PRINSIP-PRINSIP
DAN METODE PENINGKATAN KUALITAS AKIDAH SERTA MEMAHAMI TAUHID
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Matakuliah Akidah Akhlak II
Dosen Pengampu:
Drs. H. Samsul Arifin, M.Ag
Oleh Kelompok I:
A.F Zaky Mubarok 12110069
Moch. Zogi M 12110131
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
puji syukur patut kiranya kita ucapkan kepada Allah SWT, karena atas limpahan
rahmat dan inayahnya kami segenap penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “PRINSIP-PRINSIP DAN METODE PENINGKATAN
KUALITAS AKIDAH SERTA MEMAHAMI TAUHID” dengan
lanjcar dan tanpa suatu halangan apapun.
Ucapan terimakasih selanjutnya patut kiranya
kita ucapkan kepada :
1. Kedua orang tua yang telah membiayai kuliah
dan telah memberikan suport atau semangat kepada kita;
2. Kepada bapak Drs. H. Syamsul Arifin, M,Ag
selaku dosen pengampu dalam mata kuliah Akidah Akhlak II, yang telah menjargar
dengan ikhlas dan tanpa pamrih, mudah-mudahan Allah senantiasa membalas
kebaikan bapak dosen. Amin;
3. Dan kepada pihak-pihak yang tidak dapat kami
sebutkan yang telah membantu dalam penyelesaiaan tugas ini.
Kemudian kami segenap penulis menyadarai
bahwa dalam penulisan tugas ini masih banyak kekurangan dan kesalahan yang
yarus dibenahi dan diperbaiki, oleh sebab itu kami mohon saran dan kritiknya
dari pembaca dengan harapan mudah mudahan dalam penulisan tugas yang berikutnya
lebih baik dari tugas yang sebelumnaya, amin.
Malang, 5 September 2014
Penyusun
Daftar Isi
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Prinsip-prinsip Akidah
B. Metode-metode Peningkatan Kualitas Akidah
C. Menerapkan Prinsip Akidah dalam Kehidupan
D. Pengertian Tauhid
E. Macam-macam Ilmu Tauhid
F. Perilaku orang yang bertauhid
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Agama adalah kepercayaan bagi setiap
manusia, ada yang tidak beragama karena mereka memang tidak percaya dengan
agama, agama dibuat pelarian ketika manusia tidak memahami fenomena alam.
Jangan kira bahwa agama itu tidak sistematis, agama memang sistematis karena
memang didalamnya ada sistem yang saling terkait satu sama lain, kalau kita
telaah bersama agama islam dibangun di atas tiga unsur yaitu, Tata keyakinan
atau bisa disebut aqidah, kemudian Tata peribadatan atau bisa dikatakan
syari’ah, serta tata nilai (atutan) atau bisa disebut akhlak.
Muslim yang ideal adalah muslim yang
senantiasa memenuhi tata keyakinan, tata peribadatan, dan tata nilai/aturan.
Dari tiga unsur atau System kepercayaan tersebut diketahui bahwa dalam
menjalankan agama islam tidak boleh meninggalkan satu dari ketiga unsur
tersebut, misalnya akidah kita benar, kemudian syariat selau kita laksanakan,
akan tetapi tata nilai kita yang kurang, maka tidak dikatakan sebagai muslim
yang ideal. Oleh sebab itu alangkah baiknya runtutan dalam mempelajari agama
islam itu dimulai dari yang pertama yaitu tata keyakinan atau bisa dikatakan
dengan akidah. Seperti yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika
menghadapi masyarakat jahiliah, yang dilakukan pertamakali oleh Rasulullah
adalah memperbaiki tata keyakinan mereka atau kepercayaan mereka, yang mulanya menyembah
berhala kemudian dikenalkan dengan kepercayaan bahwa tuhan itu satu yaitu Allah
SWT.
Disamping itu dalam mempelajari agama
islam sebelumnya harus tau apa saja prinsip-prinsip akidah islam, lalu
bagaimana metode-metode untuk meningkatkan kualitas akidah, dan seterusnya. Agar
kita menjadi muslim yang sebagaimana yang dikatakan tadi yaitu menjadi muslim
yang ideal dengan melaksanakan Akidah, Syariah, dan Akhlak yang benar.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah:
1.
Apa saja prinsip-prinsip akidah?
2.
Bagaimana metode-metode
peningkatan kualitas akidah?
3.
Bagaimana menerapkan prinsip
akidah dalam kehidupan?
4.
Apa yang dimaksud dengan tauhid?
5.
Ada berapa macam-macam tauhid?
6.
Bagaimana prilaku orang yang
bertauhid?
C. Tujuan
Adapun
tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui prinsip-prinsip akidah;
2. Untuk mengetahui metode-metode peningkatan kualitas akidah;
3. Untuk mengetahui bagaimana menerapkan prinsip akidah dalam kehidupan;
4. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan tauhid;
5. Untuk memahami macam-macam tauhid;
6. Untuk mengetahui prilaku orang yang bertauhid;
BAB II
PEMBAHASAN
A. Prinsip-prinsip Akidah
Sebelum memahami yang namanya prinsip-prinsip akidah maka
terlebih dahulu memahami tentang pengertian akidah, jadi akidah secara bahasa
berarti mengikat, menguatkan, teguh, dan mengukuhkan. Sedangkan pengertian
akidah secara terminologi ialah iman yang kuat kepada Allah dan apa yang
diwajibkan berupa tauhid (mengesakan Allah dalam peribadatan), malaikatNya,
kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, takdir baik dan buruk, serta mengimani
semua cabang dari pokok-pokok keimanan ini serta hal-hal yang masuk dalam
katagorinya berupa prinsip-prinsip agama.[1]
Kemudian pengertian prinsip adalah suatu pernyataan
fundamental atau kebenaran umum maupun individual yang dijadikan oleh
seseorang/ kelompok sebagai sebuah pedoman untuk
berpikir atau bertindak.[2]
Dari pernyataan sebelumnya jelas bahwa yang namanya
prinsip-prinsip akidah adalah sebuah pedoman dasar yang diyakini oleh seseorang
dalam beragama, kemudian pembahasan yang selanjutnya adalah mengenai
prinsip-prinsip akidah. Jadi prinsip-prinsip akidah itu ada 6 sebagaimana yang
telah di sabdahkan oleh Nabi Muhammad sebagai jawaban terhadap malaikat Jibril ketika bertanya tentang iman :
اْلإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ
وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَتُؤْمِنَ
بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Iman
adalah engkau mengimani Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, hari Kemudian, dan mengimani takdir yang baik dan yang buruk.”
(HR. Muslim).
(HR. Muslim).
1.
Iman kepada Allah
Iman kepada Allah adalah keyakinan kepada zat mutlak yang
Maha Esa yang disebut Allah. Allah Maha Esa dalam zat, sifat, perbuatan dan
wujudnya.
Diantara unsur-unsur keimanan kepada Allah adalah dengan mempercayai:
Diantara unsur-unsur keimanan kepada Allah adalah dengan mempercayai:
·
Wujud (ada) Allah dan wahdaniyat
(keesaannya) sendiri dalam menciptakan, mengatur dan mengurus segala sesuatu.
Tidak bersekutu dengan siapapun tentang kekuasaan dan kemuliaan. Tiada
menyerupainya tentang zat dan sifatnya. Hanya Dia saja yang berhak disembah,
dipuja dan dimuliakan secara istimewa. Kepadanya saja boleh menghadapkan
permintaan dan menundukkan diri tidak ada pencipta dan pengatur selain darinya.
·
Bahwa Tuhan memilih di antara
hamba-Nya, yang dipandang layak untuk memikul risalah-Nya (putusan-Nya) kepada
rasul-rasul itu disampaikan wahyu dengan perantara malaikat. Mereka
berkewajiban menyeru kepada keimanan dan mengajak mengerjakan amal saleh
(perbuatan baik). Karena itu wajiblah beriman kepada segenap rasul yang disebut
dalam Al Qur‟an.
Adanya Malaikat yang membawa wahyu dari Allah kepada rasul-rasul-Nya juga mempunyai kitab-kitab suci yang merupakan kumpulan wahyu Ilahi dan isi risalah Tuhan.
Adanya Malaikat yang membawa wahyu dari Allah kepada rasul-rasul-Nya juga mempunyai kitab-kitab suci yang merupakan kumpulan wahyu Ilahi dan isi risalah Tuhan.
·
Mempercayai apa yang terkandung
dalam risalah itu. Di antaranya Iman kepada hari kebangkitan dan pembalasan.
Juga iman kepada pokok-pokok syariat dan peraturan- peraturan yang telah
dipilih Tuhan sesuai dengan keperluan hidup manusia dan selaras dengan
kesanggupan mereka, sehingga tergambarlah dengan nyata keadilan, rahmat,
kebesaran dan hikmat kebijaksanaan Ilahi
Dengan demikian beriman kepada Allah adalah meyakini bahwa
Allah itu ada (wujud) yang keberadaan-Nya tidak tergantung pada yang lain.
Allah adalah dzat yang sempurna dalam segala sifat-Nya dan suci dari segala
kekurangan dan keburukan. Oleh karena itu Allah dzat yang paling berhak
disembah, karena Dia telah menciptakan, membina, mendidik dan menyediakan
segala kebutuhan manusia.Diantara dasar keimanan tentang Allah ini adalah
QS. Al Anbiya‟: 22
لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ
ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ
عَمَّا يَصِفُونَ ٢٢
Artinya:
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah
keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ´Arsy
daripada apa yang mereka sifatkan
QS. Ali Imran: 191.
ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ
جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا
خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١
Artinya:
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka
2.
Iman Kepada Malaikat-malaikat
Allah
Beriman kepada malaikat adalah meyakini dengan penuh
kesadaran bahwaAllah menciptakan mahluk dari cahaya.Rasulullah SAW bersabda:
Para malaikat diciptakan Allah dari cahaya, dan diciptakan-Nya jin dari api,
sedangkan Adam diciptakan dari apa yang dijelaskan pada kalian.” (HR Muslim).Iman kepada malaikat merupakan
salah satu dari jenis keimanan kepada hal yang ghaib. Para malaikat yang wajib
kita yakini adalah Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, Mungkar, Nakir,
Rakib, Atid, Ridwan, dan Malik. Diantara firman Allah yang memperkuat keyakinan
kita terhadap adanya para Malaikat di atas adalah
QS. Qaaf: 17-18.
إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَعَنِ
ٱلشِّمَالِ قَعِيدٞ ١٧
Artinya:
(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk
di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri
Para
malaikat sifat taat segala perintah Allah dan tidak mendurhakainya
(QS. At Tahrim: 6):
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ
وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ
غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا
يُؤۡمَرُونَ ٦
Artinya:
Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
sebagaimana
Malaikat Jibril yang tugas utamanya adalah menyampaikan wahyu kepada para Nabi
dan Rasul Allah (QS An Nahl : 102).
أَمۡوَٰتٌ غَيۡرُ أَحۡيَآءٖۖ وَمَا يَشۡعُرُونَ أَيَّانَ يُبۡعَثُونَ
٢١
Artinya:
(Berhala-berhala itu)
benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah
penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan
Dengan beriman kepada malaikat, akan lebih
mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah SWT, lebih bersyukur akan nikmat yang
diberikan dan berusaha selalu berbuat kebaikan dan menjauhi segala larangannya.
Karena malaikat selalu mengawasi dan mencatat amal perbuatan manusia.
3.
Iman Kepada Kitab-kitab Allah
Iman kepada kitab Allah adalah meyakini bahwa Allah
menurunkan wahyu melalui perantara malaikat Jibril. Kitab-kitab yang berasal
dari firman Allah SWT seluruhnya ada empat, yaitu Taurat yang diturunkan kepada
Nabi Musa as, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud as, Injil yang diturunkan
kepada Nabi Isa as dan Al Qur‟an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW,.
Sementara itu, firman Allah SWT dalam bentuk shuhuf yang diberikan kepada Nabi
Ibrahim as. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al Maidah: 48 :
وَأَنزَلۡنَآ
إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ
ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۖ
وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ لِكُلّٖ جَعَلۡنَا
مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ
وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ
إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ
تَخۡتَلِفُونَ ٤٨
Artinya:
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan
apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu
ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka
menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka
dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat
diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah
menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak
menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat
kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya
kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu
dan QS Al A’la: 19.
صُحُفِ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ ١٩
(yaitu) Kitab-kitab Ibrahim
dan Mus
Beriman kepada kitab-kitab Allah ialah beritikad bahwa Allah ada menurunkan
beberapa kitab kepada Rasulnya, baik yang berhubungan itikad maupun yang
berhubungan dengan muamalat dan syasah, untuk menjadi pedoman hidup manusia.
baik untuk akhirat, maupun untuk dunia. Baik secara
individu maupun masyarakat.
Kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum kitab
suci AlQur‟an tidak bersifat universal seperti AlQur‟an, tapi hanya bersifat
lokal untuk umat tertentu. Dan tidak berlaku sepanjang masa. Oleh karena itu,
tidak memberi jaminan terpelihara keaslian atau keberadaan kitab- kitab
tersebut sepanjang zaman sebagaimana halnya Allah memberikan jaminan terhadap
AlQur‟an.
4.
Iman Kepada Rasul-rasul Allah
Iman kepada Nabi dan Rasul Allah adalah
meyakini bahwa Allah SWT mengutus para Nabi dan Rasul untuk membawa kabar gembira
kepada umat manusia, memberi teladan ahlak mulia dan berpegang teguh terhadap
ajaran Allah. Jumlah para
Nabi dan rasul Allah sangat banyak dan tidak diketahui jumlahnya secara pasti,
tetapi Al Qur’an menginformasikan keberadaan 25 Nabi dan Rasul, QS. An Nisa’:164, dengan
kesempurnaan ahlak, QS.Al Ahzab: 21. dan (kami telah
mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu
dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan
Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab: 21) Diantara sifat wajib yang ada pada diri Nabi dan Rasul Allah adalah;
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab: 21) Diantara sifat wajib yang ada pada diri Nabi dan Rasul Allah adalah;
1.
Siddiq
Siddiq artinya benar. Apa yang disabdakan Nabi adalah benar karena Nabi tidak berkata- kata kecuali apa yang diwahyukan Allah SWT.
Siddiq artinya benar. Apa yang disabdakan Nabi adalah benar karena Nabi tidak berkata- kata kecuali apa yang diwahyukan Allah SWT.
2.
Amanah
Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Segala urusan akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Segala urusan akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
3.
Fathanah
Fatanah artinya bijaksana dan cerdas. Nabi Saw mampu memahami perintah-perintah
Allah dan menghadapi penentangnya dengan bijaksana.
Fatanah artinya bijaksana dan cerdas. Nabi Saw mampu memahami perintah-perintah
Allah dan menghadapi penentangnya dengan bijaksana.
4.
Tabligh
Tabligh artinya menyampaikan. Nabi SAW menyampaikan apa yang Allah wahyukan kepadanya.
Tabligh artinya menyampaikan. Nabi SAW menyampaikan apa yang Allah wahyukan kepadanya.
Seorang muslim wajib beriman kepada
seluruh Nabi dan Rasul-Nya yang telah diutus oleh Allah SWT, baik yang
disebutkan namanya maupun yang tidak disebutkan namanya. Seorang muslim wajib membenarkan semua Rasul
dengan sifat-sifat, kelebihan, keistimewaan satu sama lain, tugas dan
mukjizatnya masing-masing seperti yang diperintahkan oleh Allah.
5.
Iman Kepada Hari Akhir
Beriman kepada hari akhir adalah meyakini bahwa
manusia akan mengalami kesudahan dan dimintai tanggung jawab kelak dikemudia hari. Al Qur’an selalu menggugah hati dan
pikiran manusia dengan menggambarkan peristiwa-peristiwa hari akhirat, dengan
nama-nama yang unik, misalnya
Al Zalzalah, Al Qari’ah, An Naba, Al
Qiyamah. Istilah-istilah tersebut mencerminkan peristiwa dan keadaan yang bakal
dihadapi oleh manusia pada saat itu. Disamping penggambaran kejadian hari
akhir, Al Qur‟an juga memberi informasi tentang kesudahan manusia dalam yang
dimulai dari alam barzah hingga penentuan balasan yang berujung pada neraka
bagi mereka yang ringan amal keikanya dan balasan berupa surga bagi yang berat
timbangan kebaikanya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Qiyamah : 1-8 :
لَآ أُقۡسِمُ بِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ
١ وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ
٢ أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَلَّن
نَّجۡمَعَ عِظَامَهُۥ ٣ بَلَىٰ قَٰدِرِينَ
عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ ٤ بَلۡ يُرِيدُ ٱلۡإِنسَٰنُ لِيَفۡجُرَ
أَمَامَهُۥ ٥ يَسَۡٔلُ أَيَّانَ يَوۡمُ ٱلۡقِيَٰمَةِ
٦ فَإِذَا بَرِقَ ٱلۡبَصَرُ ٧ وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ
٨
Artinya
: Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat
menyesali (dirinya sendiri), Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan
mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya, Bukan demikian, sebenarnya Kami
kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna, Bahkan manusia itu
hendak membuat maksiat terus menerus, Ia berkata: "Bilakah hari kiamat
itu?, Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang
cahayanya
Keimanan kepada Allah berkaitan erat dengan
keimanan kepada hari akhir. Hal ini disebabkan keimanan kepada Allah menuntut
amal perbuatan, sedangkan amal perbuatan baru sempurna dengan keyakinan tentang
adanya hari akhirat. Demi tegaknya keadilan, harus ada suatu kehidupan baru
dimana semua pihak akan memperoleh secara adil dan sempurna hasil-hasil
perbuatan yang didasarkan atas pilihannya masing-masing.
6.
Iman Kepada Qada dan Qodar
Menurut
bahasa qadha memiliki beberapa pengertian yaitu: hukum, ketetapan, pemerintah, kehendak,
pemberitahuan, penciptaan. Menurut istilah qada adalah ketetapan Allah sejak
zaman azali sesuai dengan iradah-Nya tentang segala sesuatu yang berkenan
dengan makhluk. Sedangkan qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai
dengan penetapan (qada). Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya dan yakin
dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menentukan tentang segala sesuatu bagi
makhluknya, sebagaimana firman Allah dalam QS Al Furqan 2 :
ٱلَّذِي
لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدٗا وَلَمۡ يَكُن
لَّهُۥ شَرِيكٞ فِي ٱلۡمُلۡكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖ فَقَدَّرَهُۥ تَقۡدِيرٗا ٢
Artinya :
yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan
Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya),
dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya
dengan serapi-rapinya
Para ulama
kalam membagi takdir ada dua macam, yakni takdir muallaq dantakdir mubram.
Takdir muallaq berkaitan dengan ikhtiar manusia sebagaimana firman Allah dalam
QS Ar Ra’du: 11. Misalnya seorang siswa dapat mengerjakan tugas guru dengan baik
jika belajar dengan sungguh-sungguh. Sedangkan takdir mubram adalah takdir yang
terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan.
QS Ar Ra’du : 11
لَهُۥ
مُعَقِّبَٰتٞ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا
بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ
وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ ١١
Artinya
: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di
muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap
sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia
Ada
beberapa hikmah yang dapat dipetik dari keimanan kepada qada dan qadar, ini
antara lain:
1) Melahirkan kesadaran bagi umat manusia bahwa segala sesuatu di dalam
semesta ini berjalan sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan pasti oleh
Allah SWT.
2) Mendorong manusia untuk terus beramal dengan sungguh-sungguh untuk mencapai
kehidupan baik di dunia maupun di akhirat, mengikuti hukum sebab akibat dari
Allah SWT.
3) Mendorong manusia untuk semakin dekat dengan Allah SWT.
4) Menanamkan sikap tawakkal dalam diri manusia, karena manusia hanya bisa
berusaha dan berdoa, sedangkan nasibnya diserahkan kepada Allah SWT.
5) Mendatangkan ketenangan jiwa dan ketentraman hidup, karena menyakini apapun
yang terjadi adalah atas kehendak dan qadar Allah SWT.
B. Metode-metode Peningkatan Kualitas Akidah
Akidah merupakan pokok agama yang wajib diketahui oleh
setiap orang. Dalam memahami akidah kita harus memacu pada la-Qur’an dan hadis
Rasulullah saw. Serta dengan ijma’ salafus salih dalam memahaminya, oleh karena
itu, ada beberapa akidah penting dalam memahami hal ini, diantaranya:[3]
1. Apabila terjadi perselisihan dalam memahami nas-nas yang telah ada,
maka pemahaman salaf (sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang berjalan di atas
jalan mereka) merupakan hujjah yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk
memahami nas-nas tersebut. Rasulullah saw telah menyatakan bahwa mereka adalah
sebaik-baik umat dan manusia yang paling paham dengan agama Allah.
2. Salafus alih mendasari metode mereka dalam memahami akidah dengan
bimbingan wahyu yaitu la-Qur’an dan hadis. Oleh karena itu pemahaman mereka
adalah pemahaman yang paling didasari dengan ilmu, paling selamat dan paling
bijaksana dalam memahaminya.
3. Akidah adalah perkara taufiqifiyyah yang dilarang mengotak-atiknya
tanpa ada bimbingan wahyu dari Allah swt. Karena perkara akidah adalah perkara
yang gaib yang akal pikiran manusia tidak akan sanggup untuk menjangkaunya.
4. Siapa saja yang menetapkan dan memahami permasalahan akidah tanpa
berlandaskan dengan dalil-dalil syar’i, maka dia telah berdusta atas nama Allah serta berkata tanpa dasar ilmu.
5. Akidah dibangun atas dasar ikhlas kepada Allah dan ittiba, (mengikuti)
petunjuk Rasulullah saw. Imam Az-Zuhri berkata, “Dari Allah-lah datangnya
risalah (Al-Qur’an dan Hadits), kewajiban Rasul Allah untuk menyampaikan dan
kewajiabn kita untuk menerimanya dengan ikhlas.”
6. Para sahabat, imam-imam tabi’in dan yang mengikuti mereka serta
ulama’-ulama’ sunah (salafus alih) semuanya berada diatas bimbingan petunjuk
Rasulullah dan jalan mereka adalah jalannya kaum muslimin, tsar-atsar mereka
merupakan bimbingan dan jalan yang lurus, imam Al-Auza’i berkata, “Wajib atasmu
untuk berpegang teguh dengan tsar orang-orang sebelummu ( salafus alih)
walaupun manusia tidak memperdulikanmu. Jauhilah pemikiran-pemikiran yang
menyimpang walaupun mereka menghiasinya dengan ucapan-ucapan yang manis.”
7. Inilah jalan yang ditempuh para sahabat dalam memahami dalil-dalil yang
berkaitan dengan permasalahan akidah. Barang siapa yang mengambil petunjuk dan
memahami akidah sesuai tata cara yang dilakukan para sahabat, maka iya berada
di atas bimbingan dan petunjuk Rasulullah saw.
C. Menerapkan Prinsip Akidah dalam Kehidupan
1.
Iman Kepada Allah
Prinsipnya Segala tindak-tanduk kita harus sesuai dengan sifat-sifat Allah
Misalnya Arrahman, penyayang, Arrahim pengasih dstrsnya.
Ketika kita kehilangan sesuatu di dunia kita harus bersandar pada Allah semata.
Prinsipnya Segala tindak-tanduk kita harus sesuai dengan sifat-sifat Allah
Misalnya Arrahman, penyayang, Arrahim pengasih dstrsnya.
Ketika kita kehilangan sesuatu di dunia kita harus bersandar pada Allah semata.
2. Iman kepada Malaikat
Prinsip ini menjadikan kita sebagai orang yang taat,komitmentkepada kebaikan dan gemar beribadah, sesuai apa yang malaikat kerjakan.
Prinsip ini menjadikan kita sebagai orang yang taat,komitmentkepada kebaikan dan gemar beribadah, sesuai apa yang malaikat kerjakan.
3. Iman kepada Rasul Allah
Prinsip Iman kepada rasul ini membuat kita bisa menjadi pemimpin diri sendiri, keluarga dan masyarakat dalam menyebarkan kebaikan dan memeberantas kemungkaran.
Prinsip Iman kepada rasul ini membuat kita bisa menjadi pemimpin diri sendiri, keluarga dan masyarakat dalam menyebarkan kebaikan dan memeberantas kemungkaran.
4. Iman kepada Alqur'an dan kitab Allah
Prinsip ini membuat kita harus selalu belajar dan menyempurnakan segala sesuatu.
Prinsip ini membuat kita harus selalu belajar dan menyempurnakan segala sesuatu.
5. Iman kepada hari kiamat
Prinsip ini bisa menjadikan orang yang visioner dan selalu siaputk menghadapi segala kemungkinan dimasa yang akan datang.
Prinsip ini bisa menjadikan orang yang visioner dan selalu siaputk menghadapi segala kemungkinan dimasa yang akan datang.
6.
Iman kepada Qada dan qodar
Prinsip iman kepada qada dan qadar harus menjadikan kita sebagai orang yang terorganisasi dengan baik.
Prinsip iman kepada qada dan qadar harus menjadikan kita sebagai orang yang terorganisasi dengan baik.
D. Pengertian Tauhid
Menurut bahasa, tauhid berasal
dari kata wahdaha artinya mengesahkan, menunggalkan. Jika
dikatakan wahdaha asy-syai’a artinya menjadikan sesuatu itu satu. Menurut Prof.
Dr. Harun Nasution, Tauhid adalah ilmu yang membahas tentang cara-cara
mengesakan Allah SWT., sebagai salah satu sifat yang terpenting di antara
sifat-sifat lainnya.[4]
Jadi yang dimaksud dengan kata Tauhid itu adalah ilmu yang membahas tentang
bagaiman kita bisa meyakini keesaan Alah SWT dengan sepenuh hati, tanpa ada
keraguan sedikit pun.
Dalam pendapat Syaikh Muhammad
Al-Utsmani, menjelaskan bahwa tauhid berarti mengesakan Allah dengan sesuatu
yang khusus bagi-Nya, berupa rububiyah, uluhiyah, al0asma wa sifat. Secara
singkat bahwa tauhid artinya mengesakan Allah dalam segala perbuatan dan
meyakini bahwa Dia sendirilah yang menciptakan, mengatur serta menguasai alam
semesta beserta isinya, ikhlas beribadah kepada Nya serta menetapkan baginya
nama-nama dan sifat-sifat Nya.
Kata lain dari Tauhid yaitu
Ushuludindan Ilmu Kalam. Ushuluddin termasuk kata lain dari Tauhid karena yang
dibahas mengenai masalah ketuhanan atau teologi dengan maksud agar keyakinan
kepada Tuhan semakin sempurna, dan tidak mudah goyah karena pengaruh suatu
budaya atau suatu aliran lain yang akan memudarkan keyakinan kepada Allah SWT.[5]
Sedangkan ilmu Kalam secarah harfiah berati ilmu tentang kata-kata atau firman
Allah SWT. Maka yang dimaksud adalah kalam Allah yang ada di dalam Al-Quran.
E. Macam-macam Ilmu Tauhid
Mengenai ruang lingkup tauhid Allah
berfirman dalam Al-Quran dalam surat Maryam ayat 65, yang mencakup tauhid
rububiyah, uluhiyah, dan tauhid asma wa sifat, namun ada perbedaan pendapat di
antara para ulama. Ada yang membagi menjadi empat, yaitu rububiyah, uluhiyah,
mulkiyah, dan rahmaniyah.
1.
Tauhid rububiyah
Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan atau
mengesahkan Allah dalam seluruh perbuatan-Nya seperti menciptakan, memiliki,
mengatur dan memelihara.[6]
Mengesakan Allah dalam penciptaan artinya keyakinan manusia bahwa yang
menciptakan seluruh alam dan seisinya di dunia ini adalah hanya Allah SWT.
Mengesakan Allah dalam kepemilikan artinya manusia harus meyakini bahwa tiada
yang memiliki mahklauk selain Allah SWT. Demikian juga dalam hal mengatur dan
memelihara, bahwa tidak ada yang mampu mengatur dan memelihara seluruh urusan
di dunia ini meliankan Allah SWT.
Jadi sebagai manusia yang beriman kepada Allah
SWT, kita harus selalu senantiasa menjaga hati agar keimanan terhada Allah
tidak mudah goyah. Dari sejarah islam dikatakan bahwa tidak ada yang
mengingkari tauhid rububiyah kecuali Fir’aun yang dengan kesombonganya mengakui
bahwa dirinya adalah tuhan, juga orang Majusi yang mengatakan bahwa alam ini
diciptakan oleh cahay dan gelap.
2.
Tauhid Uluhiyah
Tauhid uluhiyah merupakan inti dakwah
Nabi Muhammad SAW dan para rasul lainnya. Mereka diutus untuk menegakkan kalima
“laa ilaha illallah” yang atinya tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali
Allah. Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan Allah dalam beribadah, seperti : berdoa,
sholat, zakat, meyembelih kurban, dan dalam aktivitas ibadah lainnya.[7]
Di dunia ini tidak ada yang berhak
disembah selain kepada Allah semata, karenanya tidak boleh berdoa kecuali
kepada Allah, tidak boleh sholat, bernadzar, dan menyembelih serta ibadah-ibadah
lainnya kecuali hanya karena Allah SWT.
Tauhid ini adalah inti dari dakwah para
Rasul, karena ia adalah asas dan pondasi tempat dibangunya seluruh amal. Tanpa
merealisasikannya, semua amal ibadah tidak akan diterima. Karena kalau ia tidak
terwujud, maka akan muncul sifat syirik. Sedangkan Allah berfirman :
“sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik.“ (An-Nisa :
116)[8]
3.
Tauhid Mulkiyah
Mulkiyah berasal dari kata “mulk”
artinya kerajaan. Tauhid mulkiyah merupakan pengejawantahan Allah yang kekal
sebagai Al-Malik (raja atau penguasa) di alam semesta. Semua kejadian di dunia
ini merupakan pelaksanaan kehendak-Nya sebagai rububiyah Allah, pencipta,
penghancuran, dan pemeliharaan serta pengaturan alam semesta yang dilakukan
oleh Allah sesuai dengan kehendak-Nya sebagai sang raja.
Jadi semua yang terjadi di dunia sudah
menjadi kehendak Allah SWT, karena Dia yang mengatur kejadian di muka bumi ini.
Oleh karena itu kita harus sabar dalam menghadapi cobaan yang diberikan oleh
Allah SWT dan selalu bersyukaur atas segala nikmat yang diberikan kepada kita.
4.
Tauhid Asma wa Sifat
Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan
sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam al-Quran dan Sunnah RasulNya
meurut apa yang pantas bagi Allah tanpa ta’wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan
tamtsil.[9]
Tauhid asma wa sifat adalah menetapkan
semua sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab Nya atau sebagaimana
sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis sesuai dengan hakikatnya.
Menurut Syaikh Muhammad Al-Utsmani,
tauhid asma wa sifat mencakup dua hal :
a.
Penetapan
Artinya manusia harus menetapkan seluruh
asma dan sifat bagi Allah, sebagaimana yang ditetapkan bagi diri-Nya dalam
kitab-Nya atau sunah nabi-Nya.
b.
Penolakan pemisahan
Bahwa manusia tidak
menjadikan sesuatu menyerupai Allah dalam asma dan sifat-Nya, sebagaimana
firman Allah dalam Al-Quran syrat Asy-Syura ayat 11, yang artinya :
“tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia yang maha mendengar, maha melihat”
Banyak manusia yang tersesat
karena asma wa sifat, oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah beriman
kepada sifat yang diberikan Allah kepada diri-Nya tanpa ada pengubahan,
peniadaan, pengguguran, dan penyerupaan.[10]
Kita harus mengetahui bahwa apa
yang Allah sifatkan untuk Dirinya adalah Haq (benar), tidak mengandung
teka-teki dan tidak untuk ditebak. Maknanya sudah dimengerti sebagaimana maksud
orang berbicara juga dimengerti dari pembicaraannya. Apalagi yang berbicara itu
adalah Rasullullah SAW manusia yang paling mengerti dengan apa yang ia katakan,
yang paling fasih dalam menjelaskan ilmu, dan yang paliing baik dalam
memberikan petunjuk.
F. Perilaku orang yang bertauhid
beberapa ciri-ciri orang
bertauhid, di antaranya adalah :
a.
Ikhlas, yaitu melakukan sesuatu hanya bertujuan untuk mencari keredhaan
Allah semata, tidak bertujuan selain hanya ke Allah Swt.
b.
Tidak iri dan dengki, maksudnya orang yang bertauhid tidak akan
mendengki terhadap orang lain yang memperoleh nikmat dari Allah, karena dia
mengetahui Allah Maha Bijaksana dan Adil dalam membagikan rezki, Allah Maha
Menentukan setiap takdir dan kejadian, sehingga tidak perlu merasa iri atau
dengki kepada orang yang telah ditakdirkan memperoleh nikmat-Nya.
c.
Tidak banyak mengeluh, orang yang bertauhid tidak akan suka mengeluh,
karena mengetahui setiap peristiwa dan episode hidup adalah atas izin Allah
Swt. Jika dia mendapat masalah, dia akan segera mengoreksi diri dan
mengevaluasi tauhidnya, apakah selama ini ada yang kurang tepat, sehingga tanpa
disadari telah bermaksiat terhadap Allah. Setelah itu dia memperbaiki dirinya.
d.
Tidak licik, artinya orang yang bertauhid pasti tidak akan melakukan
hal-hal yang licik dalam kegiatan apapun, karena dia menyakini bahwa Allah
pasti akan membalas erbuatan sekecil apapun serta Allah lah yang membolak-balik
hati dan mengetahui setiap apa saja yang terlintas dalam hati.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan
dari penulisan makalah ini adalah:
1.
Jadi prinsip-prinsip akidah itu
seperti yang kita ketahui ada 6 yaitu:
1)
Iman kepada Allah
2)
Iman kepada Malaikat-malaikat
Allah
3)
Iman kepada Kitab-kitab Allah
4)
Iman kepada Rasul-rasul Allah
5)
Iman kepada hari akhir
6)
Iman kepada qodo’ dan qodar
2. Metode-metode dalam peningkatan akidah diantaranya yaitu:
1)
Apabila terjadi perselisihan dalam
memahami nas-nas yang telah ada, maka pemahaman salaf (sahabat, tabi’in, dan
orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka) merupakan hujjah yang dapat
dijadikan sebagai dasar untuk memahami nas-nas tersebut. Rasulullah saw telah
menyatakan bahwa mereka adalah sebaik-baik umat dan manusia yang paling paham
dengan agama Allah.
2)
Salafus alih mendasari metode
mereka dalam memahami akidah dengan bimbingan wahyu yaitu la-Qur’an dan hadis.
Oleh karena itu pemahaman mereka adalah pemahaman yang paling didasari dengan
ilmu, paling selamat dan paling bijaksana dalam memahaminya.
3)
Akidah adalah perkara
taufiqifiyyah yang dilarang mengotak-atiknya tanpa ada bimbingan wahyu dari
Allah swt. Karena perkara akidah adalah perkara yang gaib yang akal pikiran
manusia tidak akan sanggup untuk menjangkaunya.
3. Jadi pengaplikasian akidah dalam kehidupan diantaranya sebagai berikut:
1)
Iman Kepada Allah
Prinsipnya Segala tindak-tanduk kita harus sesuai dengan sifat-sifat Allah
Misalnya Arrahman, penyayang, Arrahim pengasih dstrsnya.
Ketika kita kehilangan sesuatu di dunia kita harus bersandar pada Allah semata.
Prinsipnya Segala tindak-tanduk kita harus sesuai dengan sifat-sifat Allah
Misalnya Arrahman, penyayang, Arrahim pengasih dstrsnya.
Ketika kita kehilangan sesuatu di dunia kita harus bersandar pada Allah semata.
2)
Iman kepada Malaikat
Prinsip ini menjadikan kita sebagai orang yang taat,komitmentkepada kebaikan dan gemar beribadah, sesuai apa yang malaikat kerjakan.
Prinsip ini menjadikan kita sebagai orang yang taat,komitmentkepada kebaikan dan gemar beribadah, sesuai apa yang malaikat kerjakan.
3)
Iman kepada Rasul Allah
Prinsip Iman kepada rasul ini membuat kita bisa menjadi pemimpin diri sendiri, keluarga dan masyarakat dalam menyebarkan kebaikan dan memeberantas kemungkaran.
Prinsip Iman kepada rasul ini membuat kita bisa menjadi pemimpin diri sendiri, keluarga dan masyarakat dalam menyebarkan kebaikan dan memeberantas kemungkaran.
4)
Iman kepada Alqur'an dan kitab
Allah
Prinsip ini membuat kita harus selalu belajar dan menyempurnakan segala sesuatu.
Prinsip ini membuat kita harus selalu belajar dan menyempurnakan segala sesuatu.
5)
Iman kepada hari kiamat
Prinsip ini bisa menjadikan orang yang visioner dan selalu siaputk menghadapi segala kemungkinan dimasa yang akan datang.
Prinsip ini bisa menjadikan orang yang visioner dan selalu siaputk menghadapi segala kemungkinan dimasa yang akan datang.
6)
Iman kepada Qada dan qodar
Prinsip iman kepada qada dan qadar harus menjadikan kita sebagai orang yang terorganisasi dengan baik.
Prinsip iman kepada qada dan qadar harus menjadikan kita sebagai orang yang terorganisasi dengan baik.
4. Yang dimaksud dengan tauhid yaitu ilmu yang membahas tentang cara-cara
mengesakan Allah SWT., sebagai salah satu sifat yang terpenting di antara
sifat-sifat lainnya. Jadi yang dimaksud dengan kata Tauhid itu adalah ilmu yang
membahas tentang bagaiman kita bisa meyakini keesaan Alah SWT dengan sepenuh
hati.
5. Macam-macam ilmu tauhid yaitu :
a.
Tauhid Rububiyah
b.
Tauhid Uluhiyah
c.
Tauhid Asma wa Sifat
d.
Tauhid Mulkiyah
6. ciri-ciri orang bertauhid :
a.
ikhlas
b.
tidak iri dan dengki
c.
tidak licik
d.
tidak banyak mengeluh
DAFTAR PUSTAKA
al-Fauzan,
D. S. (1998). KITAB TAUHID. Jakarta: Darul Haq.
Aziz,
S. D. (2006). cara mudah memahami Aqidah. Jakarta: Pustaka at-Tazkia.
Saputro,
D. H. (2009). Pendidikan Agama Islam Akidah Akhlak. Semarang: PT Karya
Toha Putra.
[1] Syaikh Dr. Abdullah bin Abdul Aziz la-Jibrin, Caramudah Memahami
Aqidah Sesuai la-Qur’an dan as-Sunnah serta pemahamman Salafus Shalih, hlm
3
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Prinsip
[3] Drs. H. Thoyib Sah Saputra, M.pd, Drs. H.Wahyudin, M.Pd, Pendidikan
agama islam Akidah Akhlak kurikulum 2008,PT Karya Toha Putra-Semarang,
halm 9
[4] Drs. H.Thoyib sah Saputra, M.Pd, Pendidikan Agama Islam Akidah Akhlak
Madrasah Aliyah kelas X, 2009, Semarang : PT Karya Toha Putra. Hal : 18
[5] Ibid. Hal 19
[6] Ibid. 21
[7] Ibid. 20
[8] Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, Kitab Tauhid 1, 2008.
Jakarta : Darul Haq. Hal 56
[9] Ibid. Hal 97
[10] Drs. H.Thoyib sah Saputra, M.Pd, Pendidikan Agama Islam Akidah Akhlak
Madrasah Aliyah kelas X, 2009, Semarang : PT Karya Toha Putra. Hal 23

0 komentar:
Post a Comment