Loading...
Sunday, 20 March 2016

Memahami Masalah Akhlak dan Metode Peningkatan Kualitas Akhlak



MAKALAH AKIDAH AKHLAK II
“MEMAHAMI MASALAH AKHLAK DAN METODE PENINGKATAN KUALITAS AKHLAK”
“Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Akidah Akhlak II”
Dosen Pengampu:
Drs. H. Syamsul Arifin, M. Ag
Penyusun :
Tantra Dharmakerti Parikesit              12110076
                       

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2014/2015
Jl. Gajayana 50, Malang 65144Telp. (0341) 551354, Faks. (0341) 572533




KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang menaungi makhluknya penuh dengan kasih sayang. Yang memberikan nikmat yang tak terhitung jumlahnya kepada makhluknya, pemilik kerajaan yang agung di sisinya, serta pemberi karunia nikmat Islam kepada dunia melalui utusannya yang suci, Muhammad.
Salawat serta salam tak lupa kami haturkan, kehadapan Nabi Agung Muhammad, yang merupakan nabi pembimbing untuk seluruh Alam. Yang telak menghantarkan kita dari kegelapan dunia, menuju terangnya Islam.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada bapak dan bu kami yang telah melahirkan kami dan memberi segala yang mereka miliki, untuk kami, tanpa imbalan sekalipun. Dan kami ucapkan terima kasih, kepada dosen mata kuliah Akidah Akhlak II Drs. H. Syamsul Arifin, M. Ag, yang dengan sepenuh hati mengajarkan kita ilmunya yang sangat berharga.
Dalam makalah ini kami mengangkat judul “MEMAHAMI MASALAH AKHLAK DAN METODE PENINGKATAN KUALITAS AKHLAK”. Kami akan membahas materi tersebut dengan mendalam, agar pembaca yang budiman dapat mendapatkan manfaat yang maksimal dari hasil buah pikiran kami ini, berdasarkan data lapangan yang kami peroleh. Pada pembahasan makalah ini, penulis merujuk terhadap beberapa referensi dan memberikan beberapa komentar atau beberapa pandangan penulis, agar materi ini dapat dicerna dengan baik oleh pembaca.
Namun, karena keterbatasan penulisan, baik pengetahuan maupun kemampuan penulis, dan karena tidak ada manusia yang sempurna. Maka, penulisan makalah ini masih sangatlah jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran dari pembaca yang budiman, sangatlah berharga bagi kami untuk memperbaiki kekurangan kami.
Akhir kata, semoga tulisan sederhana kami ini dapat berguna untuk kita semua, tak hanya bagi pembaca pada umumnya, namun juga dapat menjadi refleksi bagi penulis makalah ini sendiri pada khususnya. Dan semoga manfaat bisa kita petik, dan mendapatkan pelajaran yang barakah.
Penulis

2014


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. i
DAFTAR ISI. ii
BAB I. 1
PENDAHULUAN.. 1
A.         Latar Belakang. 1
B.         Rumusan Masalah. 1
C.         Tujuan Penulisan. 1
BAB II. 3
PEMBAHASAN.. 3
A.         Definisi Akhlak. 3
B.         Induk-induk Akhlak Terpuji 7
C.         Induk-induk Akhlak Tercela. 12
D.         Metode Peningkatan Kualitas Akhlak. 15
BAB III. 21
PENUTUP. 21
A.         Kesimpulan. 21
DAFTAR RUJUKAN.. 22


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Manusia diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla sebagai kholifah yang bertugas untuk mengelola apa yang ada di dunia ini dengan cara yang baik sesuai dengan petunjuk dalam al-quran dan hadist. Hakekat seorang manusia adalah seorang makhluk individu sekaligus makhluk sosial yang memiliki hak dan kewajiban untuk saling berinteraksi dengan sesama manusia.
Manusia yang diciptakan dengan penuh kesempurnaan akal dan pikiran oleh Allah kemudian juga harus berinteraksi dengan sekitarnya dengan cara yang dibenarkan sehingga kehidupan bersama yang damai dan penuh dengan rasa aman dapat tercapai. Hal yang utama yang mengatur ini semua adalah Akhlak manusia. Akhlak memiliki peranan yang sangat penting pada diri manusia. Manusia terlahir dengan sebuah fitrah yang suci, lingkunganlah yang kemudian akan mengarahkan manusia hendak menjadi manusia yang baik ataukah sebaliknya menjadi manusia yang berakhlak kurang baik.
Oleh karena itu, ilmu tentang akhlak dan membina manusia untuk menciptakan akhlak yang baik dalam dirinya sangat diperlukan oleh semua manusia agar hidupnya dalam masyarakat selalu tenang dan tentram.

B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut maka dapat diketahui permasalahan-permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apa definisi dari akhlak?
2.      Apa induk-induk dari akhlak terpuji?
3.      Apa induk-induk dari akhlak tercela?
4.      Bagaimana metode untuk meningkatkan kualitas akhlak?

C.    Tujuan Penulisan

Dari rumusan masalah tersebut maka dapat diketahui tujuan penulisan makalah ini meliputi :
1.      Mengetahui definisi akhlak.
2.      Mengetahui induk-induk dari akhlak terpuji.
3.      Mengetahui induk-induk dari akhlak tercela.
4.      Mengetahui metode untuk meningkatkan kualitas akhlak.



BAB II

PEMBAHASAN

A.    Definisi Akhlak

Kata “Akhlak” berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun خُلُقٌ yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun خَلْقٌ yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq خَالِقٌ yang berarti pencipta; demikian pula dengan akhluqun مَخْلُوْقٌ yang berarti yang diciptakan.
Definisi Akhlak menurut istilah ialah: sifat yang tertanam di dalam diri yang dapat mengeluarkan sesuatu perbuatan dengan senang dan mudah tanpa pemikiran, penelitian, dan paksaan[1].
Allah Ta’ala berfirman:

Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang paling mulia akhlaknya.” (HR. Al-Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 2150)

Nabi Solallahu alaihi wasallam bersabda yang maksudnya: “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.” (H.R. Ahmad).

 “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya, ialah yang paling baik akhlaknya.” (H.R. Ahmad).

Pengertian Akhlak dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Dalam bahasa Arab kata Akhlak (akhlaq) diartikan sebagai tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama . Meskipun kata akhlak berasal dari Bahasa Arab, tetapi kata akhlak tidak terdapat di dalam Al-Qur’an. Kebanyakan kata akhlak dijumpai dalam hadis. Satu-satunya kata yang ditemukan dalam al-Qur’an adalah bentuk tunggal, yaitu khuluq, tercantum dalam surat al-Qalam ayat 4. yaitu:

Artinya :“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) betul-betul di atas akhlak yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)

Dalam Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih Al Ghazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah shalallahu alaihi wasallam:
 “Orang mu’min yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (H.R. Tirmidzi, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Dishahihkan oleh Al Bani dalam Ash Shahihah No. 284 da 751.)  
 
Lebih lengkap Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa, Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia), yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan tanpa melalui maksud untuk memikirkan (lebih lama)maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlak yang baik. Tetapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, maka dinamakan akhlak yang buruk.
Dalam kamus Al-kautsar, ilmu akhlak diartikan sebagai ilmu tata karma,jadi dapat dirumuskan bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan yang dilakukan manusia, mengajarkan perbuatan baik yang harus dikerjakan dan perbuatan jahat yang harus dihindari dalam pergaulannya, baik dengan sesama manusia maupun dengan tuhannya .
Baik menurut akhlak adalah segala sesuatu yang sesuai dengan nilai dan norma agama, nilai serta norma yang terdapat dalam masyarakat, bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Buruk menurut akhlak adalah segala sesuatu yang tidak berguna, tidak sesuai dengan nilai dan norma agama, serta nilai dan norma masyarakat, merugikan masyarakat dan diri sendiri. Adapun yang menentukan baik dan buruk suatu sikap (akhlak) yang melahirkan prilaku atau perbuatan manusia adalah Al Quran yang dijelaskan dan dikembangkan oleh Rasulullah Saw dengan sunahnya. Perbuatan baik dan buruk dalam moral dan etika ditentukan adat istiadat dan pemikiran masyarakat pada suatu tempat di suatu masa. Oleh karena itu, di pandang dari sumbernya akhlak islamiyah bersifat tetap dan berlaku untuk selamanya sedangkan moral dan etika hanya berlaku di suatu tempat dan selama masa tertentu.
Akhlak islamiyah adalah keadaan yang melekat pada jiwa manusia. dalam buku ensiklopedia islam jilid 1, 1993 dinyatakan bahwa : perbuatan baru bisa dikatakan pencerminan akhlak jika dapat memenuhi beberapa syarat antara lain :
1.      Dilakukan berulang-ulang jika dilakukan sekali saja atau jarang-jarang tidak dapat dikatakan akhlak.
2.      Timbul dengan sendirinya tanpa dipikir-pikir atau dipertimbangkan berulang-ulang karena perbuatan itu telah menjadi kebiasaan baginya.
Namun dalam masyarakat luas terdapat beberapa istilah rancu antara moral,etika, akhlak, norma. Istilah-istilah tersebut dianggap sama, namun jika kita pahami lebih lanjut maka terdapat beberapa perbedaan yang sangat substansial.
Jika kita lihat dari pendapat Al-Ghazali pada pembahasan sebelumnya maka dapat kita ketahui bahwa akhlak ialah seperangkat tata nilai yang bersifat samawi dan azali, yang mewarnai cara berpikir, bersikap dan bertindak seorang muslim terhadap alam lingkungannya.  Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menilai perbuatan baik dan buruk, untuk kemudian memilah melakukan ataupun meninggalkannya. Sedangkan moral adalah prinsip-prinsip yang berhubungan dengan benar atau salah, pengertian tentang perbedaan antara salah dan benar. Lebih lanjut Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran lebih dahulu. Akhlak umumnya disamakan artinya dengan arti kata budi pekerti, kesusilaan atau sopan santun dalam bahasa Indonesia, atau tidak berbeda pula dengan arti kata ethic (etika).
Di mana-mana setiap kesempatan dan situasional orang berbicara tentang etika. Memang etika ini menarik untuk dibicarakan, akan tetapi sulit untuk dipraktekkan. Etika adalah sistem daripada prinsip-prinsip moral tentang baik dan buruk. Baik dan buruk terhadap tindakan dan atau perilaku.
Ethics dapat berupa etika (etik), yaitu berasal dari dalam diri sendiri (hati nurani) yang timbul bukan karena keterpaksaan, akan tetapi didasarkan pada ethos dan spirit, jiwa dan semangat. Ethics dapat juga berupa etiket, yaitu berasal dari luar diri (menyenangkan orang lain), timbul karena rasa keterpaksaan didasarkan pada norma, kaidah dan ketentuan. Etika dapat juga berarti tata susila (kesusilaan) dan tata sopan santun (kesopanan) dalam pergaulan hidup sehari-hari baik dalam keluarga, masyarakat, pemerintahan, berbangsa dan bernegara. Dalam kelompok tertentu misalnya memiliki kode etik, rule of conduct, misalnya students of conduct, kode etik kedokteran, dan atau kode etik masing-masing sesuai dengan profesinya.
Kesusilaan adalah peraturan hidup yang berasal dari suara hati manusia. Kesusilaan mendorong manusia untuk kebaikan akhlaknya. Kesusilaan berasal dari ethos dan spirit yang ada dalam hati nurani. Sanksi yang melanggar kesusilaan adalah batin manusia itu sendiri seperti penyesalan, keresahan dan lain-lain.
Kesopanan adalah peraturan hidup yang timbul karena ingin menyenangkan orang lain, pihak luar, dalam pergaulan sehari-hari, bermasyarakat, berpemerintahan dan lain-lain. Kesopanan dasarnya adalah kepantasan, kepatutan, kebiasaan, kepedulian, kesenonohan yang berlaku dalam pergaulan (masyarakat, pemerintah, bangsa dan negara). Kesopanan di titik beratkan kepada sikap lahiriah setiap subyek pelakunya, demi ketertiban dan kehidupan masyarakat dalam pergaulan. Sanksi terhadap pelanggaran kesopanan adalah mendapat celaan di tengah-tengah masyarakat lingkungan di mana ia berada, misalnya dikucilkan dalam pergaulan.
Apabila kita berbicara tentang etika ini, maka akan kita temukan beberapa pengertian antara lain :
1.      Etika : sistem daripada prinsip-prinsip moral, dapat juga berarti rules of conduct, kode sosial (social code), etika kehidupan. Dapat juga berarti ilmu pengetahuan tentang moral atau cabang filsafat.
2.      Ethos (jiwa) : karakteristik dari masyarakat tertentu atau kebudayaan tertentu.
3.      Spirit (semangat) : semangat d’corps, loyalitas dan cinta pada kesatuan, kelompok, masyarakat, pemerintah dan lain-lain.
4.      Rule (ketentuan, peraturan) : ketentuan-ketentuan dalam kebiasaan pergaulan masyarakat yang memberi pedoman atau pengawasan atau kegiatan tentang benar dan salah.
5.      Norma : merupakan standar, pola, patokan, ukuran, kriteria yang mantap dari masyarakat atau pemerintah.
6.      Moral : prinsip-prinsip yang berhubungan dengan benar atau salah, pengertian tentang perbedaan antara salah dan benar.
Akhlak islam mempunyai karakteristik sifat tertentu yang membedakan dengan etika dan moral ciptaan manusia. Sifat-sifat tersebut antara lain :
1.      Kebaikannya bersifat mutlak (al-hasanah al-mutlaqah ) yaitu kebaikan yang terkandung dalam akhlak merupakan kebaikan yang bersifat murni baik untuk individu atau untuk masyarakat dalam lingkungan, keadaan, waktu, dan tempat apapun.
2.      Kebaikannya bersifat menyeluruh (al-hasanah syumuliyah) yaitu kebaikan yang terkandung di dalamnya merupakan kebaikan untuk seluruh umat di segala zaman dan di semua tempat.
3.      Kebaikan bersifat tetap langgeng dan mantap (al-hasanah al-sabitah), tidak berubah oleh perubahan waktu dan tempat atau perubahan hidup masyarakat.
4.      Pengawasan yang menyeluruh (al-muraqabah syumuliyah),karena akhlak bersumber dari Allah, maka pengaruhnya lebih kuat dari etika,moral, ciptaan manusia sehingga orang tidak berani melanggarnya kecuali setelah ragu-ragu dan kemudian akan menyesali perbuatannya untuk selanjutnya bertaubat dengan sungguh-sungguh dan tidak melakukan perbuatan salah lagi.
Jadi dapat dipahami akhlak merupakan seperangkat tata nilai dan sifat-sifat yang bersifat samawi dan azali, tertanam dalam jiwa yang dapat menilai perbuatan baik dan buruk, mewarnai cara berpikir, bersikap dan bertindak seorang muslim terhadap alam lingkungannya., untuk kemudian memilah melakukan ataupun meninggalkannya.

B.     Induk-induk Akhlak Terpuji

Ikhlas[2] adalah suci dalam niat; bersih batin dalam beramal; tidak berpura-pura; lurus hati dalam bertindak; jauh dari riya’ dan kemegahan dalam berlaku-berbuat, mengharapkan ridha Allah semata-mata. Ikhlas merupakan amalan hati yang paling utama dan paling tinggi dan paling pokok, Ikhlas merupakan hakikat dan kunci dakwah para rasul sejak dahulu kala.
Menurut Erbe Sentanu ikhlas merupakan Defaul Factory Setting manusia, yakni manusia sudah dilahirkan dengan fitrah yang murni dari ilahi.  Hanya saja manusia itu sendirilah yang senang mendiskonnya sehingga kesempurnaannya menjadi berkurang. Ini akibat berbagai pengalaman hidup dan ketidak tepatan dalam berfikir atau berprasangka (judgment), sehingga hidupnya pun menjadi penuh kesulitan.
Lafaz ikhlas menunjukkan pengertian jernih, bersih dan suci dari campuran dan pencemaran. Sesuatu yang murni artinya bersih tanpa ada campuran, baik yang bersifat materi maupun nonmateri.  Adapun pengertian ikhlas menurut syara’ adalah seperti yang diungkapkan oleh ibnu qayyim berikut: Mengesankan Allah dalam berniat ketika melakukan ketaatan, bertujuan hanya kepada Nya tanpa mempersekutukan Nya dengan sesuatupun. Dan menurut Al- Fairuzabi :” Ikhlas karena Allah , artinya meninggalkan riya’ dan tidak pamer.
Orang yang ikhlas adalah seseorang yang tidak peduli meskipun semua penghargaan atas dirinya hilang demi meraih kebaikan hubungan kalbunya dengan Allah, dan orang tersebut tidak ingin apa yang ia lakukan dipamerkan walaupun sebesar bizi zarapun.
Sebagaimana Firman Allah SWT dlam surat Az- zumar ayat 14
 قُلِ ٱللَّهَ أَعۡبُدُ مُخۡلِصٗا لَّهُۥ دِينِي ١٤
Katakanlah: "Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". (QS. Az-Zumar 14)

Dan dalam surat Al- An’am ayat 162-163
            قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (QS. Al-Anam 162-163)

Dikisahkan oleh Umamah ra, ada seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah pendapat Engkau tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mencari pahala dan popularitas diri. Kelak, apa yang akan ia dapat di akherat?” Rasulullah SAW menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa. Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya sampai tiga kali. Tetapi Rasulullah SAW tetap menjawabnya, “Ia tidak menerima apa-apa!” Kemudian Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan, kecuali yang murni dan yang mengharapkan ridha-Nya”
Orang-orang yang ikhlas merupakan orang-orang yang bersih dari dosa karena mereka telah berusaha membersihkan dirinya dengan benar-benar melaksanakan segala perintah Allah denga tulus. Dalam beraqidah mereka benar-benar mengesakan Allah SWT. dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain seperti halnya orang-orang musyrik, yahudi dan nasrani. Selanjutnya dalam melakukan ibadah dan amal kebajikan lainnya mereka kerjakan semata-mata karena Allah dan untuk Allah; bukan karena manusia dengan cara riya’ dan sum’ah, untuk mendapatkan popularitas dan kesenangan hawa nafsu lainnya. Oleh karena itu wajar kiranya terhadap orang-orang yang ikhlas ini Allah SWT. menganugrahkan keistimewaan dan kelebihan kepada mereka, baik dalam kehidupan duniawi dan ukhrawinya.
Adapun orang-orang yang ikhlas memiliki ciri - ciri, diantaranya:
·         Selalu memandang diri sendiri
·         Khawatir terhadap popularitas
·         Cinta dan benci karena Allah
·         Tidak terpengaruh oleh kedudukan dan pangkat
·         Tetap beramal meski belum terlihat hasilnya.
2.      Qanaah (قناعه)
Secara bahasa (Etimoogi), Qanaah artinya cukup, secara istilah (Terminologi) artinya masa cukup dengan apa yang di miliki dan menjauhkan diri dari sifat ketidakpuasan/kekurangan.
Orang yang memiliki sifat Qanaah akan senantiasa merasa tentram dan merasa berkecukupan apa yang dimilikinya selama ini dan yakin hakikat kaya atau miskin tidak diukur dari banyak dan sedikitnya harta, akan tetapi terletak kepada hatinya untuk menerima dan mensyukuri segala karunia dari Allah SWT, Rasulullah bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرْضِ وَلكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya: bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa. “(HR. Bukhari Muslim).
Dengan sifat qanaah ini berarti kita menanamkan pola hidup sederhana yang sehat, karena pada dasarnya orang yang selalu mengejar harta kekayaan hatinya tidak tentra. Rasulullah SAW bersabda:
القاعه كنزلا يغن
Artinya: qanaah adalah simpanan yang tak akan lenyap “(HR, Tabrani).
Qanaah merupakan sikap menerima apa adanya dan diiringi dengan usaha keras dan apapun hasilnya harus diterima dengan sabar dan penuh syukur.
عن عبدالله بن عمر بن العاص ان رسول الله صل الله صل اللة عليه وسلامقَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ       
Artinya:dari abdillah bin Amr Ra. Bahwa rasulullah SAW bersabda= sungguh beruntung orang yang beragama islam dan rezekinya cukup, kemudian merasa cukup dengan apa yang diberikan allah kepadanya (HR, Muslim).
3.      Zuhud
Zuhud ialah tidak berhasrat terhadap sesuatu yang mubah walaupun kesempatan untuk memperoleh/mengerjakanya ada. Zuhud merupakan salah satu sifat terpuji yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang mukmin untuk menyempurnakan ibadahnya dengan jalan berusaha dengan maksimal untuk mengendalikan hawa nafsu syahwat yang terlalu dan selalu cenderung kepada keduniaan. Sehingga tidak dibenarkan hanya mementingkan urusan akhirat dan melupakan urusan duniawi untuk mencukupi keperluan hidupnya sendiri dan keluarga serta mengesampingkan memenuhi kewajiban-kewajiban sosial.

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashas : 77).

Keinginan yang berlebihan terhadap dunia yang menyebabkan manusia lupa kepada allah tidak disenangi allah dan perlu disadari bahwa kehidupan dunia ini ibarat permainan bola dan bersifat sementara, sebagaimana firman Allah SWT.


Artinya: Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (Al Ankabut : 64).

Zuhud itu dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu:
a.       Derajat pertama (terendah) yaitu menghindari  dunia padahal hatinya sangat tertarik, tetapi sekuat-kuatnya untuk menghindarinya, dan merasa cukup dengan yang sudah dimiliki.
b.      Derajat kedua yaitu meninggalkan kedunia karena pandangan rendah dan hina terhadap orang yang rakus dan tamak terhadap harta.
c.       Derajat ketiga yaitu meninggalkan dunia karena zuhud semata karena adanya pandangan bahwa dunia tidak berarti sedikitpun dibandingkan dengan kenikmatan akhirat.
4.      Sabar
Sabar adalah tahan menderita untuk menghadapi yang tidak disenangi dengan penuh ridha dan menyerahkan diri kepada Allah. Orang yang sabar dalam berbagai keadaan akan tetap tenang, selalau ingat Allah dan berserah diri kepada-Nya. Orang yang tabah akan tahan menderita kalau terkena musibah, tidak lekas putus asa dalam menunaikan kewajiban serta meraih cita-cita, keutamaan orang sabar adalah sebagaimana firman Allah sebagai berikut: 
  
Artinya:Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. AZ-Zumar 10).
Macam-macam sabar
a.       Sabar dalam ketaatan (  الصبر على الطا عه ) adalah: sabar dalam usaha untuk melaksanakan ketaatan kepada allah SWT, bagaimanapun keadaanya tetap istiqamah didalam ketaatan kepada allah dan menjahui segala yang dilarang Allah serta menjahui segala tipu daya syetan.
b.      Sabar dalam meninggalkan maksiyat (الصبر على المعصية) ketahanan diri untuk menghindarkan diri dari segala bentuk maksiyat yang akan mendatangkan murka Allah dan akan merugi didunia dan akhirat.
c.       Sabar dalam musibah, sebagai orang yang beriaman musibah merupakan ujian keimanan, jika musibah disikapi dengan tidak iklas dan tawakal kepadaAllah , maka justru akan membuat jauh dari Allah dan menjadi negative kepada Allah, oleh karena itu segala musibah harus diterima dengan sabar, tawkal dan iklas yang akan mengangkat derajat keimanan yang lebih tinggi.
5.      Istiqamah
Istiqamah berarti teguh pendirian berpegang kepada sesuatu yang diyakini kebenaranya menurut Allah SWT dan tidak berubah dalam keadaan bagaimanapun. Sikap istiqamah ini sangat baik dimiliki orang yang beriman karena akan diberi ketenangan hidup, hilang rasa takut, sedih, petus asa dalam keadaan bagaimanapun, cerminan sikap istiqamah ini seperti dijelaskan didalam firman Allah SWT, sebagai berikut:

Artinya:Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (Fush Shilat:30).

Rasullullah menjelaskan tentang istiqamah sebagai berikut:
عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Artinya: “dari Ibnu Amr r.a katanya, aku berkata : “ hai rasulullah, katakanlah padaku tentang Islam, sesuatu perkataan yang aku tidak menanyakan lagi kepada seseorang selain engkau, nabi bersabda: “katakanlah aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah. (HR. Muslim).
6.      Tasamuh
Secara bahasa tasamuh berarti toleransi, tenggang rasa atau saling menghargai, secara istilah tasamuh artinya suatu sikap yang senantiasa saling menghargai antar sesama manusia.
Didalam hidup bermasyarakat akan menemui berbagai macam perbedaan, diataranya suku bangsa, warna kulit, bahasa, ide, agama dan lain-lain, yang menuntut kita untuk tetap menjaga persatuan , kerukunan, hormat menghormati, karena kita merupakan makluk Allah dan yang membedakan antara individu satu dengan yang lainya adalah taqwanya, sebagaimana firman Allah SWT
  
Artinya:  Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al Hujurat:13).

Jalinan toleransi untuk sesama muslim merupakan suatu kewajiban yang terikat tali aqidah yang sama, sebagaimana dijelaskan oleh hadist:
لايؤ من احدكم حت يحسب لئ حيه م يحب لنفسه الحسنه ياء كل
Artinya: “tidak sempurna iman seseorang diantara kamu,sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim).

Toleransi terhadap non muslim dilakukan dengan jalan menjaga kerukunan dan persatuan dengan dasar memiliki pandangan sama yaitu sesama makluk Allah dan urusan keyakinan dan ibadah harus sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing dalam arti tidak boleh mencampuri ibadah/keyakinan pemeluk agama lain, dengan prinsip seperti firman Allah:
  
Artinya: Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."(Al Kafirun:6).

C.    Induk-induk Akhlak Tercela

Akhlak tercela mengantar manusia menuju kehancuran karena Allah melarang pribadi muslim memiliki sifat tercela. adapun jenis akhlak tercela yang harus di hindari oleh setiap muslim yaitu sebagai berikut :
1.      Setiap ucapan atau perbuatan yang dilarang al Quran adalah termasuk akhlak tercela dan buruk
2.      Setiap sesuatu yang diharamkan Allah kalau direnungkan dengan seksama ternyata merupakan perbuatan yang keji, buruk, batal, sesat, dan maksiat yang menimbulkan permusuhan, kebencian dan percekcokan.
3.      Setiap cerita atau berita mengenai orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya yang disampaikan Al Quran mempunyai tujuan agar kaum muslimin menjauhi perbuatan tercela yang membawa Murka Allah.
4.      Setiap ancaman yang diancamkan Allah kepada salah satu hamba-Nya menunjukkan bahwa orang yang menerima ancaman itu telah melakukan perbuatan yang tidak diridai-Nya. Perbuatan yang tidak mendapat rida dari Allah menimbulkan kesesatan dan kebatilan.
Al-Quran menjabarkan secara rinci tentang konsistensi setiap muslim untuk menjauhi akhlak tercela, diantaranya sebagai berikut:
Pertama, hal-hal yang berhubungan dengan ucapan yang buruk. Al-Quran menyebutkan banyak sekali ucapan buruk yang diperingatkan, dilarang, diancam pengucapnya, atau di usia, di antaranya pembicaraan yang sia-sia, olok-olokan dan pemberian nama panggilan yang buruk, gunjingan, prasangka dan mata-mata, kebohongan, mengekspresikan atau melukiskan sesuatu dalam benak, baik bersifat terkaaan atau berdasar (umniyah), memasuki persoalan yang bukan urusannya (fuzul). Ide mentah yaitu apa yang terdetak dalam pikiran, kemudian diungkapkan secara tergesa-gesa tanpa perhitungan matang. Kemunafikan ialah sikap memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran atau memperlihatkan sifat yang baik dan menyembunyikan sifat yang buruk. Akhlak-akhlak tercela yang disebut Al-Quran agar dijauhi, baik berupa perbuatan maupun berupa ucapan yang lebih banyak terjadi.
Kedua, hal-hal yang berhubungan dengan perbuatan yang buruk. Banyak sekali perbuatan yang buruk yang dilarang dan diharamkan oleh Allah, sebagaimana di isyaratkan dalam Al-Quran, di antaranya kikir, sikap pengecut, dengki, berlebihan dan boros, aniaya, melampaui batas, berbuat kerusakan, terbujuk dan membanggakan diri, melampiaskan hawa nafsu dan Syahwat, dan khianat.
1.      Iri hati, dengki (hasud)
Iri hati adalah tidak senang bila orang lain mendapat kenikmatan/kebahagiaan, dengki (hasud) berarti tidak senang bila orang lain mendapat kenikmatan/kebahagiaan dan menginginkan kenikmatan/kebahagiaan tersebut segera lenyap, sebagaimana firman Alah SWT.

Artinya:Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS, Ali Imran:120).

Rasulullah menjelaskan alangkah jeleknya sifat iri/dengki tersebut karena akan menghapus segala kebaikan pelakunya, hatinya merasa semakin sakit dan tersiksa setiap orang lain mendapat kenikmatan.
الحسنات كما تاء كل النار الحطب
Artinya: dengki itu dapat makan (menghabiskan) kebaikan sebagaimana api membakar kayu” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Iri hati dan dengki pemicu perbuatan tercela lainya, seperti dendam, marah, berdusta, menipu, adu domba, mencuri, membunuh, bahkan dibenci dan dikucilkan oleh masyarakat dan diakhirat mendapat azab dari Allah SWT.
Sebab-sebab oaring melakukan iri dan dengki antara lain : adanya kebencian, tidak bersyukur, perasaan tinggi diri/sombong, kikir, malas.
2.      Sombong (Takabur).
Sombong adlah merasa lebih tinggi dari orang lain dalam hal duniawi misalnya: keturunan, kekayaan, ketampanan, kedudukan dll, orang yang sombong biasanya memiliki sifat-sifat yang tercela misalnya merendahkan orang lain, pemarah, pembohong, khianat, dsb, sifat sombong sangat dibenci Alah:
   
Artinya:Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.(QS. An Nahl : 23).
Sabda Rasulullah SAW:
لايد خل الجنة من كان ف قلبه مثقال حبة من خر دل كبر
Artinya: tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari sifat kesombongan “ (HR. Muslim)

Sombong ada dua macam, yaitu: sombong lahiriyah (takabur zahir) dan sombong batiniyah (takabur batin). Neburut rasulullah yang dinamakan sombong adalah menolak kebenaran dan menghina orang lain. Seperti sabdanya:
الكبر من بطر الحق وغط الناس
Artinya:sombong adalah (sifat) oaring yang mengingkari kebenaran dan menghina orang lain” (HR. Abu Daud dan Hakim).

Orang yang sombong telah merampas sifat yang sebenarnya tidak pantas disandangnya, karena sifat itu haanyalah miliki Allah SWT. Banyak hal yang dapat menjerumuskan seseorang kedalam kesombongan, antara lain: keturunan, kekayaan harta, kepandaian ilmu pengetahuan, kecantikan/ketampanan, kekuatan tubuh dll. Semoga kita terhindar dari sifat dombong.
3.      Tamak
Tamak adalah sifat tidak puas terhadap segala karunia yang telah diberikan Allah SWT, kepada diri manusia. Ada beberapa tips untuk mengobati dan mencegah penyakit tamak, antara lain:
a.       Meyakini setiap manusia pasti sudah ditentukan rizkinya
b.      Membiasakan diri hidup qana’ah
c.       Membiasakan diri hidup sederhana
d.      Merenungi kehidupan fakir miskin yang akan menyadarkan pentingnya syukur nikmat.
e.       Meneladani kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya dalam mempraktikan hidup sederhana.
Allah menjelaskan tentang sifat tamak sbb:
Artinya:Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Al Baqarah: 96).
Sabda nabi SAW
لوكان ل بن ادم وا ديان من ذهب لا بتغى لهما ثالثا
Artinya:Andai kata seseorang itu sudah memiliki dua lembah dari emas pastilah ia akan mencari yang ketiganya sebagaimana tambahan dari dua lembah yang sudah ada itu “(HR. Bukhari Muslim).

D.    Metode Peningkatan Kualitas Akhlak

Keberhasilan dan kegagalan pembangunan moral dan akhlak pada sikap dan prilaku muslim yang modern terletak pada pribadi muslim itu sendiri. Apabila moral dan kode etik dijunjung oleh setiap individu maka tatanan kehidupan tersebut akan mengarah pada kepastian masa depan yang baik, dan apabila sebaliknya moral dan kode etik tidak dijunjung maka keterpurukan dan kemungkinan dari termarjinalisasi oleh lingkungan akan terjadi. Pembentukan prilaku muslim yang modern merupakan salah satu cara untuk membantu pembangunan moral dan akhlak setiap pribadi. Faktor-faktor pembentuk perilaku antara lain
1.      Faktor internal
a.       Insting biologis, seperti lapar, dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat rakus, maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya, dan seterusnya.
b.      Kebutuhan psikologis, seperti rasa aman, penghargaan, penerimaan, dan aktualisasi diri.
c.       Kebutuhan pemikiran, yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berpikir seseorang seperti mitos, agama, dan sebagainya
2.      Faktor eksternal
a.       Lingkungan keluarga
b.      Lingkungan Social
c.       Lingkungan pendidikan.
Dalam konsep Islam, perilaku dan karakter tidak sekali terbentuk, lalu tertutup, tetapi terbuka bagi semua bentuk perbaikan, pengembangan, dan penyempurnaan, sebab sumber karakter perolehan ada dan bersifat tetap. Karenanya orang yang membawa sifat kasar bisa memperoleh sifat lembut, setelah melalui mekanisme latihan. Namun, sumber karakter itu hanya bisa bekerja efektif jika kesiapan dasar seseorang berpadu dengan kemauan kuat untuk berubah dan berkembang, dan latihan yang sistematis[3].
Dalam ajaran islam, akhlak menempati kedudukan yang utama. Rasulullah Saw. Menempatkan akhlak sebagai misi pokok risalah Islam. Beliau bersabda yang artinya “ sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia .”
Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama islam. Akhlak yang baik akan menitik beratkan timbangan kebaikan seseorang pada hari kiamat menurut keterangan Abdullah Ibnu Umar, orang yang paling dicintai dan yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.
Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti dari ibadah kepada Allah. Seseorang yang mendirikan salat tentu tidak akan mengerjakan segala perbuatan yang tergolong keji dan mungkar. Tidak ada artinya salat seseorang jika dia masih mengerjakan kemungkaran yang dilarang agama.
Al-Quran banyak mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan Akhlak, baik berupa perintah berakhlak terpuji maupun larangan berakhlak tercela inilah yang membuktikan betapa pentingnya akhlak dalam ajaran Islam. Akhlak akan membawa kemaslahatan dan kemuliaan hidup.
Adapun prinsip umum yang menyelamatkan kaum muslimin dari kebimbangan, kebingungan dan keguncangan dalam menghadapi kehidupan, meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.      Komitmen dengan Jalan Hidup Islam.
Setiap muslim harus memiliki komitmen dengan jalan hidup islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunah Rasul, serta sejarah hidupnya sebab mencari jalan hidup selain dari dua sumber ini adalah suatu kesesatan. Jalan hidup ini adalah segala sesuatu yang dihalalkan atau diharamkan oleh Allah.
2.      Loyal kepada Allah, Rasul-Nya, dan Islam.
Loyalitas ini dilakukan untuk Allah, rasul-Nya,untuk orang-orang saleh dan nilai-nilai akhlak yang dibawa Islam. Konsekuensinya, orang islam tidak boleh loyal kepada musuh Allah dan kepada selain Allah atau musyrik. Islam mengangkat harkat orang-orang saleh dan mengukuhkan kewibawaan mereka.
3.      Kesungguhan dalam Menjalani kehidupan
Kesungguhan mempunyai dua pengertian yaitu :
a.       Ijtihad (bersungguh-sungguh) adalah berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk mencapai suatu tujuan.
b.      Tark al-hazl (meninggalkan sendu gurau) adalah mengerjakan suatu pekerjaan dengan tidak main-main atau sia-sia. Seorang muslim dituntut untuk melewati fase-fase kehidupannya dengan serius dan mengerahkan segala kemampuan serta menanggung penderitaan dan pengorbanan dijalan Allah.
4.      Sikap Toleran/Tasamuh dan Memaafkan
Bagi kaum muslimin, toleransi berarti tidak membela ide atau madzabnya secara membuta, tetapi mengikuti mana yang ternyata benar. Islam tidak mengajarkan kasar kecuali dalam peperangan dan pertempuran dijalan Allah.
5.      Sikap Moderat terhadap Orang Lain dan Segala Sesuatu
Moderat adalah pertengahan di antara dua sifat secara kualitas dan kuantitas atau proporsional. Orang yang moderat berarti orang yang berada di antara ifrat dan tafrit atau di antara kencang (tasyaddud) dan longgar (tasyayyub). Allah telah menganugerahkan nikmat-Nya kepada orang islam dengan dijadikannya ummatan wasatan. Yakni umat keadilan, pertengahan dan kebaikan. Umat islam berada di tengah sebagai umat moderat yang mengakomodir kepentingan rohani dengan kebutuhan jasmani.
Menurut Al Ghazali, pengembangan pribadi pada hakikatnya adalah perbaikan akhlak, dalam artian menumbuh-kembangkan sifat-sifat terpuji (mahmudah) dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat tercela (madzmummah) pada diri seseorang. Akhlak manusia benar-benar dapat diperbaiki, bahkan sangat dianjurkan sesuai sabda Rasulullah SAW “Upayakan akhlak kalian menjadi baik” (Hassinuu akhlaqakum). Al Ghazali menaruh perhatian besar pada masalah akhlak serta mengemukakan berbagai metode perbaikan akhlak. Metode peningkatan akhlak yang beliau ungkapkan dalam berbagai buku beliau dapat dikelompokkan atas tiga jenis metode yakni[4]:
1.      Metode Taat Syari’at
Metode ini berupa pembenahan diri, yakni membiasakan diri dalam hidup sehari-hari untuk melakukan kebajikan dan hal-hal bermanfaat sesuai dengan ketentuan syari’at, aturan-aturan negara, dan norma-norma kehidupan bermasyarakat. Di samping itu berusaha untuk menjauhi hal-hal yang dilarang syara’ dan aturan-aturan yang berlaku. Metode ini sederhana dan dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya akan berkembang sikap dan perilaku positif seperti ketaatan pada agama dan norma-norma masyarakat, hidup tenang dan wajar, senang  melakukan kebajikan, pandai menyesuaikan diri dan bebas dari permusuhan. Adapun penerapan dari metode ini meliputi :
·         Membiasakan diri untuk selalu melakukan kebaikan dan menjauhi yang di larang syara’
·         Menjauhi permusuhan
·         Membiasakan diri untuk menyesuaikan dengan lingkungan
2.      Metode Pengembangan Diri
Metode yang bercorak psiko-edukatif ini didasari oleh kesadaran atas kekuatan dan kelemahan diri yang kemudian melahirkan keinginan untuk meningkatkan sifat-sifat baik dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat buruk. Dalam pelaksanaannya dilakukan pula proses pembiasaan (conditioning) seperti pada “Metode Taat Syari’at” ditambah dengan upaya meneladani perbuatan dari pribadi-pribadi yang dikagumi. Membiasakan diri dengan cara hidup seperti ini secara konsisten akan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat terpuji yang terungkap dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat. Metode ini sebenarnya mirip dengan metode pertama, hanya saja dilakukan secara lebih sadar, lebih disiplin dan intensif serta lebih personal sifatnya daripada metode pertama. Adapun penerapan dari metode ini meliputi :
·         Berupaya meneladani perbuatan-perbuatan terpuji dari pribadi-pribadi yang di kagumi
·         Membiasakan konsisten untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan terpuji dan menghilangkan sifat-sifat tercela yang ada pada diri
·         Berusaha meningkatkan potensi-potensi baik yang ada pada diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
3.      Metode Kesufian
Metode ini bercorak spiritual-religius dan bertujuan untuk meningkat kan kualitas pribadi mendekati citra Insan Ideal (Kamil). Pelatihan disiplin diri ini menurut Al Ghazali dilakukan melalui dua jalan yakni al-mujaahadah dan al-riyaadhah. Al Mujaahadah adalah usaha sungguh-sungguh untuk menghilangkan segala hambatan pribadi (harta, kemegahan, taklid, maksiat). Al-Riyaadhah adalah latihan mendekatkan diri pada Tuhan dengan selalu berusaha meningkatkan kualitas ibadah. Kegiatan sufistik ini berlangsung di bawah bimbingan seorang Guru yang benar-benar berkualitas dalam hal ilmu, kemampuan dan wewenangnya sebagai Mursyid. Di antara ketiga metode tersebut, metode kesufian dianggap tertinggi oleh Al Ghazali dalam proses peningkatan derajat keruhanian, khususnya dalam meraih akhlak terpuji. Adapun praktek dari metode ini meliputi :
·         Membiasakan bersifat zuhud.
·         Melakukan riyaadhah / mendekatkan diri pada tuhan.
·         Meningkatkan kualitas ibadah.
Lebih lanjut di kalangan ahli tasawuf, kita mengenal system pembinaan mental, dengan istilah: Takhalli, tahalli dan tajalli.
Takhalli adalah mengosongkan atau membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, karena sifat-sifat tercela itulah yang dapat mengotori jiwa manusia.
            Dan tahalli adalah mengisi jiwa ( yang telah kosong dari sifat-sifat tercela) dengan sifat-sifat  yang terpuji (mahmudah).
Jadi dalam rangka pembinaan mental, penyucian jiwa hingga dapat berada dekat dengan Tuhan, maka pertama kali yang dilakukan adalah pengosongan atau pembersihan jiwa dari sifat-sifat tercela, hingga akhirnya sampailah pada tingkat berikutnya dengan apa yang disebut “tajalli”, yakni tersikangkapnya tabir sehingga diperoleh pancaran Nur Ilahi[5].



BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      Akhlak merupakan seperangkat tata nilai dan sifat-sifat yang bersifat samawi dan azali, tertanam dalam jiwa yang dapat menilai perbuatan baik dan buruk, mewarnai cara berpikir, bersikap dan bertindak seorang muslim terhadap alam lingkungannya., untuk kemudian memilah melakukan ataupun meninggalkannya.
2.      Induk-induk akhlak terpuji meliputi Ikhlas Qona’ah, Zuhud, Sabar, Istiqomah, Tasamuh.
3.      Induk akhlak tercela meliputi iri, dengki, sombong, dan tamak.
4.      Metode untuk meningkatkan kualitas akhlak meliputi : metode taat syariat,  metode pengembangan diri, dan metode kesufian. Sedangkan metode lain meliputi takhali ( metode pengosongan dari sifat buruk ), tahali ( metode mengisi dengan sifat baik ), tajali ( mengagungkan Allah di atas segala-galanya)



DAFTAR RUJUKAN

Al-Hamad, Muhammad bin Ibrahim. Akhlak-Akhlak Buruk. Bogor: Pustaka Darul ilmi, 2004.
al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim, and Adni Kurniawan. Macam-Macam Penyakit Hati Yang Membahayakan Dan Resep Pengobatannya. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafii, 2010.
Al-Qasimi, Syaikh Jamaluddin. Ihya Ulumudin Imam Al-Ghazali : Buku Putih. Bekasi: Darul Falah, 2005.
Imam Al-Ghazali. Pengembangan Pribadi Pada Akhlak, n.d.
Masy’ari, Anwar. Akhlak Al-Qur’an. Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990.
Matta, M. Anis. Membentuk Karakter Cara Islam. Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2002.
Syaikh Amru M. Khalid. Manajemen Qalbu. Jakarta: Kalifa, 2004.
Tharsyah, Adnan. Manusi Yang Dicintai Dan Dibenci Allah : Kunci-Kunci Menjadi Kekasih Allah. Translated by Vivi Sofia Anita. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2008.
Yusuf, M. Zein. Akhlak-Tasawuf. Semarang: Al-Husna, 1993.


[1] Anwar Masy’ari, Akhlak Al-Qur’an (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990). Hlm. 1
[2] Syaikh Amru M. Khalid, Manajemen Qalbu (Jakarta: Kalifa, 2004). Hlm. 21-49
[3] M. Anis Matta, Membentuk Karakter Cara Islam (Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2002).
[4] Imam Al-Ghazali, Pengembangan Pribadi Pada Akhlak, n.d. Hlm.. 25
[5] M. Zein Yusuf, Akhlak-Tasawuf (Semarang: Al-Husna, 1993). Hlm. 56


0 komentar:

Post a Comment

 
TOP