Loading...
Saturday, 12 March 2016

Perkembangan Pola Pikir Manusia


BAB I
Pendahuluan
A. Latar belakang
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna, satu-satunya makhluk yang dibekali akal fikiran oleh  Allah SWT dan akal itulah yang membuat manusia mempunyai rasa ingin tahu terhadap suatu hal yang belum ia ketahui. Dan rasa ingin tahu inilah yang membuat manusia terdorong untuk mengenal, memahami, menjelaskan dan berusaha untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi yang akhirnya munculah apa yang disebut dengan ilmu pengetahuan.
Maka dari itu disini kami akan menjelaskan tentang perkembangan pola pikir manusia dan apa saja yang dapat mempengaruhi perkembangan pola pikir manusia.
B. Maksud dan tujuan
            Dengan ditulisnya makalah ini penulis berharap dapat membantu memberikan pengetahuan mengenai Perkembangan Pola Pikir Manusia sehingga dapat bermanfaat bagi pembaca.
C. metode
Metode penulisan makalah ini adalah bersifat Deskriptif yang artinya menjelaskan dengan metode kajian kepustakaan, yaitu penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti.
D. Rumusan Masalah
Banyak persoalan yang perlu dibahas mengenai Perkembangan Pola Pikir Manusia Namun untuk membatasi ruang lingkup dalam pembahasan masalah, penulis hanya membatasi pada masalah :
1  .      Proses Perkembangan Pola Pikir Manusia berdasarkan rasa ingin tahu.
2  .      Proses perkembangan pola piker manusia berdsarkan mitos.
3  .      Proses perkembangan pola piker manusia berdasarkan penalaran.

BAB II
PEMBAHASAN
       A.    Perkembangan Pola Pikir Manusia
Sejak lahirnya di muka bumi ini, manusia bersentuhan dengan alam. Persentuhan dengan alam menimbulkan pengalaman. Alam memberikan rangsangan kepada manusia melalui pancaindera. Jadi, pancaindera merupakan alat komunikasi antara alam dengan manusia yang membuahkan pengalaman.Pengalaman itu waktu demi waktu bertambah, karena manusia ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang hakiki; apa, bagaimana, dan mengapa, baik atas kehadirannya di dunia ini, maupun atas segala benda yang telah mengadakan kontak dengan dirinya.Perkembangan pola pikir manusia ini dari zaman ke zaman terus berubah bahkan bertambah, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya[1]:

1.Rasa ingin tahu
Ilmu Pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu (curiousity). Perasaan ini merupakan salah satu ciri khas manusia. Rasa ingin tahu berkembang, baik tentang dirinya sendiri maupun benda-benda di sekelilingnya dan rasa yang seperti itu tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya.[2]
Dan Manusia sebagai mahluk ciptaan Allah SWT, mempunyai ciri-ciri yang pertama  memiliki organ tubuh yang kompleks dan sangat khusus terutama otaknya. Kedua mengadakan pertukaran zat, yakni adanya zat yang masuk dan keluar.Ketiga memberikan tanggapan terhadap  rangsangan dari dalam dan dari luar. Ke empat memiliki potensi berkembang biak. Kelima tumbuh dan bergerak. Ke enam berinteraksi dengan lingkungannya dan yang terakhir mati.
Sudah kita ketahui, bahwa pada poin satu tadi telah menunjukkan bahwa manusia mempunyai otak, sama halnya dengan bintang, namun inilah yang menjadi perbedaan manusia dengan binatang. Mungkin memang benar bintatang juga mempunyai kehendak misalnya burung burung mempunyai kehendak untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain didorong oleh suatu keinginan, rasa ingin tahu. Ingin tahu apakah sutau tempat cukup aman untuk membuat sarang?. Setelah mengadakan eksplorasi,[3] tentu mereka jadi tahu. Itulah pengetahuan dari burung tadi. Burung juga memiliki pengetahuan untuk membuat sarang di atas pohon.
            Bagaimana halnya dengan manusia?. Manusia juga memiliki insting seperti yang dimiliki oleh hewan. Namun manusia memiliki kelebihan yaitu adanya kemampuan berfikir. Dengan kata lain, curiosity-nya tidak idle.[4] Tidak tetap sepanjang zaman. Manusia memiliki rasa ingin tahu yang berkembang, atau kemampuan berfikir. Setelah tahu tentang apanya, mereka ingin tahu bagaimana dan mengapa begitu.
Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuannya yang baru, sehingga menjadi suatu akumulasi pengetahuan. Rasa ingin tahu manusia ini menyebabkan pengetahuan mereka menjadi berkembang. Hal ini tidak saja meliputi kebutuhan-kebutuhan praktis untuk hidupnya sehari-hari, seperti bercocok tanam atau membuat panah atau lembing untuk berburu, tetapi juga berkembang sampai pada hal-hal yang menyangkut keindahan.
            Rasa ingin tahu semacam ini tidak dimiliki oleh hewan. Rasa ingin tahu pada hewan hanya terbatas pada rasa ingin tahu yang tetap. Yang tidak berubah dari zaman ke zaman. Hewan bergerak dari satu tempat ke tempat lain hanya didorong oleh rasa ingin tahunya yang bersangkutan erat dengan nalurinya saja.
            Dengan selalu berlangsungnya perkembangan pengetahuan itu tampak lebih nyata bahwa manusia berbeda dengan hewan. Manusia merupakan mahluk hidup yang berakal serta mempunyai derajat yang tertinggi bila dibandingkan dengan hewan atau mahluk lainnya.
      2.      Mitos
`Mitos adalah suatu pengetahuan berdasarkan penghayatan digabungkan dengan pengalaman dan didasarkan dengan kepercayaan. Dalam istilah lain disebutkan bahwa mitos adalah pengetahuan baru yang merupakan kombinasi antara pengalaman-pengalaman dan kepercayaan.[5]
Mitos merupakan tahap kedua dari perkembangan pola pikir manusia. Karena manusia juga berusaha memenuhi kebeutuhan non fisik atau kebutuhan alam pikirannya. Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan maupun pengalamannya. Untuk itulah, manusia mereka-reka sendiri jawaban atas keingintahuannya itu. Sebagai contoh, “mengapa gunung meletus?”, karena tak tahu jawabannya, manusia mereka-reka sendiri dengan jawaban “si penunggu gunung itu sedang marah”. Di sinilah muncul pengetahuan baru yang disebut “si penunggu”. Dengan menggunakan jalan pikiran yang sama, muncullah anggapan adanya “si penunggu”. Cerita yang berdasarkan atas mitos disebut legenda. Mitos timbul disebabkan antara lain oleh keterbatasan alat indera manusia, yaitu indera penglihatan, indera pendengaran, indera pencium, indera pengecap, dan indera perasa.
Puncak hasil pemikiran mitos terjadi pada zaman Babylonia (700-600 SM) yaitu horoskop (ramalan bintang), ekliptika (bidang edar Matahari) dan bentuk alam semesta yang menyerupai ruangan setengah bola dengan bumi datar sebagai lantainya sedangkan langit-langit dan bintangnya merupakan atap.[6]
      3.      Penalaran
Berdasarkan kemampuan berpikir manusia yang semakin maju dan perlengkapan pengamatan makin sempurna misalya teropong bintang yang semakin sempurna, maka mitos dengan berbagai legenda makin ditinggalkan orang dan mereka cenderung berpikir secara logis dengan menggunakan akal sehat (rasio).
Tokoh-tokoh Yunani yang dianggap sebagai pelopor perubahan pola berpikir masa itu antara lain adalah:
a. Anaximander ( 610 – 546 SM) Seorang pemikir yang sezaman dengan Thales berpendapat bahwa alam semesta yang kita lihat berbentuk seperti bola dan bumi sebagai pusatnya. Selain itu dia juga mengajarkan pembuatan jam matahari dengan menegakkan sebuah tongkat di atas bumi yang horizontal dan menentukan bayangan tongkat itu menjadi petunjuk waktu dan juga titik balik matahari.
b. Anaximenes (560 – 520 SM) Dia melahirkan teori pertama tentang transmutasi unsur-unsur, yang menyatakan bahwa unsur dasar pembentukan semua benda adalah air. Bila merenggang akan menjadi api atau gas, sedangkan bila memadat akan menjadi tanah.
c. Herakleitos (560 – 470 SM) Dia berpendapat bahwa apilah yang menyebabkan transmutasi itu, tanpa api  benda-benda akan tetap seperti adanya.
a.       Pythagoras  (± 500 SM)
-          Unsur dasar semua benda sebenarnya ada 4: tanah, api, udara, dan air.
-          Bumi bulat dan berputar, karena itu seolah-olah  benda-benda alam lainnya   termasuk matahari  mengelilingi bumi.
-           Melahirkan dalil Pythagoras dalam ilmu matematika: kuadrat sisi miring suatu segitiga   siku-siku samadengan jumlah kuadrat kedua siku-sikunya    ( c2= a2 +   b2 )    
-           Pernyataan bahwa jumlah sudut suatu segitiga adalah 180º
b.      Demokritos (460 – 370 SM)
Bagian terkecil dari suatu benda yang tidak bisa dibagi-bagi lagi disebut atomos atau atom.
c.       Empedokles (480 – 430 SM)
Menyempurnakan ajaran Pythagoras tentang empat unsur dan memperkenalkan tenaga penyekat/daya tarik-menarik dan daya tolak-menolak yang dapat mempersatukan atau memishkan unsur-unsur itu.
d.      Plato (427-345 SM)
Mempunyai titik tolak berpikir yang berbeda dengan orang-orang sebelumnya yang materialistik. Menurut Plato, keanekaragaman yang nampak ini sebenarnya hanya suatu duplikat saja dari semua yang kekal dan immaterial.
e.      Aristoteles ( 348 – 322 SM)
-          Berhasil membukukan intisari dari ajaran para ahli sebelumnya dan membuang hal-hal   yang tidak masuk akal.
-          Adanya   zat   tunggal  yang  disebutnya    ‘hule’   bentuknya  tergantung  dari kondisinya,    bisa    berbentuk    tanah,   air,   udara    atau   api.    Transmutasi  disebabkan oleh keadaan dingin,  lembab, panas dan kering.
-          Tidak  ada  ruang  yang hampa,  bila suatu ruang  tidak terisi oleh benda   akan  diisi oleh   sesuatu yang immaterial yaitu ether.
-          Ajaran yang terpenting adalah suatu pola   berpikir dalam   memperoleh   kebenaran berdasarkan logika.
f.        Ptolomeus (127 – 151 M)
Teori ‘geosentris’ menyatakan bahwa bumi sebagai pusat dari tatasurya, berbentuk bulat, diam seimbang tanpa tiang penyangga.             
g.       Ilmuwan dalam dunia Islam yakni:
-          Avicenna (Ibn-Shina abad 11) seoranng ahli di bidang kedokteran dan filosof.
-          Al-Biruni, Al-Gazali, Ibn-Rush, dan Omar Khayam pada abad 11.
-          Al-Khawarizzini, Al-Farghani, dan Al-Batani pada abad 9.
-          Al-Kindi dan Al-Farabi pada abad 10.
Pada abad 9 – 11 semua ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani diterjemahkan dan dikembangkan dalam bahasa Arab. Setelah itu secara bertahap diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan sedikit dalam bahasa Ibrani. Pada waktu itulah ilmu pengetahuan dan kebudayaan Arab merupakan kebudayaan internasional yang tersebar jauh ke Barat yaitu Maroko dan Spanyol, yang terkenal dengan pusat perpustakaan dan Masjid Al-Hambra, Cordova (Spanyol).
h.      Nikolas Kopernicus (1473 – 1543 M)
Melahirkan teori ‘heliosentris’ yang menyatakan bahwa:
-          Matahari sebagai pusat dari tata surya dan bumi adalah salah satu dari planet.
-          Bulan beredar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari.
-          Bumi berputar pada porosnya dari barat ke timur yang mengakibatkan adanya siang dan malam.
i.         Johannes Kepler (571-1630 M)
-          Orbit dari semua planet berbentuk elips.
-          Bila ditarik garis imaginasi dari planet ke matahari, dan sementara itu ia        bergerak  menurut garis edarnya, maka luas bidang yang ditempuh pada        jangka waktu yang sama adalah sama.
-          Pangkat dua dari waktu yang dibutuhkan sebuah planet mengelilingi   matahari secara penuh adalah sebanding dengan pangkat tiga dari jarak rata-rata planet itu terhadap matahari.
j.        Galileo (1564 – 1642 M)
-          Membenarkan teori heliosentris walaupun bertentangan dengan pandangan penguasa.
-          Menemukan ada empat buah bulan mengelilingi Jupiter dan cincin Saturnus.
-          Terdapat gunung-gunung di bulan dan suatu bintik hitam di matahari yang sangat  penting untuk menghitung kecepatan rotasi matahari.
-          Menemukan kelompok taburan bintang yang disebut ‘Milky Way’ atau Bima Sakti.
Masa dari Nikolas Copernikus sampai Galileo dapat kita anggap sebagai permulaan abad ilmu pengetahuan modern yang menetapkan kebenaran berdasarkan eksperimen. [7]


BAB III
PENUTUP
      A.    Kesimpulan
Berdasarkan penjabaran yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa tahapan yang mempengaruhi perkembangan pola pikir manusia dari waktu ke waktu, yang pertama rasa ingin tahu dimana manusia sebagai makhluk berfikir memiliki rasa ingin tahu yang merupakan salah satu ciri khas manusia dan rasa ingin tahu itu selalu berkembang, baik tentang dirinya sendiri maupun benda-benda di sekelilingnya, kedua mitos dimana manusia juga ingin berusaha memenuhi kebeutuhan non fisik atau kebutuhan alam pikirannya. Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan maupun pengalamannya. Untuk itulah, manusia mereka-reka sendiri jawaban atas keingintahuannya itu, dan ketiga penalaran, setelah kemampuan berpikir manusia yang semakin maju dan perlengkapan pengamatan makin sempurna misalya teropong bintang yang semakin sempurna, maka mitos dengan berbagai legenda makin ditinggalkan orang dan mereka cenderung berpikir secara logis dengan menggunakan akal sehat (rasio).
 Oleh karena itu manusia berbeda dengan makhluk Tuhan lainnya, karena manusia satu-satunya makhluk yang diberikan akal pikiran oleh Allah SWT, dengan kata lain pola pikir manusia akan terus berkembang setiap zaman.



DAFTAR PUSTAKA


Juhji  PROSES PERKEMBANGAN POLA PIKIR MANUSIA.htm
Rizal, Fahrul, dkk. 2006. Antroposentris, Geosentris, Heliosentris, Galaktosentris, Asentris.
            Jakarta: Hijri Pustaka Utama.
Mawardi, Drs. dkk.,   IAD,ISD,IBD, Bandung, PustakaSetia, 2007.
Dictionary,Jakarta, PT. Gramedia, 1975
Paryono, Joko, Drs. dkk., IlmuAlamiahDasar, Bandung, PustakaSetia, 1998.
Mawardi, Drs., Hidayati, Ir. Nur. 2000. IAD-ISD-IBD. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Mawardi, 2007 : 15 – 20 ;Hendro Darmojo, 1999 : 11-15 ; Maskoeri Jasin, 1999 : 5-9
http://stai-kuliahku.blogspot.com/2012/06/perkembangan-pola-pikir-manusia.html


[1] Juhji  PROSES PERKEMBANGAN POLA PIKIR MANUSIA.htm
[2] Dr. Rizali H. Nasution, Drs. H. Mohd. Hatta, Ilmu Alamiah Dasar, (Medan: PT.Pustaka Widyasarana, 1993), hlm.9
[3]Eksplorasi : Penjajahanpenyelidikan atas daerah belahan bumi yang belum dikenal.Kamus IlmiyahPouler.Arkola 1994
[4] Curisity : Keingin tahuan akan sesuatu Idle: Bermalas-malasan. An English-Indonesian Dictionary. Gramedia Jakarta 1975
[5] http://stai-kuliahku.blogspot.com/2012/06/perkembangan-pola-pikir-manusia.html
[6] Drs. Mawardi, Ir. Nur Hidayati, IAD-ISD-IBD, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000), hlm. 14
[7] Mawardi, 2007 : 15 – 20 ;Hendro Darmojo, 1999 : 11-15 ; Maskoeri Jasin, 1999 : 5-9

0 komentar:

Post a Comment

 
TOP