Loading...
Sunday, 20 March 2016

Prinsip dan Metode Peningkatan Akidah serta Ilmu Tauhid



PRINSIP-PRINSIP DAN METODE PENINGKATAN KUALITAS AKIDAH SERTA MEMAHAMI TAUHID
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Akidah Akhlak II
Dosen Pengampu:
Drs. H. Samsul Arifin, M.Ag
Oleh Kelompok I:
A.F Zaky Mubarok     12110069
Moch. Zogi M             12110131











JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI  MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014

KATA PENGANTAR


Alhamdulillah puji syukur patut kiranya kita ucapkan kepada Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan inayahnya kami segenap penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “PRINSIP-PRINSIP DAN METODE PENINGKATAN KUALITAS AKIDAH SERTA MEMAHAMI TAUHID” dengan lanjcar dan tanpa suatu halangan apapun.
Ucapan terimakasih selanjutnya patut kiranya kita ucapkan kepada :
1.      Kedua orang tua yang telah membiayai kuliah dan telah memberikan suport atau semangat kepada kita;
2.      Kepada bapak Drs. H. Syamsul Arifin, M,Ag selaku dosen pengampu dalam mata kuliah Akidah Akhlak II, yang telah menjargar dengan ikhlas dan tanpa pamrih, mudah-mudahan Allah senantiasa membalas kebaikan bapak dosen. Amin;
3.      Dan kepada pihak-pihak yang tidak dapat kami sebutkan yang telah membantu dalam penyelesaiaan tugas ini.
Kemudian kami segenap penulis menyadarai bahwa dalam penulisan tugas ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang yarus dibenahi dan diperbaiki, oleh sebab itu kami mohon saran dan kritiknya dari pembaca dengan harapan mudah mudahan dalam penulisan tugas yang berikutnya lebih baik dari tugas yang sebelumnaya, amin.
  Malang, 5 September 2014

       Penyusun



Daftar Isi


KATA PENGANTAR.. 1
DAFTAR ISI. 2
BAB I. 3
PENDAHULUAN.. 3
A.   Latar Belakang. 3
B.   Rumusan Masalah. 4
C.   Tujuan. 4
BAB II. 5
PEMBAHASAN.. 5
A.   Prinsip-prinsip Akidah. 5
B.   Metode-metode Peningkatan Kualitas Akidah. 14
C.   Menerapkan Prinsip Akidah dalam Kehidupan. 16
D.   Pengertian Tauhid. 16
E.    Macam-macam Ilmu Tauhid. 18
F.    Perilaku orang yang bertauhid. 21
BAB III. 22
PENUTUP. 22
A.   Kesimpulan. 22
DAFTAR PUSTAKA.. 25







BAB I


PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Agama adalah kepercayaan bagi setiap manusia, ada yang tidak beragama karena mereka memang tidak percaya dengan agama, agama dibuat pelarian ketika manusia tidak memahami fenomena alam. Jangan kira bahwa agama itu tidak sistematis, agama memang sistematis karena memang didalamnya ada sistem yang saling terkait satu sama lain, kalau kita telaah bersama agama islam dibangun di atas tiga unsur yaitu, Tata keyakinan atau bisa disebut aqidah, kemudian Tata peribadatan atau bisa dikatakan syari’ah, serta tata nilai (atutan) atau bisa disebut akhlak.
Muslim yang ideal adalah muslim yang senantiasa memenuhi tata keyakinan, tata peribadatan, dan tata nilai/aturan. Dari tiga unsur atau System kepercayaan tersebut diketahui bahwa dalam menjalankan agama islam tidak boleh meninggalkan satu dari ketiga unsur tersebut, misalnya akidah kita benar, kemudian syariat selau kita laksanakan, akan tetapi tata nilai kita yang kurang, maka tidak dikatakan sebagai muslim yang ideal. Oleh sebab itu alangkah baiknya runtutan dalam mempelajari agama islam itu dimulai dari yang pertama yaitu tata keyakinan atau bisa dikatakan dengan akidah. Seperti yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika menghadapi masyarakat jahiliah, yang dilakukan pertamakali oleh Rasulullah adalah memperbaiki tata keyakinan mereka atau kepercayaan mereka, yang mulanya menyembah berhala kemudian dikenalkan dengan kepercayaan bahwa tuhan itu satu yaitu Allah SWT.
Disamping itu dalam mempelajari agama islam sebelumnya harus tau apa saja prinsip-prinsip akidah islam, lalu bagaimana metode-metode untuk meningkatkan kualitas akidah, dan seterusnya. Agar kita menjadi muslim yang sebagaimana yang dikatakan tadi yaitu menjadi muslim yang ideal dengan melaksanakan Akidah, Syariah, dan Akhlak yang benar.


B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah:
1.      Apa saja prinsip-prinsip akidah?
2.      Bagaimana metode-metode peningkatan kualitas akidah?
3.      Bagaimana menerapkan prinsip akidah dalam kehidupan?
4.      Apa yang dimaksud dengan tauhid?
5.      Ada berapa macam-macam tauhid?
6.      Bagaimana prilaku orang yang bertauhid?

C.    Tujuan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:
            1.      Untuk mengetahui prinsip-prinsip akidah;
            2.      Untuk mengetahui metode-metode peningkatan kualitas akidah;
            3.      Untuk mengetahui bagaimana menerapkan prinsip akidah dalam kehidupan;
            4.      Untuk memahami apa yang dimaksud dengan tauhid;
            5.      Untuk memahami macam-macam tauhid;
            6.      Untuk mengetahui prilaku orang yang bertauhid;



BAB II

PEMBAHASAN

A.    Prinsip-prinsip Akidah

Sebelum memahami yang namanya prinsip-prinsip akidah maka terlebih dahulu memahami tentang pengertian akidah, jadi akidah secara bahasa berarti mengikat, menguatkan, teguh, dan mengukuhkan. Sedangkan pengertian akidah secara terminologi ialah iman yang kuat kepada Allah dan apa yang diwajibkan berupa tauhid (mengesakan Allah dalam peribadatan), malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, takdir baik dan buruk, serta mengimani semua cabang dari pokok-pokok keimanan ini serta hal-hal yang masuk dalam katagorinya berupa prinsip-prinsip agama.[1]
Kemudian pengertian prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok sebagai sebuah pedoman untuk berpikir atau bertindak.[2]
Dari pernyataan sebelumnya jelas bahwa yang namanya prinsip-prinsip akidah adalah sebuah pedoman dasar yang diyakini oleh seseorang dalam beragama, kemudian pembahasan yang selanjutnya adalah mengenai prinsip-prinsip akidah. Jadi prinsip-prinsip akidah itu ada 6 sebagaimana yang telah di sabdahkan oleh Nabi Muhammad sebagai jawaban terhadap malaikat Jibril ketika bertanya tentang iman :
اْلإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Iman adalah engkau mengimani Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Kemudian, dan mengimani takdir yang baik dan yang buruk.”
(HR. Muslim).
1.      Iman kepada Allah
Iman kepada Allah adalah keyakinan kepada zat mutlak yang Maha Esa yang disebut Allah. Allah Maha Esa dalam zat, sifat, perbuatan dan wujudnya.
Diantara unsur-unsur keimanan kepada Allah adalah dengan mempercayai:
·         Wujud (ada) Allah dan wahdaniyat (keesaannya) sendiri dalam menciptakan, mengatur dan mengurus segala sesuatu. Tidak bersekutu dengan siapapun tentang kekuasaan dan kemuliaan. Tiada menyerupainya tentang zat dan sifatnya. Hanya Dia saja yang berhak disembah, dipuja dan dimuliakan secara istimewa. Kepadanya saja boleh menghadapkan permintaan dan menundukkan diri tidak ada pencipta dan pengatur selain darinya.
·         Bahwa Tuhan memilih di antara hamba-Nya, yang dipandang layak untuk memikul risalah-Nya (putusan-Nya) kepada rasul-rasul itu disampaikan wahyu dengan perantara malaikat. Mereka berkewajiban menyeru kepada keimanan dan mengajak mengerjakan amal saleh (perbuatan baik). Karena itu wajiblah beriman kepada segenap rasul yang disebut dalam Al Qur‟an.
Adanya Malaikat yang membawa wahyu dari Allah kepada rasul-rasul-Nya juga mempunyai kitab-kitab suci yang merupakan kumpulan wahyu Ilahi dan isi risalah Tuhan.
·         Mempercayai apa yang terkandung dalam risalah itu. Di antaranya Iman kepada hari kebangkitan dan pembalasan. Juga iman kepada pokok-pokok syariat dan peraturan- peraturan yang telah dipilih Tuhan sesuai dengan keperluan hidup manusia dan selaras dengan kesanggupan mereka, sehingga tergambarlah dengan nyata keadilan, rahmat, kebesaran dan hikmat kebijaksanaan Ilahi
Dengan demikian beriman kepada Allah adalah meyakini bahwa Allah itu ada (wujud) yang keberadaan-Nya tidak tergantung pada yang lain. Allah adalah dzat yang sempurna dalam segala sifat-Nya dan suci dari segala kekurangan dan keburukan. Oleh karena itu Allah dzat yang paling berhak disembah, karena Dia telah menciptakan, membina, mendidik dan menyediakan segala kebutuhan manusia.Diantara dasar keimanan tentang Allah ini adalah
QS. Al Anbiya‟: 22
لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ عَمَّا يَصِفُونَ ٢٢
Artinya: Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ´Arsy daripada apa yang mereka sifatkan

QS. Ali Imran: 191.
ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
Artinya: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka

2.      Iman Kepada Malaikat-malaikat Allah
Beriman kepada malaikat adalah meyakini dengan penuh kesadaran bahwaAllah menciptakan mahluk dari cahaya.Rasulullah SAW bersabda: Para malaikat diciptakan Allah dari cahaya, dan diciptakan-Nya jin dari api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang dijelaskan pada kalian.” (HR Muslim).Iman kepada malaikat merupakan salah satu dari jenis keimanan kepada hal yang ghaib. Para malaikat yang wajib kita yakini adalah Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, Mungkar, Nakir, Rakib, Atid, Ridwan, dan Malik. Diantara firman Allah yang memperkuat keyakinan kita terhadap adanya para Malaikat di atas adalah
QS. Qaaf: 17-18.
إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٞ ١٧
Artinya: (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri

 Para malaikat sifat taat segala perintah Allah dan tidak mendurhakainya
(QS. At Tahrim: 6):
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan

 sebagaimana Malaikat Jibril yang tugas utamanya adalah menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul Allah (QS An Nahl : 102).
أَمۡوَٰتٌ غَيۡرُ أَحۡيَآءٖۖ وَمَا يَشۡعُرُونَ أَيَّانَ يُبۡعَثُونَ ٢١
Artinya: (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan

Dengan beriman kepada malaikat, akan lebih mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah SWT, lebih bersyukur akan nikmat yang diberikan dan berusaha selalu berbuat kebaikan dan menjauhi segala larangannya. Karena malaikat selalu mengawasi dan mencatat amal perbuatan manusia.
3.      Iman Kepada Kitab-kitab Allah
Iman kepada kitab Allah adalah meyakini bahwa Allah menurunkan wahyu melalui perantara malaikat Jibril. Kitab-kitab yang berasal dari firman Allah SWT seluruhnya ada empat, yaitu Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud as, Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as dan Al Qur‟an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW,. Sementara itu, firman Allah SWT dalam bentuk shuhuf yang diberikan kepada Nabi Ibrahim as. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al Maidah: 48 :
وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۖ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ٤٨
Artinya: Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu
dan QS Al A’la: 19.
 صُحُفِ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ ١٩
(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Mus
Beriman kepada kitab-kitab Allah ialah beritikad bahwa Allah ada menurunkan beberapa kitab kepada Rasulnya, baik yang berhubungan itikad maupun yang berhubungan dengan muamalat dan syasah, untuk menjadi pedoman hidup manusia. baik untuk akhirat, maupun untuk dunia. Baik secara individu maupun masyarakat.
Kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum kitab suci AlQur‟an tidak bersifat universal seperti AlQur‟an, tapi hanya bersifat lokal untuk umat tertentu. Dan tidak berlaku sepanjang masa. Oleh karena itu, tidak memberi jaminan terpelihara keaslian atau keberadaan kitab- kitab tersebut sepanjang zaman sebagaimana halnya Allah memberikan jaminan terhadap AlQur‟an.
4.      Iman Kepada Rasul-rasul Allah
Iman kepada Nabi dan Rasul Allah adalah meyakini bahwa Allah SWT mengutus para Nabi dan Rasul untuk membawa kabar gembira kepada umat manusia, memberi teladan ahlak mulia dan berpegang teguh terhadap ajaran Allah. Jumlah para Nabi dan rasul Allah sangat banyak dan tidak diketahui jumlahnya secara pasti, tetapi Al Qur’an menginformasikan keberadaan 25 Nabi dan Rasul, QS. An Nisa’:164, dengan kesempurnaan ahlak, QS.Al Ahzab: 21. dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah
. (QS. Al Ahzab: 21) Diantara sifat wajib yang ada pada diri Nabi dan Rasul Allah adalah;
1.      Siddiq
Siddiq artinya benar. Apa yang disabdakan Nabi adalah benar karena Nabi tidak berkata- kata kecuali apa yang diwahyukan Allah SWT.
2.      Amanah
Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Segala urusan akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
3.      Fathanah
Fatanah artinya bijaksana dan cerdas. Nabi Saw mampu memahami perintah-perintah
Allah dan menghadapi penentangnya dengan bijaksana.
4.      Tabligh
Tabligh artinya menyampaikan. Nabi SAW menyampaikan apa yang Allah wahyukan kepadanya.
Seorang muslim wajib beriman kepada seluruh Nabi dan Rasul-Nya yang telah diutus oleh Allah SWT, baik yang disebutkan namanya maupun yang tidak disebutkan namanya. Seorang muslim wajib membenarkan semua Rasul dengan sifat-sifat, kelebihan, keistimewaan satu sama lain, tugas dan mukjizatnya masing-masing seperti yang diperintahkan oleh Allah.
5.      Iman Kepada Hari Akhir
Beriman kepada hari akhir adalah meyakini bahwa manusia akan mengalami kesudahan dan dimintai tanggung jawab kelak dikemudia hari. Al Qur’an selalu menggugah hati dan pikiran manusia dengan menggambarkan peristiwa-peristiwa hari akhirat, dengan nama-nama yang unik, misalnya Al Zalzalah, Al Qari’ah, An Naba, Al Qiyamah. Istilah-istilah tersebut mencerminkan peristiwa dan keadaan yang bakal dihadapi oleh manusia pada saat itu. Disamping penggambaran kejadian hari akhir, Al Qur‟an juga memberi informasi tentang kesudahan manusia dalam yang dimulai dari alam barzah hingga penentuan balasan yang berujung pada neraka bagi mereka yang ringan amal keikanya dan balasan berupa surga bagi yang berat timbangan kebaikanya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Qiyamah : 1-8 :
لَآ أُقۡسِمُ بِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ ١  وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ ٢  أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَلَّن نَّجۡمَعَ عِظَامَهُۥ ٣  بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ ٤ بَلۡ يُرِيدُ ٱلۡإِنسَٰنُ لِيَفۡجُرَ أَمَامَهُۥ ٥  يَسۡ‍َٔلُ أَيَّانَ يَوۡمُ ٱلۡقِيَٰمَةِ ٦ فَإِذَا بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ ٧  وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ ٨
Artinya : Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri), Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya, Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna, Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus, Ia berkata: "Bilakah hari kiamat itu?, Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya
Keimanan kepada Allah berkaitan erat dengan keimanan kepada hari akhir. Hal ini disebabkan keimanan kepada Allah menuntut amal perbuatan, sedangkan amal perbuatan baru sempurna dengan keyakinan tentang adanya hari akhirat. Demi tegaknya keadilan, harus ada suatu kehidupan baru dimana semua pihak akan memperoleh secara adil dan sempurna hasil-hasil perbuatan yang didasarkan atas pilihannya masing-masing.
6.      Iman Kepada Qada dan Qodar
Menurut bahasa qadha memiliki beberapa pengertian yaitu: hukum, ketetapan, pemerintah, kehendak, pemberitahuan, penciptaan. Menurut istilah qada adalah ketetapan Allah sejak zaman azali sesuai dengan iradah-Nya tentang segala sesuatu yang berkenan dengan makhluk. Sedangkan qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai dengan penetapan (qada). Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menentukan tentang segala sesuatu bagi makhluknya, sebagaimana firman Allah dalam QS Al Furqan 2 :
ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدٗا وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٞ فِي ٱلۡمُلۡكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖ فَقَدَّرَهُۥ تَقۡدِيرٗا ٢
Artinya : yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya
Para ulama kalam membagi takdir ada dua macam, yakni takdir muallaq dantakdir mubram. Takdir muallaq berkaitan dengan ikhtiar manusia sebagaimana firman Allah dalam QS Ar Ra’du: 11. Misalnya seorang siswa dapat mengerjakan tugas guru dengan baik jika belajar dengan sungguh-sungguh. Sedangkan takdir mubram adalah takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan.
QS Ar Ra’du : 11
لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٞ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ ١١
Artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia
Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dari keimanan kepada qada dan qadar, ini antara lain:
      1)      Melahirkan kesadaran bagi umat manusia bahwa segala sesuatu di dalam semesta ini berjalan sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan pasti oleh Allah SWT.
      2)      Mendorong manusia untuk terus beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan baik di dunia maupun di akhirat, mengikuti hukum sebab akibat dari Allah SWT.
      3)      Mendorong manusia untuk semakin dekat dengan Allah SWT.
      4)      Menanamkan sikap tawakkal dalam diri manusia, karena manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, sedangkan nasibnya diserahkan kepada Allah SWT.
      5)      Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup, karena menyakini apapun yang terjadi adalah atas kehendak dan qadar Allah SWT.

B.     Metode-metode Peningkatan Kualitas Akidah

Akidah merupakan pokok agama yang wajib diketahui oleh setiap orang. Dalam memahami akidah kita harus memacu pada la-Qur’an dan hadis Rasulullah saw. Serta dengan ijma’ salafus salih dalam memahaminya, oleh karena itu, ada beberapa akidah penting dalam memahami hal ini, diantaranya:[3]
     1.      Apabila terjadi perselisihan dalam memahami nas-nas yang telah ada, maka pemahaman salaf (sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka) merupakan hujjah yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk memahami nas-nas tersebut. Rasulullah saw telah menyatakan bahwa mereka adalah sebaik-baik umat dan manusia yang paling paham dengan agama Allah.
     2.      Salafus alih mendasari metode mereka dalam memahami akidah dengan bimbingan wahyu yaitu la-Qur’an dan hadis. Oleh karena itu pemahaman mereka adalah pemahaman yang paling didasari dengan ilmu, paling selamat dan paling bijaksana dalam memahaminya.
    3.      Akidah adalah perkara taufiqifiyyah yang dilarang mengotak-atiknya tanpa ada bimbingan wahyu dari Allah swt. Karena perkara akidah adalah perkara yang gaib yang akal pikiran manusia tidak akan sanggup untuk menjangkaunya.
      4.      Siapa saja yang menetapkan dan memahami permasalahan akidah tanpa berlandaskan dengan dalil-dalil syar’i, maka dia telah berdusta atas nama  Allah serta berkata tanpa dasar ilmu.
     5.      Akidah dibangun atas dasar ikhlas kepada Allah dan ittiba, (mengikuti) petunjuk Rasulullah saw. Imam Az-Zuhri berkata, “Dari Allah-lah datangnya risalah (Al-Qur’an dan Hadits), kewajiban Rasul Allah untuk menyampaikan dan kewajiabn kita untuk menerimanya dengan ikhlas.”
     6.      Para sahabat, imam-imam tabi’in dan yang mengikuti mereka serta ulama’-ulama’ sunah (salafus alih) semuanya berada diatas bimbingan petunjuk Rasulullah dan jalan mereka adalah jalannya kaum muslimin, tsar-atsar mereka merupakan bimbingan dan jalan yang lurus, imam Al-Auza’i berkata, “Wajib atasmu untuk berpegang teguh dengan tsar orang-orang sebelummu ( salafus alih) walaupun manusia tidak memperdulikanmu. Jauhilah pemikiran-pemikiran yang menyimpang walaupun mereka menghiasinya dengan ucapan-ucapan yang manis.”
      7.      Inilah jalan yang ditempuh para sahabat dalam memahami dalil-dalil yang berkaitan dengan permasalahan akidah. Barang siapa yang mengambil petunjuk dan memahami akidah sesuai tata cara yang dilakukan para sahabat, maka iya berada di atas bimbingan dan petunjuk Rasulullah saw.



C.    Menerapkan Prinsip Akidah dalam Kehidupan

      1.      Iman Kepada Allah
Prinsipnya Segala tindak-tanduk kita harus sesuai dengan sifat-sifat Allah
Misalnya Arrahman, penyayang, Arrahim pengasih dstrsnya.
Ketika kita kehilangan sesuatu di dunia kita harus bersandar pada Allah semata.
      2.      Iman kepada Malaikat
Prinsip ini menjadikan kita sebagai orang yang taat,komitmentkepada kebaikan dan gemar beribadah, sesuai apa yang malaikat kerjakan.
     3.      Iman kepada Rasul Allah
Prinsip Iman kepada rasul ini membuat kita bisa menjadi pemimpin diri sendiri, keluarga dan masyarakat dalam menyebarkan kebaikan dan memeberantas kemungkaran.
      4.      Iman kepada Alqur'an dan kitab Allah
Prinsip ini membuat kita harus selalu belajar dan menyempurnakan segala sesuatu.
     5.      Iman kepada hari kiamat
Prinsip ini bisa menjadikan orang yang visioner dan selalu siaputk menghadapi segala kemungkinan dimasa yang akan datang.
      6.      Iman kepada Qada dan qodar
Prinsip iman kepada qada dan qadar harus menjadikan kita sebagai orang yang terorganisasi dengan baik.

D.    Pengertian Tauhid

            Menurut bahasa, tauhid berasal dari kata wahdaha artinya mengesahkan, menunggalkan. Jika dikatakan wahdaha asy-syai’a artinya menjadikan sesuatu itu satu. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang cara-cara mengesakan Allah SWT., sebagai salah satu sifat yang terpenting di antara sifat-sifat lainnya.[4] Jadi yang dimaksud dengan kata Tauhid itu adalah ilmu yang membahas tentang bagaiman kita bisa meyakini keesaan Alah SWT dengan sepenuh hati, tanpa ada keraguan sedikit pun.
            Dalam pendapat Syaikh Muhammad Al-Utsmani, menjelaskan bahwa tauhid berarti mengesakan Allah dengan sesuatu yang khusus bagi-Nya, berupa rububiyah, uluhiyah, al0asma wa sifat. Secara singkat bahwa tauhid artinya mengesakan Allah dalam segala perbuatan dan meyakini bahwa Dia sendirilah yang menciptakan, mengatur serta menguasai alam semesta beserta isinya, ikhlas beribadah kepada Nya serta menetapkan baginya nama-nama dan sifat-sifat Nya.
            Kata lain dari Tauhid yaitu Ushuludindan Ilmu Kalam. Ushuluddin termasuk kata lain dari Tauhid karena yang dibahas mengenai masalah ketuhanan atau teologi dengan maksud agar keyakinan kepada Tuhan semakin sempurna, dan tidak mudah goyah karena pengaruh suatu budaya atau suatu aliran lain yang akan memudarkan keyakinan kepada Allah SWT.[5] Sedangkan ilmu Kalam secarah harfiah berati ilmu tentang kata-kata atau firman Allah SWT. Maka yang dimaksud adalah kalam Allah yang ada di dalam Al-Quran.



E.     Macam-macam Ilmu Tauhid

            Mengenai ruang lingkup tauhid Allah berfirman dalam Al-Quran dalam surat Maryam ayat 65, yang mencakup tauhid rububiyah, uluhiyah, dan tauhid asma wa sifat, namun ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang membagi menjadi empat, yaitu rububiyah, uluhiyah, mulkiyah, dan rahmaniyah.
     1.      Tauhid rububiyah
Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan atau mengesahkan Allah dalam seluruh perbuatan-Nya seperti menciptakan, memiliki, mengatur dan memelihara.[6] Mengesakan Allah dalam penciptaan artinya keyakinan manusia bahwa yang menciptakan seluruh alam dan seisinya di dunia ini adalah hanya Allah SWT. Mengesakan Allah dalam kepemilikan artinya manusia harus meyakini bahwa tiada yang memiliki mahklauk selain Allah SWT. Demikian juga dalam hal mengatur dan memelihara, bahwa tidak ada yang mampu mengatur dan memelihara seluruh urusan di dunia ini meliankan Allah SWT.
Jadi sebagai manusia yang beriman kepada Allah SWT, kita harus selalu senantiasa menjaga hati agar keimanan terhada Allah tidak mudah goyah. Dari sejarah islam dikatakan bahwa tidak ada yang mengingkari tauhid rububiyah kecuali Fir’aun yang dengan kesombonganya mengakui bahwa dirinya adalah tuhan, juga orang Majusi yang mengatakan bahwa alam ini diciptakan oleh cahay dan gelap.

       2.      Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah merupakan inti dakwah Nabi Muhammad SAW dan para rasul lainnya. Mereka diutus untuk menegakkan kalima “laa ilaha illallah” yang atinya tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan Allah dalam beribadah, seperti : berdoa, sholat, zakat, meyembelih kurban, dan dalam aktivitas ibadah lainnya.[7]
Di dunia ini tidak ada yang berhak disembah selain kepada Allah semata, karenanya tidak boleh berdoa kecuali kepada Allah, tidak boleh sholat, bernadzar, dan menyembelih serta ibadah-ibadah lainnya kecuali hanya karena Allah SWT.
Tauhid ini adalah inti dari dakwah para Rasul, karena ia adalah asas dan pondasi tempat dibangunya seluruh amal. Tanpa merealisasikannya, semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau ia tidak terwujud, maka akan muncul sifat syirik. Sedangkan Allah berfirman :
“sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.“ (An-Nisa : 116)[8]
         3.      Tauhid Mulkiyah
Mulkiyah berasal dari kata “mulk” artinya kerajaan. Tauhid mulkiyah merupakan pengejawantahan Allah yang kekal sebagai Al-Malik (raja atau penguasa) di alam semesta. Semua kejadian di dunia ini merupakan pelaksanaan kehendak-Nya sebagai rububiyah Allah, pencipta, penghancuran, dan pemeliharaan serta pengaturan alam semesta yang dilakukan oleh Allah sesuai dengan kehendak-Nya sebagai sang raja.
Jadi semua yang terjadi di dunia sudah menjadi kehendak Allah SWT, karena Dia yang mengatur kejadian di muka bumi ini. Oleh karena itu kita harus sabar dalam menghadapi cobaan yang diberikan oleh Allah SWT dan selalu bersyukaur atas segala nikmat yang diberikan kepada kita.
           4.      Tauhid Asma wa Sifat
Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam al-Quran dan Sunnah RasulNya meurut apa yang pantas bagi Allah tanpa ta’wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan tamtsil.[9]
Tauhid asma wa sifat adalah menetapkan semua sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab Nya atau sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis sesuai dengan hakikatnya.
Menurut Syaikh Muhammad Al-Utsmani, tauhid asma wa sifat mencakup dua hal :
a.       Penetapan
Artinya manusia harus menetapkan seluruh asma dan sifat bagi Allah, sebagaimana yang ditetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunah nabi-Nya.
b.      Penolakan pemisahan
Bahwa manusia tidak menjadikan sesuatu menyerupai Allah dalam asma dan sifat-Nya, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran syrat Asy-Syura ayat 11, yang artinya :
“tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang maha mendengar, maha melihat”
                 Banyak manusia yang tersesat karena asma wa sifat, oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah beriman kepada sifat yang diberikan Allah kepada diri-Nya tanpa ada pengubahan, peniadaan, pengguguran, dan penyerupaan.[10]
                 Kita harus mengetahui bahwa apa yang Allah sifatkan untuk Dirinya adalah Haq (benar), tidak mengandung teka-teki dan tidak untuk ditebak. Maknanya sudah dimengerti sebagaimana maksud orang berbicara juga dimengerti dari pembicaraannya. Apalagi yang berbicara itu adalah Rasullullah SAW manusia yang paling mengerti dengan apa yang ia katakan, yang paling fasih dalam menjelaskan ilmu, dan yang paliing baik dalam memberikan petunjuk.

F.     Perilaku orang yang bertauhid

 beberapa ciri-ciri orang bertauhid, di antaranya adalah :
a.       Ikhlas, yaitu melakukan sesuatu hanya bertujuan untuk mencari keredhaan Allah semata, tidak bertujuan selain hanya ke Allah Swt.
b.      Tidak iri dan dengki, maksudnya orang yang bertauhid tidak akan mendengki terhadap orang lain yang memperoleh nikmat dari Allah, karena dia mengetahui Allah Maha Bijaksana dan Adil dalam membagikan rezki, Allah Maha Menentukan setiap takdir dan kejadian, sehingga tidak perlu merasa iri atau dengki kepada orang yang telah ditakdirkan memperoleh nikmat-Nya.
c.       Tidak banyak mengeluh, orang yang bertauhid tidak akan suka mengeluh, karena mengetahui setiap peristiwa dan episode hidup adalah atas izin Allah Swt. Jika dia mendapat masalah, dia akan segera mengoreksi diri dan mengevaluasi tauhidnya, apakah selama ini ada yang kurang tepat, sehingga tanpa disadari telah bermaksiat terhadap Allah. Setelah itu dia memperbaiki dirinya.
d.      Tidak licik, artinya orang yang bertauhid pasti tidak akan melakukan hal-hal yang licik dalam kegiatan apapun, karena dia menyakini bahwa Allah pasti akan membalas erbuatan sekecil apapun serta Allah lah yang membolak-balik hati dan mengetahui setiap apa saja yang terlintas dalam hati.



BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari penulisan makalah ini adalah:
       1.      Jadi prinsip-prinsip akidah itu seperti yang kita ketahui ada 6 yaitu:
1)      Iman kepada Allah
2)      Iman kepada Malaikat-malaikat Allah
3)      Iman kepada Kitab-kitab Allah
4)      Iman kepada Rasul-rasul Allah
5)      Iman kepada hari akhir
6)      Iman kepada qodo’ dan qodar

       2.      Metode-metode dalam peningkatan akidah diantaranya yaitu:
1)      Apabila terjadi perselisihan dalam memahami nas-nas yang telah ada, maka pemahaman salaf (sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka) merupakan hujjah yang  dapat dijadikan sebagai dasar untuk memahami nas-nas tersebut. Rasulullah saw telah menyatakan bahwa mereka adalah sebaik-baik umat dan manusia yang paling paham dengan agama Allah.
2)      Salafus alih mendasari metode mereka dalam memahami akidah dengan bimbingan wahyu yaitu la-Qur’an dan hadis. Oleh karena itu pemahaman mereka adalah pemahaman yang paling didasari dengan ilmu, paling selamat dan paling bijaksana dalam memahaminya.
3)      Akidah adalah perkara taufiqifiyyah yang dilarang mengotak-atiknya tanpa ada bimbingan wahyu dari Allah swt. Karena perkara akidah adalah perkara yang gaib yang akal pikiran manusia tidak akan sanggup untuk menjangkaunya.
       3.      Jadi pengaplikasian akidah dalam kehidupan diantaranya sebagai berikut:
1)      Iman Kepada Allah
Prinsipnya Segala tindak-tanduk kita harus sesuai dengan sifat-sifat Allah
Misalnya Arrahman, penyayang, Arrahim pengasih dstrsnya.
Ketika kita kehilangan sesuatu di dunia kita harus bersandar pada Allah semata.
2)      Iman kepada Malaikat
Prinsip ini menjadikan kita sebagai orang yang taat,komitmentkepada kebaikan dan gemar beribadah, sesuai apa yang malaikat kerjakan.
3)      Iman kepada Rasul Allah
Prinsip Iman kepada rasul ini membuat kita bisa menjadi pemimpin diri sendiri, keluarga dan masyarakat dalam menyebarkan kebaikan dan memeberantas kemungkaran.
4)      Iman kepada Alqur'an dan kitab Allah
Prinsip ini membuat kita harus selalu belajar dan menyempurnakan segala sesuatu.
5)      Iman kepada hari kiamat
Prinsip ini bisa menjadikan orang yang visioner dan selalu siaputk menghadapi segala kemungkinan dimasa yang akan datang.
6)      Iman kepada Qada dan qodar
Prinsip iman kepada qada dan qadar harus menjadikan kita sebagai orang yang terorganisasi dengan baik.
    4.      Yang dimaksud dengan tauhid yaitu ilmu yang membahas tentang cara-cara mengesakan Allah SWT., sebagai salah satu sifat yang terpenting di antara sifat-sifat lainnya. Jadi yang dimaksud dengan kata Tauhid itu adalah ilmu yang membahas tentang bagaiman kita bisa meyakini keesaan Alah SWT dengan sepenuh hati.
      5.      Macam-macam ilmu tauhid yaitu :
a.       Tauhid Rububiyah
b.      Tauhid Uluhiyah
c.       Tauhid Asma wa Sifat
d.      Tauhid Mulkiyah
      6.      ciri-ciri orang bertauhid :
a.       ikhlas
b.      tidak iri dan dengki
c.       tidak licik
d.      tidak banyak mengeluh





DAFTAR PUSTAKA

 

al-Fauzan, D. S. (1998). KITAB TAUHID. Jakarta: Darul Haq.
Aziz, S. D. (2006). cara mudah memahami Aqidah. Jakarta: Pustaka at-Tazkia.
Saputro, D. H. (2009). Pendidikan Agama Islam Akidah Akhlak. Semarang: PT Karya Toha Putra.

 




[1] Syaikh Dr. Abdullah bin Abdul Aziz la-Jibrin, Caramudah Memahami Aqidah Sesuai la-Qur’an dan as-Sunnah serta pemahamman Salafus Shalih, hlm 3
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Prinsip
[3] Drs. H. Thoyib Sah Saputra, M.pd, Drs. H.Wahyudin, M.Pd, Pendidikan agama islam Akidah Akhlak kurikulum 2008,PT Karya Toha Putra-Semarang, halm 9
[4] Drs. H.Thoyib sah Saputra, M.Pd, Pendidikan Agama Islam Akidah Akhlak Madrasah Aliyah kelas X, 2009, Semarang : PT Karya Toha Putra. Hal : 18

[5] Ibid. Hal 19

[6] Ibid. 21
[7] Ibid. 20
[8] Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, Kitab Tauhid 1, 2008. Jakarta : Darul Haq. Hal 56
[9] Ibid. Hal 97
[10] Drs. H.Thoyib sah Saputra, M.Pd, Pendidikan Agama Islam Akidah Akhlak Madrasah Aliyah kelas X, 2009, Semarang : PT Karya Toha Putra. Hal 23

0 komentar:

Post a Comment

 
TOP