilaan mendorong manusia untuk kebaikan akhlaknya.
Kesusilaan berasal dari ethos dan spirit yang ada dalam hati nurani. Sanksi
yang melanggar kesusilaan adalah batin manusia itu sendiri seperti penyesalan,
keresahan dan lain-lain.
Kesopanan adalah peraturan hidup yang timbul
karena ingin menyenangkan orang lain, pihak luar, dalam pergaulan sehari-hari,
bermasyarakat, berpemerintahan dan lain-lain. Kesopanan dasarnya adalah
kepantasan, kepatutan, kebiasaan, kepedulian, kesenonohan yang berlaku dalam
pergaulan (masyarakat, pemerintah, bangsa dan negara). Kesopanan di titik
beratkan kepada sikap lahiriah setiap subyek pelakunya, demi ketertiban dan
kehidupan masyarakat dalam pergaulan. Sanksi terhadap pelanggaran kesopanan
adalah mendapat celaan di tengah-tengah masyarakat lingkungan di mana ia
berada, misalnya dikucilkan dalam pergaulan.
Apabila kita berbicara tentang etika ini, maka akan kita
temukan beberapa pengertian antara lain :
1.
Etika : sistem daripada
prinsip-prinsip moral, dapat juga berarti rules of conduct, kode sosial
(social code), etika kehidupan. Dapat juga berarti ilmu pengetahuan tentang
moral atau cabang filsafat.
2.
Ethos (jiwa) : karakteristik dari
masyarakat tertentu atau kebudayaan tertentu.
3.
Spirit (semangat) : semangat
d’corps, loyalitas dan cinta pada kesatuan, kelompok, masyarakat, pemerintah
dan lain-lain.
4.
Rule
(ketentuan, peraturan) : ketentuan-ketentuan dalam kebiasaan pergaulan
masyarakat yang memberi pedoman atau pengawasan atau kegiatan tentang benar dan
salah.
5.
Norma : merupakan standar, pola,
patokan, ukuran, kriteria yang mantap dari masyarakat atau pemerintah.
6.
Moral : prinsip-prinsip yang
berhubungan dengan benar atau salah, pengertian tentang perbedaan antara salah
dan benar.
Akhlak islam mempunyai karakteristik sifat tertentu yang
membedakan dengan etika dan moral ciptaan manusia. Sifat-sifat tersebut antara
lain :
1.
Kebaikannya bersifat mutlak (al-hasanah
al-mutlaqah ) yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak merupakan
kebaikan yang bersifat murni baik untuk individu atau untuk masyarakat dalam
lingkungan, keadaan, waktu, dan tempat apapun.
2.
Kebaikannya bersifat menyeluruh (al-hasanah
syumuliyah) yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan kebaikan
untuk seluruh umat di segala zaman dan di semua tempat.
3.
Kebaikan bersifat tetap langgeng
dan mantap (al-hasanah al-sabitah), tidak berubah oleh perubahan waktu
dan tempat atau perubahan hidup masyarakat.
4.
Pengawasan yang menyeluruh (al-muraqabah
syumuliyah),karena akhlak bersumber dari Allah, maka pengaruhnya lebih kuat
dari etika,moral, ciptaan manusia sehingga orang tidak berani melanggarnya
kecuali setelah ragu-ragu dan kemudian akan menyesali perbuatannya untuk
selanjutnya bertaubat dengan sungguh-sungguh dan tidak melakukan perbuatan
salah lagi.
Jadi dapat dipahami akhlak merupakan seperangkat tata nilai
dan sifat-sifat yang bersifat samawi dan azali, tertanam dalam jiwa yang dapat
menilai perbuatan baik dan buruk, mewarnai cara berpikir, bersikap dan
bertindak seorang muslim terhadap alam lingkungannya., untuk kemudian memilah
melakukan ataupun meninggalkannya.
B. Induk-induk Akhlak Terpuji
Ikhlas[2] adalah suci dalam niat; bersih batin
dalam beramal; tidak berpura-pura; lurus hati dalam bertindak; jauh dari riya’
dan kemegahan dalam berlaku-berbuat, mengharapkan ridha Allah semata-mata.
Ikhlas merupakan amalan hati yang paling utama dan paling tinggi dan paling
pokok, Ikhlas merupakan hakikat dan kunci dakwah para rasul sejak dahulu kala.
Menurut Erbe Sentanu ikhlas merupakan Defaul
Factory Setting manusia, yakni manusia sudah dilahirkan dengan fitrah yang
murni dari ilahi. Hanya saja manusia itu
sendirilah yang senang mendiskonnya sehingga kesempurnaannya menjadi berkurang.
Ini akibat berbagai pengalaman hidup dan ketidak tepatan dalam berfikir atau
berprasangka (judgment), sehingga hidupnya pun menjadi penuh kesulitan.
Lafaz ikhlas menunjukkan pengertian jernih,
bersih dan suci dari campuran dan pencemaran. Sesuatu yang murni artinya bersih
tanpa ada campuran, baik yang bersifat materi maupun nonmateri. Adapun pengertian ikhlas menurut syara’
adalah seperti yang diungkapkan oleh ibnu qayyim berikut: Mengesankan Allah
dalam berniat ketika melakukan ketaatan, bertujuan hanya kepada Nya tanpa
mempersekutukan Nya dengan sesuatupun. Dan menurut Al- Fairuzabi :” Ikhlas
karena Allah , artinya meninggalkan riya’ dan tidak pamer.
Orang yang ikhlas adalah seseorang yang tidak
peduli meskipun semua penghargaan atas dirinya hilang demi meraih kebaikan
hubungan kalbunya dengan Allah, dan orang tersebut tidak ingin apa yang ia
lakukan dipamerkan walaupun sebesar bizi zarapun.
Sebagaimana Firman Allah SWT dlam surat Az- zumar ayat 14
قُلِ ٱللَّهَ أَعۡبُدُ
مُخۡلِصٗا لَّهُۥ دِينِي ١٤
Katakanlah: "Hanya Allah
saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)
agamaku". (QS. Az-Zumar 14)
Dan dalam surat Al- An’am ayat 162-163
قُلۡ
إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢
لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣
Katakanlah: Sesungguhnya
sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan
aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".
(QS. Al-Anam 162-163)
Dikisahkan oleh Umamah ra, ada seorang
laki-laki yang datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah,
apakah pendapat Engkau tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mencari
pahala dan popularitas diri. Kelak, apa yang akan ia dapat di akherat?”
Rasulullah SAW menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa. Orang itu mengulangi
lagi pertanyaannya sampai tiga kali. Tetapi Rasulullah SAW tetap menjawabnya,
“Ia tidak menerima apa-apa!” Kemudian Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah
tidak menerima suatu amal perbuatan, kecuali yang murni dan yang mengharapkan
ridha-Nya”
Orang-orang yang ikhlas merupakan orang-orang
yang bersih dari dosa karena mereka telah berusaha membersihkan dirinya dengan
benar-benar melaksanakan segala perintah Allah denga tulus. Dalam beraqidah
mereka benar-benar mengesakan Allah SWT. dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang
lain seperti halnya orang-orang musyrik, yahudi dan nasrani. Selanjutnya dalam
melakukan ibadah dan amal kebajikan lainnya mereka kerjakan semata-mata karena
Allah dan untuk Allah; bukan karena manusia dengan cara riya’ dan sum’ah, untuk
mendapatkan popularitas dan kesenangan hawa nafsu lainnya. Oleh karena itu
wajar kiranya terhadap orang-orang yang ikhlas ini Allah SWT. menganugrahkan
keistimewaan dan kelebihan kepada mereka, baik dalam kehidupan duniawi dan
ukhrawinya.
Adapun orang-orang yang ikhlas memiliki ciri -
ciri, diantaranya:
·
Selalu memandang diri sendiri
·
Khawatir terhadap popularitas
·
Cinta dan benci karena Allah
·
Tidak terpengaruh oleh kedudukan
dan pangkat
·
Tetap beramal meski belum terlihat
hasilnya.
2. Qanaah (قناعه)
Secara bahasa (Etimoogi), Qanaah artinya cukup,
secara istilah (Terminologi) artinya masa cukup dengan apa yang di miliki dan
menjauhkan diri dari sifat ketidakpuasan/kekurangan.
Orang yang memiliki sifat Qanaah akan
senantiasa merasa tentram dan merasa berkecukupan apa yang dimilikinya selama
ini dan yakin hakikat kaya atau miskin tidak diukur dari banyak dan sedikitnya
harta, akan tetapi terletak kepada hatinya untuk menerima dan mensyukuri segala
karunia dari Allah SWT, Rasulullah bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ
كَثْرَةِ الْعَرْضِ وَلكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya: bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta,
akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa. “(HR. Bukhari Muslim).
Dengan sifat qanaah ini berarti kita
menanamkan pola hidup sederhana yang sehat, karena pada dasarnya orang yang
selalu mengejar harta kekayaan hatinya tidak tentra. Rasulullah SAW bersabda:
القاعه
كنزلا يغن
Artinya:
qanaah adalah simpanan yang tak akan lenyap “(HR, Tabrani).
Qanaah merupakan sikap menerima apa adanya
dan diiringi dengan usaha keras dan apapun hasilnya harus diterima dengan sabar
dan penuh syukur.
عن
عبدالله بن عمر بن العاص ان رسول الله صل الله صل اللة عليه وسلامقَدْ أَفْلَحَ
مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
Artinya:dari abdillah bin Amr Ra. Bahwa rasulullah SAW
bersabda= sungguh beruntung orang yang beragama islam dan rezekinya cukup,
kemudian merasa cukup dengan apa yang diberikan allah kepadanya (HR,
Muslim).
3. Zuhud
Zuhud ialah tidak berhasrat terhadap sesuatu
yang mubah walaupun kesempatan untuk memperoleh/mengerjakanya ada. Zuhud
merupakan salah satu sifat terpuji yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang
mukmin untuk menyempurnakan ibadahnya dengan jalan berusaha dengan maksimal
untuk mengendalikan hawa nafsu syahwat yang terlalu dan selalu cenderung kepada
keduniaan. Sehingga tidak dibenarkan hanya mementingkan urusan akhirat dan
melupakan urusan duniawi untuk mencukupi keperluan hidupnya sendiri dan
keluarga serta mengesampingkan memenuhi kewajiban-kewajiban sosial.
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu
dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana
Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di
(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan. (QS. Al Qashas : 77).
Keinginan yang berlebihan terhadap dunia yang
menyebabkan manusia lupa kepada allah tidak disenangi allah dan perlu disadari
bahwa kehidupan dunia ini ibarat permainan bola dan bersifat sementara,
sebagaimana firman Allah SWT.
Artinya: Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan
main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau
mereka mengetahui. (Al Ankabut : 64).
Zuhud itu dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu:
a.
Derajat pertama (terendah) yaitu
menghindari dunia padahal hatinya sangat
tertarik, tetapi sekuat-kuatnya untuk menghindarinya, dan merasa cukup dengan
yang sudah dimiliki.
b.
Derajat kedua yaitu meninggalkan
kedunia karena pandangan rendah dan hina terhadap orang yang rakus dan tamak
terhadap harta.
c.
Derajat ketiga yaitu meninggalkan
dunia karena zuhud semata karena adanya pandangan bahwa dunia tidak berarti
sedikitpun dibandingkan dengan kenikmatan akhirat.
4. Sabar
Sabar adalah tahan menderita untuk menghadapi
yang tidak disenangi dengan penuh ridha dan menyerahkan diri kepada Allah.
Orang yang sabar dalam berbagai keadaan akan tetap tenang, selalau ingat Allah
dan berserah diri kepada-Nya. Orang yang tabah akan tahan menderita kalau
terkena musibah, tidak lekas putus asa dalam menunaikan kewajiban serta meraih
cita-cita, keutamaan orang sabar adalah sebagaimana firman Allah sebagai
berikut:
Artinya:Katakanlah: "Hai
hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang
berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas.
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka
tanpa batas. (QS. AZ-Zumar 10).
Macam-macam sabar
a.
Sabar dalam ketaatan ( الصبر على
الطا عه )
adalah: sabar dalam usaha untuk melaksanakan ketaatan kepada allah SWT,
bagaimanapun keadaanya tetap istiqamah didalam ketaatan kepada allah dan
menjahui segala yang dilarang Allah serta menjahui segala tipu daya syetan.
b.
Sabar dalam meninggalkan maksiyat
(الصبر على المعصية) ketahanan diri untuk menghindarkan diri dari
segala bentuk maksiyat yang akan mendatangkan murka Allah dan akan merugi
didunia dan akhirat.
c.
Sabar dalam musibah, sebagai orang
yang beriaman musibah merupakan ujian keimanan, jika musibah disikapi dengan
tidak iklas dan tawakal kepadaAllah , maka justru akan membuat jauh dari Allah
dan menjadi negative kepada Allah, oleh karena itu segala musibah harus
diterima dengan sabar, tawkal dan iklas yang akan mengangkat derajat keimanan
yang lebih tinggi.
5. Istiqamah
Istiqamah berarti teguh pendirian berpegang
kepada sesuatu yang diyakini kebenaranya menurut Allah SWT dan tidak berubah
dalam keadaan bagaimanapun. Sikap istiqamah ini sangat baik dimiliki orang yang
beriman karena akan diberi ketenangan hidup, hilang rasa takut, sedih, petus
asa dalam keadaan bagaimanapun, cerminan sikap istiqamah ini seperti dijelaskan
didalam firman Allah SWT, sebagai berikut:
Artinya:Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:
"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka
dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (Fush Shilat:30).
Rasullullah menjelaskan tentang istiqamah
sebagai berikut:
عَنْ
أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي
اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ
آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Artinya: “dari Ibnu Amr r.a katanya, aku berkata : “
hai rasulullah, katakanlah padaku tentang Islam, sesuatu perkataan yang aku
tidak menanyakan lagi kepada seseorang selain engkau, nabi bersabda:
“katakanlah aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah. (HR. Muslim).
6. Tasamuh
Secara bahasa tasamuh berarti toleransi,
tenggang rasa atau saling menghargai, secara istilah tasamuh artinya suatu
sikap yang senantiasa saling menghargai antar sesama manusia.
Didalam hidup bermasyarakat akan menemui
berbagai macam perbedaan, diataranya suku bangsa, warna kulit, bahasa, ide,
agama dan lain-lain, yang menuntut kita untuk tetap menjaga persatuan ,
kerukunan, hormat menghormati, karena kita merupakan makluk Allah dan yang
membedakan antara individu satu dengan yang lainya adalah taqwanya, sebagaimana
firman Allah SWT
Artinya: Hai manusia,
Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
lagi Maha Mengenal (QS. Al Hujurat:13).
Jalinan toleransi untuk sesama muslim merupakan
suatu kewajiban yang terikat tali aqidah yang sama, sebagaimana dijelaskan oleh
hadist:
لايؤ
من احدكم حت يحسب لئ حيه م يحب لنفسه الحسنه ياء كل
Artinya: “tidak sempurna iman seseorang diantara
kamu,sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Toleransi terhadap non muslim dilakukan
dengan jalan menjaga kerukunan dan persatuan dengan dasar memiliki pandangan
sama yaitu sesama makluk Allah dan urusan keyakinan dan ibadah harus sesuai
dengan agama dan kepercayaan masing-masing dalam arti tidak boleh mencampuri
ibadah/keyakinan pemeluk agama lain, dengan prinsip seperti firman Allah:
Artinya: Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."(Al
Kafirun:6).
C. Induk-induk Akhlak Tercela
Akhlak tercela mengantar manusia menuju
kehancuran karena Allah melarang pribadi muslim memiliki sifat tercela. adapun
jenis akhlak tercela yang harus di hindari oleh setiap muslim yaitu sebagai
berikut :
1.
Setiap ucapan atau perbuatan yang
dilarang al Quran adalah termasuk akhlak tercela dan buruk
2.
Setiap sesuatu yang diharamkan
Allah kalau direnungkan dengan seksama ternyata merupakan perbuatan yang keji,
buruk, batal, sesat, dan maksiat yang menimbulkan permusuhan, kebencian dan
percekcokan.
3.
Setiap cerita atau berita mengenai
orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya yang disampaikan Al Quran
mempunyai tujuan agar kaum muslimin menjauhi perbuatan tercela yang membawa
Murka Allah.
4.
Setiap ancaman yang diancamkan
Allah kepada salah satu hamba-Nya menunjukkan bahwa orang yang menerima ancaman
itu telah melakukan perbuatan yang tidak diridai-Nya. Perbuatan yang tidak
mendapat rida dari Allah menimbulkan kesesatan dan kebatilan.
Al-Quran
menjabarkan secara rinci tentang konsistensi setiap muslim untuk menjauhi
akhlak tercela, diantaranya sebagai berikut:
Pertama,
hal-hal yang berhubungan dengan ucapan yang buruk. Al-Quran menyebutkan banyak sekali
ucapan buruk yang diperingatkan, dilarang, diancam pengucapnya, atau di usia,
di antaranya pembicaraan yang sia-sia, olok-olokan dan pemberian nama panggilan
yang buruk, gunjingan, prasangka dan mata-mata, kebohongan, mengekspresikan
atau melukiskan sesuatu dalam benak, baik bersifat terkaaan atau berdasar (umniyah),
memasuki persoalan yang bukan urusannya (fuzul). Ide mentah yaitu apa yang
terdetak dalam pikiran, kemudian diungkapkan secara tergesa-gesa tanpa
perhitungan matang. Kemunafikan ialah sikap memperlihatkan keimanan dan
menyembunyikan kekufuran atau memperlihatkan sifat yang baik dan menyembunyikan
sifat yang buruk. Akhlak-akhlak tercela yang disebut Al-Quran agar dijauhi,
baik berupa perbuatan maupun berupa ucapan yang lebih banyak terjadi.
Kedua,
hal-hal yang berhubungan dengan perbuatan yang buruk. Banyak sekali perbuatan
yang buruk yang dilarang dan diharamkan oleh Allah, sebagaimana di isyaratkan
dalam Al-Quran, di antaranya kikir, sikap pengecut, dengki, berlebihan dan
boros, aniaya, melampaui batas, berbuat kerusakan, terbujuk dan membanggakan
diri, melampiaskan hawa nafsu dan Syahwat, dan khianat.
1.
Iri hati, dengki (hasud)
Iri
hati adalah tidak senang bila orang lain mendapat kenikmatan/kebahagiaan,
dengki (hasud) berarti tidak senang bila orang lain mendapat
kenikmatan/kebahagiaan dan menginginkan kenikmatan/kebahagiaan tersebut segera
lenyap, sebagaimana firman Alah SWT.
Artinya:Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati,
tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu
bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan
kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka
kerjakan. (QS, Ali Imran:120).
Rasulullah
menjelaskan alangkah jeleknya sifat iri/dengki tersebut karena akan menghapus
segala kebaikan pelakunya, hatinya merasa semakin sakit dan tersiksa setiap
orang lain mendapat kenikmatan.
الحسنات
كما تاء كل النار الحطب
Artinya: dengki itu dapat makan
(menghabiskan) kebaikan sebagaimana api membakar kayu” (HR. Abu Daud dan
Ibnu Majah).
Iri hati
dan dengki pemicu perbuatan tercela lainya, seperti dendam, marah, berdusta,
menipu, adu domba, mencuri, membunuh, bahkan dibenci dan dikucilkan oleh
masyarakat dan diakhirat mendapat azab dari Allah SWT.
Sebab-sebab
oaring melakukan iri dan dengki antara lain : adanya kebencian, tidak
bersyukur, perasaan tinggi diri/sombong, kikir, malas.
2.
Sombong (Takabur).
Sombong
adlah merasa lebih tinggi dari orang lain dalam hal duniawi misalnya:
keturunan, kekayaan, ketampanan, kedudukan dll, orang yang sombong biasanya
memiliki sifat-sifat yang tercela misalnya merendahkan orang lain, pemarah,
pembohong, khianat, dsb, sifat sombong sangat dibenci Alah:
Artinya:Tidak
diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan
dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang sombong.(QS. An Nahl : 23).
Sabda
Rasulullah SAW:
لايد
خل الجنة من كان ف قلبه مثقال حبة من خر دل كبر
Artinya: tidak akan
masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat
kesombongan “ (HR. Muslim)
Sombong
ada dua macam, yaitu: sombong lahiriyah (takabur zahir) dan sombong batiniyah
(takabur batin). Neburut rasulullah yang dinamakan sombong adalah menolak
kebenaran dan menghina orang lain. Seperti sabdanya:
الكبر
من بطر الحق وغط الناس
Artinya:sombong adalah
(sifat) oaring yang mengingkari kebenaran dan menghina orang lain” (HR. Abu
Daud dan Hakim).
Orang
yang sombong telah merampas sifat yang sebenarnya tidak pantas disandangnya,
karena sifat itu haanyalah miliki Allah SWT. Banyak hal yang dapat
menjerumuskan seseorang kedalam kesombongan, antara lain: keturunan, kekayaan
harta, kepandaian ilmu pengetahuan, kecantikan/ketampanan, kekuatan tubuh dll.
Semoga kita terhindar dari sifat dombong.
3.
Tamak
Tamak
adalah sifat tidak puas terhadap segala karunia yang telah diberikan Allah SWT,
kepada diri manusia. Ada beberapa tips untuk mengobati dan mencegah penyakit
tamak, antara lain:
a.
Meyakini setiap manusia pasti
sudah ditentukan rizkinya
b.
Membiasakan diri hidup qana’ah
c.
Membiasakan diri hidup sederhana
d.
Merenungi kehidupan fakir miskin
yang akan menyadarkan pentingnya syukur nikmat.
e.
Meneladani kehidupan Rasulullah
dan para sahabatnya dalam mempraktikan hidup sederhana.
Allah menjelaskan tentang sifat tamak sbb:
Artinya:Dan sungguh kamu akan mendapati mereka,
manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi)
dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu
tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada
siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Al Baqarah:
96).
Sabda nabi SAW
لوكان
ل بن ادم وا ديان من ذهب لا بتغى لهما ثالثا
Artinya:Andai kata seseorang itu sudah
memiliki dua lembah dari emas pastilah ia akan mencari yang ketiganya
sebagaimana tambahan dari dua lembah yang sudah ada itu “(HR. Bukhari
Muslim).
D. Metode Peningkatan Kualitas Akhlak
Keberhasilan dan kegagalan pembangunan moral dan akhlak
pada sikap dan prilaku muslim yang modern terletak pada pribadi muslim itu
sendiri. Apabila moral dan kode etik dijunjung oleh setiap individu maka
tatanan kehidupan tersebut akan mengarah pada kepastian masa depan yang baik,
dan apabila sebaliknya moral dan kode etik tidak dijunjung maka keterpurukan
dan kemungkinan dari termarjinalisasi oleh lingkungan akan terjadi. Pembentukan
prilaku muslim yang modern merupakan salah satu cara untuk membantu pembangunan
moral dan akhlak setiap pribadi. Faktor-faktor pembentuk perilaku antara lain
1.
Faktor internal
a.
Insting biologis, seperti lapar,
dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat
rakus, maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya, dan seterusnya.
b.
Kebutuhan psikologis, seperti rasa
aman, penghargaan, penerimaan, dan aktualisasi diri.
c.
Kebutuhan pemikiran, yaitu
akumulasi informasi yang membentuk cara berpikir seseorang seperti mitos,
agama, dan sebagainya
2.
Faktor eksternal
a.
Lingkungan keluarga
b.
Lingkungan Social
c.
Lingkungan pendidikan.
Dalam konsep Islam, perilaku dan karakter tidak
sekali terbentuk, lalu tertutup, tetapi terbuka bagi semua bentuk perbaikan,
pengembangan, dan penyempurnaan, sebab sumber karakter perolehan ada dan
bersifat tetap. Karenanya orang yang membawa sifat kasar bisa memperoleh sifat
lembut, setelah melalui mekanisme latihan. Namun, sumber karakter itu hanya
bisa bekerja efektif jika kesiapan dasar seseorang berpadu dengan kemauan kuat
untuk berubah dan berkembang, dan latihan yang sistematis[3].
Dalam ajaran islam, akhlak menempati kedudukan
yang utama. Rasulullah Saw. Menempatkan akhlak sebagai misi pokok risalah
Islam. Beliau bersabda yang artinya “ sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia .”
Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama
islam. Akhlak yang baik akan menitik beratkan timbangan kebaikan seseorang pada
hari kiamat menurut keterangan Abdullah Ibnu Umar, orang yang paling dicintai
dan yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Pada hari kiamat adalah yang
paling baik akhlaknya.
Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti
dari ibadah kepada Allah. Seseorang yang mendirikan salat tentu tidak akan
mengerjakan segala perbuatan yang tergolong keji dan mungkar. Tidak ada artinya
salat seseorang jika dia masih mengerjakan kemungkaran yang dilarang agama.
Al-Quran banyak mengungkapkan hal-hal yang
berhubungan dengan Akhlak, baik berupa perintah berakhlak terpuji maupun
larangan berakhlak tercela inilah yang membuktikan betapa pentingnya akhlak
dalam ajaran Islam. Akhlak akan membawa kemaslahatan dan kemuliaan hidup.
Adapun prinsip umum yang menyelamatkan kaum
muslimin dari kebimbangan, kebingungan dan keguncangan dalam menghadapi
kehidupan, meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.
Komitmen dengan Jalan Hidup Islam.
Setiap muslim harus
memiliki komitmen dengan jalan hidup islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan
Sunah Rasul, serta sejarah hidupnya sebab mencari jalan hidup selain dari dua
sumber ini adalah suatu kesesatan. Jalan hidup ini adalah segala sesuatu yang
dihalalkan atau diharamkan oleh Allah.
2.
Loyal kepada Allah, Rasul-Nya, dan
Islam.
Loyalitas ini dilakukan
untuk Allah, rasul-Nya,untuk orang-orang saleh dan nilai-nilai akhlak yang
dibawa Islam. Konsekuensinya, orang islam tidak boleh loyal kepada musuh Allah
dan kepada selain Allah atau musyrik. Islam mengangkat harkat orang-orang saleh
dan mengukuhkan kewibawaan mereka.
3.
Kesungguhan dalam Menjalani
kehidupan
Kesungguhan mempunyai
dua pengertian yaitu :
a.
Ijtihad (bersungguh-sungguh)
adalah berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk mencapai
suatu tujuan.
b.
Tark al-hazl (meninggalkan sendu gurau) adalah mengerjakan suatu pekerjaan dengan
tidak main-main atau sia-sia. Seorang muslim dituntut untuk melewati fase-fase
kehidupannya dengan serius dan mengerahkan segala kemampuan serta menanggung
penderitaan dan pengorbanan dijalan Allah.
4.
Sikap Toleran/Tasamuh dan
Memaafkan
Bagi kaum muslimin,
toleransi berarti tidak membela ide atau madzabnya secara membuta, tetapi
mengikuti mana yang ternyata benar. Islam tidak mengajarkan kasar kecuali dalam
peperangan dan pertempuran dijalan Allah.
5.
Sikap Moderat terhadap Orang Lain
dan Segala Sesuatu
Moderat
adalah pertengahan di antara dua sifat secara kualitas dan kuantitas atau
proporsional. Orang yang moderat berarti orang yang berada di antara ifrat
dan tafrit atau di antara kencang (tasyaddud) dan longgar (tasyayyub).
Allah telah menganugerahkan nikmat-Nya kepada orang islam dengan dijadikannya
ummatan wasatan. Yakni umat keadilan, pertengahan dan kebaikan. Umat islam
berada di tengah sebagai umat moderat yang mengakomodir kepentingan rohani
dengan kebutuhan jasmani.
Menurut Al Ghazali, pengembangan pribadi pada hakikatnya
adalah perbaikan akhlak, dalam artian menumbuh-kembangkan sifat-sifat terpuji (mahmudah)
dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat tercela (madzmummah) pada diri
seseorang. Akhlak manusia benar-benar dapat diperbaiki, bahkan sangat
dianjurkan sesuai sabda Rasulullah SAW “Upayakan akhlak kalian menjadi baik” (Hassinuu
akhlaqakum). Al Ghazali menaruh perhatian besar pada masalah akhlak serta
mengemukakan berbagai metode perbaikan akhlak. Metode peningkatan akhlak yang
beliau ungkapkan dalam berbagai buku beliau dapat dikelompokkan atas tiga jenis
metode yakni[4]:
1.
Metode Taat Syari’at
Metode
ini berupa pembenahan diri, yakni membiasakan diri dalam hidup sehari-hari
untuk melakukan kebajikan dan hal-hal bermanfaat sesuai dengan ketentuan
syari’at, aturan-aturan negara, dan norma-norma kehidupan bermasyarakat. Di
samping itu berusaha untuk menjauhi hal-hal yang dilarang syara’ dan
aturan-aturan yang berlaku. Metode ini sederhana dan dapat dilakukan oleh siapa
saja dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya akan berkembang sikap dan perilaku
positif seperti ketaatan pada agama dan norma-norma masyarakat, hidup tenang
dan wajar, senang melakukan kebajikan,
pandai menyesuaikan diri dan bebas dari permusuhan. Adapun penerapan dari
metode ini meliputi :
·
Membiasakan diri untuk selalu
melakukan kebaikan dan menjauhi yang di larang syara’
·
Menjauhi permusuhan
·
Membiasakan diri untuk
menyesuaikan dengan lingkungan
2.
Metode Pengembangan Diri
Metode
yang bercorak psiko-edukatif ini didasari oleh kesadaran atas kekuatan dan
kelemahan diri yang kemudian melahirkan keinginan untuk meningkatkan
sifat-sifat baik dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat buruk. Dalam
pelaksanaannya dilakukan pula proses pembiasaan (conditioning) seperti
pada “Metode Taat Syari’at” ditambah dengan upaya meneladani perbuatan dari
pribadi-pribadi yang dikagumi. Membiasakan diri dengan cara hidup seperti ini
secara konsisten akan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat terpuji
yang terungkap dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat. Metode ini
sebenarnya mirip dengan metode pertama, hanya saja dilakukan secara lebih
sadar, lebih disiplin dan intensif serta lebih personal sifatnya daripada
metode pertama. Adapun penerapan dari metode ini meliputi :
·
Berupaya meneladani
perbuatan-perbuatan terpuji dari pribadi-pribadi yang di kagumi
·
Membiasakan konsisten untuk
melakukan kebiasaan-kebiasaan terpuji dan menghilangkan sifat-sifat tercela
yang ada pada diri
·
Berusaha meningkatkan
potensi-potensi baik yang ada pada diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
3.
Metode Kesufian
Metode
ini bercorak spiritual-religius dan bertujuan untuk meningkat kan kualitas
pribadi mendekati citra Insan Ideal (Kamil). Pelatihan disiplin diri ini
menurut Al Ghazali dilakukan melalui dua jalan yakni al-mujaahadah dan
al-riyaadhah. Al Mujaahadah adalah usaha sungguh-sungguh untuk menghilangkan
segala hambatan pribadi (harta, kemegahan, taklid, maksiat). Al-Riyaadhah
adalah latihan mendekatkan diri pada Tuhan dengan selalu berusaha meningkatkan
kualitas ibadah. Kegiatan sufistik ini berlangsung di bawah bimbingan seorang
Guru yang benar-benar berkualitas dalam hal ilmu, kemampuan dan wewenangnya
sebagai Mursyid. Di antara ketiga metode tersebut, metode kesufian dianggap
tertinggi oleh Al Ghazali dalam proses peningkatan derajat keruhanian,
khususnya dalam meraih akhlak terpuji. Adapun praktek dari metode ini meliputi
:
·
Membiasakan bersifat zuhud.
·
Melakukan riyaadhah / mendekatkan
diri pada tuhan.
·
Meningkatkan kualitas ibadah.
Lebih lanjut di kalangan ahli tasawuf, kita mengenal system
pembinaan mental, dengan istilah: Takhalli, tahalli dan tajalli.
Takhalli adalah
mengosongkan atau membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, karena
sifat-sifat tercela itulah yang dapat mengotori jiwa manusia.
Dan tahalli
adalah mengisi jiwa ( yang telah kosong dari sifat-sifat tercela) dengan sifat-sifat yang terpuji (mahmudah).
Jadi dalam rangka pembinaan mental, penyucian
jiwa hingga dapat berada dekat dengan Tuhan, maka pertama kali yang dilakukan
adalah pengosongan atau pembersihan jiwa dari sifat-sifat tercela, hingga
akhirnya sampailah pada tingkat berikutnya dengan apa yang disebut “tajalli”,
yakni tersikangkapnya tabir sehingga diperoleh pancaran Nur Ilahi[5].
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Akhlak merupakan seperangkat tata nilai dan sifat-sifat yang bersifat
samawi dan azali, tertanam dalam jiwa yang dapat menilai perbuatan baik dan
buruk, mewarnai cara berpikir, bersikap dan bertindak seorang muslim terhadap
alam lingkungannya., untuk kemudian memilah melakukan ataupun meninggalkannya.
2. Induk-induk akhlak terpuji meliputi Ikhlas Qona’ah, Zuhud,
Sabar, Istiqomah, Tasamuh.
3. Induk akhlak tercela meliputi iri, dengki, sombong, dan tamak.
4. Metode untuk meningkatkan kualitas akhlak meliputi : metode taat
syariat, metode pengembangan diri, dan
metode kesufian. Sedangkan metode lain meliputi takhali ( metode
pengosongan dari sifat buruk ), tahali ( metode mengisi dengan sifat
baik ), tajali ( mengagungkan Allah di atas segala-galanya)
DAFTAR RUJUKAN
Al-Hamad, Muhammad bin Ibrahim. Akhlak-Akhlak Buruk. Bogor:
Pustaka Darul ilmi, 2004.
al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim, and Adni
Kurniawan. Macam-Macam Penyakit Hati Yang Membahayakan Dan Resep
Pengobatannya. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafii, 2010.
Al-Qasimi, Syaikh Jamaluddin. Ihya
Ulumudin Imam Al-Ghazali : Buku Putih. Bekasi: Darul Falah, 2005.
Imam Al-Ghazali. Pengembangan
Pribadi Pada Akhlak, n.d.
Masy’ari, Anwar. Akhlak Al-Qur’an.
Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990.
Matta, M. Anis. Membentuk Karakter
Cara Islam. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2002.
Syaikh Amru M. Khalid. Manajemen
Qalbu. Jakarta: Kalifa, 2004.
Tharsyah, Adnan. Manusi Yang
Dicintai Dan Dibenci Allah : Kunci-Kunci Menjadi Kekasih Allah. Translated
by Vivi Sofia Anita. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2008.
Yusuf, M. Zein. Akhlak-Tasawuf.
Semarang: Al-Husna, 1993.
[1] Anwar Masy’ari, Akhlak Al-Qur’an
(Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990). Hlm. 1
[2] Syaikh Amru M. Khalid, Manajemen
Qalbu (Jakarta: Kalifa, 2004). Hlm.
21-49
[3] M. Anis Matta, Membentuk Karakter
Cara Islam (Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2002).
[4] Imam Al-Ghazali, Pengembangan
Pribadi Pada Akhlak, n.d. Hlm.. 25
[5] M. Zein Yusuf, Akhlak-Tasawuf
(Semarang: Al-Husna, 1993). Hlm. 56
0 komentar:
Post a Comment